Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 63


__ADS_3

Layya menarik tajam nafasnya. Memijat keningnya yang sedikit frustasi memikirkan kebodohan rayyan sedang matanya terpejam. Layya mencoba mengendalikan emosinya. Agar tidak meledak dan pembicaraan mereka tertunda. Sedangkan ia mau ini semua selesai hari ini juga. Meski harus sampai tengah malam karna kebetulan ia mendapat libur 2 hari dan tentu 2 hari itu tidak akan ia gunakan untuk mengurus pria ini. Dan libur ini terjadi di sebabkan baru menandatangi satu kontrak kerja dan itu dengan teman di rektur atasan di perusahaannya kerja.


"aku harap kamu sedang bercanda sekarang! ". Suara layya setelah diam beberapa saat, yang membuat ruang kerja rayyan tadi hening sejenak.


Rayyan menyatukan alisnya masih dengan menatap layya di depannya. Bercanda?.


Rayyan menggeleng, yang seketika membuat mimik wajah layya berubah menjadi dingin.


"aku akan mengambilnya jika kamu tidak percaya tapi satu hal aku ingatkan layya?... kita tidak bisa memprosesnya sekarang, tentu kamu tahu alasannya". ujar rayyan sembari berbalik melangkah ke merja kerjanya dan membuka laci kecil di mejanya, yang tidak terkunci sama sekali.


Rayyan memilah milah. Mencari surat tersebut di tumpukan yang tersusun sangat rapi di dalam sana. Karna terlihat laci tersebut penuh dengan beberapa berkas dan juga bukan hanya satu amplop besar yang berwarna coklat di sana tapi kelihatannya ada beberapa.


Layya menyadari itu bahkan sebelum rayyan berkata akan mengambilnya. karna itu juga ia berteriak memanggil rayyan gila.


"di katakan bodoh itu tidak mungkin! aku bingung denganmu ray? Ini perusahaan kamu, detail hal dalam perusahaan bahkan itu kamu tidak tahu? ".


Rayyan mengernyit bingung.


"maksudnya?...Layya? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan!".


Layya mendesah lelah. pria ini benar benar.


"baiklah! biarkan aku mengatakannya padamu supaya semuanya cepat selesai...". layya menjeda. melangkah mendekat ke rayyan.


"mengingat ini perusahaan besar mungkin saja 3 bukan sekali asistenmu atau sekretarismu atau siapapun itu yang kamu percayai untuk menyimpan dokumen dokumen penting baik itu dokumen perusahaan, kerja sama atau lain yang di sebut penting dan tentu setiap yang kamu anggap penting kamu akan menaruhnya di dalam laci meja kerjamu lalu mereka akan menyimpannya ke brangkas penyimpanan rahasia di perusahaanmu ini. Tentu bukan? Setiap perusahaan akan memiliki tempat penyimpanan rahasianya dan pertanyaannya?... ".


"surat itu ada di sana! ". sambung rayyan memotong ucapan layya.


Layya sudah berdiri di depan meja kerja rayyan sedang rayyan berdiri berkacak pinggang di tempat yang sama tadi.


"aku hanya menebak! Kamu yang lebih tahu, ini perusahaanmu dan kamu pemiliknya".


Rayyan mengalihkan matanya melihat ke pintu ruangannya dan sedetik kemudian dia memanggil aldi keruangannya.


Cklekc...


"ada apa pak? ". tanya aldi begitu masuk ke dalam. Setelah menutup pintu. Ia berdiri di depan pintu dengan kedua tangannya saling bertaut.


"semua berkas berkas di dalam sini kamu yang membereskannya bukan? ". tanya rayyan to the point sembari membuka laci meja kerjanya, yang terlihat ada beberapa berkas. Bahkan di laci lain terlihat sudah penuh dan semua itu berkas berkas baru baru ini.


Layya sontak menggelengkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan rayyan ke aldi. ia mendengus malas.


'pria ini benar benar, apa otaknya sudah tumpul?! '. batin layya lalu ia mendesah lelah.


Aldi mengangguk. mengiyakan.


"ya! Setiap 3 bulan sekali". karna ini perusahaan besar. sambung aldi dalam hati.


"apa kamu meli...".


"Arhhhh...Shut Up rayyan!". layya mengerang frustasi sebelum kemudian mendesah lelah sedang matanya menatap tajam rayyan.


"lama lama denganmu di sini, bisa bisa aku gila". rutuk layya lalu ia berbalik menatap aldi.


Matanya memicing tajam serta dingin menatap aldi.


