
Tak...
Rayyan mematikan kran shower. Berjalan keluar dari ruang kaca kamar mandi. Ke tempat deretan handuk yang sudah tersedia di sana. Dari yang kecil hingga yang besar. Tersusun rapi dengan warna putih yang indah di pandang mata.
Meraih satu handuk dan melilitkannya di pinggang. Sebelum kedua manik matanya menoleh menatap ke layya, yang memilih melihat ke samping. Dan itu terjadi dari semenjak ia mulai mandi hingga, sekarang.
Mengesalkan? Of course.
Rayyan membuang dingin tatapannya setelah mengelap seluruh tubuhnya dengan handuk kecil lalu melemparnya ke tempat pakaian kotor.
Rayyan melangkah ke pintu kamar mandi. Sejenak sebelum pintu terbuka. Rayyan kembali melihat layya.
"kamu sudah bisa melepaskan pakaianmu dan tetap berendam layya. Itu baik untuk tubuhmu sekarang!".
Layya tetap diam sama sekali tidak ada niat untuk menoleh melihat rayyan.
*Siapa yang mau melihat pria yang hanya menggunakan handuk di tubuh nya, yang melilit di pinggang. Di tambah, bukan karna dia rayyan tapi...Karna tubuhnya... tidak! Bentuk tubuhnya yang sangat sangat menggoda untuk di sentuh.
Dari tadi degupan jantung nya tidak berhenti berdegup. Hanya untuk melihat menulusuri tubuh rayyan dari kaki sampai ke dada pria itu. Tapi...Tentu itu tidak akan pernah ia lakukan. Eughhh...
Sialan....
Mimpi apa aku semalam. Hingga sampai seperti ini dan juga...Hampir mati tenggelam. Di tambah...Pria yang tidak kusukai+sangatku benci, yang menyelamatkanku. Arghhhh...Di pikir berapa kalipun. Aku tidak bisa menerima ini. Tapi aku harus memaksa diriku untuk menerima. Ughhh*
"Dan juga...Jangan sampai aku melihatmu berkeliaran di luar layya? 15 menit...". Rayyan menjeda ucapannya mencoba berpikir.
Waktu 15 menit apa cukup atau...Terlalu lama?.
"ya,15 menit! Kamu harus berendam 15 menit! Ingat itu layya!". Peringat rayyan tiada bantahan.
Layya yang tadinya acuh. Tidak mau melihat rayyan. Kini sontak saja menatap rayyan dengan tidak terima.
"a-apa!?".
"jika kamu keras kepala tidak patuh layya. Aku sendiri yang akan menghangatkan tubuhmu. Kamu mengerti?!". Rayyan menggunakan nada ancamannya.
Layya menyatu kan alisnya.
"kau sudah gila? 15 menit...? Itu terlalu lama...? Dan aku bisa mati rasa di sini?!". Protes layya tidak terima dengan nada suara layya naik satu oktaf.
"Ada beberapa wewangian di sana. Pakailah terserah kamu. Itu baik untuk merilekskan tubuhmu dan...". Jeda rayyan menunjukkan ke sudut kamar mandi. Rayyan bersikap seperti tidak mendengar protes layya.
"Ray?!".
"handuk ada di sana. Terserah kamu mau pakai yang mana. Bathrobe juga ada! Aku tidak akan mengulangi ucapanku 2 kali layya. Jika kamu mengerti. Maka lakukan lah tanpa bantahan".
Klek...
Layya melongo mematung menatap ke pintu kamar mandi yang sudah sepenuhnya tertutup.
Ia ingin mengumpat rayyan dengan kasar. Namun, pria itu sudah tiada di sana. Jadi percuma buang buang energi dan tenaganya.
__ADS_1
Mendesah. Itulah yang bisa layya lakukan. Ya. Mari kita lakukan saja.
Layya menatap ke depan dan menemukan beberapa botol dengan bentuk dan warna yang berbeda beda berada di samping bathtub.
Menjulurkan tangannya. Layya meraih satu botol yang berwarna black.
