
Srak...srak...srak...
Itulah suara yang terdengar di dalam ruangan yang luas dengan isinya deretan rak yang berisi berkas dan dokumen dokumen penting perusahaan Imperial.
2 deretan rak dengan lorong di tengahnya terlihat layya, yang sibuk mencari, mengambil dan membuka setiap berkas amplop besar berwarna coklat yang dia temui. Sedang di lantai terlihat lembaran putih, amplop coklat besar yang kosong berserakan serta rayyan yang berdiri bersandar di rak dengan tangan terlipat di dada menatap memerhatikan pekerjaan layya dari 1 jam yang lalu.
"tidakkah kamu berniat membantu cari ray...?!". Suara layya setelah sekian lama sunyi dan hanya ada suara lembaran yang terbuka.
"aku melihatmu saja".
"kalau begitu kamu sama tidak bergunanya seperti aldi jika di sini".
Rayyan tersenyum tipis namun terlihat jail. Ide kotor tentu ada dalam kepalanya.
"aku pemiliknya di sini dan tanpa aku, yakinlah kamu tidak bisa masuk ke sini".
Layya tidak bisa tidak membenarkan ucapan rayyan karna nyatanya itu memang benar. tapi...
"kamu tidak takut? Aku bisa saja lho mencuri data penting di sini dan yah, begitulah". tanya layya sembari matanya yang sibuk mencari alasan dia berada di sini sekarang.
Rayyan terkekeh.
"kamu tidak akan segila itu layya...? Dan jika iya. Aku bisa mendapatkanmu dengan mudah". rayyan mengedikkan bahunya acuh.
Layya menelan ludahnya. bukan gugup tapi lebih ke pertanyaanya yang bodoh.
Ya juga kan? Rayyan bisa dengan mudah mendapatkannya menangkapnya dan yang lebih penting. Ia tidak akan segila itu melakukan hal rendah itu. Mengingat ada kedua anaknya meski rayyan tidak akan memenjarakannya tapi ia akan malu sendiri tapi siapa juga sih yang akan melakukan hal tersebut. aku rasa tidak akan pernah terpikirkan.
"hahhh...". Layya menghela nafas lelah. mundur menatap rak yang deretan tengahnya sudah kosong. Setelah pencariannya selama 1 jam lebih sekarang dan...hanya sendiri tanpa pria di belakangnya ikut andil. Ia tidak menemukan apapun.
Layya menoleh menatap rayyan di belakangnya.
"kamu yakin? Aldi itu tidak menaruhnya di tempat lain, aku sedikit ragu ada di sini".
Rayyan tertawa kecil. namun tidak menjawab layya. Dia hanya kembali menatap wajah layya dan entah kenapa sangat membuatnya tertarik untuk sekarang.
"layya?...Tempat ini kosong dan hanya di isi oleh kertas lalu kita di sini hanya berdua...Tidakkah menurutmu sangat bagus untuk kita memberi adik ke yusuf dan maryam...?!". Rayyan sekarang memiringkan tubuhnya menatap layya sedang dia masih bersandar di rak belakangnya.
"apa ada tempat penyimpanan lain di sini? Misal seperti ruang khusus atau...brangkas gitu! ". inilah yang selalu ada di otak layya bahkan sebelum ia masuk ke sini.
Layya memilih tidak peduli dan mengacuhkan serta menulikan telinga dengan ucapan rayyan.
"aku mau izin darimu. Bagaimana menurutmu? ".
Layya memutar malas matanya. Menarik nafas pelan sebelum menggeleng dan mendesah lelah.
"kamu belum menjawabku ray...?!". Layya membuka tutup berkas di tangannya sebelum melempar ke lantai.
Mata layya menatap tumpukan kertas sekaligus berkas+dokumen, yang menumpuk di lantai akibat ulahnya.
'jangan meminta ku untuk merapikannya kembali'. layya merinding melihat tumpukan di bawah kakinya. bisa bisa tengah malam baru selesai di tambah ruang ini yang cahaya lampunya hanya remang remang tidak terang benderang gitu.
