Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
119


__ADS_3

Layya menyipitkan kedua matanya menatap Rayyan. Lebih lebih mencari maksud dari ucapan Rayyan.


"Ku harap kau hanya main main tuan Andryatama!"


"Apa anda tertarik dengan tubuh saya?"


Layya menurunkan tatapannya melihat tubuh Rayyan Yang tidak berhias benang satu pun. Ia sama sekali tidak merasa malu maupun risih. Akan tetapi, sebaliknya.


'Aku-mau-menyentuhnya, Otot itu.' Layya lagi lagi membenamkan wajahnya.


Rayyan terkekeh geli. Dengan telunjuknya Rayyan mendongakkan kepala Layya untuk bisa melihat nya.


"Anda belum memberi saya jawaban Designer Zunaira. Benar, CEO Imperial Group menawarkan dirinya untuk anda Designer Zunaira," Rayyan semakin mendekatkan wajah nya ke Layya. Hanya tinggal beberapa jari, maka hidung keduanya akan bersentuhan.


Layya sigap menjauhkan wajahnya.


"Bayangkan! Seorang CEO Imperial, yang menjadi incaran para wanita. Menawarkan dirinya ke seorang wanita dengan 2 anak! Bagaimana cara aku berterima kasih!"


Rayyan menurunkan tatapannya melihat ke bawah. Yang tentu saja tertutup kain. Beda dengan dirinya sendiri.


"Cukup dengan tubuh anda saya rasa, Designer Zunaira,"


Layya menatap meneliti wajah Rayyan yang berada dekat dengan wajahnya.


Satu kata. Selalu satu kata untuk pria ini. Tampan,


Di tengah Layya masih memerhatikan wajah Rayyan. Namun Rayyan masih dengan ocehannya.


"Dan 2 anak yang anda maksud itu. Adalah hasil kerja keras CEO Imperial juga, Designer Zunaira!" Senyum nya sebelum menyadari tatapan Layya pada dirinya yang begitu intens.


Rayyan terdiam dan raut wajahnya berubah datar. Melihat tatapan Layya pada dirinya.


"Layya ada apa?" Tanya nya yang sama sekali tidak terdengar oleh Layya.


Layya hanyut dalam lamunanya. Ingatannya kembali ke saat saat mereka bersama dulu.


Dulu, mereka sering begini. Bercanda, jail bersama, tertawa dengan hal sepele, bertengkar di buat buat dan berakhir di ranjang, mengatakan saling merindukan satu sama lain dan jika ada waktu lebih Ray. Kita akan jalan jalan kecil di sekitaran apartemen dengan saling bergandengan tangan dan berakhir panas di taman apartemen.


Kita tidak pernah berkencan di tempat mewah maupun ke mall bersama. Karna menghindari awak media dan kilatan kamera. Ia saat itu tidak mau karir Rayyan hancur hanya karna menikah dengannya. Dan juga, entah kenapa saat itu ia merasa. Ia tidak mau hubungan mereka di ketahui oleh siapapun bahkan kak Rendra.


Jadi saat itu yang mengetahui hubungan mereka hanya beberapa orang. Pamannya, asisten Rayyan dan beberapa orang saksi pihak Ray dan dirinya.


Jika di tanya hubungan seperti apa mereka. Ia pun tidak tahu. Tapi satu yang jelas ia ketahui. Tidak pernah sehari pun ia tidak merasa bahagia bersama Ray. Ia selalu bahagia dan di penuhi kebahagiaan oleh Ray.


Hingga akhir. Akhir yang tiba tiba,


Wajah Layya seketika terlihat sedih dan dia kembali membenamkan wajahnya ke selimut di antara pahanya.

__ADS_1


"Layya ada apa? Apa aku menyakiti mu tadi! Bagian mana yang sakit?"


Mendengar kekhawatiran dalam ucapan Rayyan. Layya mendengus tidak percaya.


Melihat kecemasan di wajah Rayyan. Layya seketika tersenyum kecut. Saat kembali melihat Rayyan.


