Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 21


__ADS_3

Jreng....


Kaki layya mematung tidak jauh dari pintu yang baru saja tertutup di belakangnya. hari ini layya menggunakan setelan kerja khusus wanita berwarna abu abu tua berlengan dan berkaki panjang dengan pashmina berwarna toska di padu high heelsnya berwarna yang sama dengan hijapnya. kecantikan dan kekalemannya jelas terlihat namun tidak dengan sekarang.


Kedua manik mata layya menatap ke depan tanpa berkedip jelas terlihat di sana kekesalan dan kejengkelan.


Beralih ke apa yang sedang di lihat layya yang membuat mood layya yang dari bangun pagi sangat indah kini menjadi ombak dan badai petir yang sangat buruk.


Rayyan berdiri dengan kedua tangannya berada di kedua kantong celana setelan kerjanya yang berwarna biru navy. melihat lihat ke luar jendela dari ruangan di mana dia dan layya berada sekarang. ruangan yang bisa di katakan dalam masa renovasi namun sudah bisa di katakan sudah hampir siap 100% dan segera bisa di pakai untuk segala keperluan perusahaan tersebut.


Ya. layya dan rayyan berada di ruangan di mana ruangan tersebut sedang dalam tanggung jawab layya. layya kemari karna seperti biasa dia mengecek pekerjaannya agar hasilnya memuaskan kliennya namun tidak ada yang tahu untuk apa pria itu di sini di saat ada asistennya yang bisa dia utus untuk mengecek.


"belum selesai 100% tapi aku akui pekerjaanmu luar biasa, memuaskan...desainer Zunaira". rayyan membuka suara setelah beberapa menit layya masuk, mematung menatap rayyan dengan kesal.


Sebenarnya rayyan sadar akan kedatangan layya namun dia abaikan karna sedang melihat menikmati pemandangan indah jalanan kota tersebut dari lantai gedung yang cukup tinggi dari bawah.


'entah mimpi apa atau kesialan apa aku sebelumnya sehingga melihat pria ini di pagi pagi yang indah dan cerah ini dan kini menjadi pagi yang sangat sangat buram untukku, ku akui...bertemu dan melihat pria ini sukses membuat moodku menjadi buruk'.


"ingin sekali aku merobek kepala anda dan melihat isi di dalam otak anda sekarang, di saat setiap atasan perusahaan sekarang sedang mengadakan rapat dengan para karyawannya lalu apa yang di lakukan seorang CEO perusahaan besar di pekerjaan orang lain sekarang? dan ini sama sekali bukan hal yang harus dia khawatirkan". sinis layya tajam tidak merespon ucapan rayyan.


Rayyan dengan wajah santai dan memasang senyum manis dan tipis menoleh melihat layya.


"ini pagi yang cerah dan indah desainer Zunaira? bukankah begitu? untuk memulai pekerjaan". senyum tipis rayyan yang sepertinya sangat sangat sengaja ingin membuat mood layya tambah kacau.


Layya menggepal tangannya di sertai gertakan giginya yang rapat karna kesal. kedua manik matanya menatap tajam rayyan.


Ingatannya sontak kembali ke perihal tadi malam. dimana...


Flashback...


Rayyan yang berdiri tepat di hadapan layya dengan jarak keduanya hanya sejengkal lagi. tinggi layya yang sedada rayyan tentu saja dengan jarak yang begitu dekat membuat layya harus mendongak menatap rayyan yang jika lama akan membuat urat lehernya sakit.


"bisa aku tebak? pikiranmu sekarang!....jika aku sudah memiliki anak dengan reina maka kamu akan aman terlebih....terlebih kedua anakmu juga termasuk anakku akan selalu aman".


Layya diam tidak menjawab karna tebakan mantan suaminya tersebut benar.

__ADS_1


"atau...". rayyan menipis jarak tadi mendekatkan wajahnya berbicara tepat di depan telinga layya.


"kedua anak kita tahu siapa papanya dan mereka lebih memilih bersamaku daripada bersamamu di saat itu...posisimu terancam...apa aku benar?! ".


Layya sontak membulatkan matanya. pikiran itu? sama sekali belum terlintas di otaknya lalu...apa yang akan terjadi jika kedua anaknya tahu siapa papanya sebenarnya, apa...ucapan rayyan akan menjadi nyata.


