
Kedua mata layya membulat lebar sedang dirinya mematung tidak bergerak sama sekali sebelum kesadarannya menyentak dirinya sepenuhnya dan sadar dengan apa yang rayyan lakukan padanya.
Rayyan menurunkan kepalanya membungkam mulut layya dengan bibirnya sedang kedua matanya terpejam menikmati.
Layya bergerak cepat. Menjauhkan tubuhnya dari rayyan sedang kedua tangannya mendorong rayyan kasar.
Layya mengusap kasar bibirnya dengan lengannya sedang matanya menatap rayyan marah.
"apa yang kau lakukan?! ". Teriaknya.
Rayyan bukannya terkejut dan marah karna layya mendorong tubuhnya atau menolak dirinya tapi yang di lakukan rayyan kebalikannya. Lihat saja.
Rayyan yang menjawab teriakan kemarahan layya dengan mengedikkan bahunya acuh sedang dirinya bersandar di dinding belakangnya setelah tadi membentur dinding karna dorongan layya. Kaki rayyan bersilang sedang kedua tangan terlipat di dada. Ia menatap layya jail.
"seperti yang terjadi ". Acuhnya.
Layya menggeram sedang kedua tangannya menggepal kuat.
jika kalian bertanya kenapa aku tidak menampar atau meninju wajah pria ini, maka jawabannya adalah.
Aku sangat ingin melakukannya. Sangat sangat ingin namun otakku masih mengingat dengan jelas bagaimana pria ini membalasnya bahkan sebelum tangannya menyentuh kulit pria itu. Intinya, yang rugi adalah aku. Kenapa?.
Biar aku ceritakan ingatanku pada pria ini beberapa tahun lalu di mana dia sangat menjengkelkan+menyebalkan.
Flashback...
4 tahun yang lalu.
Saat itu di lift. Lift sebuah perusahaan agensi yang menaungi beberapa model kelas atas termasuk kak rendra dan saat itu rayyan ke sana, yang ia dengar dari manajer kak rendra untuk bekerja sama dalam satu proyek pemotretan sebuah majalah fashion bareng kak rendra.
Kejadian di awali di luar lift sebelum pintu di depan mereka terbuka.
Aku, kak rendra. Ah. Biar aku perjelas satu hal. Dulu aku memanggil rendra dengan kak rendra karna memang umur kami sangat beda dan setelah yusuf dan maryan lahir karna kak rendra sering banget mengusili aku hingga selalu membuat ku jengkel padanya. Sejak saat itu aku sering memanggil rendra ketika berteriak, jadinya sampai sekarang.
Kita kembali.
Aku, kak rendra dan...rayyan. Ah...saat itu nama sebutan rayyan bukan rayyan. Akan tetapi ZK. Itulah nama panggung rayyan di dunia hiburan. Sangat jarang yang tahu nama asli pria ini tapi tidak untuk kak rendra begitu juga aku yang di kasih tahu kak rendra.
Dia model yang sangat terkenal pada abad itu selain kak rendra dan beberapa model tampan lain.
Model ZK dengan ketampannya yang membius semua mata yang menatapnya mempunyai kesan dingin dan kejam. Itulah daya tariknya dan juga sangat di kenali di dunia hiburan sebagai pria pemain hati wanita. Playboy. Sedang kak rendra.
Masih dengan namanya Rendra. Model yang meninggalkan kesan adem dan lembut bagi siapapun yang melihatnya. Serta di kenal single yang tidak berani memainkan hati para wanita. Berbeda bukan?.
Tapi jangan percaya itu. Karna yang namanya dunia hiburan tidak ada yang tahu kebenaran atau kebohongan selain melihat langsung dari dekat. begitulah. Yang ia pelajari.
"ah babyku..?... Kunci mobil ketinggalan di ruangan direktur". Rendra menepuk celana jeansnya mencari kunci mobilnya.
Layya yang berdiri di samping rendra menoleh menatap rendra. Ia bersiap mau mengambil kunci rendra.
"aku akan mengambilnya". ujarnya tergesa.
"tidak babyku! Aku akan mengambil sendiri, kaki mu akan pegal nanti, masuklah dulu, aku akan segera turun, okay...?". Rendra menatap layya lembut menunggu persetujuan layya. Asisten pribadinya sementara.
Layya tersenyum dan wajahnya tersipu malu dengan perhatian kecil yang di berikan pria di depannya.
Layya mengangguk dan seketika itu juga rendra membalik beranjak dari sana setelah mengusap kepala layya dengan sayang.
Rendra terlihat sedikit berlari ke sana. Sedang dirinya sedikit khawatir meninggalkan layya dengan seorang pria berdua di dalam lift dan dalam hati rendra berharap layya tidak akan takut. Layya yang ia kenal dia sangat anti akan lelaki.
__ADS_1
Mereka sudah berjanji akan makan siang bareng hari ini sebelum melanjutkan pemotretannya dan setelahnya ia harus terbang ke london untuk jadwal pemotretan lain.