Dia selalu seperti ini. Mengkhawatirkan nya, mencemaskan kannya, bahkan sering melupakan kelelahan di tubuhnya akibat jadwal nya yang padat. Hanya untuk memikirkan nya.


'Dimana nya yang salah?' Batin Layya sedih.


Sudut mata Layya mengeluarkan air mata. Sedang dirinya masih menatap Rayyan.


Rayyan yang melihat itu. Tentu saja panik seketika.


"Layya ada apa? Kamu benar sakit? Di mana? Katakan padaku. Apa kita perlu ke rumah sakit?"


Layya yang masih menatap wajah Rayyan. Bahkan kecemasan dalam wajah Rayyan. sama sekali tidak terlewat oleh Layya.


Layya meletakkan satu tangannya di pipi Rayyan. Yang seketika membuat kecemasan Rayyan bubar dan di gantikan dengan rasa hangat dan rasa rindu yang menggebu akan perasaan ini.


Rayyan memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan Layya yang sangat hangat bahkan hatinya seperti es yang mencair.


"Kamu selalu bisa mengontrol ku Layya!" Ujar Rayyan setelah membuka matanya dan menatap ke dalam manik mata Layya. Hal yang biasa ia lakukan, dulu.


"Apa anda sudah selesai bicara? Jika iya, maka menyingkirlah. Aku mau ke kamar mandi," Layya membuang pikirannya.


"Bukankah ini masih di katakan awal. Untuk kita yang baru mulai,"


Layya memaksa senyum.


"Anda tidak berpikir untuk menahan saya di sini hingga malam bukan! Dan pekerjaan anda terbengkalai. Anda harus memberikan contoh yang bagus untuk bawahan anda, Tuan Andryatama!"


"Aku sudah bekerja di sana layaknya benteng beberapa tahun ini tanpa istirahat. Dan menyegarkan tubuh ku cuma sehari semalam. Tidak akan membuat perusahaan ku bangkrut. Designer Zunaira!"


"Aku iri dengan posisi anda, yang bisa bersantai seenak jidat anda!" Sindir Layya masih dengan wajahnya yang tersenyum paksa.


"Apa anda tertarik untuk jadi bagian itu!"


"Dan di sakiti lagi maksud anda!" Sarkas Layya menatap Rayyan tajam.


Rayyan seketika terdiam. Raut wajahnya yang tadinya tersenyum memaksa menyamakan senyum seperti Layya, lenyap sudah. Beribu kata kata yang ingin di keluarkan hari ini dengan Layya. Tentu saja canda keduanya. Terlenyaplah sudah.


Suasana yang tadinya terasa hangat. Tiba tiba menjadi dingin dan suram.


"Dimana nya letak salah Ray? Mengapa bisa seperti itu? Kenapa kamu begitu?" Pertanyaan Layya sebentar membuat Rayyan bingung. Sebelum kemudian dia menyadari maksud Layya.


"Layya kau,,,"

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba tiba berubah? Kenapa kamu melakukan itu pada ku. Kenapa bisa begitu? Kalimat kalimat seperti itu terus menghantui ku Ray. Selama ini," Layya menatap dingin Rayyan.


Seakan nafas Rayyan terhenti mendengar rentetan ucapan Layya. Di tambah tatapan Layya yang beda beberapa menit yang lalu, hangat.


Bohong kalau ia katakan. Kalau ia sudah melupakan semuanya. Karna nyatanya, ingatan itu seperti enggan pergi dari dirinya. Puluhan kali, tidak. Ribuan kali ia mencoba menangkis. Ia tidak akan bisa melupakan nya. Ia tidak akan pernah bisa melupakan pria ini.


Tanpa Layya sadari. Air matanya jatuh. Mengingat kesakitan itu,


Rayyan seketika mengangkat kedua tangannya menangkup kedua pipi Layya. Membuat Layya kembali melihat wajahnya. Dan menghapus air mata Layya.


