Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 104


__ADS_3

Rayyan membasahi bibirnya sendiri dengan menjilatnya. Seketika setelah ucapan imelda selesai dan ia bersikap gelagapan. Seketika itu juga. Ingatannya di rumah sakit tadi kembali.


Rayyan mengumpat kasar dalam hati sembari menggigit bibir bawahnya.


'dari dulu sampai sekarang, wanita itu sangat pintar dalam menggodaku, dan aku?...Hahhh...'. Batin rayyan mendesah frustasi.


'dia wanita sadis!'. Rayyan membatin.


Menyadarkan dirinya. Rayyan kembali melihat imelda, yang sekarang sudah berjongkok di depan yusuf. Membenarkan Sweater yusuf.


"mami mencari ray...?!".


Sekilas imelda menoleh melihat rayyan. Sebelum kembali melihat yusuf di hadapannya.


"Nanti saja! Kamu segarkan dirimu dulu! Penampilanmu sangat kacau ray? ...Benarkan yusuf...? ". Imelda meminta pendapat.


Rayyan beralih menatap yusuf. Hingga manik mata keduanya beradu. Manik mata yang sama. Sekaligus gen yang sama.


Yusuf yang sudah sedari tadi menatap, ralat. Meneliti rayyan. Dari ujung kaki hingga ke kepala rayyan. Menatap lama rayyan tanpa bicara apapun atau tertarik untuk menjawab pertanyaan imelda padanya.


Imelda menunggu menanti jawaban yusuf. Hingga beberapa detik kemudian. Imelda hanya bisa mendesah.


Rayyan menarik nafas dalam. Mengalihkan matanya ke arah lain. Bertatapan dengan yusuf putranya. Bisa membuatnya kehilangan kendali juga.


Contohnya seperti sekarang. Ia sangat sangat tertarik untuk mengendong atau mengangkat tubuh yusuf setinggi melewati kepalanya. Lalu berputar putar di tempat. Sembari tertawa bahagia. Seperti beberapa waktu lalu. Ia melihat seorang ayah melakukan itu pada anaknya. Di televisi.


"Ray ke atas dulu mi? ". Cup...


Rayyan Berjongkok mencium pipi kiri imelda. Lalu beranjak dari sana. Tanpa melihat yusuf lagi. Karna kalau tidak. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium putranya juga. Di seluruh wajahnya yang imut dan tampan itu.


Eughhhh...Ia gemas.


Yusuf yang melihat dan memerhatikan serta mendengar interaksi rayyan dan nenek di depannya. Tidak mengalihkan matanya dari menatap rayyan. Begitu juga dengan sekarang. Yusuf menatap punggung rayyan yang berlalu di dihadapan matanya, hingga hilang dari pandangannya.


"itu putra nenek. Kamu menyukainya?!". Sumringah imelda bertanya ke yusuf. Meski tipis kemungkinan, Yusuf mau menjawabnya.


Yusuf kembali terlihat acuh dan dingin. Menatap imelda.


"I know". Jawab Yusuf sembari berlalu dari sana. Dengan kedua tangan di kantong celana pendek berbahan kain.


Imelda tersenyum tipis. Namun, ia senang. Karna baginya sudah biasa di acuhkan dan di dinginkan oleh Yusuf. Yusuf lebih dekat dan akrab dengan tama suaminya. Dari pada dirinya. Karna itu, ia lebih dekat dengan maryam. Hahhh...


Imelda mendesah.


"and...I don't like!". Sambung Yusuf ketika dirinya sampai di ambang pintu keluar ruangan tersebut. Lalu berlalu dari sana.


Imelda membulatkan kedua matanya terkejut. Sebelum cepat cepat membalik badan melihat yusuf.


Imelda mematung, melongo. Tidak bergeming di tempat hingga beberapa detik. Hingga bibi mariah datang dan mengejutkan dirinya.


"Yusuf...Tidak menyukai rayyan...? ...Bi? Bukankah ini masalah besar?!". Gumam imelda dan dapat di dengar Mariah yang berdiri di belakangnya.


