Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 87


__ADS_3

Bhurrr...


Usai rayyan melompat. Setibanya di dalam kolam.


Rayyan kebingungan. Ia tidak tahu harus menyelamatkan siapa duluan. Kedua anaknya membutuhkan bantuan segera, begitu juga dengan layya.


Rayyan ingin berteriak karna frustasi. Sekaligus perih di hatinya di saat bersamaan.


Bhurrrr...


Di ikuti suara lain, yang masuk ke dalam kolam. Reina.


"kamu selamatkan layya. Yusuf dan Maryam biar aku tangani ? Cepat Ray?!". Teriak Reina di ujung kalimat menyentak kesadaran rayyan yang hampir di kuasai rasa panik.


Setelah mengatakan kalimat itu. Reina segera menghampiri yusuf dan maryam, yang masih melambai lambaikan tangannya ke atas.


Yusuf dan Maryam. Keduanya terlihat sudah bisa berenang sedikit sedikit. Terlihat dari keduanya sesekali muncul ke atas mengambil nafas lalu tenggelam lagi.


Saat mau tenggelam lagi Yusuf. Tubuhnya sudah melayang berada di atas pundak Reina hingga membuatnya terbatuk batuk. Sebentar Reina menepuk punggung Yusuf lalu ia menyusul meraih tubuh Maryam yang tidak jauh dari yusuf, membopongnya dengan satu tangan sebelah kanannya. Membawa keduanya ke tepi kolam, yang sudah di tunggu Imelda dengan khawatir dan panik.


Di belakang Imelda. Terlihat andryatama yang baru tiba di sana bersamaan dengan rose yang juga ikut berlari di belakang.


Andryatama mempercepat larinya saat melihat Yusuf dan Maryam berada di tangan Reina dan butuh bantuan untuk di naikkan ke atas. Pinggir kolam.


"sini Reina!". Ujar Andryatama begitu sampai di tepi dan meraih cepat tubuh Yusuf. Sedangkan imelda meriah tubuh Maryam.


Keduanya seketika terduduk di tepi kolam dengan Yusuf dan Maryam otomatis ada di pangkuan mereka.


"Khu...Khu...Khu...". Batuk Yusuf dan Maryam begitu tiba di atas dan berada di atas pangkuan kedua paruh baya tersebut.


"ushhhh... Semua baik baik saja sayang...Semua baik baik saja!". Lantun Andryatama juga Imelda menenangkan kedua anak kecil, yang sangat sangat keduanya sayangi, bahkan keduanya sudah di buat jatuh cinta oleh Yusuf dan Maryam.


Keduanya Menepuk nepuk punggung Yusuf dan Maryam lembut dan ketika melihat batuk Yusuf dan maryam mereda, pertanda keduanya sudah dalam ke adaan baik baik saja. Tapi tetap. Andryatama dan Imelda akan membawa Yusuf dan Maryam ke rumah sakit, untuk di periksa keseluruhan.


Andryatama dan Imelda mengusap wajah Yusuf dan Maryam lembut di sertai menyisir rambut mereka yang berantakan di wajah keduanya.


"semua baik baik saja sayang?!". Tenang Imelda yang merasakan Maryam dalam pelukannya menarik nafas tajam dan suara nya yang lelah.


Andryatama dan Imelda memeluk keduanya dengan wajah cemas di sertai dengan menepuk nepuk punggung dan mengucapkan kata kata apapun menenangkan keduanya.

__ADS_1


"hiks...Bunda...Hiks...Bunda". Tangis Yusuf begitu suaranya keluar.


Maryam memeluk erat wanita paruh baya yang mendekapnya. Sedangkan dirinya menggigil kedinginan terlihat dari bibirnya yang bergetar satu sama lain.


Andryatama mengusap lembut punggung Yusuf. Setelah dirinya tersentak. Hampir saja ia lupa kalau maid yang mengabarinya kalau bunda dari Yusuf dan Maryam juga ikut jatuh ke kolam. Memutar kepalanya. Andryatama melihat ke dalam kolam renang.


"bunda baik baik saja sayang?!". Jawabnya dengan alisnya yang menyatu.


Meski penglihatannya di kaburkan dengan air kolam yang beriak pelan tapi ia masih bisa melihat dengan jelas. Dengan apa yang putranya lakukan pada bunda kedua anak, yang berada di dalam pangkuannya dan Imelda sekarang.


Putranya Rayyan. Sedang menciumi wanita, yang ia ketahui mereka tidak saling kenal. Hanya kenal karna menjalin kerja sama. Lalu sekarang apa. Wajah rayyan yang terlihat cemas juga seperti ada rasa ketakutan yang sangat kentara terlihat begitu, di tambah dia... Putranya, frustasi. Memberi nafas buatan berkali kali. Namun sepertinya layya tidak juga sadar dan membuka mata. Rayyan sesekali akan menggoyang goyangkan tubuh layya dengan kencang setelahnya kembali mencium memberi nafas buatan.


'bangun!Bangun layya?!'. Panggil rayyan panik dalam hati.


Entah keberapa kali ia sudah memberikan nafas buatan untuk layya tapi wanita ini masih bergeming.