Layya tersadar dari lamunannya saat mendengar suara rayyan lagi. Yang bagi layya sangat ingin menghantam kepala rayyan ke rak besi di belakangnya.
"jujur sebelumnya aku tidak pernah terpikirkan akan melakukan hal itu di sini tapi melihatmu dan berada di sini denganmu. Ide itu tiba tiba muncul. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu!".
Terdengar sangat serius tapi layya tahu. Rayyan sedang menjaihilinya. lihat saja dari senyumnya yang sangat menjengkelkan itu.
Layya memilih menggeleng kepalanya malas. Ia membalik menatap rayyan. Ucapannya yang terakhir sangat sama seperti yang pernah ia dengar 4 tahun yang lalu. Ia tidak akan menampik itu.
__ADS_1
Menepis hal tersebut layya menggelengkan kepalanya lelah.
"sekarang aku benar benar yakin aku tidak bisa lama lama berada di dekatmu". jika tidak aku benar benar bisa ikut gila. sambung layya dalam hati.
Layya melangkah menjauh dari rayyan. hingga jarak mereka kira kira 6 meter lebih layya berhenti. Ia berbalik menatap rayyan.
Rayyan masih di tempat yang sama. Cuma punggungnya ia sandarkan ke belakang tidak miring lagi sedang kedua tangannya berada di kantong celananya dengan kakinya bersilang. Ia menatap layya dengan santai bahkan sampai layya berhenti berbalik melihatnya.
"Aku yakin ada ruangan rahasia di sini atau...sejenis brangkas peyimpanan rahasia, apa aku salah ray...?! ".
Rayyan mengedikkan bahunya acuh. Ia bahkan tidak menarik sama sekali untuk membahas hal itu. Apa bagi wanita itu surat itu sangat penting? Di tambah ke adaan yang sekarang.
Layya melihat ke kanan dan kirinya di ujung lorong tempatnya berdiri sekarang, yang memperlihatkan lorong kosong dengan kedua sisi berjejer rak besi. cahaya remang remang dan...sunyi. Lengkap sudah untuk seorang penakut seperti dirinya. Membayangkan film horor dan para hantu hantu gentayangan akan ada di setiap lorong atau ujung lorong atau...
Layya mulai merinding dengan pemikirannya. Ia berbalik melangkah cepat ke tempat rayyan. Berdiri berkacak pinggang sembari kedua manik matanya menatap lantai yang berserakan akibat ulahnya.
"aldi akan membereskannya, kamu tidak perlu memikirkannya".
Layya sontak melihat rayyan.
'itu yang aku harapkan tapi aku tidak akan berterima kasih padamu'.
Layya berdehem sembari menegakkan berdirinya. Seperti wanita angkuh dan sombong.
"kamu terlihat santai, apa kamu mengetahui di mana surat itu?! ".
Rayyan mengedikkan bahunya acuh sebelum dirinya berdiri tegak melangkah mendekat ke layya sembari meraih satu berkas dan membukanya. Dia terlihat malas.
"apa kamu sudah selesai? Jika iya, mari kita keluar tapi lain jika kamu masih betah di sini, silakan tapi aku mau keluar". rayyan menoleh menatap layya, yang jarak mereka kira kira 1 meter.
Layya melihat sekitarnya dan seketika bulu kuduknya merinding. Ia kembali melihat rayyan.
Bayangkah saja. Ia sedang di landa ketakutan dan ketika berbalik tiba tiba rayyan sudah berdiri di sampingnya.
"kenapa?! ". tanya rayyan santai seperti tidak ada salah sama sekali.
"kamu mengejutkanku, kenapa tidak bersuara atau apapun kek hufff...". layya mengelus dadanya. Jantungnya di dalam sana masih loncat loncat karna terkejut.
"aku?...Memang apa yang aku lakukan?! ". tanya rayyan dengan polosnya.
Rayyan mendekat ke layya untuk menaruh berkas ditangannya sebelum juga meraih beberapa berkas lain di lantai dan ia taruh di sana.
"ah sudahlah tapi ray? ...Kamu belum menjawabku, apa di sini ada ruang penyimpanan khusus atau brangkas gitu?! percaya lah aku tidak akan membocorkannya ke luar, kita hanya perlu menemukan amplop itu dan selesai". jelas layya panjang lebar.