Mariah mengerjapkan matanya tersentak sebelum menjawab sopan.


"tuan kecil masih anak anak nyonya? Dan juga, Tuan kecil belum mengetahui kalau tuan muda papanya!".


Menoleh melihat Mariah lesu. Imelda mendesah.


"mungkin!". Tapi melihat dari wajahnya yang dingin dan datar. Sepertinya iya deh. Yusuf tidak menyukai rayyan.


Hahhhh...


'kamu harus berusaha keras ray?!'. Imelda berbalik melangkah ke pintu.


"oh ya bi...? ...Tadi kamu mengatakan sesuatu bukan...? Saat masuk". Imelda menggentikan langkahnya membalik melihat Mariah.


"ya nyonya. Tuan besar mencari anda!".


Imelda menyatukan alisnya.

__ADS_1


Tama?.


Menarik nafas dalam. Imelda kembali melangkah.


"baiklah. Tolong kamu buatkan teh hangat kembali ya? Oh ya? Tamu tuan sudah kembali...?".


"sudah nyonya. Baru saja!". Mariah mengikuti di belakang.


"baiklah. Tolong kamu lihat maryam ya bi? Dan suruh leca nami untuk membawanya masuk. Ini masih terlalu pagi. Tidak baik untuk tubuh maryam. Jika lama lama di luar".


"baik nyonya!". Mariah Terus mengikuti langkah imelda hingga Imelda sampai di depan pintu ruang kerja tama, yang berada di lantai bawah.


Mariah melanjutkan langkahnya ke dapur. Membuat teh. Lalu setelahnya mencari Nona kecil maryam.


Clekc...


Bukaan pintu imelda di ruang kerja tama.


Tap...


Imelda kembali menutup pintu.


"kamu mencariku?!". Tanya imelda melihat tama. Yang berada di balik meja kerjanya.


Tama menaikkan pandangannya melihat imelda sekilas sebelum kemudian kembali melihat berkas di depannya.


Mencoret coret Nya di sana. Entah apa. Sebelum kemudian meraih berkas lain.


"ya. Duduk di sana dulu. Aku selesaikan ini dulu". Ujar tama dalam kesibukannya.


Meski perusahaan sekarang. Sudah di tangani dan di pimpin oleh rayyan. Tetap saja. Tama tidak melepaskan. Sepenuhnya ke tangan rayyan.


Beberapa hal penting dan utama dalam perusahaan. Tama akan menanganinya sendiri.


Seperti sekarang.


Kerja sama atau hal yang sangat harus ia cek dulu. Sebelum menyerahkan ke rayyan.


'ada apa ya? Kenapa firasatku tidak enak ya?'. Batin imelda mengeluh.


Mengakhiri kerjanya. Tama menarik nafas sembari melepaskan kacamata yang terpantri di kedua matanya dan bertengget di hidungnya tadi. Saat bekerja.


Bangkit dari sana. Tama menyusul Imelda duduk di sofa.


"Austin sudah menemukan semuanya!". Mulai tama. Membuka pembicaraan.


Deg...


Jantung imelda bergetar takut. Ia meremas pinggiran sofa di bawahnya.


Ia sendiri tidak tahu, kenapa perasaan takut ini. Tiba tiba hadir.


"kamu tidak akan percaya. Kalau putramu melakukan hal keji dan kejam begitu pada ibu kedua anak itu".


Imelda membulatkan matanya. Sebelum kemudian menatap bertanya ke tama.


'keji? Kejam?'.


"apa maksudmu tama?!". Suara imelda bergetar takut takut, dalam bertanya ke tama.


Tama mendesah sebelum melanjutkan ucapannya.


"tenang kan dirimu dulu Meli? Kamu terlihat sangat tegang".


Tok tok tok...


Tama mengalihkan matanya melihat ke pintu. Sebelum mengintruksi untuk orang tersebut masuk.


Dan ternyata itu bibi mariah.