"aku tidak mengerti, bisa kamu beritahukan padaku di sini...? ...". ZK menjeda kalimatnya menoleh menatap layya di sampingnya. Jarak mereka kurang lebih 1 meter.
Layya hanya melirik rayyan sekilas dengan malas sebelum kembali melihat ke depan. Dan ia bertanya tanya kenapa liftnya sangat lama?.
"Entah kamu yang bodoh atau...cintamu itu yang sudah terlalu bodoh?! ".
Ting...
Pintu lift terbuka. Dan entah bagaimana layya mensyukuri itu. Itu artinya ia tidak akan lama lama dengan pria ini.
Layya masuk pertama dan ia berdiri di sudut lift sedang ZK masuk setelahnya dan berdiri di sudut yang berlawanan dengan layya. Tangan ZK di kantong celana pendek berbahan kainnya sedang baju ZK memakai kemeja panjang, yang kancingnya 3 anak dari atas dia biarkan terbuka. Hingga memperlihatkan otot dadanya yang bagus.
Layya benci mengakui itu tapi itulah kenyataan. Pria ini adalah pria penebar pesona. Lihat saja cara berpakaiannya juga cara berdirinya. Siapa yang mau dia goda? Semua karyawan di sini? Haruskah ia memberitahu. Tanpa di goda begitu mereka sudah terlebih dulu gila hanya dengan melihat tampang dan wajah dinginnya.
Layya diam berdiri di pojokan tanpa berniat mau menjawab ZK, yang beberapa hari yang lalu baru ia kenal. karna satu insiden. lupakan.
"hey...". ZK memanggil layya sedang matanya tidak berhenti menatap layya dari pertama ia masuk ke lift.
Tertarik? Ia sama sekali tidak tertarik pada wanita di depannya ini. Hanya...
Layya masih dengan sikap cueknya. Ia hanya akan ramah hanya pada kak rendra lain jangan harap.
Rayyan menghela nafas frustrasi.
"haruskah aku memberitahunya? Kalau kamu sudah melihatnya...".
Layya sontak menoleh menatap rayyan tajam. Ia mendesah saat memutuskan akan menjawab.
"Ya! Aku dan cintaku yang bodoh kenapa? Ah...Tentu saja kamu tidak pernah merasa bodoh karna kamu tidak pernah mencintai seseorang kamu lelaki si pemain hati perempuan". dengus layya keji sebelum kembali membelakangi rayyan. Sedang wajahnya masih cemberut.
"apa itu suatu kebanggaan? Yang harus di banggakan?...Soalnya jika aku kamu, tentu aku akan menjauh".
Layya memilih tidak peduli. Ia diam sembari matanya menatap pintu lift dalam hati ia mengumpat pintu di depannya kenapa lama sekali terbuka dan layya benar benar mengumpat kasar ketika melihat tombol di samping pintu lift. Di sana bukan turun melainkan naik ke atas dan di sana tertulis. 19.
What?. Lantai 19? .
Sontak saja layya menatap rayyan di sampingnya, yang seketika itu juga ia tahu jawabannya. Kalau ZK dari masuk tetap berdiri disana bahkan tanpa menekan tombol lift. Lalu...Siapa yang meneka...
"itu kamu sendiri! benar kata kebanyakan orang cinta membuatmu menjadi bodoh, lihat saja! Kamu menekannya sendiri dan sekarang tidak ingat shtttt...". Rayyan meringis.
"aku rasa cintamu padanya sudah benar benar bodoh". Ucap rayyan membuyarkan lamunan layya.
Layya menggertakkan giginya. Ia tidak bisa memprotes karna seingatnya. Ia sendiri yang menekan tombol lift tapi yang benar saja. Ia menekan tombol ke lantai atas? Demi apa?.
Tunggu...Karna cintanya?. Layya tidak menyetujui itu. Jelas jelas sebelumnya perasaanya baik baik saja sebelum ia mendengar ucapan pria ini.
Ya! Ini karna dia. Layya menyetujui pemikirannya tersebut.
Layya lagi lagi mengumpat saat pintu lift tidak terbuka terbuka. Bahkan lift saja seperti sedang mengejek perasaan cintanya ke kak rendra?. Layya merapatkan giginya. Geram.
Ting...
Sontak saja layya bernafas lega ketika pintu lift terbuka dan ia bisa segera menjauh dari pria di sampingnya sebelum sebuah suara membuat kelegaannya hilang seketika dan di gantikan dengan tatapan horor.
"ini lantai 17...Aku kira kebodohan mu tidak sampai segitu". ZK berkata dengan nada jailnya di sertai senyumnya, yang bagi layya sangat menyebalkan namun raut itu hanya sebentar sebelum dia kembali ke raut wajahnya yang dingin dan datar. Saat lift terbuka lebar dan sekelompok manusia di depan lift menyerbu masuk ke dalam.
