
Kekehan geli masih tersungging di bibir rayyan saat ia berjalan menuju tangga.
"ray...?!". Panggil Imelda menghentikan langkah rayyan seketika.
"ya mi?!". Sahut rayyan sopan sambil berjalan mendekati maminya sekilas matanya melihat wanita, yang pernah menjadi kekasih hatinya. Tidak, bahkan sampai sekarang Reina masih kekasih hatinya meski... Mereka tidak akan bisa bersatu namun wanita ini tetap akan menjadi cintanya. Selalu.
Imelda berdiri menghampiri rayyan. Reina juga ikut serta. Sekilas Reina melihat ke arah di mana rayyan dari sana tadi.
"bukannya toilet ada sebelah sana ya? Dekat dapur. Kenapa kamu datang dari arah sana. Itu kan kamar tamu Ray? Apa kamu sudah lupa letak toilet di rumah mu sendiri, sangking jarangnya kamu pulang ke rumah?". Imelda mengelus lengan rayyan lembut dan penuh dengan kasih sayang seorang ibu.
"Bukankah di sana juga kamar Ray dulu mi? Hanya pingin memakai kamar mandi di sana tapi mi? Kapan Reina datang? Kok enggak kasih tahu Ray?!". Rayyan melihat ke Reina, yang memberinya senyum lembut.
Reina melihat Imelda karna biar wanita paruh baya ini saja yang menjawab.
Imelda sontak menoleh melihat Reina sebelum kembali menatap putranya.
"oh itu? Mami ketemu Reina di mall. Hari ini seharian mami, papi juga Yusuf dan maryam ke mall. Kita bertemu di sana lalu mami mengajak Reina ke rumah untuk makan malam dan kebetulan juga kamu pulang malam ini ke rumah!". Jelas Imelda panjang lebar.
Rayyan mengangguk mengerti. Ia Menelan pertanyaannya sendiri yang ingin bertanya.
Apa yang mami beli untuk Yusuf dan Maryam. Apa mereka senang. Apa mami membeli mereka mainan kesukaan mereka masing masing dan mainan apa aja itu. Apa papi juga senang. Banyak pertanyaan yang muncul dari benaknya untuk ia keluarkan namun terpaksa ia tahan untuk kebaikan hubungannya dengan layya lagi. Yang harus ia lakukan lagi adalah membuat layya kembali percaya padanya . Sekalipun itu sangat sulit tapi ia tidak akan menyerah.
Rayyan beralih menatap Reina sekilas sebelum kembali menatap imelda. Setelah beberapa lama. Akhirnya mami nya bisa akrab dengan Reina bahkan mengajak Reina ke rumah. Itu adalah hal yang tidak pernah mami nya akan lakukan dulu. Mami adalah orang pertama selain dari orang tua Reina yang menentang keras hubungan kita. Lalu di hadapkan dengan situasi saat ini dan di saat ia sudah mengambil keputusan meninggalkan Reina. Ia jadi bertanya tanya. Apa keputusan nya ini sudah bagus? Apa akan melukai layya lagi? .
Helaan nafas beratnya memutuskan pandangan mereka.
"berhenti menatap kekasihmu di depan mami Ray? Kamu tidak melihat mami mu masih di hadapanmu?!". Rajuk Imelda tidak suka.
Benar yang di katakan banyak orang. Banyak ibu ibu yang akan cemburu ke menantunya karna mendapat perhatian lebih dari putranya sendiri dan ini sama sekali tidak baik untuknya, jika di biarkan namun di pikir berapa kali pun ia tidak suka perasaan ini.
Rayyan menyungging senyum tulus dan tipis di bibirnya sambil mendekat dan memeluk Imelda.
"aku merindukan mami, sangat. Dan maaf mi, pesanan mami waktu itu tidak Ray beli, Ray waktu itu buru buru balik ke sini!".
"emang sejak kapan kamu mendahului mami dari pekerjaan mu Ray?". Keluh Imelda lelah. Ia memilih menatap ke arah lain.
Mendengar ucapan maminya rayyan terkekeh geli.
"mau Ray temenin mami belanja?!". Tawar rayyan yang sukses membuat wajah Imelda sumrigah senang.
Karna dari dulu Imelda selalu ingin melakukan itu dengan putra nya. Di temenin belanja. Di bawa barang belanjaan. Melihat semua pakaian atau hal lainnya, yang cocok untuk ia pakai. Lalu setelahnya mereka akan makan bersama dan terakhir mereka akan nonton bareng.
