
Cekraman kuat dua tangan terlihat di setir mobil, yang bermerek mercedes benz tersebut. Rayyan.
Mengeraskan rahangnya sedang matanya menatap tajam penuh ke marahan entah kemana sedang pikirannya tertuju ke rendra.
Rayyan sekarang berada di dalam mobil seorang diri tanpa layya.
Ingatannya kembali ke satu jam ke belakang.
Flash back...
Setelah mengatakan kalimat yang bernada perintan itu ke layya. Rayyan melenggang masuk ke ruangan di belakang layya. Membuka pintu dan masuk ke dalam sana mengejutkan ke lima orang yang ada di dalam ruangan pertama tersebut.
Tujuan rayyan bukanlah di sana melainkan ruangan yang ada di sebelahnya.
Ckleck...
Brakh...
Suara bantingan pintu begitu rayyan masuk ke dalam. Berdiri di depan pintu sejenak sedang matanya menatap marah ke sosok pria yang sudah bangkit berdiri dan juga balik menatap rayyan dengan bingung.
Rayyan menarik dalam nafasnya. Mencoba menenangkan dirinya untuk tidak melompat dan memukul pria di depannya hingga wajahnya tidak bisa di kenali lagi.
Memasukkan kedua tangan ke kantong celananya. Rayyan menatap ke depan santai setelah lagi lagi menarik nafas.
"melihatku...Apa membuatmu terkejut? Atau... Ada suatu hal yang harus kamu sampaikan..? ".
Rendra mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Saat suara pintu terbuka. Rendra pria berkaca mata yang di maksud rayyan membalik menoleh ke pintu namun dia di kejutkan dengan melihat rayyan yang masuk dan belum rendra berpikir kenapa rayyan bisa ada di sini. Suara bantingan pintu membuat semua itu buyar dan sekarang rendra di buat bingung dengan ucapan sapaan rayyan padanya.
"apa maksudmu? Aku tidak mengerti! ". Jujur rendra. Ia sudah berbalik menatap berhadapan dengan rayyan. Jarak keduanya sekitar 6 meter lebih.
Rayyan mendengus kasar di sertai senyum sinisnya sembari melangkah pelan mendekat ke rendra. Ia merapatkan giginya tidak bisa menahan geramnya begitu sampai di hadapan rendra dengan jarak keduanya kurang dari 2 meter. Menatap musuh di depannya seketika membuat rahang rayyan mengeras sedang kedua buku tangannya terkepal erat.
"seharusnya yang kamu lakukan adalah memohon maaf padaku begitu melihatku tadi setelah apa yang telah kamu lakukan".
Rendra yang di buat kebingungan sontak menyatukan alisnya.
'apa apaan pria ini datang datang dan langsung menyerangku dengan ucapan yang membuatku bingung sekaligus tidak masuk akal, memang apa yang sudah aku lakukan padanya? Seingat dalam hidupku selama ini, aku tidak pernah menyinggungnya apalagi hal di luar itu'.
"ray? Bukankah seharusnya kamu yang melakukan itu? Kamu menghajarku beberapa waktu lalu dan tanpa alasan! ". Jangan katakan karna yusuf dan maryam memanggilku daddy. Sambung rendra dalam hati.
Rayyan lagi lagi mendengus keji.
"mungkin jika pria lain percayalah rendra? Dari dulu mereka akan membunuhmu, ayolah teman? Jangan bersikap pura pura lupa karna aku yakin kamu sangat mengingat dengan jelas". Geram rayyan.
Rendra memilih menghela nafas.
"benar kata layya! Emosimu selalu...".
Bukh...
Brakh....
"ugh...". Lenguhan kesakitan rendra begitu kepalan tangan rayyan mendarat di tulang pipinya.
__ADS_1
Mendengar nama layya keluar dari mulut rendra seketika saja rayyan menerjang rendra di hadapannya.
Rendra jatuh tersungkur ke belakang menabrak meja kaca sofa hingga membuat vas bunga kecil di sana jatuh dan pecah sedang rayyan berdiri menjulang di hadapan rendra dengan rahangnya yang mengeras menatap tajam rendra yang terduduk di bawah.
"dengar ini baik baik rendra karna aku hanya akan mengatakannya sekali. Jangan pernah lagi aku mendengar kamu menyebut nama layya di depanku, kamu tidak berhak untuk itu! ".
Rendra menyapu sudut bibirnya yang mengelurkan sedikit darah dengan jempolnya melihatnya sebentar sebelum menjawab tenang ucapan rayyan.
"siapa kamu?.... Apa hakmu melarangku ray?...Bukankah seharusnya kamu yan...".
Bukh...
"sshhh... ". Ringisan rendra ketika rayyan lagi lagi memukul wajahnya. Rendra masih berwajah tenang di saat rayyan sudah mencekram kuat kerah bajunya.
Rendra seperti menyulut api yang sudah menyala dan layaknya mencari mati sendiri dengan menatap rayyan santai di tambah dengan kekehan renyahnya.