'apa ini yang pria itu bilang wewangian?!'. Layya membolak balik botol di tangannya.
'apa ray menggunakan ini? Dan...Tidak! '. Layya meletakkan kembali botol di tangannya ke tempat semula sambil melihat meneliti botol lain di hadapannya.
'jika aku menggunakan nya. Bukankah bauku akan sama dengan pria itu? '. Layya menggeleng, mengabaikan botol botol di hadapannya, yang memang nyatanya sangat menggoda dirinya untuk mengambilnya lalu membukanya dan mencium aromanya dan terakhir. Aku akan memakainya.
'tidak! itu tidak boleh layya!'. Layya mengalihkan matanya ke arah lain. Namun hanya sebentar sebelum ia kembali melihat ke botol di hadapannya.
'sepertinya...Itu semua... Merek yang sangat mahal!'. Layya memerhatikan.
Menggigit bibir bawahnya menimang. Beberapa detik kemudian. Satu botol berwarna biru sudah berada di tangan layya. Sudah terbuka tutupnya dan layya sedang mencium aromanya.
"ini bukan!". Tep...
Tutup layya pada tutup botol lalu mengembalikan ke tempatnya dan meraih botol lain.
Membukanya dan mencium aroma wanginya.
Layya mengernyitkan dahinya.
"ini juga bukan tapi...Aneh. Sedikit hampir mirip tapi...Bukan!". Layya menatap ke botol lain. Ada lebih dari 10 botol di sana.
Dan wanginya itu. Wangi...Yang sangat pas dengan dia. Berkharisma juga...Baginya...Sangat menenangkan. Tunggu,....menenangkan?.
Layya hampir saja berteriak saat sesuatu hal terlintas di kepalanya.
Layya mengobrak abrik semua botol botol di hadapannya. Hingga ia menemukan satu botol. Berwarna biru navi, dengan logo yang tidak asing bagi layya. Dan wanginya...Yang sangat sangat unik bagi layya. Bahkan dari dulu.
Aroma fanila buah. Juga
Sialan kau ray.
Ia berpikir keras selama ini dan mencari tahu selama 3 bulan lamanya. Bahkan sampai sekarang. Siapa orang ke 9, yang berhasil mendapatkan keluaran terbaru dari merek Terkenal ini, yang di produksi oleh Italia, hanya beberapa buah saja. Sebut saja 9 buah. Dan salah satu yang mendapatkannya dari 9 buah tersebut adalah. Menurut informasi yang ia dapatkan dari rendra dan juga dari data pelelangan 3 bulan lalu. Kalau salah satunya adalah ada di negara ini. Dan siapa sangka ternyata orang yang selama ini ia cari adalah. Rayyan Andryatama.
Sial.
'aku dengar. Orang yang sudah berkesempatan menang tahun ini maka bisa jadi kemungkinan tahun depan. Akan bisa mendapatkan nya lagi'.
Dan harga dari shower gel ini bukanlah harga main main. Ia bahkan harus menabung beberapa bulan dari gajinya untuk mendapatkan benda ini.
Layya meraih botol shower gel lain. Raut wajahnya terlihat lesu.
"dia bahkan sudah mempunyai merek Chanel...". Layya meraih botol lain.
"ini juga...Dior...". Layya meletakkan keduanya dan meraih satu persatu dari beberapa di sana.
__ADS_1
"dia memiliki semua merek terkenal? Dan kenapa juga dia harus ikut memperebutkan ini sih?! ". Kesal layya masih dengan memegang satu merek yang paling dirinya sukai ini.
Dan harga dari mereka semua bisa mencapai jutaan Dollar.
"hahhh...". Desah layya sembari menyandarkan punggungnya ke bathtub.
Layya melepaskan hijapnya. Menyampirnya asal di sisi bathtub lalu memejamkan matanya sesaat. Sebelum satu pemikiran muncul di kepalanya.
'apa aku sembunyikan saja ya? Atau...Aku pakai sampai habis? ...Itu terdengar masuk akal'. Batin layya sembari mengangguk anggukan kepalanya. Menyetujui akan ide gilanya.
