
Layya menatap rayyan santai di sertai tarikan nafasnya yang pelan.
"bukankah akan lebih baik waktumu sekarang kamu gunakan untuk melihat kedua anakmu? Dari pada melihatku begitu juga aku!". Ujar layya santai.
Punggung nya ia sandarkan di pintu belakangnya. Berdiri menatap rayyan acuh.
"jangan mengalihkan layya? Tadi kamu terlihat sangat menderita karna menahan tawa. Sekarang ketawalah sepuasmu. Percayalah, tidak akan ada yang tahu atau mendengar. Kamar ini kedap suara dan juga, Aku bisa melihat mereka kapan aku mau, baik di sini maupun di tempat mu".
"kamu sangat percaya diri kalau aku akan mengizinkanmu ke tempatku". Jawab layya cepat namun tajam.
"kamu sudah janji layya? Apa kamu lupa?!".
Ckck.
Layya mendecak. Ia merutuki ucapannya sendiri.
Melihat layya begitu. Rayyan malah terkekeh geli.
"biar aku ingatkan jika jika kamu lupa layya? ". Rayyan menjeda ucapannya. Masih di tempat yang sama menatap layya.
Layya menatap rayyan dengan pandangan bertanya.
"tadi saat mami mengatakan meragukan kejantananku, kamu mau ketawa layya? Apa aku benar?".
Layya tersentak dan melebarkan matanya sebelum ia memilih menunduk menatap lantai di bawah kakinya.
Suara jantungnya yang berdegup tidak karuan semakin membuatnya panik. Ia lagi lagi bisa mendecak saja.
Ia tadi hanya mau mengatawainya saja supaya pria ini kesal dan siapa tahu kejadiannya seperti ini. Ini namanya senjata makan tuan.
__ADS_1
"kamu tahu layya? ". Rayyan berdiri tegak dan berjalan mendekati layya sedangkan kedua tangannya masih di kedua kantong celana nya.
Layya menatap rayyan santai tidak terusik sama sekali oleh rayyan yang mendekat ke arahnya.
Sampai di hadapan layya. Rayyan mengeluarkan satu tangannya menopang di pintu di mana punggung layya bersandar. Rayyan menunduk menatap layya, mensejajarkan tingginya dengan layya.
"ingin sekali aku berkata ke mami untuk menanyakan pertanyaan tersebut ke wanita anak dari sahabat nya ini...". Rayyan menjeda ucapannya menatap wajah layya yang begitu dekat dengan wajahnya sekarang. Pandangan rayyan jatuh ke hidung layya yang mancung dan kecil sangat menggemaskan dan ingin sekali ia mengigitnya kecil. Tidak berhenti di situ rayyan kembali menulusuri wajah layya dengan tatapannya hingga turun ke bibir layya dan saat itu juga manik mata rayyan mematung sedetik kemudian batinnya mengerang.
Jika saja ia tidak memikirkan layya akan membencinya mungkin saja ia akan ******* bibir itu sepuasnya.
Rayyan merapat giginya frustasi. Lagi lagi ia harus menahan dirinya. Terus sampai kapan.
Layya masih dengan santai nya menatap rayyan, sama sekali tidak takut ataupun gugup. Ia masih setia mendengar ucapan rayyan selanjutnya meski pun ia sudah bisa menebak apa namun tetap saja ia malas untuk meladeni pria ini.
Layya mengerjapkan matanya di sertai dirinya yang tersentak kaget saat rayyan mundur lalu menarik tangannya dan meletakkan kunci kamar di telapak tangannya. Kunci yang tadi rayyan masukkan ke dalam kantong celananya.
"keluar lah!". Ucap rayyan tanpa melihat layya sembari berbalik dan berjalan ke ranjang lalu menduduki Bokongnya di sana.
'apa yang terjadi dengan pria itu? Tadi jika ia tidak salah lihat raut wajahnya, pria ini... mau mengerjainya lagi'.
Alis layya menyatu saat melihat rayyan yang duduk di ranjang tapi membelakangi nya.
