
"itu artinya kamu mengaku salah karna menipu dan membohongiku! Benar?!".
Mendengar ujaran sinis layya kepadanya. Rayyan hanya membalas dengan kekehan geli.
"ada yang di sengaja ada yang tidak sih". Jail rayyan berpura pura bodoh. Sembari mengangguk anggukan kepalanya.
Layya tidak melawan atau meronta ronta melepaskan diri dari rayyan lagi. Malah sebaliknya. Hanya kedua tangannya berada di dada rayyan untuk menepis jarak.
Oh ya. Jika di ingat ingat. Kelakuan dan sikap rayyan selama ini. Beda dengan saat mereka awal bertemu setelah 4 tahun.
Dia menatap nya benci dan ada emosi kemarahan di dalamnnya. Tidak dengan sekarang. Melihatnya dengan ribuan ide licik di dalam kepala nya. Ingatkan dirinya. Dia ray. Si Zeki b****.
Sikap dan kelakuan rayyan ini. Sangat sama persis seperti 4 tahun yang lalu. Sebelum mereka saling kenal dan menikah. Dan pria ini seperti ini. Berbuat seenak jidatnya.
Jika di pikir pikir. Itu juga salah satu kenapa pamannya saat itu. Menyetujui mereka cepat cepat menikah.
"membohongi..." Rayyan mengangguk angguk mengerti sebelum kembali melanjutkan ucapannya yang terjeda.
"aku rasa itu harus di perbincangkan! Benar!"
Pertanyaan rayyan seketika membuyarkan lamunan layya.
Layya mendengus geli tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"itu artinya kamu banyak membohongi ku! Pertanyaan mu membawa pertanyaan lain sir?!".
Rayyan terkekeh geli. Sebelum kemudian dia melihat ke arah belakang tubuh layya.
Yang setelah nya di ikuti layya juga.
"ada apa? Kamu melihat yusuf melihat kita? Jika ya. Maka cepat lepaskan tanganmu dariku". Kali ini layya berusaha mencubit kuat kulit tangan rayyan. Sekuat tenaganya yang bisa.
Hal tersebut sama sekali tidak membuat rayyan bergeming di tempatnya. Bahkan rayyan tidak merintih sakit sedikitpun.
"kau janji tidak akan kabur, baru aku akan lepaskan"Tatap rayyan ke dalam manik mata layya.
Layya memilih membuang wajahnya ke samping.
'ya, itu yang akan aku lakukan'.
"kau bilang tadi kita perlu bicara bukan!?"Layya kembali melihat wajah rayyan yang otomatis ada di depan wajahnya.
Rayyan mengangguk mantap. "tentu saja"
"jadi lepaskan!" Jawab layya di sela sela giginya yang tertutup rapat.
Rayyan mencoba berpikir sejenak sebelum kemudian melonggar kan cekalan tangannya ke layya.
Tidak menunggu waktu layya segera menyentak tangan rayyan untuk cepat lepas. Namun, rayyan tidak membiarkan layya lepas begitu saja.
Dia dengan cepat meraih tangan kiri layya dan menggenggam nya erat.
"seperti nya memang kita tidak saling mempercayai!". Ujar layya sinis sembari menyentak tangannya dari rayyan. Namun, seperti biasa hasilnya nihil.
Senyum licik rayyan mengembang di wajah tampannya.
"kamu mengakuinya"
"jika itu orang seperti kamu ray!?"
"dan yang aku hadapi sekarang adalah kamu"
"maksud mu seseorang yang pernah kamu sakiti sekaligus kamu bohongi. Benar begitu!?"
Rayyan tidak menjawab tidak pula membantah. Melainkan menarik sudut bibirnya menyungging senyum tipis tanpa dosa.
__ADS_1
Rayyan menarik pelan tangan layya. Melangkah ke pintu walk in closet.
"kamu ngapain sih ray? Tidak bisakah kamu melepaskan tanganku? Bisa bisa tanganku merah dan sakit" Protes layya sembari mengikuti langkah rayyan.
Rayyan menghentikan langkahnya menoleh melihat layya geram.