Di luar kamar mandi. Terlihat rayyan yang berdiri di tengah tengah ruangan antara sofa dan ranjang sambil berbicara dengan seseorang di sebrang melalui smartphone yang melekat di telinga kirinya.
Rayyan berbalik melihat ke jam yang berada di atas nakas samping ranjang tempat tidurnya.
"sekalian dengan mukena!". Lanjutnya setelah diam beberapa saat.
Karna waktu sudah masuk waktunya shalat Maghrib dan tentu ia yakin layya tidak membawa mukena. Tapi tunggu...Bukankah bisa jadi ada di dalam mobil layya sendiri?.
"baik pak! Akan segera saya bawakan". Jawab suara di seberang patuh.
Rayyan menutup panggilan secara sepihak. memasukkan handphone nya ke kantong celana lalu melangkah ke pintu kamar dan keluar dari kamarnya.
Tujuan rayyan adalah. Lantai 3, dimana yusuf dan maryam di rawat di sana.
Kleck...
Rayyan membuka pintu perlahan. Takut membangunkan kedua anaknya. Jika jika mereka sedang istirahat, dan benar saja. Kedua anaknya yusuf dan maryam memang sedang beristirahat. Terlihat di ranjang yang berukuran king size dengan infus di tangan keduanya.
Rayyan menarik nafas berat. Sebelum semakin melangkah masuk ke dalam. Dan pintu di belakangnya otomatis tertutup sendiri.
Kedua manik mata rayyan hanya fokus menatap kedua anaknya, yang tertidur pulas di kedua sisi ranjang.
Hati rayyan teriris sakit saat melihat tangan kedua anaknya terpasang infus.
Rayyan mendekat pertama ke maryam. Berjongkok di sisi ranjang. Menumpukan lututnya ke lantai. Rayyan menatap dengan penuh sayang wajah maryam putrinya. Membelainya sambil memindah mindahkan rambut panjang dan hitam maryam. Rambut yang sama persis seperti rambut layya. Tanpa rayyan sadari. Bibirnya mengukir senyum tipis.
"maafkan daddy, yang tidak menolong kalian duluan sayang! Maafkan daddy!". Rayyan menurunkan wajahnya mengecup punggung tangan putrinya. Lalu mengalihkan matanya melihat ke yusuf.
Menarik nafas.
Rayyan bangkit berdiri dari jongkoknya. Berjalan memutari ranjang dan kembali berjongkok di samping yusuf yang tertidur.
Sama seperti maryam tadi. Rayyan mengelus wajah tampan putranya sedang bibirnya mengukir senyum tipis bahagia sekaligus sedih. Meraih tangan Yusuf. Rayyan mengecupnya dengan sangat lama sambil memejamkan kedua matanya.
Imelda, yang dari tadi berada di sana melihat menyaksikan semua perlakuan rayyan pada yusuf dan maryam.
Sama sekali tidak mengejutkan nya lagi. Malah semakin membenarkan dan menyakinkan sikap rayyan beberapa menit yang lalu di kolam renang.
Menarik nafas berat. Imelda mau membuka suara, menyapa putra nya entah apapun itu. Asal tidak menimbulkan kecurigaan rayyan. Kalau mereka semua sudah tahu. Hubungan apa yang sebenarnya di miliki oleh rayyan dan layya.
Namun, suaminya Andryatama. Menyuruhnya dan semua yang berada di sana tadi untuk tetap diam. Sebelum Andryatama menemukan apa yang sebenarnya terjadi antara rayyan dan layya. Hingga hubungan mereka menjadi seperti sekarang di tambah. Kenapa rayyan, Tidak pernah memberitahu mereka tentang layya dan juga. Menyembunyikan kedua cucu nya. Lalu...Kapan mereka menikah.
__ADS_1
Belum Imelda mengeluarkan suaranya. Rayyan sudah lebih dulu bicara. Yang membuat imelda mematung di tempat sekaligus shock berat.