
"Apa yang kamu inginkan? Kamu tentu tidak mengajak ku percuma. Tentu ada yang kamu mau dariku,"
Setelah diam beberapa lama sembari menatap wajah Rayyan. Layya mengetahui satu fakta lagi mengenai pria ini. Untuk mengetahui kenapa dia bisa tahu kalau ia mengagumi arsitektur Cavia. Tidak lain adalah, dia mencari tahu tentang nya.
Mendengar kalimat sinis Layya. Rayyan terkekeh.
"Kamu pintar istri ku! Seperti kata mu. Ada yang aku mau dari mu. Tentu saja sama seperti sekarang, waktu mu."
"Kamu tentu berpikir aku orang yang sangat santai. Sehingga bisa membuang buang waktu percuma, ya Ray!"
Rayyan tertawa kecil.
"Kamu salah. Tentu aku berpikir sebaliknya. Kamu tahu! Sulit untuk mendapatkan satu undangan lebih. Dan sebagai bayarannya aku hanya mau waktu mu kembali dan kali ini sehari,"
Layya melebarkan matanya.
"Sehari? Kau tidak berniat menculik ku lagi kan? Dan kali ini kau minta izin padaku dulu," Layya berteriak lalu kembali merendahkan nada suaranya. Meski raut wajahnya terlihat sangat jengkel ke Rayyan.
"Ku rasa benar tapi aku tidak melakukan nya,"
"Maksud mu kamu tidak pernah menculik ku? Kamu bercanda atau ingatan mu sudah lumpuh?"
Rayyan seketika bangkit duduk dengan kedua tangannya siggap memegang pinggang Layya agar tidak terjatuh ke belakang.
Plak.
"Arghhh... Shhh.." Rintih Rayyan sakit. Saat dadanya kembali di cubit Layya.
"Seharusnya kamu bilang bilang dulu dong! Waktu mau duduk? Ishhh Dasar. Kamu baik dulu maupun sekarang tetap ngeselin ya?" Omel Layya kesal sembari meronta untuk di lepaskan Rayyan.
"Lepaskan ini? Kalau tidak, aku tidak mau pergi...." Brukh...
"Ah..." Rintih Layya sembari memegang bahunya lalu beralih menatap Rayyan tajam.
Karna Layya yang terus meronta ronta di pangkuan Rayyan. Di sebabkan Rayyan yang duduk tiba tiba. Dan di tengah perlawanan Layya. Dan di karenakan ucapan ancaman Layya. Rayyan seketika tanpa aba aba melepaskan pegangan kedua tangannya yang menahan pinggang Layya. Sehingga membuat tubuh Layya jatuh ke belakang.
"Kau..." Geram Layya putus.
"Kan tadi kamu bilang lepas. Kalau tidak kamu tidak mau pergi," Jawab Rayyan dengan mimik wajahnya yang polos dengan kedua tangannya terangkat tidak bersalah.
Layya merapatkan kedua giginya geram.
"Sudahlah, sudah ku putuskan," Suara Layya setelah bangkit berdiri dan merapikan pakaian nya yang sedikit kusut.
__ADS_1
Dari bawah Rayyan melihat menatap Layya. Menunggu ucapan Layya selanjutnya.
"Aku tidak akan pergi. Libur kerja adalah waktu ku yang berharga untuk bersama kedua anakku," Aku tidak mau membuangnya. Meskipun itu aku harus membuang kesempatan untuk bertemu dengan Nona Alexa Cavia. Bermain dengan kedua anakku adalah saat yang terbaik.
"Aku rasa mami belum memberitahu mu ini. Tapi bagaimana? Hari sabtu bukankah. Hari Check up Yusuf dan Maryam ke rumah sakit! Papi sudah membuatkan jadwal Check Up-nya . Dan hari sabtu hari pertama mulai Check up, Yusuf dan Maryam,"
Layya terdiam sembari menatap Rayyan.
'Ah benar... Aku lupa. Padahal tante Imelda sudah memberitahu nya. Bahkan jadwal Cek Up Yusuf dan Maryam sudah terkirim padanya.'
Layya memejamkan kedua matanya.
'Apa yang telah aku lakukan? Bahkan aku melupakan hal penting begini...'
"Jangan menyalahkan dirimu Layya! Jika jika kamu tidak ingat. Kamu juga tenggelam di sana. Beruntung nya, Yusuf dan Maryam seperti nya hanya butuh terapi setelah Check up selesai. Dan juga..."
Rayyan yang entah sejak kapan sudah berdiri dan sudah beranjak dari tempat duduknya tadi. Berbalik melihat Layya dan melanjutkan ucapannya.
"Apa kamu..." Rayyan menjeda ucapannya. Berbalik dan kini berhadapan kembali dengan Layya.
