Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 95


__ADS_3

Ckleck...


Pintu kamar mandi terbuka dan layya keluar dari sana. Dengan di kepalanya handuk putih yang melilitkan rambutnya yang basah di sertai tubuhnya yang terbalut bathrobe sama putih.


Kedua mata layya mengedip. Saat baru beberapa langkah. Ia keluar dari kamar mandi dan semakin masuk ke dalam kamar. Kedua matanya mendapati rayyan yang sedang sholat, tidak. Rayyan sudah selesai sholat. Terlihat dari rayyan yang sedang melakukan salam.


Kembali melangkah sambil memegang ikatan bathrobe nya. Dengan kedua matanya masih melihat rayyan.


Merasa kehadiran layya di belakangnya.


Rayyan membalik posisi duduknya menatap layya.


"apa aku tidak salah lihat? Seorang rayyan shalat?!".


Rayyan tidak mempedulikan kalimat layya.


"kamu sudah selesai?...Baju ganti mu ada di sana, juga mukena. Seperti nya waktu Maghrib hampir habis. Shalatlah dulu".


Layya melihat ke arah yang di tunjuk rayyan. Dan benar saja. Di atas ranjang ada 3 tas belanjaan.


Tunggu...


Ranjang...?.


Layya mengalihkan matanya melihat ke sekeliling kamar.


Ini kamar rayyan...?.


Ia kembali melihat rayyan sejenak sebelum melihat sekelilingnya lagi.


ini sangat luas. Bahkan bisa jadi luasnya seperti ukuran satu apartemen tempatnya tinggal. Semuanya. Dan ini hanya satu kamar rayyan.


Layya diam diam menelan ludahnya.


Ya sih. Pria ini kaya. Banyak uangnya.


Layya menarik nafas. Berjalan ke ranjang, yang jauhnya melebihi dari 6 meter, dari tempatnya berdiri.


"dulu aku sering melakukan nya. Apa itu salah? Dan, bukankah saat kita bersama dulu. Aku sering melakukan nya denganmu? Bahkan baca Al-qur'an juga". Jawab rayyan akan ucapan layya tadi sembari bangkit dari duduknya. Dan membiarkan sajadah tetap di sana. Untuk layya bisa shalat di sana.


"entahlah! Karna yang ada di pikiranku, setiap melihat wajahmu adalah... Kau bersama reina di atas ranjang!". Acuh layya yang sudah mendekati ranjang.


Rayyan sontak saja mengedipkan kedua matanya, terkejut. Setelahnya membuang muka ke arah lain. Di sertai dengan tarikan tajam nafasnya.


'ia juga tidak suka, ketika mengingatnya!'.


Rayyan kembali menatap layya. 'haruskah, dia mengulangnya lagi?!'.


Ia bahkan tidak mau mengingatnya lagi. Kesalah pahamannya terhadap layya. Dan berpikir buruk tentang layya.


'maaf?'. Ia sangat yakin. Layya tidak membutuhkan itu. Bahkan layya akan semakin mengejeknya, jika kata tersebut keluar dari mulutnya.


Layya meraih kota satu dan membuka, melihat isinya. Begitu sampai di sisi ranjang.


Menarik dan mendesah. Itulah yang di lakukan rayyan.


Bersalah? Ya. Ia memang sangat bersalah ke layya.


Reaksi pertama layya, melihat isi 3 tas belanjaan adalah...Terkejut. Salah satu isinya.


Baju piyama.


"piyama?!". Seru layya ke rayyan tidak percaya. Apa maksudnya dengan piyama?!.


Rayyan tersentak dari lamunannya. Beralih kembali menatap layya. Keningnya mengeryit sebelum bangkit dari duduknya dan berjalan ke ranjang.


"benarkah? Aku tidak tahu. Asal pesan saja".


Rayyan sampai di samping layya, meraih tas yang di buka layya tadi. Sedangkan layya, segera menjauh kan tubuhnya dari rayyan. Begitu aroma yang berasal dari rayyan tercium oleh indra penciuman. Aroma yang membuatnya ingin menghirup lebih dan lebih. Aroma, yang seperti menariknya ke sana. Jatuh ke dalam bekapan rayyan dan menyandarkan wajahnya ke dada bidang rayyan, untuk menghirup lebih.