"kamu serius?!". Tanya Imelda tidak percaya dengan apa yang di dengar telinganya barusan.
Rayyan mengangguk mantap sebelum mengucapkan.
"kapan, mami katakan saja. Ray akan kosongkan jadwal Ray".
Imelda tersenyum sumringah menampakkan deretan giginya yang putih. Layaknya anak kecil yang habis di kasih permen kesukaannya.
"ingat kamu tidak boleh mengubahnya dengan hal apapun nanti. Mami akan marah besar!". Kecam Imelda menatap rayyan intens.
__ADS_1
Rayyan terkekeh geli seraya mengangguk. Memastikan ucapannya dan meyakinkan Imelda.
Imelda tertawa kecil kesenangan sedetik kemudian raut wajahnya berubah jadi sedikit cemas saat melihat sudut bibir Ray yang terluka.
"tapi... Apa yang terjadi dengan sudut bibir mu Ray? Seingat mami tadi enggak ada deh? ".
Mendengar ucapan Imelda. Bukan hanya rayyan yang tersentak tapi juga reina yang ikut tersentak dan beralih melihat ke bibir Ray.
Dan benar saja. Sudut bibir Ray terluka meski tidak parah.
Rayyan menyentuh sudut bibirnya dengan jari jempolnya lalu ia tertawa bodoh saat kenapa bibirnya begini.
"ini... Tadi... ". Rayyan mengantungkan ucapannya yang gelagapan saat matanya melihat Reina.
Melihat tatapan rayyan untuknya. Reina sudah bisa menebak apa yang terjadi pada bibir rayyan. Ia melihat ke arah di mana rayyan dari sana tadi.
Layya. Itu perbuatan layya.
Reina memilih melihat ke arah lain. Tidak mau rayyan menangkap perasaan nya. Ia mencintai rayyan sangat. Dan terluka tentu saja tapi entah kenapa perasaan ini sama sekali tidak pantas lagi untuknya.
"arh.. Mi sakit?!". Ringis rayyan sembari mengusap lengannya yang di cubit Imelda.
"kamu bukannya menjawab mami tapi malah asik menatap tunanganmu. Seperti mami tidak ada di hadapanmu! Apa dunia milik kalian berdua sekarang?!". Omel Imelda.
Reina terkekeh geli mendengar rentetan Omelan Imelda. Ia jadi teringat dengan mamanya.
'dunia milik kami berdua? Aku rasa tidak lagi, karna sudah di isi oleh Yusuf dan Maryam, dan yang paling penting. Dunia itu bukan miliknya lagi sekalipun rayyan belum menyadarinya'. Batin Reina.
"itu... Kamar mandinya mi? ".
Imelda mengeryit kan keningnya tidak mengerti.
"kamar mandi? Ada apa dengan kamar mandi itu? Kamu jatuh? Tapi pakaian mu baik baik saj.... Tidak basah, Kecuali rambutmu yang berantakan gini, Seingat mami tadi kamu masih rapi Ray?!". Imelda menatap mengkoreksi pakaian rayyan sekarang.
Reina ikut melihat rayyan dari rambut hingga pakaian rayyan Dannya membernarkan ucapan Imelda.
Tadi ia juga melihat. Penampilan rayyan masih rapi meski wajahnya terlihat lelah butuh mandi segera tapi rambutnya masih rapi begitu juga dengan pakaian rayyan tapi ini.
Mata Reina menatap ke dasi rayyan yang terbuka tidak di tempatnya lagi lalu ia beralih ke jas rayyan, yang tersampir di bahu dan terakhir rambut yang acak acakan.
Reina menarik nafasnya menenangkan perasaan perih di dadanya. Dari tadi...Layya dan rayyan bersama? Dan di kamar itu? T
Hati Reina meringis. Meskipun waktu di Singapura. Ia juga yang membiarkan mereka tidur berdua lagi. Untuk bersama lagi. Ya Reina. Ini sudah jauh lebih baik.
Diam diam Reina tersenyum pahit.
"kamar mandinya licin mi? Mami harus menyuruh mereka membersihkan nya lagi. Tadi Ray terpeleset dan hampir jatuh. Untung saja Ray sempat berpegangan jadinya bibir Ray yang kebentur dinding dan rambut. Tadi Ray acak acak sendiri. Gerah soalnya mi". Jelas rayyan sementara ingatannya kembali ke saat di mana ia bersama layya tadi.
Rayyan mengerang dalam hati.
