Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 56


__ADS_3

Bukhhh...


Satu pukulan kepalan tangan mendarat indah di tulang pipi alex.


Brakh...


Prang...


Tubuh alex terjungkal ke belakang hingga membuat beberapa benda di belakangnya terjatuh ke lantai. termasuk keramik indah, yang harganya bisa di katakan mahal. terlihat dari wajah mirza yang shock dengan mulutnya terbuka lebar.


"ugh...". ringis alex sembari memegang sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. ia berdecak kesal sekaligus marah ke dirinya sendiri.


Alex tidak pernah mengira+menyangka kalau tindakannya di ketahui oleh orang lain dan menjadikan itu sebagai umpan untuk mengamcam rayyan. terlebih orang tersebut adalah orang yang sangat dekat sekaligus orang yang sangat rayyan percayai bahkan dia sukai atau...seseorang yang sangat rayyan kagumi. paman sendiri adik dari maminya Mr. yulian Alfandi. yang dulunya sosok pengusaha yang sangat sukses dengan karier dan bisnisnya namun beberapa tahun ini mengalami penurunan alias hampir bangkrut jika saja rayyan tidak membantu. hutang di mana mana. tersangkut perjudian. bahkan ia sempat dengar minum minum hingga mabuk mabukan dan yang lebih parah. berurusan dengan para mafia. ia kira perjalanan rayyan 2 minggu kemarin di sebabkan oleh layya dan rendra namun siapa sangka ternyata itu adalah perjalanan mendadak. rayyan yang di hubungi oleh seseorang yang sangat mengenali Mr. yulian kalau pamannya mau di jebloskan ke dalam penjara karna masalah uang, yang bermilyaran. malam itu juga rayyan terbang ke negara di mana pamannya berada dengan beberapa koper uang untuk menebus paman. setelahnya rayyan menyelesaikan segala hutang piutang Mr. yulian. baik di bank maupun di rentenir dan bahkan di tempat perjudian. bukannya berterima kasih. Mr. yulian sekarang malah mempermainkan kebaikan rayyan. dengan menggunakan layya sebagai ancaman. meski 2 minggu kemarin juga mengancam rayyan dengan menggunakan layya. namun kali ini beda...ini karna kecerobahannya.


Ia membuat rayyan bersama layya malam itu supaya hubungan keduanya membaik dan salah paham yang terjadi di masa lalu pada rayyan meski ia tidak yakin karna hanya menebak saja. bisa terselesaikan dengan baik. namun siapa duga. Mr. yulian mendapat kesempatan untuk menggunakan rayyan lagi.


Alex menggeram.


"cukup ray?...". mirza menghentikan gerakan rayyan yang mau maju menghajar alex lagi. mirza menahan tangan rayyan. berdiri di depan rayyan untuk menghentikan langkahnya.


"ini di luar rencananya juga". sambung mirza. mencoba menenangkan rayyan.


Rayyan bernafas naik turun karna kemarahan di dalam dirinya belum terlampiaskan. matanya menatap tajam alex yang terduduk di depannya sedangkan kedua tangannya terkepal kuat.


Kemarin. Ia sudah mengosongkan semua jadwalnya untuk hari ini. Sehari penuh. Ia sudah menghubungi aldi untuk menghandle semua pekerjaannya untuk sehari dan menyuruh aldi untuk membatalkan semua jadwal meetingnya baik dengan para klien maupun dengan para pemegang saham. terkecuali yang bisa di handle oleh aldi ataupun rose sekretarisnya. Semua itu hanya untuk ia bisa bertemu dan bermain dengan kedua anaknya. di saat kedua anaknya masih berada di rumah mami. karna layya bilang mami meminta layya menitipkan padanya saat layya ke sini. dan jika di ingat ingat dan jika di hitung hitung dari hari ini. maka waktunya tinggal 2 hari lagi dari layya akan kembali ke sini. karna layya berada di sana hanya 3 hari. seharusnya ia bisa ke sana malam ini atau besok namun karna pria di depannya saat ini. ia tidak bisa melakukan itu.


