
18+
Ya ya ya......
❤❤❤
"melihatmu senyam senyum dari tadi, aku yakin kamu sedang merencanakan sesuatu? lex? ". itu adalah suara mirza dari dapur, yang sedang menikmati air putihnya lalu ia melangkah ke lemari gelas kecil lalu ke kulkas dan meraih beberapa sachet bubuk kopi instan.
Tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak tertawa, lebih tepat mengatawai seseorang,.akhirnya tawa alex pun meledak.
Alis mirza sontak saja menyatu menoleh melihat alex di sofa depan tv ruang tamu miliknya.
"kamu sedang mengerjai seseorang? ". sangat mudah menebak kesenangan pria ini. mirza melangkah ke dapur, untuk air panas kopinya. beberapa saat mirza muncul kembali dari dapur dengan dua kelas kopi di kedua tangannya melangkah ke sofa di mana alex berada.
Mirza menduduki bokongnya di sofa yang berhadapan dengan alex. menyesap kopinya sembari menatap alex.
Alex menggeleng setelah berhenti tertawa namun kekehan kejinya masih tetap ada. terlihat sekali dari mimik wajah alex kalau rencananya sedang berjalan dengan lancar.
"lebih tepat aku memberikan hadiah spesial untuk teman kita itu! ". alex kembali terkekeh meraih kopi bikinan mirza dan menyesapnya.
"shit!...kau sedang mengerjai rayyan?! ". umpat mirza setelah terloncak berdiri menatap alex ngeri. tentu setelah membanting gelas berisi kopinya ke meja, yang terlihat tumpah sedikit.
Alex menatap santai mirza dari duduknya.
"oh ayolah za?...aku sudah katakan tadi...hadiah...okay? ". lagi lagi alex santai menyesap kopinya.
Mirza terlihat sangat frustrasi dengan memijit keningnya yang tidak sakit, berkacak pingang sebelum kembali menatap alex geram.
"pertama? aku tidak mau terlibat dan yang kedua? kenapa kamu merencanakan sesuatu di saat kamu menginap di sini?... shit...sialan kau alex...kamu tahukan bagaimana jika pria itu marah? ".
Alex hanya mengedikkan bahunya acuh.
"siapa yang tahu? ". jawabnya santai lalu ia terkekeh geli. mengingat rencananya yang sedang berlangsung di seberang negeri sana.
Tidak bisa tidak mata mirza tidak membulat melihat temannya+sahabatnya ini bersikap santai.
Menarik nafas frustasi mirza menatap alex.
"aku rasa kamu sudah siap dengan beberapa pukulan".
Alex menaikkan pandangannya melihat mirza yang sudah kembali duduk.
__ADS_1
"it's okay...asal aku mendapatkan jawabanku, ckck...aku sudah bertemu dan bertanya beberapa hal ke layya tapi...". alex menggeleng frustasi.
"aku tidak menemukan apapun, kecuali kebodohan pria itu".
Mirza menarik nafas menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"tidak ada yang berani ikut campur dengan masalah pribadi rayyan bahkan tidak paman dan tante". ujar mirza, yang kini berbicara santai. dari dulu sampai sekarang ia hanya jadi penonton dalam setiap episode percintaan rayyan. berkomentar? dengan pria yang keras kepala seperti rayyan? tidak ada gunanya. dari dulu sampai sekarang dia hanya akan mendengar dirinya sendiri.
"aku kasihan dengannya? oh ya? bagaimana dengan hubungan rayyan dan reina? kamu tahu sesuatu? ".
"tidak akan, jika tidak darimu! rayyan? apa kamu pernah melihat dia berbagi dengan kita? ".
Alex mendesah lelah.
"terkadang apa yang di perlihatkan pria itu...tidak seperti yang sebenarnya terlihat!...hhh".
"aku rasa kamu mengetahui sesuatu tentang hubungan rayyan dan reina".
Alex melihat mirza.
"bukankah kamu bilang tidak mau terlibat? ".
Mirza mengumpat kasar sembari melempari alex dengan bantal dan alex berhasil menghindarinya.
Alex terkekeh.
"oh ya? kamu tidak membuatnya menggila bukan?! ".
Alex dengan santai melihat mirza yang duduk di depannya.
"2x dosis...,ayolah za...? sedikit menggila bukankah terbayarkan dengan 3 tahun? ha ha ha". alex tertawa ngakak.
Mirza berdecak kesal. sebenarnya ia tidak mau ikut campur tapi sekali kali mengerjai pria keras kepala+dingin itu, bukankah wajar.
"aku penasaran apa yang akan di lakukan rayyan setelah sadar besok tapi...tunggu? kamu yakin, semua sesuai rencanamu? ".
"kamu terlihat sangat berharap juga?! ".
"seperti yang kamu bilang tadi, melepaskan setelah 3 tahun".
Alex lagi lagi tertawa ngakak mendengar ucapan mirza.
__ADS_1
"ha ha ha...jika kamu sudah setuju maka orangku sudah memastikan, mereka bersama sekarang and...di dalam kamar yang sama ha ha ha ha ha".
"ouhchhhh...aku tidak akan tidur malam ini, bagaimana denganmu? ayo kita rayakan, malam besar untuk teman kita". sambung alex lagi.
Keduanya tertawa lebar.
"tapi tunggu...". mirza berhenti tertawa saat teringat sesuatu.
"bagaimana kalau rayyan mengikat dirinya atau...dia...mengunci...".
Alex terdiam.
"apa itu mungkin? di saat 2x dosis? bahkan kamu...bisa menggila...ayolah za? ". kekeh alex keji.
Brakh....
"eurrghhh...". suara keras dari satu kamar yang bercahaya remang di sertai erangan kuat seorang pria.
Prang...
Suara pecahan kaca yang terjatuh di kamar remang tersebut di sertai juga erangan dan desahan dua manusia.
"aku yakin rayyan akan menghajarmu". ujar mirza. yang kembali memperlihatkan mereka duduk di sofa.
Alex mengedikkan bahunya acuh.
"aku tidak yakin untuk itu? namun aku yakin akan satu hal meski rayyan tidak akan mengakui, dia...senang!". ucap alex mantap tanpa ada keraguan sedikitpun dalam ucapannya.
Prang...brukh...
"Aahhhh...". suara desahan seorang wanita.
"hhhh....aku mau hhhh kamu...hhhh". nafas berat jelas terdengar di kamar tersebut.
"Aahhhh....ray...?...". suara desahan seorang wanita saat si pria yang mendekapnya erat dengan tanpa sehelai benangpun di tubuhnya dan sedang menggigit gigit kecil leher jenjang nan putih si wanita.
"hhahhhhh...". suara nafas si pria yang berat akan nafsunya yang sedang berkobar dan segera harus di padamkan. di tambah...melihat tubuh si wanita semakin membuat si pria hilang kendali sejak beberapa menit yang lalu.
"ray...?".
💜💜💜💜💜
__ADS_1
Bijaklah dalam membaca ya teman teman... ???
Dan...ada yang bisa menebak? siapa si wanitanya di sini...?.