__ADS_1


Setelah meletakkan dua teh di hadapan imelda dan tama. Mariah melanggang dari sana.


Tak...


"minumlah ini dulu. Kamu perlu menenangkan dirimu, sebelum mendengar kelanjutannya. Dan kamu juga harus menyiapkan jantungmu!".


"kamu membuatku semakin ketakutan tama?!". Imelda nyaris saja hampir berteriak ke tama karna terlalu resah.


"Kita juga harus segera menemui paman layya. Austin sudah mencari tahu tempat tinggal paman layya. Adik dari papa layya".


Imelda membulatkan kedua matanya.


'paman layya? Sudah sejauh itu pencarian pria ini? Lalu...'.


Meminum tehnya, hanya dengan sekali tegak.


Imelda menatap dan berujar ke tama.


"baiklah! Katakan, katakan semua yang sudah kamu ketahui. Ingat tama, tidak ada yang kamu lewatkan, juga...Aku lebih mengkhawatirkan mu. Kamu tahu?!".


Tama terkekeh geli.


"mungkin akan salah setelah kamu mendengar ini! Mengenai putramu. Rasanya aku bahkan ingin menenggelam kannya ke tengah laut".


Imelda merapat kan kedua gigi nya. Geram ke tama.


"itulah yang aku khawatirkan? ". Teriak imelda frustasi.


"sudahlah. Cepat ceritakan".


Tersenyum tipis. Mengalirlah cerita tama ke imelda. Mengenai hubungan rayyan dan layya yang sebenarnya.


Meski tama. Belum sepenuhnya menemukan kebenaran hubungan rayyan dan layya yang sebenarnya. Tapi cepat atau lambat. Ia akan menemukan semua itu.


Baginya. Hanya tinggal menunggu waktu.


Crashhhh....


Pancuran shower yang hidup dari arah atas, atap kamar mandi.


Dengan seseorang berdiri di bawahnya. Menikmati gelingan air, yang mengalir membasahi tubuhnya. Dari kepala hingga ke ujung kakinya. Sedang kepalanya menunduk, dengan kedua mata terpejam. Satu tangan berada di dinding kamar mandi. Seperti menyangga tubuh. Sedang satu lagi, berada di kepalanya. Seperti mengusap rambut. Namun terhenti.


Pikirannya berada di tempat lain. Yaitu...Di kamar rumah sakit, yang di tempati layya.


'di pikir berapa kalipun! Ini membuat nya geram!'. Batin rayyan.


"your....My dad...?!".


Ctak...


Rayyan seketika mematikan kran shower di hadapannya. Setelah dirinya tersentak tersadar dari pikirannya. Saat suara kecil dan halus masuk ke dalam gendang telinganya.


Membulatkan matanya. Rayyan berbalik melihat ke sumber suara tersebut. Yang berada tidak jauh di belakangnya, sebelum ia berbalik.


Melebarkan matanya terkejut. Rayyan menatap ke sosok kecil di hadapannya sekarang.


Yusuf...Putranya.


Keduanya berdiri tegak. Dengan saling mematung, bertatapan. Jarak keduanya sekitar 3 meter dari tempat rayyan berdiri.


Melihat tidak ada jawaban. Yusuf kembali bertanya. Dengan wajah dingin dan datarnya.


"your...? My dad...?! Right...!".


Kedua mata rayyan seketika saja membulat lebar. Shock sekaligus terkejut. Itulah, yang di rasakan rayyan sekarang.


Mulut rayyan terbuka tertutup. Mau menjawapi pertanyaan bocah kecil di hadapannya. Tapi entah bagaimana. Suaranya tidak bisa keluar.


'Yes...Yes...Yes...My...You dad...!'. Kata kata itu, yang keluar dari batin rayyan.

__ADS_1


Genangan air mata, tertahan di pelupuk kedua mata rayyan. Karna ia begitu terharu dan bahagia.


'layya? ...Anak kita...Mengenaliku!'. Lagi lagi suara batin rayyan.


__ADS_2