"lalu siapa yang berhak? Kamu? Sedang bercanda denganku ray? Jangan menjadikan yusuf dan maryam untukmu kembali dengan layya karna aku?... Tidak akan membiarkan itu terjadi". Ujar rendra santai.
Bukh...
Dugh...
"ugh...".
Rendra menendang perut rayyan setelah mendapat pukulan rayyan lagi di tulang pipinya dan keduanya sama sama melenguh sakit.
Keduanya yang sama sama berdiri dan saling menatap. Rayyan yang menatap rendra tajam dan penuh kilat kemarahan sedangkan rendra yang sedang bernafas naik turun menatap rayyan santai dan lembut layaknya tatapan seorang kakak untuk adik lelakinya yang sedang marah padanya.
"lalu apa? Kamu mau mencuri tempatku di sana? Seperti yang kamu lakukan dulu?! ".
"mencuri tempatmu...? Ha ha ha....". Rendra tertawa renyah.
Nafas rayyan yang naik turun serta dirinya yang berusaha untuk menenangkan emosinya untuk tidak memukul pria di depannya sampai mati.
"lalu menurutmu kamu yang cocok berada di sana? Setelah apa yang kamu lakukan pada layya? Bahkan di saat layya tidak sadarkan diri. Lalu menurut mu? Apa aku harus perlu alasan untuk menghajarmu? Setelah apa yang kamu lakukan pada istriku di belakang suaminya dan kamu berpikir bahwa tidak akan ada yang tahu termasuk itu aku suaminya. Meski kamu bilang aku tidak pantas dan tidak cocok ketahuilah satu hal rendra? Dia istriku yang aku nikahi sah secara hukum dan agama, tidak ada yang bisa memungkiri itu".
Kepala rendra seketika blong telinganya hanya fokus mendengar ucapan rayyan, yang matian matian ia kuburkan dan tidak mau mengingat lagi. Jujur, itu hal paling brengsek yang pernah ia lakukan dalam hidupnya lalu...Bagaimana pria ini mengetahuinya.
"kamu... ". Suara rendra yang tercekat tidak bisa melanjutkan ucapannya lagi.
"pilihanmu ada dua! Menjauh dari layya atau layya yang membencimu".
Kedua mata rendra sontak saja membulat. Di benci layya. Tidak, ia tidak bisa menghadapi itu. Rendra menarik nafas bersikap tenang.
"maksudmu kamu akan bilang pada layya?! ".
"layya ada di luar ruangan ini bukankah dia bisa mendengar langsung dari mulutmu nanti?! ".
Rendra melihat ke pintu keluar ruangan tersebut. Layya di sini. Rendra melihat rayyan lagi.
"kamu membawa layya kemari? Berdua? ".
"yang perlu kamu pikirkan adalah pilihanmu bukan itu, dia istri ku kemanapun aku membawanya terserah aku".
Rendra melihat rayyan dengan mimik wajah santai dan tenangnya sama sekali tidak ada ketakutan pada tubuhnya.
__ADS_1
"aku tidak masalah jika layya tahu karna aku pikir itu yang terbaik sekalipun harus di benci lalu bagaimana denganmu nanti ray? Apa kamu sudah memikirkan ini panjang ray?...".
Rayyan masih dengan kemarahannya menatap rendra muak.
"sudah ku duga! Kamu sama sekali tidak berpikir panjang ray? Coba kamu bayangkan saja ray? Jika kamu mengatakan pada layya tentang apa yang aku lakukan padanya, tentu saat itu juga layya akan marah dan membenciku lalu apa yang akan terjadi setelahnya? Layya akan lebih membencimu daripada aku karna apa?...". Rendra bangkit melangkah pelan mendekat ke rayyan. Menepuk bahu rayyan dan dalam jarak yang dekat begitu rendra berucap yang sukses membuat rayyan tersentak.
"tanyakan itu pada dirimu sendiri ray?! ". Rendra terkekeh dan menatap rayyan setelah menjauh sedikit.
Rayyan menggepal erat kedua buku tangannya.
Menyatukan alisnya sedang dirinya berpikir ucapan rendra. Detik berikutnya rayyan mengumpat dalam hati. Sialan. Kenapa aku tidak berpikir tentang itu?.
Rayyan balik menatap rendra tajam. Ini karna pria ini. Ia terlalu bernafsu untuk menghajar pria ini hingga ia melupakan hal itu.
Saat melihat kejadian itu di depan matanya langsung. Di mana satu pasangan yang saling ******* mesra dan panas penuh gairah keduanya.
Flashback...
4 tahun lalu....
Rayyan setelah mengantar reina ke mobilnya sendiri karna reina pusing dan saat itu notebooknya adalah kekasih reina di publik itulah yang layya tahu tentu ia memberikan perhatian penuh ke reina karna disana juga ada awak media. Saat itu matanya di dalam ball room acara tersebut akan selalu melihat dan melirik layya dan sesekali jika tatapan keduanya bertemu ia hanya akan berwajah masam namun layya akan membalasnya dengan cengiran konyolnya hingga membuatnya tersenyum dalam hati.
