Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 54


__ADS_3

"Ray..?". panggil layya lembut. sangat lembut malah. bahkan membuat rayyan di sampingnya bergedik ngeri namun hanya sebentar sebelum sebuah pesan masuk ke hpnya dan membuat rayyan menggeram.


"apa kau sudah gila hah...?! ". desis layya keji, yang di balas rayyan dengan decakan.


Rayyan berdecak untuk seseorang dan bukan untuk wanita yang ada di sampingnya sekarang namun hal tersebut bisa membuat siapa saja salah paham termasuk layya sekarang.


"seharusnya aku yang marah di sini bukan?! ". protes layya tidak terima.


"diamlah layya, aku sedang tidak ingin adu mulut". ujar rayyan dingin sekaligus datar sembari dirinya mengotak atik hpnya mengirim pesan balasan ke si pengirim pesan tadi.


"dan kamu pikir aku sangat ingin?! ".


Rayyan mengabaikan layya. dua jempol jarinya sibuk menari di atas layar sentuh tersebut. membalas pesan yang baru saja ia terima.


Layya lagi lagi hanya bisa menggeram.


"hentikan mobilnya sekarang ray! ". ucap layya sarat akan emosi.


Rayyan menarik nafasnya dalam setelah mengirim pesan lalu menoleh menatap layya.


"aku akan mengantarmu ke tempatmu, kamu tinggal memberitahu, jangan berpikir mau naik taksi". jawab rayyan lembut dan wajahnya terlihat sangat lelah atau pikirannya yang sedang lelah.


"aku hanya akan bilang sekali lagi ray? hentikan mobilnya dan...mobil yang menjemput ku ada di belakang mobilmu sekarang, jadi...berhenti di sini, lama lama denganmu aku bisa ikut gila". gumam layya di akhir kalimatnya.


Ucapan layya membuat rayyan membalik badan melihat ke belakang mobilnya dan benar saja. mobil hitam dengan merek mahal tersebut mengikuti mobilnya. sejak kapan?.


Rayyan memejamkan matanya sembari menyisir rambut ke belakang dengan tangannya.


"aku berharap tidak ada yang mengikuti kita". ujar rayyan pelan namun bisa di dengar oleh layya.


Setelah melihat mobil hitam, yang menjemput layya tepat berada di belakang mobilnya. rayyan mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar mobil mereka.


Ia mendengus lega saat melihat tidak ada yang mencurigakan.


Layya mengerjap. 'tidak ada yang mengikuti?... apa maksudnya...?...'. layya berpikir keras.


'ah'. layya tersentak saat menyadari.


'wartawan?...jadi...pria...yang dengan satu kamera tadi itu...wartawan...yang sedang mengincar rayyan?...tunggu'. layya mendongak menatap rayyan.


"jadi...maksudmu...kamu menarikku ke mobilmu tiba tiba...karna wartawan itu? ".


Rayyan menoleh menatap layya saat dirinya sedang membalas pesan seseorang.


"...kamu melihatnya?! ".


"apa itu hal yang sulit? ...sangat terlihat jelas".

__ADS_1


Rayyan terkekeh geli.


"aku rasa dia perlu di latih lagi". canda rayyan.


"kamu belum menjawabku". balas layya dingin. tidak mau berbasa nasi atau berniat mau merespon canda pria di sampingnya, karna ia sekarang benar benar sedang kesal.


Rayyan menelan ludahnya, membasahi bibirnya yang kering sebelum menjawab.


"kamu mau jawaban jujur atau bohong? ".


Layya menarik nafasnya dalam sembari memejamkan matanya.


"ray?...aku sedang tidak ingin bermain teka teki".


Rayyan menaruh hp ke saku jasnya. membalik berhadapan dengan layya sebelum menjawab.


"bukan teki teki tapi aku tidak mau berbohong".


"benarkah?! ". beo layya tidak percaya.


Rayyan mendesah. "ayolah". ringisnya geli.


Layya menepuk pahanya memperbaiki duduknya.


"baiklah, mari kita dengar ke bohongan saja".


"kebohongan?...ya! dia wartawan".


"kejujuran! ".


Rayyan menarik nafas. "dia...sedang mencari beritaku atau...memotretku?!". jawab rayyan sungguh sungguh dan serius namun tidak dengan respon layya.


Layya menjatuhkan rahangnya sedangkan mulutnya terbuka.


'apa pria ini sudah bodoh? '.


"ray?... bukankah itu sama saja dengan wartawan? ". ujar layya sabar. menghadapi atau bicara dengan pria ini memang ia harus memiliki kata yang namanya sabar.


Rayyan mengangguk mantap.