"Sudah melakukan Check Up sebelum keluar dari rumah sakit? Dan jangan katakan pada ku, kamu tidak melakukan nya Layya!" Rayyan menatap Layya tajam.
Tingkah Layya gelagapan. Mulutnya terbuka tertutup sebelum kemudian Layya membuang wajah ke samping sembari mengelus tengkuknya dan itu membuat Rayyan menemukan jawaban akan ucapan.
Rayyan mendesah.
"Aku sudah mengatakan, kalau aku baik baik saja Ray! Dan tidak perlu pemeriksaan pemeriksaan itu!"
"Itu siapa yang tentukan? Kamu atau Dokter nya? Layya! Apa kamu dengar tadi aku bilang apa?" Rayyan melangkah mendekat ke Layya. Sedang kedua manik matanya menatap geram ke Layya.
Wanita ini benar benar keras kepala.
Layya yang melihat langkah Rayyan yang mendekatinya seketika saja berdiri tegak. Menghadapi Rayyan tanpa terintimidasi.
"Untungnya, Yusuf dan Maryam tidak sempat tenggelam darimu Layya! Yang Itu artinya, kamu tenggelam. Paru paru mu sempat terisi penuh oleh air Layya. Dan jika saja semenit lagi kamu terlambat di keluarkan dari air! Maka kamu..."
Kedua mata Layya seketika membulat dengan ucapan Rayyan yang di hentikan. Namun seperti ia tahu kalimat selanjutnya.
"Kamu mengerti maksudku kan Layya!" Intimidasi Rayyan dalam menatap Layya.
Layya yang sudah menaikkan pandangannya menatap wajah Rayyan. Dimana tinggi keduanya sangatlah berbeda.
Tinggi Layya dalam mendongak menatap Rayyan. Hanya sebatas tulang dada Rayyan.
__ADS_1
"Jadi kamu masih berpikir bahwa kamu tidak memerlukan Check Up itu Layya! Jika iya, maka kamu wanita pertama yang ku temui di dunia. Sebegitu keras kepalanya," Geram Rayyan emosi.
Rayyan memilih berbalik. Melangkah meninggalkan Layya menuju ke kegiatan olahraga nya kembali.
"Tapi lain hal jika kamu berniat menitipkan kedua anakmu padaku. Maka lakukanlah sesuka mu,"
Trang...
Rayyan membanting besi di tangannya ke lantai.
Sebentar Layya memejamkan kedua matanya dengan suara keras tersebut.
Selama ini ia hanya berpikir kerja dan kerja. Yusuf dan Maryam. Tanpa sempat memikirkan bahkan mengkhawatirkan tubuh nya sendiri. Tidak, ia tidak ada waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.
Dan apa pria ini bilang, keras kepala! Aku!
"Tahu apa kamu tentang ku Ray! Keras kepala! " Layya menghentikan kegiatan Rayyan yang mau Pull Up.
Rayyan berbalik menoleh menatap Layya geram.
"Jangan mencoba memancing kemarahan ku Layya! Tidak mengenalimu? Aku lebih mengenal mu dari pada dirimu sendiri Layya! Jika jika kamu lupa itu," Geram Rayyan dengan gigi merapat di ujung kalimatnya.
Layya tersentak terkejut dengan jawaban Rayyan padanya.
Sialnya. Ia tidak bisa memungkiri itu. Dan...
Layya mencekram kedua buku tangannya sedang kedua giginya merapat.
"Bisa bisa nya kau mengeluarkan kalimat itu. Tanpa tahu malu dan merasa bersalah!" Tajam Layya.
Mendengar ucapan Layya seketika Rayyan memejamkan kedua matanya.
"Karna itu. Aku meminta waktumu akhir pekan. Dan mari kita selesaikan semua Layya!"
Layya tersentak terdiam dengan ucapan Rayyan.
'apa maksud nya?'
"Sebelum itu. Mari kita ikuti jadwal Check Up Yusuf dan Maryam dulu pagi. Setelahnya, mari kita ke suatu tempat dan selesai kan semua. Persetan dengan semua acara. Jadi bersama, batalkan semua jadwal masing masing. Kamu setuju? Ah, di sini aku tidak akan menjamin. Komentar dan penglihatan berbagai orang saat kita memasuki rumah sakit bersama dan bersama mami dan papi juga. Itu kesalahan mu sendiri Layya. Padahal aku sudah berpesan ke suster penjaga mu. Untuk melakukan Check Up mu dulu sebelum kau keluar. Tapi lihat ke keras kepalaan mu,"
"Mana aku tahu akan separah itu bodoh!" Teriak Layya tidak terima. Masih di katakan keras kepala oleh Rayyan.
"Sudahlah Layya! Jangan buat mood pagi ku buruk dengan kita bertengkar. Aku masih mencoba menahan diri,"
__ADS_1
Ckck.
'Si**** ini'