Rayyan menggeleng.
"tidak ada, semua hanya ada ini dan semua hal penting perusahaan ada di sini terkecuali hal pribadi perusahaan".
Layya menyatukan alisnya. bukankah maksud aku itu?.
"di mana itu? Tempatnya".
"apanya?! ".
"yang kamu bilang. Hal pribadi perusahaan".
"itu hanya aku dan papi yang tahu, lain dari padanya tidak boleh bahkan asisten pribadi. Baik asisten papi maupun asistenku".
Layya mendesah lelah.
__ADS_1
"ray?... Aku tidak akan mem... ".
"aku tahu! Aku mempercayaimu layya? Kamu tidak akan bodoh mau melakukan itu bukankah aku sudah bilang? Aku bisa menangkapmu dengan mudah".
Jika saja wanita yang mendengar kalimat rayyan barusan adalah wanita yang sangat mencintai rayyan tentu ucapan tadi sangat membuatnya melambung tinggi ke angkasa karna rasa percaya dari pria nya tapi kalimat selanjutnya sukses membuat siapapun jatuh hingga ke dasar bumi.
Hal itu tidak akan berlaku untuk layya.
"kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo ke sana.".
"masalahnya surat itu pasti tidak ada di sana! Siapa yang menaruhnya? Aku? Seingatku aku menaruhnya di laci meja tidak di...".
"diamlah ray? Aku tidak mau dengar lagi". layya kembali menatap deretan berkas di rak depannya setelah menbalik badan.
'ia yakin, di sini tidak ada. Feelingnya mengatakan itu? '.
"apa sudah selesai? Jika iya kita keluar".
Layya menoleh melihat rayyan. 'baiklah, untuk sekarang mari keluar dulu dari sini. Berpikir di mana. Setelahnya ayo cari lagi'.
Layya mengangguk lemah. "baiklah".
"minum dulu! kamu tentu haus setelah pencarian mu yang melelahkan".
Layya menatap rayyan. Karna ia terlalu lelah jadi ia tidak menaruh curiga apapun. meraihnya sebentar melihat rayyan sebelum membuka tutupnya.
Rayyan memperlihatkan botol airnya ke layya saat layya melihatnya. tanda kalau ia juga punya.
Rayyan memutar tutupnya hingga berbunyi tek. Membukanya lalu meneguknya sedang matanya menatap layya.
'ceroboh seperti biasa'. Batin rayyan. Ia kembali menutup botol minumannya setelah menghilangkan hausnya.
Matanya menatap layya di depannya. Menunggu reaksi layya setelah minum air putih yang sudah ia bubuhkan obat.
Layya memijat kepalanya yang sedikit pusing. berdirinya yang tidak seimbang lagi.
"kenapa aku tiba tiba lemas dan pusing ya?! ". tanya layya lebih ke dirinya sendiri.
Rayyan berdiri di hadapan layya dengan tangan terlipat di dada.
"maaf layya? ". ujar rayyan.
Layya dalam kesadarannya yang tipis sontak mendongak menatap rayyan di depannya.
"ray kau...".
Brukh...
Belum layya menyelesaikan kalimatnya. Ia sudah tidak sadarkan diri duluan dan rayyan dengan sigap menahan tubuh layya agar tidak terjatuh ke lantai.
Rayyan mengangkat layya ala bridal style. tersenyum keji menatap layya lalu beranjak dari sana.
"aku terlihat santai dan seperti tidak peduli? Apa begitu menurutmu layya? ". rayyan berbicara sembari melangkah.
"kamu mau tahu jawabannya? ". Rayyan menatap layya yang terpejam di gendonganya.
Ia tersenyum keji.
"itu karna surat itu ada padaku sayang...?! Dan tenang saja, surat itu tersimpan rapi ditempat yang rapi". ujar rayyan sebelum mencapai pintu besi di depannya.
__ADS_1
"Dan hal penting sekarang! Aku harus mengurus seseorang dulu, untuk itu...Kamu harus ada di sana".