'apa dia sakit sesuatu ?'.
Layya memiringkan kepalanya sembari melangkah mendekati rayyan.
"kamu baik baik saja Ray?!". Tanyanya begitu tiba di dekat rayyan. Namun tidak menapik kalau layya juga berhati hati. Ia berdiri sedikit jauh dari rayyan kira kira 1 meter lebih.
Rayyan merapatkan matanya yang terpejam saat sudut matanya melihat layya berdiri di dekatnya.
__ADS_1
"keluarlah layya. Ini peringatan ku yang terakhir, jika tidak kamu akan rugi dan jangan salahkan aku dan ya. Aku tidak baik baik saja".
Layya tertawa bodoh mendengar ucapan rayyan dan setelah mencerna kejadian beberapa menit yang lalu. Dia bukanlah layya yang dulu, yang tidak mengerti situasi rayyan sekarang.
"kamu sedang bercanda sekarang Ray? Ha ha ha... Kamu membuatku sakit perut". Sambung layya masih dengan tawanya sembari ia memegang perutnya yang sakit karena tertawa.
Sedangkan rayyan menoleh menatap layya dengan keningnya yang berkerut. Wanita ini di suruh keluar malah tetap di sini tidak tahukah dia kalau ia sedang menahan dirinya.
"kamu sedang menahan dirimu? Untuk tidak menciumiku? Kamu sedang memainkan apa Ray? Kamu kira aku akan percaya? Apa. Ini trikmu untuk menipuku lagi dan setelahnya kamu akan mengambil Yusuf dan Maryam dariku? Seperti kamu dulu yang menghancurkan hidupku dengan tipuan mu?!".
Ucapan layya yang pertama sukses membuat mata rayyan melebar tidak percaya, kalau layya bisa menebak dan entah kenapa beberapa detik ia jadi malu dengan layya, yang bisa mengetahuinya. Namun begitu mendengar ucapan layya berikutnya sukses membuat mata rayyan yang tadinya melebar menjadi tatapan gelap dan tajam.
"diamlah layya dan keluarlah! ". Geram rayyan tanpa melihat layya. Bisa bisa ia akan langsung menerjang wanita ini dan membawanya ke atas ranjang ini.
Rayyan mendecak lagi lagi.
Memang kamar adalah tempat paling bahaya untuk tempat bicara.
"Aku ingatkan Ray? Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa lagi menipuku. Satu lagi. Kamu keliru satu hal Ray, Hal itu hanya akan terjadi jika pria itu mencintai atau menyukai wanita tersebut dan kamu. Tidak ada di keduanya! Aku semakin membencimu Ray, kamu sangat menjijikkan'". Desis keji layya sebelum beranjak dari sana. Melangkah ke pintu.
"Oh ya?! Jadi maksudmu aku tidak mencintai mu dan juga tidak menyukaimu tidak pantas untuk ada rasa itu, Nafsu ingin ******* bibirmu sampai bengkak dan nafsu untuk melemparmu ke atas ranjang ini sekarang juga?!".
Layya berbalik mau membalas ucapan rayyan setelah tadi ucapan rayyan menghentikan langkahnya. Namun saat itu juga ia mundur beberapa langkah lagi kebelakang karna rayyan yang tiba tiba sudah ada di depannya Bahkan ia tidak menyadari langkah pria ini.
"minggir Ray!".
"waktumu sudah habis! Seharusnya kamu pergi di saat aku bilang keluar tadi!". Rayyan berbicara di hadapan telinga layya, yang membuat layya mendorong tubuh rayyan sekuat tenaganya. Namun kedua tangannya di tangkap rayyan dan sedetik kemudian.
"arhhh... Ray... Apa yang kau lakukan? Minggir dan... Lepaskan".
__ADS_1
Tubuh layya sudah terbaring di ranjang dengan rayyan di atas nya. Rayyan mencekal kedua pergelangan tangan layya yang berada di atas kepala layya sedang wajahnya terlihat gelap dan dingin.
"ucapkan selamat tinggal pada makan malam dengan kedua anak kita!".