
Kepala layya mendongak ke atas melihat gedung bercat putih dihadapannya.
Menarik nafas melepaskannya perlahan. layya melangkah masuk ke dalam gedung tersebut.
Sebuah rumah sakit yang ada di negara tersebut singapura. setelah menyelesaikan semua urusannya mengenai pekerjaan. secepat kilat layya melenggang ke mari untuk memastikan hidup dan matinya.
Langkah layya di ikuti kedua tangannya yang memegang perut bagian bawahnya. di dalam hatinya selalu berdoa dan meminta kepada sang maha pencipta (Allah swt) kalau tidak akan terjadi apapun. lebih lebih ada benih dari pria itu.
Kembali tidur, berhubungan dengan pria itu sudah menjadi dosa besar bagi tubuhnya. apalagi jika harus hamil. itu sudah merupakan satu aib bagi hidupnya. meski setitik benih tidak pernah bersalah. apa yang terjadi pada dirinya kemarin. itu murni dirinya tidak sadarkan diri. namun tetap saja itu perbuatan dosa bahkan dosa besar dan sudah semestinya ia harus bertaubat memohon ampun sekalipun yang terjadi di luar ke inginannya. itu akan menjadi suatu pelajaran untuknya supaya lain kali berhati hati atau lebih tepat ia harus tidak percaya pada siapapun.
Menarik nafas. layya memasuki ruang dokter spesialis kandungan. untuk memeriksa dirinya. apa hamil atau tidak. ralat. apa ada benih pria itu atau tidak. layya masuk ke dalam begitu saja tanpa ikut mengantri seperti yang lain. layya sudah membuat janji sebelumnya untuk ke sini dan sekarang di sinilah ia.
Beberapa menit kemudian layya keluar wajahnya tersenyum sumrigah saat dirinya berpamit dan berterima kasih ke dokter di dalam sebelum pintu di bekakangnya tertutup rapat dan pasien berikutnya di panggil.
Layya melangkah cepat menuju lobby. langkahnya terhenti saat deringan handphone berbunyi.
"ya rin...? ada apa? ". layya kembali melanjutkan langkahnya.
"aku tidak tahu bagaimana cara ngomongnya ke kamu layya tapi sebelum itu...". ayrin menjeda ucapannya.
Layya memasuki mobil. duduk di kursi mengemudi. sedetik kemudian mobil layya keluar dari area rumah sakit tersebut dan membelah kota Singapura. ia meminjam mobil tersebut dari vivi dan kata vivi mobil ini adalah mobil perusahaan mereka, yang ada cabangnya di di sini.
"rin...? kamu masih di sana?! ". panggil layya setelah menunggu beberapa detik. ayrin tidak juga menyambung ucapannya tapi malah bicara dengan orang lain di sisinya.
"ya, aku masih di sini tapi tunggu dulu, sebentar. nanti aku hubungi lagi okay? ". ujar ayrin lalu mematikan panggilannya.
Layya menatap layar hpnya sebelum mengedikkan bahunya. memayunkan bibirnya.
Layya berbelok ke kiri. menuju hotel tempat nya menginap. setelah berhenti karna lampu merah.
Beberapa saat kemudian mobil layya memasuki area parkiran hotel. memarkirkan mobil. keluar dari sana. layya melangkah ke lobby hotel.
Drrtttt...
Suara getaran dan deringan handphone membuat langkah layya terhenti sejenak. mengambil handphone yang ada di tas selempengnya. menekan tombol lift dan masuk ke dalamnya.
"ya rin...?!". layya menatap angka lift yang terus naik hingga mencapai lantai kamarnya.
Ting..
"aku benar benar tidak percaya ini layya?! ".
"ada apa sih...?..oh ya? bagaimana dengan hal yang aku minta padamu..?".
"itulah maksudku layya? kamu benar benar tidak tahu? Serius...?".
Layya menyatukan alisnya. mengernyit tidak mengerti.
"apa yang harus aku tahu?..tunggu..apa ada masalah?! ". tanyanya setelah tadi berhenti sejenak di depan pintu kamarnya. mengeluarkan kartu. membuka pintu dan masuk ke dalam.
__ADS_1
Layya menyuruh sahabatnya ayrin untuk mengambil akte perceraian dirinya dan rayyan ke kantor pengadilan. seharusnya ia sendiri yang ke sana dan ia pun sudah membuat janji temu dengan orang tersebut. jadwal sebenarnya seharusnya lusa, senin depan. namun karna jadwal dari orang tersebut di percepat jadinya ia meminta bantuan ayrin sebagai penggantinya.
Layya berencana mengambil akte perceraian lalu membawa ke kantor xx untuk pengurusan identitasnya. karna sampai sekarang di kartu identitasnya bertuliskan istri. sedangkan dirinya sekarang adalah seorang janda. sangat miris bukan. apalagi tahun depan yusuf dan maryam masuk sekolah. jadi ia sangat memerlukan akte tersebut untuk mengubah identitasnya.
"ini benar benar gila! aku tidak tahu ya layya? apa kamu yang bodoh atau pria ******** itu yang sudah gila".
Layya menghentikan gerakan tangannya, yang sedang menuang air putih untuk ia minum. sekarang layya sedang berada di pantry. layya membalik badan memfokuskan telinganya mendengar ayrin.
Tidak ada pria lain yang ayrin sebut ******** kecuali satu yaitu rayyan.
"aku tidak mengerti! coba katakan lebih jelas rin...? kamu membuatku bingung". protes layya.
"aku yang lebih bingung di sini layya?! ".
Layya sontak menjauhkan hp dari telinganya begitu teriakan ayrin mendengung merdu di telinganya.
Layya mendesah dan kembali meletakkan benda persegi tersebut ke telinganya.