Seandainya sungguh seandainya. Yusuf putranya tidak ada di dalam ruangan yang sama. Sungguh ia akan berteriak dan mengumpat kasar pria ini.
"tidak jika kamu tidak melawan dan terus menarik tanganmu!". Jawab rayyan saat sejenak berhenti menoleh melihat layya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"kamu tahu jawabannya kenapa aku terus melawan" protes layya tidak terima.
"tidak. Aku tidak tahu. Dan aku tidak mau tahu jadi... Berhenti menyentak tanganmu layya! ". Geram rayyan sebelum kemudian kembali menarik tangan layya. Yang kini menjadi kasar dan kuat.
"ah...". Ringis layya saat mengikuti langkah rayyan.
Sungguh ia patuh karna putranya. Karna tidak mau putranya mendengar dan melihat sikap mereka.
"aku benar benar membencimu ray dan betapa gatalnya tanganku untuk bisa memukulmu sekarang dan jika bisa. Ingin sekali aku membunuhmu, hilang dari muka bumi"
"aku rasa kamu belum lupa dengan kejadian semalam layya? Kamu menyerang ku".
Layya sontak membulatkan matanya. Ini yang membuatnya hampir gila pagi ini.
Layya menggeram.
"sudah aku katakan ray? Aku bermimpi. Dan kamu! Seenaknya jidatmu menyentuhku bahkan tanpa se izinku. Siapa di sini yang menyerang siapa!?"
Sampai di luar ruangan keberadaan yusuf. Rayyan menghentikan langkahnya begitu juga dengan layya. Rayyan menutup pintu yang terbuat seperti rak buku tersebut lalu beralih menatap layya.
Menyungging senyum keji. Rayyan mendekat ke layya.
Layya hanya menjauhkan wajahnya dari wajah rayyan. Saat rayyan mencondongkan wajahnya ke hadapan wajah layya.
"kamu memimpikan aku, bukan! karna itu kamu merespon, aku ada di dalam mimpi erotis mu ".
Layya menahan ekspresi wajahnya. Sebelum kemari. Entah kenapa ia sudah menduga akan bertemu dengan pria ini. Baik hari ini dan di rumah ini atau nanti di mana pun itu. Ia yakin, pria ini. Akan mengungkit hal itu.
"dan kamu menyentuh wanita yang tidak dalam kesadaran nya Mr. Rayyan Andryatama!" Layya melihat ke pintu di sampingnya.
"siapa tahu si wanita dalam ke adaan ketidaksadaran nya. Jika dia pikir si wanita sedang meminta kepada suaminya. Yusuf akan baik baik saja di dalam" Rayyan menepis kecemasan di wajah layya.
Aku rasa salah satu sifat dan hobi nya ketika sekolah dulu adalah. Suka membully orang.
"anda sangat percaya diri sir! ".
Rayyan tersenyum bangga.
"jangan mengalihkan layya! Karna nyatanya memang aku".
Ckck...
Ia hanya bisa berdecak kesal. Kehilangan kata kata.
Kenapa juga aku harus memimpikan pria ini! Dan itu. Beberapa tahun silam.
'aku melakukan kesalahan pada diriku sendiri. Hiks....Aku membenci diriku...Hiks...'.
"lupakan itu. Kau meninggalkan anak kecil di dalam ray. Dan dia sendirian lalu... Kenapa kita di sini! Jangan bilang kau memintaku untuk menemani mu mandi. Kamu bukan anak kecil lagi ray!".
Rayyan menggeleng pelan. Ia menjauh beberapa langkah dari layya. .
"seperti yang kamu katakan. Jika di dalam bisa saja yusuf mendengar kita. Jadi itulah jawabannya kenapa kita di sini sekarang. And.... Putra kita baik baik saja di dalam!" Jelas rayyan sebelum membalik badan melenggang masuk ke walk in closet nya.
'kita?'. Kesal layya tidak terima.
__ADS_1
"aku harap kamu bisa menghilangkan kata ki-ta itu. Karna antara aku dan kamu, tidak akan pernah menjadi kita" Layya menekan di kata kita.
Rayyan menghentikan langkahnya. Ia berbalik melihat ke layya kembali dengan kedua alisnya yang menyatu.
