Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 112


__ADS_3

Di kamar yang luasnya melebihi puluhan meter tersebut. Bernuansa maskulin, lebih di domisili warna hitam tersebut. Dengan ranjang berukuran king size dan berwarna senada dengan kamar.


Rayyan dan Layya. Keduanya saling bertatapan dengan pemikiran keduanya yang berbeda.


"Jika klien yang kamu maksud itu adalah Direktur dari Graha konstruksi. Maka kamu tidak perlu mencemaskan itu Layya."


"Maksudmu, kamu akan menggunakan kekuasaan mu pada pekerjaan ku?" Sinis tajam Layya tidak suka dengan apa yang di maksud Rayyan. Dia akan membatalkan janjiku dengan klienku dengan kekuasaan nya.


Rayyan menatap Layya lama sebelum kemudian menghela nafas dan memberi Layya jawaban.


"Aku dengar Investor dari Dubai. Malik Akbar pagi tadi sudah ada di sini. Belum ada kejelasan kapan dia tiba di sini."


Layya menyatukan alisnya tidak mengerti.


"Dan apa hubungannya denganku, lebih tepat untuk pekerjaan ku,"


Rayyan mengalihkan matanya melihat Layya.


Tentu Layya tidak akan tahu. Hal hal yang berkaitan dari kalangan atas. Lebih jelas, untuk para pengusaha.


"Dia salah satu investor yang di incar oleh banyak pengusaha di negeri ini Layya. Salah satunya klien yang mau kamu temui,"


Layya masih tidak mengerti.


"Maksudmu dia bisa membatalkan janjinya denganku, dan menemui orang itu?" Tanya Layya dengan setengah emosi.


Rayyan tersenyum keji.


"Yap, kamu pintar dan cepat mengerti situasi Layya." Rayyan berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya.


Layya menggepal kedua buku tangannya.


Itulah orang orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan itu. Mengatur jadwal seseorang seenak jidatnya. Tapi tunggu... Belum tentu kan. Pihak sana sudah membatalkan janjinya atau mengundur itu.


"Tidak, bisa jad..."


"Jika tebakanku benar. Maka pihak perusahaan mu sudah di hubungi oleh mereka untuk pengunduran jadwal. Direktur Graha kontruksi sekarang sudah di kapal pesiar dan akan segera berlayar dengan beberapa pengusaha lain. Aku dengar istri dari investor dubai merayakan ulang tahunnya di sini tahun ini. Kamu mengerti maksudku kan?"


"Pengusaha..." Layya bergumam di sertai melihat Rayyan.


Rayyan yang mengerti tatapan Layya. Tertawa kecil.


"Itulah beda ku dengan mereka Layya. Baiklah, sekarang kamu sudah ada waktu kan? Temani aku," Rayyan menunggu Layya di ambang pintu. Dengan satu tangannya memegang pintu.

__ADS_1


Layya melihat menatap Rayyan dari ujung kaki sampai ke atas.


"Jika aku tidak jadi ketemu klienku bukan berarti aku santai Ray. Malah sebaliknya, aku bisa mengerjakan hal lain, Bukakan pintu ini,"Layya berbalik melihat ke pintu di belakangnya.


Bodoh dengan kliennya itu. Mereka bisa membatalkan janjinya. Lihat saja, aku juga bisa mempermainkan jadwal mereka.


Rayyan berkacak pinggang menatap Layya.


"Dua jam. Aku butuh kamu menemaniku selama itu. Dan aku yakin kamu tidak akan rugi,"


Layya menyatukan alisnya.


"Kamu belum mengerti maksudku ya Ray? Dua jam, satu menit saja aku tidak akan sud..."


"Proyek Almosh Interior Design. Kalian menginginkan itu kan?!" Potong Rayyan cepat membuat Layya terdiam menganga.


Layya terdiam dengan mulutnya yang terbuka. Tidak bisa berkata kata.


Tunggu, jika di ingat ingat pria ini.


Layya melangkah cepat mendekati posisi Rayyan berdiri dan berdiri tepat di hadapan Rayyan.


"Kamu diam diam mencari tahu tentang pekerjaan ku Ray?"


"Apa itu hal yang sulit untukku Layya? Sekedar mengetahui hal itu," Rayyan balik bertanya ke Layya.


Layya lagi lagi terdiam. Ia sudah dua kali berpikiran buruk pada pria ini.