__ADS_1


Haruskan ia tanya. Parfum apa yang dia pakai. Ini sangat menggoda. Entah kenapa ia suk...Tunggu...


Layya Melebar kan matanya dan segera menggelengkan kepalanya. Menepis hal gila dalam otaknya.


Bagaimana bisa ia tergoda? Layya sadarkan dirimu. Ini rayyan. Rayyan.


"bukankah bagus? Ini sudah malam. Dan ini tepat untuk malam ini!".


Layya melihat ke rayyan lagi lalu beralih ke tas belanjaan. Detik berikutnya, kedua manik mata layya melebar terkejut.


Itu...


Tidak menunggu waktu lagi. Layya dengan gerak cepat. Menarik tas belanjaan, yang berisi piyama tadi, dari hadapan rayyan.


Hal tersebut. Tentu saja membuat rayyan tersentak terkejut. Saat dirinya sedang


mengangkat tinggi piyama. Melihat bagaimana bentuknya. Berlengan pendek atau panjang, yang ternyata adalah. Berlengan dan berkaki panjang.


Rayyan menoleh menatap layya dengan bingung. Sedang di kedua tangannya masih ada baju piyama, yang masih terbentang.


"ada apa?!". Tanyanya bingung.


Layya menggeleng cepat tanpa melihat rayyan.


Rayyan menyatukan alisnya menatap rayyan sebelum turun ke tas yang berada di pelukan layya sekarang.


"apa ada hal yang tidak boleh aku lihat di sana?!". Tatap rayyan ingin tahu, ke tas di pelukan layya.


Tas belanja yang berwarna orange.


"..". Layya diam.


Itu artinya bagi rayyan. Memang ada hal yang tidak boleh ia lihat.


Rayyan memilih untuk tidak mempedulikan itu. Dan memilih meraih tas lain yang berwarna sedikit biru.


Mengangkatnya sedikit tinggi, hingga terlihat oleh layya.


1 Set saja, harganya 2 bulan gajinya dalam bekerja.


Hati layya di dalam sana. Menjerit minta tolong.


Gajinya 2 bulan ini hilang sudah. Habis sudah.


Dan ia harus berpikir ulang lagi dalam rencananya, mau liburan bersama kedua anaknya. Ke tempat yang ramai banget orang kunjungi bahkan teman teman kerjanya ke sana ketika liburan. Dan ia selalu ingin, jika ke sana dengan ke dua anaknya. Indonesia-Bali. Sekalian ia juga ada pekerjaan di sana. Selama 1 bulan penuh.


Dan sekarang. Ia harus berpikir ulang lagi. Antara tidak membawa kedua anaknya dan pulang ke mari seminggu sekali. Tapi itu sangat sulit baginya. Ia bisa mati dalam merindukan kedua buah hatinya. Dan pilihan terakhir adalah berhemat. Tapi ia tidak mungkin melakukan itu. Kedua anaknya akan tersiksa.


Hahh...


Desah layya dalam hati.


Ah...Rendra. Aku kira dia bisa membantuku.


Seharusnya tabungannya, lebih dari cukup untuk mereka, sampai tahun depan. Namun, karna ia merenovasi dan mendesain kembali apartemen tempat nya tinggal sekarang. Merubah semuanya. Juga melengkapi semua perabotan, termasuk dapur, kamar yusuf dan maryam. Al hasil, tabungannya minta di hemat. Tapi tidak untuk makan mereka sehari hari. Itu lebih dari cukup kecuali untuk bepergian liburan.


Seharusnya ia tidak perlu menerima ini sih. Tapi ia membutuhkan mereka sekarang. Baju tidur, mukena dan...Yang ia dekap sekarang. Yaitu celana dalam dan...Miliknya.


Dan seharusnya juga. Ia bisa menghubungi ayrin untuk mengantar pakaian untuknya. Tapi ayrin sedang tidak berada di kota ini sekarang.


2 hari yang lalu. Ayrin berada di kota perth setelah dari Adelaide. Ia menginap semalam di sana bersama 1 teman sekantor nya, wanita.


Dan sekalipun ada teman yang bisa ia mintai tolong. Untuk mengantar pakaian nya kemari. Ia yakin 100%. Pria ini, Rayyan. Tidak akan membiarkan itu. Membuat nya kesusahan dan kesal. Ia rasa sudah menjadi hobi dia selama ini.