Layya yang sudah di ambang pintu sontak saja memundurkan langkahnya ke belakang. Layya mundur 2 langkah namun karna banyak manusia yang menyerbu masuk membuat tubuh layya mundur sendiri kebelakang akibat dorongan dorongan di depannya. Bukan hanya layya yang lain pun ikut terdorong hingga ada yang berhimpitan di lift.
__ADS_1
'tidak bisakah kalian menunggu lift selanjutnya? '. Ia mau mengakan kalimat tersebut sebelum satu suara yang tidak ia ketahui siapa namun ia kenali itu suara pria, yang mengatakan.
"kenapa tiba tiba rapat sih? ".
'**** you'. Umpat layya dalam hati.
"ah...". Ringis layya saat lenganya terkena siku salah satu karyawan di sana dan sontak tubuhnya mundur ke belakang hingga tertabrak rayyan yang ada di belakang layya.
Layya sedikit menoleh sekilas melihat rayyan di belakang tubuhnya.
"ini karna mereka! ". ujar layya di sertai tarikan nafasnya sedang kedua tangannya berada di dadanya, memeluk dirinya sendiri.
"aku tidak mengatakan apapun! ". jawab rayyan dingin dan acuh.
Layya memilih tidak peduli. Lagian ia bilang begitu supaya pria ini kedepan tidak akan mengejeknya dengan kejadian ini. Layya berniat menoleh menatap rayyan di belakangnya namun lagi lagi dorongan karyawan yang masuk tadi dan sekarang mereka mau keluar setelah pintu lift terbuka. Hingga membuat tubuh layya yang tadinya membelakangi rayyan kini menjadi berhadapan.
Layya sontak saja mendongak menatap wajah rayyan, di depannyanya.
"ah...". lagi lagi layya meringis saat tubuhnya terdorong lagi dan bisa di pastikan ini yang terakhir karna semua manusia yang masuk tadi sudah habis keluar dan tinggallah layya dengan model tampan dan keren di depannya.
Tanpa sadar saat dorongan terakhir tadi. Layya memegang kedua pundak rayyan sedang wajahnya menunduk ke bawah serta matanya yang terpejam.
Merasakan tidak ada suara apapun lagi dan tidak ada dorongan lagi. Layya perlahan membuka matanya. Melepaskan kedua tangan di pundak rayyan. Menoleh melihat ke belakang yang kini kosong.
Layya bernafas lega. Tapi itu hanya sebentar sebelum matanya melihat ke depan lalu mendongak dan seketika itu juga kedua matanya membulat.
Rayyan yang waktu itu sedang menunduk memperbaiki bajunya yang kusut dan layya yang tiba tiba mendongak hingga membuat wajah keduanya sontak saja sangat dekat.
Nafas panas keduanya sama sama bisa keduanya rasakan. Jarak yang kurang dari satu inci tersebut.
Rayyan yang menatap bibir layya setelah dirinya sama terkejut dengan layya. Sedang layya mengedip ngedipkan matanya sedang tubuhnya mematung di tempat dan nafasnya seketika saja berhenti.
Rayyan tanpa sadar memiringkan kepalanya dan langsung membungkam bibir layya dengan bibirnya, yang seketika itu juga membuat mata layya melebar sempurna.
Plak...
Layya menampar keras wajah rayyan setelah mendorong dan menjauh dari rayyan.
Kecupan yang hanya sebentar bahkan tidak bisa di hitung menit.
Tidak terima dengan tamparan layya. Bukannya marah tapi rayyan malah tersenyum jail sebelum tangannya terjulur meraih pinggang layya cepat dan kembali mencium bibir layya.
Layya sontak saja melawan dan meronta untuk lepas dari cekalan rayyan dan..
Bukh...
Satu kepalan tangan mendarat indah di tulang pipi rayyan.
Rayyan bukannya marah tapi dia malah terkekeh geli. Baginya itu seperti sebuah tantangan. Mengusap bibirnya menggunakan jempolnya. Menatap layya tajam di depannya. Sebelum dia mendorong tubuh layya ke dinding. Menekan tombol lift untuk berhenti dan tidak berjalan lagi maupun terbuka.
Di sudut lift. Rayyan kembali membungkam bibir layya dan kali ini rayyan **********, layaknya pasangan yang mencium kekasihnya. Meraih pinggang layya untuk mendekat ke tubuhnya. Menepis semua jarak yang ada.
Rayyan sama sekali tidak peduli dengan perlawanan layya bahkan air mata layya yang mengalir di sudut mata layya. Menguasai dan mengaksen bibir layya adalah hal yang mau ia lakukan sekarang.
Layya menggeleng cepat. Menepis semua ingatannya tersebut.
Flashback off...
Layya mendongak menatap rayyan tajam setelah menjauh tadi.
__ADS_1
Itulah alasannya kenapa ia memilih menjauh dari pada menampar atau memukul wajah pria ini karna pada akhirnya ia juga yang akan rugi.