'sialan kamu layya! Aku akan membalasmu, aku pastikan itu!'. Ujaran keji batin rayyan saat sebuah rencana muncul di otak cerdasnya.
__ADS_1
Reina yang tersentak kembali dari lamunannya saat suara rayyan masuk ke gendang telinganya.
Imelda mengerjap.
"benarkah? ....Tapi untung lah kamu baik baik saja, sudah sana? Naik ke kamarmu dan mandi. Melihat mu mami ikut gerah".
"rose sudah pulang? nggak ikut makan malam bersama?". Tanya rayyan setelah kembali dari lamunannya. Dan ia tidak mendapati rose berada di sana.
"rose di ruang kerja papi. Tentu saja ikut, mami maksa!".
"baiklah Ray naik dulu". Beritahu Ray sebelum beranjak namun saat kakinya berada di anak tangga pertama. Rayyan menoleh menatap Imelda.
"lalu di kolam renang siapa? Maksud Ray. Dua bocah yang mami suka sama siapa? Ada yang menjaga mereka kan?!". Tanya rayyan cemas namun berhasil rayyan sembunyikan dari wajahnya.
"tentu saja ada Ray? Tidak mungkin papi dan mami akan meninggalkan mereka berdua begitu saja, dan juga mami sudah memperkerjakan 2 maid. 2 hari lalu khusus menjaga dan melayani mereka berdua".
"tambah lagi? Bukankah sudah ada mi?!". Ia yakin layya akan sangat tidak menyukai itu.
"mami hanya mau mengkhususkan saja dan rahasiakan ini dari layya mengerti dan juga kamu Reina! Jangan beritahu ke layya, kamu sahabatnya". Ancam Imelda melihat rayyan lalu Reina di samping nya.
Reina hanya bisa tersenyum menjawab mengerti. Lagian tidak mungkin juga ia memberitahu. Bertemu saja mereka tidak pernah lagi apalagi jika di sebut jarang dan berbicara.
"baiklah. Terserah mami saja! Aku naik dulu". Rayyan menaiki anak tangga satu persatu tanpa menoleh kemanapun lagi. Sementara jarinya mengusap sudut bibirnya. ingatannya kembali ke saat ia dan layya berciuman panas dan menggairahkan tanpa ia ketahui itu hanyalah trik layya hingga bibirnya jadi seperti ini.
Lagi lagi rayyan mendecak.
"tolong....Tolong...Tolong...". Sebuah suara dari arah menuju kolam renang terdengar hingga membuat rayyan menghentikan langkahnya berbalik melihat mami dan Reina.
'apa aku salah dengar?'. Batin rayyan, yang terhinggap rasa cemas.
Begitu juga Imelda dan Reina tersentak akan suara tersebut sehingga membuat keduanya saling bertatapan sebelum beralih ke sumber suara. Menajamkan telinga keduanya.
Derap langkah kaki yang berlari panik semakin terdengar dalam rumah tersebut. Hingga orang tersebut muncul yaitu seorang gadis muda yang baru 2 hari lalu Imelda pekerjakan dan tugasnya menjaga Yusuf dan Maryam.
Dengan nafas tidak beraturan dan sembari menunjuk ke belakang nya ke arah kolam. Gadis muda tersebut meminta tolong.
"nyonya tolong...hhh...Tolong nyonya... hhh...Tuan muda Yusuf hhh...dan hhh non...hhh maryam, juga Mamanya... jatuh ke kolam renang... Nyonya tolong". Pinta memohon gadis muda tersebut.
Rayyan, Imelda juga Reina serentak membulatkan matanya.
Apalagi Imelda yang baru beberapa menit yang lalu baru mengetahui kalau layya tidak bisa berenang dan di tambah Yusuf dan Maryam...
Imelda shock sekaligus ketakutan. Ia bersigap lari ke sana di ikuti Reina namun baru dua langkah kakinya berhenti saat menatap di depannya.
Putranya rayyan ikut lari ke sana. Namun bukan itu yang membuat langkahnya berhenti. Melainkan wajah rayyan yang terlihat sangat panik sekaligus ketakutan. Dan yang paling membuat Imelda tidak mengerti. Rayyan melompat dari anak tangga, mungkin 7 atau 8 anak tangga ke bawah.
Imelda menatap itu bingung.
Mengabaikan Imelda, yang ia ketahui kenapa. Reina melanjutkan larinya.
'ia yakin, kali ini rayyan dan layya tidak bisa menyembunyikan ini lagi'. Batin Reina sambil berlari panik.
__ADS_1