Iya sih. Mengingat siapa dia dan Dunia kerjanya, bukanlah hal yang sulit bagi seseorang Rayyan Andryatama untuk tahu. Bahkan tanpa perlu dia mencari tahu. Tentu nama nama perusahaan atau calon calon perusahaan yang menginginkan Proyek Almosh itu sudah dia ketahui semua. Dan untuk mengetahui hal itu bukanlah hal sulit.


Proyek Almosh Interior Design. Banyak perusahaan Design interior yang menginginkan nya. Bukan cuma mereka yang tergolong masih perusahaan kecil. Di Proyek Almosh kali ini. Perusahaan raksasa pun akan ikut mengambil andil.


Layya mendengus keji tidak suka.


"Jadi kamu berniat membantuku mendapatkan Proyek Almosh itu asal aku menemani mu selama 2 jam di sini. Benar?"


Rayyan tidak menjawab. Tapi raut wajahnya seperti berpikir sedang bibirnya dia mayun kan ke depan.


Layya menyipit kedua matanya menatap Rayyan.


"Asal kamu tahu Ray. Aku lebih baik tidak mendapatkan nya. Sekalipun aku mendapatkan nya itu harus hasil kerja keras ku sendiri dan bukan karna mu. Apalagi menemani mu di sini. Aku tidak mau," Layya menolak mentah mentah.


Rayyan terkekeh sembari mengangguk anggukan kepala nya.

__ADS_1


"Sudah ku kira jawaban mu akan seperti itu Layya! Tapi apakah menurutmu, Direktur mu akan setuju untuk itu?"


Layya kembali melihat Rayyan setelah tadi dengan angkuh membuang wajahnya ke samping.


"Apa maksudmu? Apa yang sedang kau rencanakan Ray?" Layya bertanya dengan penuh antisipasi.


Ia yakin pria ini sudah menyiapkan rencana nya untuk menjebaknya di sini.


Rayyan berjalan mendekat ke hadapan Layya. Yang otomatis membuat Layya mundur ke belakang.


"Jika kamu berpikir aku akan membantumu untuk mendapatkan Proyek itu. Maka kamu salah Layya! Tapi... Aku bisa membuat Direktur mu tertarik untuk memberi mu waktu untukku meskipun itu selama sepekan Layya,"


Layya membulatkan matanya dengan ucapan Rayyan. Namun di sisi lain. Ia masih belum mengerti.


Apa maksudnya? Apa dia akan mengancam Direktur kami? Atau, dia mau menyogok Direktur kami. Pria ini benar benar.


Layya menggepal kedua buku tangannya geram. Saat tahu apa yang ada di pikiran pria yang seharusnya sudah menjadi mantan suami nya sekarang.


Hah... Teringat hal itu. Ia kembali kesal.


Jadi dia berniat. Membicarakan Proyek itu dengan Direktur kami dan sebagai imbalannya. Dia meminta waktu kerjaku pada Direktur untuk dirinya.


Sebenarnya mau pria ini apa sih.


"Kamu bisa tidak menghargai seseorang tentang pekerjaan nya!" Dan bukan tidak di hargai dengan membantu mendapatkan bukan dengan hasil kerja keras sendiri.


"Jika orang yang kamu maksud itu adalah kamu, Layya. Maka aku selalu melakukan nya, baik dulu maupun sekarang," Jawab Rayyan cepat dan tenang.


Layya mendengus. Rasanya ia mau tertawa mendengar kalimat pria di hadapannya ini.


"Dan apa menurut mu..."


"Perayaan launching tender Proyek Almosh akan di buka dalam 2 Minggu ini. Aku dengar Direktur kalian sangat tertarik untuk menghadiri acara tersebut. Tapi sayang, undangannya terbatas dan hanya di hadiri oleh kolega kolega bisnisnya dan klien klien yang sudah bekerja sama dengannya selama ini. Aku salah satu yang mendapatkan undangan itu. Jadi menurutmu Layya. Jika undangan itu aku berikan untuk Direktur mu..." Rayyan menjeda ucapannya dan mencondongkan wajahnya ke hadapan Layya.


Dimana pergerakan Layya mati karna terhalang oleh dinding sekat di belakang nya.


Rayyan berbisik tepat di hadapan telinga Layya.


"Menurutmu, apa yang akan terjadi?"


Layya seketika melebarkan kedua matanya.


Melihat raut wajah Layya. Rayyan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Rayyan menatap wajah Layya sembari menunggu jawaban Layya. Setelah menjauhkan wajahnya dari hadapan Layya.


__ADS_2