"ada yang bisa ku lakukan dengan itu layya! Nyatanya memang dia putra kita. Itu nyata dan real layya. Kamu tidak bisa memungkirinya apalagi menghilangkan pemikiran itu".
Ckck...
"kamu paham dengan maksudku ray!". Geram layya kesal.
Rayyan mengedikkan bahunya acuh. Dan kembali menghilang dari antara lemari baju.
Melihat rayyan tidak lagi terlihat. Layya sontak melihat ke pintu di mana yusuf berada di dalam sana.
'apa benar dia akan baik baik saja!' Ragu layya akan ucapan rayyan.
Layya mendesah.
'aku mengkhawatirkan nya'
Klap...Piiippp...
Suara pintu di mana yusuf berada di dalam tersebut berbunyi. Yang artinya sudah terkunci. Sontak saja layya kepala layya memutar mencari dalang yang mengunci pintu dan ia sangat yakin. Dia menggunakan remote.
"apa yang kau lakukan!".
"ke amanan. Bukankah kamu bilang tidak mau ketahuan yusuf!"
Layya lagi lagi berdecak.
"tapi cukup dengan menutup ray! Tidak perlu mengunci. Yusuf...".
"dia akan baik baik saja di dalam layya! percayalah. Yusuf bisa dengan mudah membukanya dari dalam. Dan nanti akan ada bunyi dari luar Piiiiippppp begitu. Kita akan tahu yusuf keluar and...Tidak ketahuan"
"tapi tetap saja itu bahaya ray! Apalagi yusuf sendiri dan tanpa pengawasan orang dewasa!".
"tenang saja, ruangan ini aman dan udaranya juga bisa masuk dan keluar". Rayyan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi. Menuju di mana deretan baju santainya berada.
Setelah tadi layya menyentak tangannya dan saat itu. Ia melihat kepanikan dan kecemasan sekaligus ketakutan di wajah layya. Saat pintu di belakangnya tertutup. Di mana yusuf berada di dalam sana.
Keduanya sekarang berada di walk In Closet.
Layya memejamkan matanya di sertai gertakkan giginya.
'aku benar benar geram dengan pria ini'.
"yusuf masih anak kecil ray!"
Rayyan tersenyum dan tertawa geli di tengan kesibukannya dalam memilih baju yang mau dia pakai.
"Aku tahu layya! Tapi begitulah dunia anak anak layya! Yusuf sekarang sama sekali tidak butuh ditemani atau pendamping. Karna sekarang yusuf sedang terhanyut di dalam dunia fantasinya layya! Kebahagiannya untuk bisa memainkan semua mainan di dalam. Menghilangkan ketakutan dan membuatnya tidak butuh teman. Aku yakin dia sama seperti aku. Tidak mau di ganggu dan mau bebas bermain. Tenang saja layya! Jika dia haus dan lapar. Semua ada di sana. Tidak akan sulit untuk putra kita menemukannya. Biarkan yusuf bermain sepuasnya di dalam. Jelas rayyan sembari memakai celana pendek berbahan jeansnya.
'ngomong ngomong. Bukankah aku belum mandi'. Rayyan membalik badan dan dengan tubuh menyamping. Rayyan melihat dirinya sendiri ke cermin. Meneliti pakaiannya dari atas ke bawah.
'ah lupakan. Aku akan mandi setelah ini'. Rayyan melenggang dari sana. Kembali ke tempat layya berada.
"baiklah. Mari kita bicarakan urusan kita dulu tapi sebelum itu...".
"bukankah anda mendengarnya tadi Mr. Rayyan Andryatama! Aku ada janji ketemu klien"
'bodoh dengan pembicaraan. Aku hanya mau lepas darimu tadi. Memang ada yang mau di bicara kan antara mereka. Aku rasa tidak ada'
"bukankah kamu sudah setuju tadi kita perlu bicara"
"aku tidak mengatakan kalau itu sekarang jadi! ... Bukakan pintu ini sekarang karna tas ku ada di dalam dan karna itu aku ada di sini sekarang".
__ADS_1
"kata katamu tidak bisa di pegang layya!".
"seperti kamu bisa di percaya saja"