'layya ku mohon!...Jangan lakukan ini padaku'. Goncang rayyan pada tubuh layya setelah baru saja melepaskan mulutnya dari bibir layya. Memberi nafas buatan.


Rayyan melihat panik sekaligus cemas ke atas, ke permukaan air lalu kembali melihat layya. Rayyan naik ke atas sebentar, kepermukaan air. Mengambil udara sebanyak banyaknya lalu kembali menenggelamkan dirinya ke kolam dan meraih tubuh layya kembali.


Ia tidak bisa membawa layya ke permukaan dulu sebelum layya sadar di dalam air.


Batinnya mengerang saat menyadari tidak ada reaksi apapun dari layya. Meski tetap mempertahakan posisinya, bibir keduanya yang menyatu.


Ia lelah. Ia sangat lelah. Batin rayyan sambil kedua tangannya memeluk tubuh layya. Tanpa ia sadari dan di hapus oleh air kolam. Air mata rayyan keluar.


'apakah ini! Perpisahan mereka yang sebenarnya?...'.


Rayyan menjauhkan tubuh layya sejenak menatapnya sebelum kembali menggoyang goyangkan dengan kencang.


'tidak! Ia tidak akan menyerah!'. Suara batin rayyan.


Rayyan merapatkan tubuh layya dengan dirinya, memeluknya erat dengan satu tangan sedangkan satu tangan lain ia gunakan untuk naik ke permukaan.


'layya kamu harus sadar! Kamu harus bangun layya! Kamu belum membalasku bukan?...Kamu harus sadar dan bangun untuk membalasku layya?! Kamu harus melakukan itu'. Batin rayyan sambil mengencangkan pelukan nya.


"hahhhh". Suara yang keluar dari mulut rayyan begitu muncul ke permukaan.


Rayyan menaikkan pertama tubuh layya ke pinggir kolam lalu setelahnya dirinya ikut menyusul.

__ADS_1


Rayyan menekan panik dada layya sekuatnya, untuk menyadarkan layya sekaligus untuk membuat jantung layya kembali bekerja.


'sadar layya...Ku mohon! Kamu bisa layya, kamu wanita kuat, kamu wanita hebat'. Racau rayyan di tengah frustasi, kecemasan sekaligus ketakutan.


Sesekali rayyan akan memberikan nafas buatan lalu kembali dengan menekan dada layya.


Ia bahkan tidak bisa memikirkan apapun lagi sekarang.


"bangun layya? ". Pinta rayyan nyaris seperti memohon ke layya di tengah aktifitasnya menekan dada layya.


"aku bilang bangun layya?! Apa kamu tidak mau anakmu lagi hahhh? Apa kamu mau anakmu padaku? ...Tidak layya. Aku akan memukuli mereka. Aku akan memarahi mereka. Aku tidak akan menyayangi mereka. Aku tidak akan peduli pada mereka layya. ...Kamu dengar? Aku tidak akan peduli pada mereka. Jadi bangunlah dan ambil mereka!". Teriak rayyan frustasi yang sudah berhenti menekan dada layya dan kini menatap wajah layya yang sangat tenang dalam pejaman matanya.


"kamu jahat layya! Kamu sangat jahat layya, jika kamu melakukan ini padaku. Kamu sangat jahat layya!". Ringis rayyan sendiri.


Dan yang menjadi penonton adalah Andryatama, imelda, rose, para maid yang ada di sana, juga Reina yang panik akan racau rayyan dan bisa membuatnya berada dalam bahaya. Jika apa yang dia, rayyan sembunyikan selama ini di ketahui papinya meskipun ia yakin. Cepat atau lambat pak Andryatama akan tahu tapi mungkin tidak sekarang. Sebelum hubungan keduanya membaik. Layya dan rayyan.


Tidak menyerah. Rayyan kembali bangkit dan menekan kuat dada layya lagi.


'kamu tidak bisa meninggalkan ku seperti ini layya? Aku belum membalasmu yang tadi...dan kamu belum membalasku bukan?!'. Batin rayyan meracau.


"bangun layya?... Aku bilang bangun?!". Teriak rayyan frustasi saat menyadari tidak ada reaksi dari layya.


Hal tersebut. Tidak ada sedikitpun yang terlewat dari tatapan mata tajam Andryatama sekarang.


"pihak rumah sakit sudah tiba?!". Tanyanya dengan suara dingin ke maid yang baru tiba dan berdiri di belakang nya.


Maid tersebut menunduk. "Dalam perjalanan kemari tuan? Mereka bilang, 5 menit lagi akan sampai".


Andryatama masih dengan wajah santai nya. Padahal dirinya juga sudah di atas kata panik. Yusuf juga Maryam harus segera di periksa dan mendapatkan pertolongan pertama.


"mana handuk yang saya minta?!". Ucapnya dingin.


Maid tersebut tersentak lalu melihat ke belakangnya.


'memang tuan menyuruhnya mengambil handuk? perasaan tidak'. Batinnya. Tidak mau berlama lama. Ia pun melenggang dari sana untuk mengambil handuk.


"akan segera saya bawakan tuan!". Ucapnya sebelum berlalu.


Andryatama masih dengan matanya menatap ke putra nya.

__ADS_1


__ADS_2