Malam itu. Ia sudah tahu kalau itu semua adalah ulah pria ini dan ia berpikir dengan beberapa pukulan serta mengirimnya untuk bekerja sebagai relawan ke afrika selatan mungkin akan terbayar untuk ke marahannya. namun siapa sangka. semua itu jauh lebih buruk dari yang ia duga.


"haruskah aku menenggelamkanmu ke laut malam ini juga lex...?!". geram rayyan. Kemarahannya masih belum reda. tidak. jika dirinya tidak melihat kedua anaknya malam ini juga. namun ia tidak bisa melihat karna data yang ******** itu kirimkan harus ia selesaikan malam ini juga. supaya bisa ia kirimkan besok pagi pagi untuk orangnya yang bekerja di sana dan...sialnya. Esok harinya lagi ia harus terbang ke sana untuk menyelesaikan semua permasalahan baik di perusahaan maupun hotel pamannya yang hampir di ujung kejatuhan. mungkin saja sementara ia harus mengambil alih perusahaan pamannya juga hotel yang harus ia kendalikan. sebelum menyerahkannya ke paman. dan mungkin. ia akan di sana selama sebulan bahkan mungkin saja lebih dan semua itu?... cuma gara gara satu orang.


Mirza yang masih berdiri di depan rayyan. meringis takut apalagi saat mendengar gertakan gigi rayyan.


Alex mendecak kesal. lebih ke dirinya sendiri.


"...aku akan mengurusnya!". ujar alex meski tidak yakin dengan ucapannya. Paling tidak hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengambil rekaman video. entah video apa. ia juga penasaran. sehingga membuat pria ini sangat histeris.


"dengan?..membunuhnya...? ".


Mata alex melotot lebar.

__ADS_1


"tentu aku tidak akan melakukan hal sekeji itu ray...?!". protes alex tidak terima.


Melihat rayyan yang terkekeh bersamaan dengan mirza. alex berdecih kesal. ia di kerjai.


"sudahlah! semua sudah terjadi juga". desah rayyan sebelum mendudukkan bokongnya ke sofa.


Alex menggeram.


"brengsek kau ray?...jika sudah menganggap begitu kenapa kau masih memukuliku?! ". protes alex lagi tidak terima.


Rayyan menatap alex datar.


"karna kamu pantas mendapatkannya! bersyukur lah aku tidak mengirimmu ke afrika selatan". rayyan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sembari tangan kirinya berada di dahinya. ia mendesah lelah.


Ingatannya kembali saat dirinya bersama layya di mobil lalu bagaimana ia menurunkan layya di gedung hotel di mana layya menginap dan setelahnya ia melenggang pergi tanpa mengatakan apapun.


Mata alex melotot panik. 'a-a-apa?...afrika selatan?...aku salah dengarkan?'. alex menggeram dalam hati sembari bangkit dari duduknya di lantai. melangkah mendekat ke rayyan juga mirza di sana. menduduki bokongnya ke sofa tepat berhadapan dengan rayyan.


"jika di pikir pikir lagi dan jika tidak terjadi hal ini, bukankah seharusnya kamu berterima kasih padaku?...aku membantumu! entah apa itu tapi melihat wajahmu yang lain seperti biasa, aku yakin sekarang kamu sudah baik baik saja". ujar alex panjang lebar.


'apa dia marah?... seperti terakhir kali...aku tidak menepati kata kata ku...untuk makan siang...'. batin rayyan tanpa mendengar celotehan alex di depannya, yang mencondongkan tubuhnya menanti jawaban.


"sebenarnya aku sedikit penasaran sih?...ray...apa semua berjalan lancar?..kamu menikmatinya?...ah...maksudku malam mu?". tanya alex lagi. wajahnya senyum senyum menanti jawaban rayyan.


"aw...sshhh...mirza...?". ringis alex sembari menatap mirza yang berdiri di atasnya setelah memukul kepalanya.


