
Di dalam ruang meeting yang berdomisili putih tersebut terlihat lebih dari 20 kepala berada di sana dengan semuanya sesekali akan diam diam melirik ke arah di mana rayyan duduk mendengarkan satu demi satu karyawannya yang bersuara membagi pikiran mereka masing masing.
Tidak lebih aldi yang juga berada tepat di samping kiri rayyan yang sesekali melihat ke arah atasannya lebih tepat ke satu high heels yang berada di atas meja, di depan rayyan sendiri.
2 Jam sudah rayyan berada di dalam sana tanpa berhenti menyungging senyum dan sesekali ia akan terkekeh sendiri. karyawannya yang serta mengikuti rapat jelas tahu kalau atasan mereka sekarang sedang tidak fokus pada rapat tersebut terbukti hingga beberapa kali aldi sang asisten memanggil manggil atasannya saat para karyawan meminta persetujuan dari atasan mereka tersebut dalam rencana yang mereka pikirkan.
"ada yang lain? ". dari 2 jam yang lalu tiga kata itu selalu keluar dari mulut atasan mereka.
"pak itu...". salah satu karyawan di sana yang berjenis laki laki mencoba untuk membantah namun terhenti dengan suara dingin dan tajam si pemilik perusahaan.
"perencanaan yang kalian ajukan hari ini tidak jauh beda dari kemarin kemarin, bukankah aku meminta untuk memberikan ide yang lain? bukan pemikiran sampah yang kalian berikan! lalu apa? kalian di sini menunggu pemikiranku? jika itu terjadi untuk apa aku memperkerjakan kalian? di tambah...berapa tahun sudah kalian bekerja di perusahaan ini? ini YANG KALIAN BERIKAN?! ". teriak rayyan murka sembari bangkit berdiri dari duduknya menatap ke semua karyawan di sana dengan tatapan tajam dan penuh amarah.
Aldi yang berada di samping rayyan hanya bisa menunduk menatap meja di bawah matanya.
Jangan pernah berpikir untuk atasan mereka tidak pernah fokus pada setiap rapat bahkan bermimpipun jangan. sekalipun pikirannya ada di tempat lain dan matanya melihat ke depan terlihat tatapan kosong tapi tidak, dia pria jenius yang bisa membagikan satu otaknya ke berbagai tempat. tidak ada kata bermain baginya dalam bekerja.
__ADS_1
Karyawan di sana baik wanita, pria, muda dan tua menunduk takut setelah saling melirik sesama masing masing dan mereka sadar. mereka telah melakukan kesalahan dan jangan berharap gaji bulan ini akan mereka terima penuh.
"lalu...bagaimana dengan keuntungan yang kita dapat! keluarkan itu". rayyan kembali duduk di kursinya untuk melanjutkan rapat mereka.
Suasana di dalam otomatis menjadi tegang namun tidak untuk rayyan, yang berekpresi ingin memakan mereka semua jika hal sampah lagi mereka keluarkan.
Rapat kembali berjalan dan layar putih di depan rayyan kembali di ganti dengan data data yang perlu rayyan lihat. mata rayyan terlihat sangat sangat fokus menatapnya dan sesekali akan mengeryitkan keningnya. hal itu sontak saja membuat para karyawan di sana terlebih yang bertanggung jawab untuk data tersebut gemetar ketakutan.
Seharusnya tadi mereka bersyukur dengan sikap atasannya tadi yang tersenyum senyum sendiri dan tidak seperti sekarang. semua di sana menggeram untuk penyesalan diri sendiri.
Di lain lantai di gedung yang sama. terlihat layya yang mondar mandir sembari menggigit jari jempolnya, memikirkan akan satu hal.
Menunggu rayyan atau membiarkan sebelah high heelsnya pada rayyan dan jika jika nanti ia bertemu ia akan meminta balik atau...ia relakan saja...
'Arghhhh...itu high heels kesayangku+kesukaanku..hu hu hu'. layya berpura pura menangis di sana sendiri. di lantai 11 di mana berada ruang meeting yang sedang ia design. sedangkan layya berada di kamar mandi wanita yang ada di lantai tersebut. mondar mandir di depan kaca besar yang ada di sana dan sesekali ia akan berhenti untuk mengeluarkan idenya atau sekedar mengumpat rayyan.
__ADS_1
High heelsnya yang berwarna Hitam berlapis merah di bagian bawahnya dan ia sangat ingat ketika mau membelinya karna harus rebutan dengan seorang wanita yang kebulean, sehingga high heels tersebut jatuh ke tangan wanita itu karna dia rela membayar dengan harga dua kali lipat dari harga yang sebenarnya. sedih? tentu saja namun itu hanya sebentar sebelum seseorang yang sangat ia kenali memberinya hadiah dan itu... high heels tersebut. bayangkan bagaimana ia bahagia dan senangnya saat itu.
"haruskah aku ke meja resepsionis dan menanyakan di mana ruang kerja rayyan?... tapi jika itu ku lakukan...apa yang akan di pikirkan mereka?... seorang desainer yang sedang bekerja sama dengan perusahaan imperial menanyakan ruang kerja atasan mereka...bukankah aku terlihat seperti mau merayu atasan mereka?!... arghhhh....apa yang harus aku lakukan?... dan juga...kenapa aku tidak ingat lantai berapa saat itu lina mengantarku?...di tambah...tidak lucu bukan? tiba tiba aku ada di sana menunggu rayyan dengan alasan high heels ku, aku yakin mereka tidak akan percaya. otak mereka tentu saja akan berpikir luas....kenapa high heelsku ada pada atasan mereka dan...bla bla bla...arghhhh....bisa gila aku". layya menekan kepalanya sendiri dengan kedua telapak tangannya sembari berjongkok.
Huh...layya mendesah lelah setelah bangkit berdiri. menoleh melihat ke cermin menatap dirinya di sana.
"ingin sekali aku memukul kepala pria itu dengan tas ini". geram layya sembari meraih tas sampingnya yang berada di lantai. semua pemikiran dan ide yang muncul di otaknya semuanya tumpul.
Mau menunggu di lobby? jangan bercanda, dengan satu high heels. aku akan terlihat sangat aneh di tambah tidak mungkin pria itu turun ke lobby dan juga tidak mungkin aku melabrak rayyan begitu sampai di lobby. menunggu aldi? jika dia turun jika tidak? eughhhh...waktuku termakan banyak di sini.
Oh tolong seseorang berikan aku ide. dan jangan bilang menyusul pria itu ke lantai di mana di adakan rapat. ruang mana dan lantai mana bahkan aku tidak tahu?.
Layya mengetuk ngetuk satu high heels yang masih ia pakai sebelah ke lantai. sembari otaknya berpikir keras.
Dari tadi hanya satu ide yang bisa ia pakai namun sedikit akan memalukan yaitu...turun ke lobby lalu ke meja resepsionis dan menanyakan di mana ruang kerja rayyan. masa bodoh dengan pikiran mereka bukan?. arghhh...rayyan...? kenapa hari ini aku harus melihatmu sih? layya melepas sepatunya kesal dan menentengnya.
__ADS_1
Cara aman adalah lebih baik lupakan high heelsnya dulu dan balik dengan kaki telanjang dan kamu ray...? aku pastikan akan membuatmu lebih parah dari ini.
Layya mendengus keji. 'jika bisa...aku akan membuatmu berjalan di jalan tanpa baju dan celana'. layya menyungging senyum keji lalu ia terkekeh keji. memang tidak mungkin sih? tapi tidak ada yang tidak mungkin...jika melalui kerja keras bukan?. layya terkekeh keji.