Sebenarnya ia geram ke pria yang di belakangnya sekarang namun salahkan aldi sendiri yang menjadi asisten pria itu.

__ADS_1


Berkacak pinggang layya mengajukan pertanyaan.


"berapa lama kamu sudah bekerja di sini?! maksudku...menjadi asisten pria di belakangku". layya langsung pada intinya. tanpa mau tahu aldi yang terkejut atau rayyan yang tidak terima karna ucapannya yang tidak sopan sama sekali untuk seorang CEO imperial, yang di kenal di negeri ini bahkan di belahan dunia lain.


Meski bingung aldi tetap menjawab.


"itu...baru 2 tahun 7 bulan, kira kira". jawab aldi yang sedikit gugup.


Layya menyatukan alisnya. memiringkan kepalanya menatap aldi sebelum ia beralih melihat rayyan.


Rayyan yang merasa tatapan layya padanya sekarang di karenakan jawaban aldi, yang sukses membuatnya jauh terlihat bodoh dari pertanyaan dirinya tadi dan entah kenapa. Hari ini ia benar benar telah menjadi pria yang sangat bodoh bahkan tidak bisa berpikir apa apa.


"ray kau...".


"pikiranku buntu sekarang layya? biar ak...".


"aku heran bagaimana bisa kamu menduduki kursi CEO". Cibir layya menatap rayyan remeh.


"hei...ini hanya terjadi hari ini? ". komentar rayyan tidak terima.


Layya memutar matanya malas.


"sudahlah! kamu pintar kamu bodoh itu bukan urusanku, kamu...". layya menjeda ucapannya menatap malas rayyan.


"sebelum aldi jadi asistenmu, siapa asistenmu sebelumnya? sebelum aldi". inilah intinya. gumam layya dalam hati.


Rayyan mengerjap. Ia tidak perlu berpikir siapa asistennya sebelumnya. asisten, yang pertama mendampinginya saat pertama tama ia menjabat sebagai seorang CEO menggantikan posisi papinya, yang saat itu sangat mendadak.


Layya diam menantikan jawaban rayyan. sedang aldi, yang berada di depan pintu juga tahu siapa asisten rayyan sebelumnya dan pria itu juga, yang menyeleksinya ketika ia melamar menjadi asisten pribadi CEO Imperial saat itu. Bisa di katakan juga. ia pengagum pria tersebut. Kepintarannya, rapi dalam bekerja serta selalu kompeten. pokoknya semua yang di butuhkan asisten ada pada pria itu. sangat.


"itu adik alex, aldi juga namanya, dia sekarang susah di hubungi...semenjak menikah". jawab rayyan.


Layya mengedipkan matanya. well...itu bukan urusannya.


'susah di hubungi itu artinya...'. layya beralih menatap aldi.


"semua data penyimpanan dari setiap tahun tentu kamu tahu letaknya bukan? ".


Aldi mengerjap. Ia tidak bisa katakan tidak mengetahui. karna ketika ia pergi menyimpan beberapa dokumen penting maka ia akan mengecek dokumen dokumen lain di antara rak rak yang berjejer.


"lebih tepatnya...".


"3 tahun yang lalu". jawab layya cepat.


"itu artinya tahun 201...".


"yap". layya membenarkan tanpa mau mendengar habis ucapan aldi.


Aldi mengangguk.


"aku rasa". Aldi melihat rayyan. CEO nya bukan tidak tahu tapi pekerjaannya yang terlalu sangat banyak jadi tidak sempat untuk mengurusi hal tersebut begitu juga dengan pak presdir papi rayyan ketika memimpin perusahaan ini, itulah yang ia dengar dari asisten pribadi pak presdir waktu ia berkunjung ke rumah utama untuk beberapa hal penting. Keduanya sama sekali tidak tahu menahu soal ruang penyimpanan berkas berkas atau dokumen penting perusahaan karna semuanya sudah di percayakan ke asisten pribadinya. Pak presdir maupun pak rayyan hanya tinggal meminta atau menyuruh ketika memerlukan dokumen maupun berkas yang sudah di simpan.


Layya bernafas lega. baiklah dan sekarang...


Layya berbalik melihat rayyan dan sedetik kemudian dia menyatukan alisnya. Melihat pergerakan rayyan yang sama sekali tidak bergerak di tempat nya.


Rayyan yang bersikap santai mengedikkan bahunya ke layya ketika melihat tatapan layya padanya. seperti berbicara. 'ada apa? '.

__ADS_1


Lagi lagi layya mendesah lelah.