"Jangan menangis! Aku belum pernah melihat mu menangis. Dan seperti nya aku tidak bisa melihat itu. Aku sakit, hati ku sakit Layya. Jadi hentikan, di sini kamu tidak salah. Aku yang salah. Kamu benar, aku mengkhianati mu, aku menyakitimu, aku mempermainkan mu, aku,,,"


Layya seketika menolak Rayyan. Yang membuat kedua tangan Rayyan terlepas dari pipinya.


"Kamu kira aku percaya itu Ray? Kamu kira aku sebodoh itu percaya begitu Ray? Tidak, awal nya aku percaya. Sangat percaya, tapi. Kejadian yang tiba tiba, perubahan mu yang tiba-tiba, sikap dan kata kata mu yang kasar tiba tiba, usiran mu dan apa kamu tahu yang lebih aneh Ray! Tatapan kebencian mu padaku. Seolah aku manusia jijik dan kotor. Seolah aku sudah mempermainkan mu,"


Kalimat terakhir Layya yang nyaris seperti berbisik setelah tadi Layya berteriak di depan wajah Rayyan. Sukses membuat kedua mata Rayyan membulat lebar.


"Aku merasa semua mendadak. Lalu kamu menghilang, seakan kamu tidak mau bertemu dengan ku lagi dalam hidup mu. Dan itu setelah 3 malam kita lalui bersama Ray. Kau membuang ku, "


Mata Rayyan bergetar dengan kalimat Layya. Ia memejamkan matanya. Ingatan yang tidak mau ia ingat lagi. Betapa brengsek nya ia. Betapa kejinya ia.


"Hentikan Layya," Ujar nya dengan gumaman.


Yang membuatnya sakit bukan karna malam itu. Tapi teka teki yang harus ia pecahkan setiap hari. Hingga ia capek dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan untuk tidak menyakiti diri sendiri. Dan kesimpulan egois. Rayyan mengkhianati nya. Rayyan mempermainkannya. Rayyan membohongi nya. Lalu sampai kapan. Ia hidup dalam kesimpulan yang ia buat sendiri itu.


"Tidak, aku tidak akan berhenti. Kamu bilang kita menyelesaikan nya. Dan ya, mari kita selesaikan sekarang. Dan katakan semuanya,"


Rayyan masih dalam diamnya menatap Layya.


"Apa kamu pikir enak hidup dalam kebingungan. Apa kamu pikir enak hidup dalam ketidak kejelasan. Apa kamu pikir enak hidup setelah kamu membuat ku begitu?"


"Apa? Tidak mencintai ku? Dari awal kamu tidak mencintai ku? Apa kamu lupa Ray! Dari pertama kita bertemu. Kamu sama sekali tidak pernah mengatakan kalau kamu mencintai ku. Dan apa kamu lupa. Kenapa kita menikah. Apa kamu mencintai ku? Apa kamu masih ingat ucapan mu waktu itu! " Layya berteriak murka.


"Katakan padaku apa yang terjadi Ray? Aku bisa gila setiap mengingat nya," Layya menangkup wajahnya dan menangis sesenggukan di sana.


"Dimana letak kesalahannya! Padahal saat itu aku sangat bahagia. Kamu tahu rasanya Ray?" Layya kembali melihat Rayyan.


"Seperti seseorang di bawa terbang ke angkasa kemudian setelah nya di jatuhi ke bawah tanpa peralatan apapun di tubuhnya. Itulah aku Ray! Itulah aku yang kamu buat."


"Kamu menghancurkan ku tiba tiba,"


Rayyan terdiam mematung.


'Tidak, salah Layya. Aku juga hancur. Andai kamu tahu apa yang terjadi padaku setelah meninggal kan mu. ' Rayyan memejamkan matanya. Ia menunduk.


"Maafkan aku, Maaf kan aku Layya. " Meskipun begitu, akulah orang yang menyakiti mu. Aku lah orang yang merusak semua nya.

__ADS_1


__ADS_2