Layya menaikkan tatapannya menatap rayyan.


"lalu apa yang kamu tunggu di sini? Sekalipun ini kamarmu. Bukankah seharusnya kamu memberikan ruang untukku. Untuk ganti baju?!".


Rayyan berbalik lalu menunjuk ke salah satu pintu yang berada di kamar tersebut.

__ADS_1


"masuklah ke sana. Di sana ruang ganti dan kamu bebas di sana. Tapi lain jika kamu masih ingin di sini dan memperlihatkannya padaku. Itu artinya aku tidak akan keluar dari sini, sebelum memastikan kamu di periksa!".


Layya menyatukan alisnya. Di periksa??.


"kamu memanggil dokter kemari?!".


"haruskah kita berdebat sekarang? Dan waktu Maghrib akan segera habis".


Layya menarik nafas. Setelahnya menarik baku piyama dari tangan rayyan dan membawanya ke ruang yang di maksud rayyan.


Menyebalkan. Dia pria yang sangat menyebalkan.


Tak...


Layya menutup pintu di belakangnya dengan kesal.


Sampai di dalam. Layya meraih baju piyama. Menyampirkan di bahunya. Lalu meraih pakaian dalamnya.


Saat mau memakainya. Layya tersentak saat teringat sesuatu.


Ia kembali membuka pintu dengan sedikit membanting. Melihat menatap rayyan, yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan kaki bersilang sambil mengotak atik handphone nya.


Mendengar pintu kembali terbuka. Rayyan menaikkan pandangannya menatap layya. Namun, yang ia dapati. Layya masih belum. Berganti pakaian.


"siapa yang kamu suruh beli ini semua?!".


"tadinya rose! Lalu aku teringat kamu punya teman ayrin. Jadi aku menyuruh nya. Dia tentu sangat tahu tentang pakaian mu dan ukuranmu".


"ayrin?". Kernyit layya sedikit tidak percaya. 'Itu tidak mungkin. Dia tidak di sini sekarang. Apa sudah pulang?'.


Tunggu. Bukan itu yang penting.


"lalu di mana dia sekarang. Dia tahu aku dan kedua anakku...".


"aku menyuruh pulang dan ya. Dia tahu, aku memberitahunya dan karna itu juga aku menyuruhnya pulang".


Layya tidak mengerti dengan ucapan rayyan meski ia sangat marah sekarang.


"seharusnya kau menyuruhnya menunggu dan bilang padaku dia di sin...".


"dan setelahnya aku bisa pulang bersama nya sekalian membawa yusuf dan maryam bersama. Meskipun harus di rawat maka akan di rawat di rumah sakit. Begitu maksudmu bukan?!". Sambung rayyan akan ucapan layya.


"mereka anakku ray!".


"dan kamu tidak lupa darahku ada bersama mereka!".


Keduanya saling menatap tajam.


"tapi tidak dengan menyuruhnya pulang juga. Tentu dia sangat khawatir sekarang!".


"Seharusnya sekarang kamu memikirkan dirimu sendiri, yang hampir mati karna menelan air. Bukannya memikirkan orang yang sehat dan baik baik saja". Tajam rayyan.


"tetap saj...".


"karna aku tahu kamu akan begini layya? Karna itu aku menyuruhnya pulang. Cepat shalat, sebelum dokter sampai".


"kamu pikir aku mau banget di periksa? Kamu sangat percaya diri, jika berpikir begitu".


"kamu tidak akan ada pilihan layya. Selain menurutiku".


"kamu sedang menantangku!?".


"apa terdengar seperti itu?!". Rayyan sudah bangkit berdiri dari duduknya. Membalas tatapan layya. Sedang kedua tangannya terlipat di dada.


Tok tok tok tok.


Kedua sama sama menatap ke pintu kamar.


"dia sampai. Jadi cepat pakai bajumu layya". Tajam rayyan sambil berjalan melangkah ke pintu kamar.

__ADS_1


Dia?.


Bodoh. Pokoknya aku tidak mau. Setelah shalat aku akan menemui kedua anakku. Itu lebih penting. Hahhh...Aku ingin tahu ke adaan mereka.


__ADS_2