"tidakkah kamu membuka jalan?...untuk ke ruang penyimpanan".


Rayyan sontak melihat aldi. Meski ia tahu di mana letak ruang tersebut tapi seumur ia bekerja di sini dan selama itu. Ia baru sekali masuk ke sana dan itu pun bersama papi. Tidak ada hal yang menarik di sana terkecuali hal yang memusingkan kepala. jadi...


"jangan katakan aldi bisa! ray...? Kamu tidak berharapkan? Aku melempar mu dari lantai ini ke bawah?". Ancam layya dengan tatapan tajamnya.


Aldi membulatkan matanya mendengar ucapan desainer di depannya sedang rayyan meringis.


Layya tidak akan bertanya apa adik alex yang bernama aldi itu mengetahui surat tersebut lebih lebih tentang pernikahan mereka. ia bahkan meragukan kalau surat tersebut ada di antara dokumen atau berkas berkas di sana. Mari kita lihat dulu dan ketika nanti pikirannya benar. Yaitu kalau surat tersebut sudah di ketahui oleh aldi sana dan tentu dia akan menyimpannya di tempat yang aman bukan di antara berkas berkas lain. pertanyaannya...dimana tempat itu?. Ia akan bertanya nanti pada rayyan.


"tunjuki di mana letaknya al...? ". ujar rayyan sembari melangkah melewati layya dan aldi.


Langkahnya yang tegas seperti menangkis semua ucapan layya pada rayyan tadi. Lihat saja. Langkah rayyan menunjukkan dirinya yang berwibawa, jenius, angkuh dan kesombongan yang berlebihan. Jangan lupakan kekejamannya yang membuat merinding karyawannya ketika menatapnya.


Layya menatap punggung aldi yang melangkah di depannya. Ada yang mau ia bicarakan dengan pria itu tidak. Lebih tepat, ada yang mau ia peringatkan.


Lift terbuka. Ketiganya masuk ke dalam.


Layya menatap aldi dari balik dinding lift yang memperlihatkan aldi.


"aldi? ". panggil layya, yang membuat aldi di sampingnya tersentak sedang rayyan berdiri di belakang layya dengan bersandar di dinding lift. dia terlihat santai.


"ya bu?! ". jawab aldi sopan.


"biar aku katakan dengan jelas! apa pun yang kamu lihat maupun dengar hari ini kamu...". layya menoleh menatap aldi di sampingnya.


"tentu tahu bagaimana caranya menutup mata dan telinga dengan baik bukan? ".


Aldi sebentar membulatkan matanya karna terkejut sebelum kembali keraut wajahnya dan tersenyum kaku.


Desainer Zunaira bukan mengatakan tapi memperingatkannya. padahal ia dari tadi bertanya tanya. apa hubungan keduanya. melihat bagaimana tatapan pak rayyan ke bu Zunaira lalu bagaimana bu Zunaira berbicara ke pak rayyan.


"sebagai asisten pak rayyan tentu tah...".


"baguslah! karna aku tidak percaya padanya". Gumam layya di akhir kalimatnya yang bisa di dengar oleh rayyan dan juga aldi.


Layya mendesah. Setelah hari ini entah apa yang akan pria itu perlihatkan lagi. Kemungkinan aldi mengetahui bahwa ia dan rayyan sudah menikah dan belum bercerai. sangat tipis. mengingat kecorobahan atau bisa di katakan kebodohan pria di belakangnya sekarang.


"oh ayolah layya? Aku suamimu sayang?!".


Begitu kalimat itu meluncur indah dari mulut rayyan seketika itu juga kedua mata aldi membulat lebar sedang otaknya tidak perlu di pertanyakan lagi.


Layya menggepal kedua buku tangannya kuat sedang giginya bergemelatuk.


'lihat?...pria ini memang tidak bisa di percaya '.


"ray? Kamu tahu tidak, apa yang paling aku sesalkan sampai sekarang? ". layya membalik menatap rayyan.


Rayyan mengedikkah bahunya acuh. menggoda layya. entah kenapa jadi kesenangannya sekarang. lihat saja mukanya...sangat sangat...


"belajar bagaimana caranya meninju wajah seseorang". ucapan tajam layya membuat aldi yang tadinya terkejut kini menjadi tercekat.


Rayyan meringis sedang dirinya bersikap santai.


"aku harus bersyukur untuk itu".

__ADS_1


Keduanya saling bertatap namun bukan tatapan yang bersahabat lihat saja dari tatapan layya. Dia seperti ingin menenggelamkan rayyan kelaut sekarang juga.


__ADS_2