"kamu mau di hajar lagi hah...akan lebih baik jika kamu diam". ujar mirza lalu mengalihkan matanya melihat rayyan, yang sepertinya masih asik dengan pikirannya.


'tadi...dia bilang mau bicara...memang apa yang mau dia bicarakan...?...'. rayyan bangkit dari bersandarnya. masih tetap duduk namun tubuhnya sedikit berjongkok sembari kedua sikunya berada di paha. rayyan menggigit kecil jari jempolnya yang kanan sedangkan mata dan pikirannya tidak bisa berada di sana.


'jangan bilang...'. rayyan memejam rapat kedua matanya. sebelum bangkit tiba tiba berdiri dan mengumpat.


"sial! ". rayyan menyisir rambut menggunakan tangannya lalu berkacak pinggang. nafasnya terlihat naik turun sedangkan otaknya sibuk memikirkan akan sesuatu. manik matanya melihat ke sana dan kemari tidak tentu arah.


"kenapa?... masalah lagi?". tanya mirza setelah di kagetkan dengan umpatan rayyan yang tiba tiba. entah karna apa.


"ada apa?". tanya alex setengah panik. ia bangkit berdiri menatap rayyan. keduanya. mirza dan alex sama sama berdiri menanti jawaban rayyan dengan tidak sabar.


Rayyan mengedipkan kedua manik matanya tersentak dari pikirannya begitu suara pertanyaan mirza lalu alex. mata rayyan beralih melihat ke mirza lalu jatuh ke alex.

__ADS_1


Alis rayyan menyatu setelah satu detik melihat alex.


"ada apa?... aku lagi? ". tanya alex saat melihat tatapan rayyan hanya padanya dan itu bukan tatapan bagus melainkan dirinya sedang tidak akan baik baik saja.


"kau...". rayyan menjeda ucapannya menatap alex tajam.


Alex menelan ludannya gugup+takut.


'aku hanya melakukan itu saja bukan?...lain tidak ada bukan? '. alex mencoba menenangkan dirinya. di sisi lain. alex mengumpat dirinya sendiri.


Mirza yang berada di tengah tengah menatap keduanya bergantian.


"ada apa sih ray?... jangan main pukul lagi dan ya, ingatkan aku besok untuk menagih barang barangku yang pecah karna kalian berdua". ujar mirza santai lalu kembali menduduki bokongnya ke sofa.


"kau...sudah mengetahuinya bukan?!". tatapan mata rayyan ke alex terlihat mengintimidasi.


Alex terlihat kebingungan dengan pertanyaan rayyan sedangkan mirza hanya menonton keduanya dengan santai sembari menyilangkan kedua kakinya.


'mengetahui? mengetahui apa?...'. batin alex.


"aku tidak mengerti ray? pertanyaanmu". ucap alex.


Rayyan mendengus sinis lalu ia terkekeh. menduduki bokongnya ke sofa. menyilangkan kakinya seperti mirza. beralih menatap alex yang berdiri di depannya dengan santai.


"ayolah lex? jangan bermain teka teki denganku! sejak kapan kamu mengetahuinya? dan bagaimana kamu tahu?".


Alex semakin kebingungan. ia mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"aku benar benar tidak mengerti ray? coba kamu perjelas? memang apa yang aku ketahui? ".


Tatapan mata rayyan terlihat mengelap menatap alex. ia tidak punya waktu untuk bermain main dan pria ini?.


"kamu menjebakku berdua dengan layya! memasuki obat dengan dosis yang gila!...". rayyan menarik tajam nafasnya sembari matanya menatap alex.


"jangan katakan kalau kamu tidak mengetahui


apapun lex? ". ujar rayyan dengan satu terikan nafas lalu dirinya menggeram di dalam hati.


Kedua manik mata alex sontak saja melebar.

__ADS_1


"i-itu...". alex terlihat gelagapan.


'sial'. umpat alex dalam hati.


__ADS_2