"benar! tapi di sini dia bekerja untuk seseorang dan di suruh seseorang". rayyan berbicara sembari melihat layya.


Layya mencerna dan memikirkan setiap kata yang di ucapkan rayyan dan ia mengambil satu kesimpulan.


Layya mengerang dalam hati.


"dan kamu menyeretku ke mobilmu tiba tiba? ...apa kamu sudah gila?! ". teriak layya marah.

__ADS_1


Pria ini benar benar sudah gila. apa dia sadar dengan efek yang dia lakukan?.


Rayyan menyatukan alisnya.


"..apa?...gila...?". ujar rayyan tidak percaya.


Layya tidak menjawab malah menatap rayyan tajam. kedua tangannya terlipat di dada sedangkan kedua manik matanya berkilat marah.


'tahukah wanita ini?... apa yang sedang ia lakukan untuknya dan untuk kedua anak mereka...? ia mengorbankan kerinduannya untuk melihat kedua anaknya dua minggu yang lalu dan apa...?...gila?....'. rayyan mengerang. dan semakin mengerang saat ia teringat kalau sampai kapanpun ia tidak akan bisa mengatakan ini pada layya dan sekalipun ia mengatakan. ia yakin. pilihan layya akan sama seperti yang ia ambil sekarang.


Rayyan memejamkan matanya di saat dia menarik nafasnya dalam.


"ya!..aku rasa aku benar benar sudah gila...!...dan sebentar lagi aku yakin aku benar benar akan menjadi gila betulan". erang rayyan marah lebih ke dirinya sendiri.


Rayyan memilih melihat ke luar jendela. untuk sekarang, meredakan emosinya adalah hal terbaik yang harus ia lakukan. dari pada berbalik berhadapan, melihat layya. malah akan semakin rumit.


Rayyan lagi lagi menarik nafasnya dan melepasnya pelan.


'jika saja. jika saja wanita ini tidak mendatanginya ke mobil tapi terus ke aktifitasnya. ia yakin pria itu tidak akan bisa mengancamnya lagi'. batin rayyan.


Rayyan menggerang di dalam hati.


'haruskah ia katakan kalau masa lalu menjadi satu senjata yang siap menebas kepalanya kapanpun itu?'. batin rayyan berteriak frustasi.


Rayyan mengalihkan pandangannya ke hpnya saat suara pesan masuk. ia mengotak atik layar di depan matanya, membuat panggilan.


Layya yang tidak terima di abaikan bahkan dia tidak mengerti ucapan rayyan semakin berang.


"ray? aku belum selesai bicara".


"lebih baik tidak, dan diamlah! ". balas rayyan dingin.


Layya mendengus tidak percaya. 'apa apaan pria ini! '.


"tidak jika aku tidak di sini sekarang! kamu...". layya menjeda ucapannya menatap rayyan marah.


"aku tadi cuma mau bicara sebentar denganmu dan apa yang kamu lakukan?... kamu menarikku ke dalam mobilmu, apa ini masuk akal?... di saat...arghhh...di saat kamu sadar jika ada mata mata yang mengenalimu dan aku yakin dia sudah mengambil gambarmu juga...". layya menggeram saat teringat bisa saja gambarnya sudah terambil.


Layya memejamkan matanya sebentar sebelum kembali terbuka dan menatap rayyan penuh ancaman.


"dengar ya ray...? aku tidak mau terseret seret ke dalam hubungan asmaramu dengan reina apalagi anakku harus di bawa baw...".


"kamu bisa diam?! ". bentak rayyan frustasi. rahangnya terlihat mengeras sedangkan kedua manik matanya berkilat tajam menatap layya.


Layya terlonjak kaget mematung nafasnya mendadak berhenti sedangkan kedua manik matanya menatap rayyan terhenti.


Rayyan menggeram.

__ADS_1


Ia sedang menghubungi seseorang yang sangat di kenali di dalam hidupnya dan orang tersebut juga yang membuatnya menahan rindunya untuk bertemu kedua anaknya dua minggu yang lalu dan memilih terbang ke sana sini untuk menyelesaikan masalah yang dia buat lalu sekarang. dia menjadikan layya sebagai senjata untuk mengancamnya dan untuk. kembali menyelesaikan masalahnya. padahal...kemarin ia sengaja membawa dan mengajak reina bersamanya untuk menghilangkan hal kecurigaan yang akan terjadi seperti sekarang. tidak, sebelum pria tua bangka itu bertemu dan melihat layya.


Ingin sekali dirinya berbalik dan bertanya ke layya. apa...dia bertemu dengan pamannya?. ya. jika saja wanita ini tidak marah marah.


__ADS_2