"dan sekarang kamu bisa membuatku tuli rin? ada apa sih...? dari tadi apa yang kamu bilang aku tuh tidak mengerti sama sekali? ".
Ayrin menarik nafasnya sebelum kembali berbicara dengan layya.
"layya?".
"hm".
"kamu...tunggu dulu...kamu menyuruhku ke mari untuk mengambil akte cerai mu bukan?! ".
"itu artinya kamu benar benar tidak tahu". gumam ayrin yang dapat di dengar layya.
"apa maksudnya?.. apa yang tidak aku tahu?... ayrin? apa terjadi sesuatu? ". todong layya sedikit panik.
'apa akte cerainya ada pada rayyan?...seharusnya aku bertanya dulu pada pria itu'. batin layya.
"...rin? ". panggil layya saat tidak mendengar sahutan dari temannya tersebut.
Tarikan nafas ayrin terdengar sebelum wanita itu kembali bicara.
"tidak ada akte ceraimu atau apapun itu layya? ".
Layya menyatukan alisnya tidak mengerti.
"apa maksudnya?... ah...apa itu ada pada rayyan?...kalau begitu aku harus mengambilnya sendiri, terima kasih rin, sudah mau membantuku...".
"kamu dengar dulu dong? maksudku tidak ada akte cerai karna memang tidak ada gugatan cerai yang di naikkan atas nama kamu dan rayyan dan yang lebih parah, aku pergi ke kantor pengurusan pernikahan dan di sana di dalam layar komputer mereka masih tersimpan rapi identitasmu dan rayyan, kamu mau tahu apa?!...ini gila".
Layya menyatukan alisnya. ia berusaha meneguk air putih membasahi kerongkongannya yang kering. jujur ia sedikit takut entah karna apa.
"...apa itu? ". tanyanya sedikit panik. Mengangkat gelas kembali meminum air putihnya.
__ADS_1
"suami istri! ".
Phuuurrr..uhukk..khukk..khukk..khukk
"kamu baik baik saja?! ". tanya ayrin begitu mendengar layya yang terbatuk batuk.
"apa maksudnya dengan suami istri rin...?!". tanya layya di sela sela batuknya.
Ayrin bernafas lega.
"apa lagi maksudnya? bukankah sudah jelas? tidak ada perceraian antara kamu dan rayyan atau bisa di sebut juga untuk jelas, tidak pernah terjadi perceraian antara kamu dan rayyan itu yang mereka katakan di sini dan itu artinya...kalian masih suami istri, sampai sekarang...kalian masih berstatus sebagai suami istri".
Tuk...prang...
Tubuh layya seketika mematung di tempat. pandangan matanya mendadak kosong di ikuti nafasnya yang berhenti. manik matanya menatap lurus ke depan namun tidak ada cahaya sama sekali. setelah mendengar jawaban ayrin. handphonenya, yang biasa tidak akan jatuh seberapa pun berita mengejutkan yang ia dengar namun sekarang. meluncur kebawah lepas dari pegangannya membentur lantai keramik di bawah kakinya dan untung baik baik saja. tidak pecah atau sebagainya. terdengar dari suara ayrin yang terus memanggil layya.
Flash back...
"ada apa sih ray?! ". tanya mirza, yang melihat tatapan tajam mengintimidasi rayyan ke alex dan bagaimana alex terlihat gelagapan.
Mereka masih duduk di sofa yang melingkari satu meja kaca di depan ketiganya.
"aku juga mau tahu jawaban alex mir...?". desis rayyan sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. menatap alex yang berada di depannya.
Alex menarik nafas. memperbaiki duduknya menatap rayyan berani sembari membasahi bibirnya yang kering.
"beberapa minggu yang lalu saat kamu di luar negeri, aku tahu". jawab alex.
Rayyan terkekeh tidak percaya atas jawaban alex. bukan itu yang ia mau.
"kamu sangat bekerja keras lex? aku rasa butuh waktu lama untuk kamu mengetahui bahkan aku sendiri baru menyadarinya".
"aku tidak mencari tahu tentang itu ray?.. aku menebak".
Rayyan sangat membenci orang yang mencari tahu tentang kehidupannya apalagi menyangkut hal pribadi pria itu dan ia? melakukan itu.
"maksudmu...kamu menebak dan tanpa mencari tahu?...lex? kamu kira aku sebodoh itu...?".
Alex menarik tajam nafasnya. ia terlihat gugup namun tidak membuatnya takut.
"baiklah! aku jujur, awalnya aku menebak nebak saja lalu untuk menguatkan itu semua aku berusaha mencari tahu dan ya, begitu lah". ujar alex panjang lebar.
"tunggu!...sebenarnya ada apa sih? ray? apa memangnya yang di ketahui alex?". mirza terlihat geram. karna dari tadi dia hanya mendengarkan tanpa tahu. apa yang sebenarnya terjadi antara alex dan rayyan.
Rayyan sekilas melihat mirza sebelum menarik nafas dan melihat alex. se akan menyuruh alex saja yang memberitahu mirza. meski ia tidak menginginkan temannya ini mengetahui tapi mau bagaimana pun cepat atau lambat dia juga akan tahu. dan tentu akan sangat merepotkan.
Mirza melihat alex meminta jawaban. karna percuma mengharap pria dingin di sampingnya ini.
Alex menepiskan bibirnya. melihat rayyan lalu berbicara, yang seketika itu juga membuat mata mirza melebar dan memekik terkejut. sedangkan alex menunduk dengan berbagai pikiran dan rayyan yang memilih melihat ke arah lain. dengan pikirannya ke satu tempat. layya.
__ADS_1
"rayyan masih suami layya, mereka belum bercerai! ". itulah jawaban alex.
'apa wanita itu sudah mengetahuinya?! '. suara batin rayyan.