Layya lagi lagi menarik nafas. ketakutan jelas menyerangnya. kehilangan kedua anaknya, ia sama sekali tidak mau. apa lagi jika kedua anaknya sendirilah yang memilih pria ini. di saat itu, ia tidak bisa berbuat apapun.


Ucapan rayyan selanjutnya yang nyaris seperti bisikan sontak saja semua pikiran dan ketakutan layya tadi hilang dalam sekejap.


"mungkin aku bisa pertimbangkan untuk kamu menjadi istri keduaku demi anak anak! ".


Ctar...


Bagaikan petir di siang bolong ucapan rayyan yang baru saja layya dengar. terdengar bodoh dan rasanya ia mau tertawa keras.


Mendengus layya mundur selangkah kebelakang sembari tangannya terlipat di dadanya. menatap melihat rayyan dengan tatapan bodoh.


"bahkan sekalipun aku harus berpikir ribuan kali maka jawabannya adalah tidak akan pernah terjadi tuan andryatama yang terhormat! ".


"kamu pernah dengar kata kata ini layya? jangan terlalu membenci maka akan semakin membuatmu sulit untuk melupakannya".


"ya, jika setiap saat aku melihat wajahmu". balas layya takkalah sinis namun kekesalan terlihat sangat jelas di setiap kata katanya.


"itu akan menjadi penghias mimpi indah di setiap tidur malam mu!". senyum jail rayyan. yang sepertinya sengaja mau memancing amarah layya.


"apa reina tahu kamu di sini sekarang? ". layya memilih memotong pembicaraan.


Rayyan berbalik melangkah ke pembatas balkon dan berdiri di sana.


"jawaban apa yang mau kamu dengar? ya atau tidak".


"keduanya tidak berpengaruh untukku".


Sekilas rayyan melihat layya sebelum kembali melihat ke jalanan di bawah gedung tersebut.

__ADS_1


"aku berencana mau memberitahu reina tentang yusuf dan maryam".


Itu artinya, reina tidak tahu pria ini ke sini tunggu...apa yang pria ini katakan barusan.


"rayyan kau tidak...".


"tidak ada niatku sama sekali layya untuk memisahkanmu dengan kedua anakmu, jika itu yang kamu takutkan! ". sedikit rayyan menaikkan nada suaranya setelah tadi melemah.


Seketika layya bernafas tenang saat mendengar ucapan rayyan. layya menatap rayyan dengan sangat berharap kalau pria ini menepati ucapannya.


"kamu...ucapanmu...benar...tidak, bisa di pegangkan?! ".


Dengan menatap layya rayyan menarik nafas dan mengangguk lemas.


Seketika dalam hati layya tersenyum bahagia dan rayyan bisa melihat itu. entah kenapa ia pun senang.


Kebahagian itu hanya sebentar sebelum satu ingatan terlintas di pikiran layya. layya sontak membulatkan matanya.


"jadi kamu...mau memberitahu reina dengan begitu kamu...". layya tidak melanjutkan ucapannya lagi beralih menatap rayyan setelah tadi menunduk.


Kembali ekpresi wajah rayyan menjadi kekesalan bagi layya.


"kamu pinter juga cepat mencerna".


"rayyan kau...tidak! reina akan menjadi wanita yang sangat sangat bodoh jika dia mengizinkanmu melakukan hal itu".


"dan sayangnya dia wanita yang sangat baik dan aku yakin dia sangat mengerti".


Sontak layya mendengus mendengar ucapan rayyan.


"baik? lebih tepat bodoh jika dia setuju". ada wanita yang mengizinkan kekasihnya bertemu dengan anaknya di saat mereka mau menikah, jika aku? aku akan memilih meninggalkan pria ******** seperti itu begitu tahu dia punya anak dengan wanita lain...tunggu...bagaimana jika reina...seperti yang aku katakan. meninggalkan rayyan setelah mendengar rayyan memiliki anak dengannya tunggu...reina tidak akan melakukan itu kan?.


Diam diam layya menaikkan pandangannya menatap rayyan, yang kini kembali melihat ke depan.


'mereka...tidak akan berpisah...karna anaknya bukan?! '.

__ADS_1


Flashback off...


__ADS_2