Selesai acara ia mengantar reina ke mobilnya yang di supirin alex saat itu sebagai manager nya dan karna reina bilang dia pergi sendiri, jadinya ia meminta reina untuk mengantarnya sebelum pikirannya berubah yaitu. Ia mengatakan ke alex untuk mengantar reina ke apartemennya dan tidak perlu menunggunya karna ia ada urusan lain sebentar dan urusan itu adalah ia mau pulang bareng layya ke tempat mereka yaitu apartement di mana mereka tinggal setelah menikah Dan mengingat juga ia sudah tidak pulang dan juga tidak melihat layya selama 2 minggu dan sebabnya? Ia pun tidak tahu. Hanya saja ketika ia habis pulang dari satu negara habis pemotretan. Ia yang merindukan tawa dan masakan layya sontak dari bandara langsung ke rumah layya saat itu karna layya tidak akan tinggal di apartemen jika ia tidak ada di sana jadinya ia pergi ke rumah layya sebuah rumah yang sederhana dengan halaman luas dan ada taman bunga di depannya. Lupakan itu. Ketika ia sampai di depan rumah ia malah mendapati istrinya sedang tertawa riang dengan seorang pria dan pria itu cinta pertamanya. Katakan pria mana yang tidak akan jengkel melihat itu? Dan lengkap sudah jengkelnya dengan sebuket bunga di pelukan layya. Kita tunda ini dulu.
Dan setelah tadi menduduki reina di kursi di belakang pengemudi. Rayyan menutup pintu yang otomatis tersebut lalu setelahnya ia melenggang pergi dari sana tanpa mendengar panggilan reina. Mengingat wajah cengiran layya tadi membuat langkahnya sangat bersemangat kembali ke ball room.
Sampai di ball room. Kepala rayyan memutar ke kanan dan ke kiri mencari layya namun sosok yang ia cari sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya bahkan ball room tersebut sudah mulai terlihat sepi hanya ada beberapa orang lagi yang bisa di hitung jari.
Mendesah rayyan memutuskan melangkah ke lift karna tadi ia menggunakan tangga. Ia berpikir layya mungkin sudah keluar, mungkin sekarang di lobby atau sudah kembali duluan tapi masalahnya di mana? Apartemen atau rumah layya?.
Pikiran rayyan bubar seketika ketika melihat pemandangan di depan matanya. Sedetik kemudian kedua mata rayyan membulat sempurna. Tadinya ia tidak percaya dengan apa yang di lihatnya namun semakin di perhatikan dan dilihatnya itu benar. Itu layya dan...
Rayyan tercekat dan mematung di tempatnya tidak tahu harus berkata apa dan tidak tahu harus berbuat apa.
Menarik nafas mengambil udara untuk ia isi dari sesakan di dadanya yang ia sendiri tidak tahu kenapa.
Dadanya sesak dan juga...Sakit.
Satu pasangan yang tidak jauh dari lift saling ******* mesra dengan pelukan keduanya yang erat serta tangan pria yang merangkul pinggang si wanita agar tidak terjatuh dan semakin memperdalam lumatannya bahkan rayyan bisa melihat belitan permainan lidah keduanya. Satu pasangan yang seperti tidak ingin di pisahkan satu sama lain.
Menunduk menatap lantai itulah yang di lakukan rayyan. Rayyan mau berbalik pergi dari sana sebelum suara pintu lift terbuka terdengar dari telinganya dan rayyan menaikkan pandangannya menatap ke lift namun lagi lagi membuat ia kembali kedunia nyata kalau nyatanya pernikahan mereka cukup sampai di sini.
Pintu lift tertutup dan untuk apa entah apa langkahnya membawanya ke depan pintu lift hingga ia menatap no lantai lift yang pasangan tadi tuju.
Itu lantai kamar. Kamar VIP. Ia tahu karna hotel ini milik maminya. Itu artinya pasangan tadi akan bermalam di sini. Berdua Ber-du-a.
Flash back off...
Rayyan menggeleng menepis pemikirannya tersebut yang nyatanya ia salah. Layya tidak pernah menduakannya. Layya tidak akan pernah melakukan itu dengan pria lain selain dirinya buktinya...Saat ciuman itu layya bilang kalau dia berciuman dengannya. Saat di kapal di Singapura.
Mengingat hal itu sama sekali tidak bisa membuatnya berhenti tersenyum. Selama ini ialah yang salah. Ia yang salah Karna tidak percaya pada layya.
"bukankah aku benar?! ". Kekeh keji rendra. Mencoba mengancamku? Oh ray? Kamu berada di bawahku.
Rayyan tersadar dari lamunannya menoleh menatap rendra. Buku tangannya terkepal erat sedang giginya bergemelatuk di dalam sana.
__ADS_1
"*******! ". Umpat rayyan geram sebelum menerjang rendra dan.
Bukh...