
Brukh.
Layya jatuh terduduk di di sofa belakang nya. Kedua matanya terpejam rapat. Sedang kedua tangannya yang menggepal melindungi tubuhnya ada di depan dadanya.
Hingga beberapa detik berlalu. Layya menunggu dalam pejaman erat kedua matanya. Apa yang akan di lalukan Rayyan pada dirinya.
Layya menajamkan telinganya. Mendengar gerak gerik Rayyan. Namun, yang Layya tangkap dari indra pendengarannya adalah kesunyian.
Perlahan Layya membuka kedua matanya. Sedikit demi sedikit. Hingga Layya mengintip dari balik sudut matanya. Di mana keberadaan Rayyan.
Glek
Glek
Glek
Seketika itu juga. Layya membuka lebar kedua matanya dan memperbaiki duduknya di sofa singgle belakang nya.
Saat melihat apa yang sedang Rayyan lakukan.
Minum air. Tanpa ada sedikit pun di diri nya itu akan rasa bersalah untuknya.
Dia sudah membuat jantungku berdegup ketakutan.
Dari samping.
Layya menurunkan tatapannya dari melihat mulut Rayyan yang menegak air. Jatuh ke tulang leher Rayyan. Lalu menjalar ke dada Rayyan. Dan setelahnya kedua manik mata Layya turun ke perut Rayyan. Baik bagian atas samping, bawah bahkan hingga ke pusar Rayyan. Layya menatapnya.
Sial.
Kenapa dari dulu hingga sekarang. Tubuhnya sangat suka untuk ku lihat.
Layya membuang wajahnya ke samping.
Dan sialnya lagi.
Aku mau memegangnya dan menyentuh semua otot otot yang terbentuk di sana.
Layya merapatkan kedua giginya karna geram. Lebih tepat geram untuk dirinya sendiri. Saat pikirannya muncul. Kalau pria itu, Rayyan. Sangat mengetahui kalau ia menyukai otot otot tubuhnya itu.
"...ya?"
"Layya?"
Rayyan berkacak pinggang memanggil Layya sedang kedua matanya menatap Layya. Ini sudah yang ketiga kali ia memanggil nama wanita itu. Tapi...
Rayyan menghela nafas kasar. Menurunkan punggungnya dan,
"Kya... Apa yang kau lakukan? Turunkan aku Ray?"
Rayyan mengangkat tubuh Layya. Layaknya bridal mask.
Wajahnya yang datar dan dingin akibat kelelahan nya dalam berolahraga. Membuat Rayyan mengacuhkan teriakan Layya.
Tap.
Rayyan menurunkan tubuh Layya tepat di satu matras yang berada di tempat tersebut.
__ADS_1
"Aku sudah memanggil mu beberapa kali. Tapi sepertinya ada yang kamu pikirkan. Kamu sangat terhanyut dalam pikiran mu," Ujar Rayyan sembari berjalan ke satu sudut dan meraih satu benda di sana. Matras Yoga.
Rayyan membawanya ke samping Layya dan membentangnya di sana.
"Kamu tidak berpikir 2 jam waktumu hanya untuk menunggu ku saja kan?" Ujar Rayyan sembari menurunkan tubuhnya ke matras lalu duduk dan di susul dengan Rayyan merebahkan tubuhnya.
Layya yang berdiri. Tercengang bodoh melihat apa yang sedang di lakukan Rayyan di hadapannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Layya perlahan.
Rayyan dengan posisinya yang sudah terbaring di matras. Melihat menatap Layya. Detik berikutnya Rayyan bangkit duduk kembali.
"Jangan bilang kau bahkan tidak tahu ini Layya? Apa kau tidak pernah melakukan olahraga seperti ini? Padahal ini baik untuk tubuh. Apalagi untuk wanita,"
Layya mematung dan terdiam. Karna faktanya, ia tidak tahu apa itu dan untuk apa itu. Dan ya, ia tidak pernah melalukan olahraga. Apalagi yang namanya ini, apa itu.
Tapi, hei.
"Hidupku terlalu sibuk mencari yang namanya uang. Daripada bersantai, apalagi melakukan hal begini. Aku tidak ada waktu," Layya membuang wajahnya ke samping.
Mendapat waktu dan bisa bermain ria dengan kedua anakku. Itu sudah hal luar biasa dalam hidupku. Tahu apa dia, yang hanya bisa selalu menikmati uang. Tanpa perlu bersusah payah dalam mencari.
Mendapat jawaban jengkel oleh Layya. Rayyan menatap Layya dari atas sampai ujung kaki Layya.
"Jika orang lain yang mendengar tentu mereka tidak akan percaya. Melihat tubuhmu yang kurus namun berisi. Seperti seseorang yang tidak pernah meninggalkan rutinitas ini,"
Layya ikut memperhatikan dirinya. Dari atas hingga ke bawah.
"Mungkin ini efek jalan kaki ke lapangan kerja atau... Naik tangga hingga lantai 3!" Seru Layya tersenyum menyindir ke Rayyan.
'Tapi bukan berarti dia juga yang salah sih. Mungkin efek lain juga kali.' Batin Layya.
Rayyan terdiam sembari menelan ludahnya. Ia dulu melakukan itu karna jengkel dan kesal ke wanita ini. Saat mereka pertama bertemu setelah 4 tahun. Saat itu ia berpikir. Dengan ia buat begitu. Wanita ini akan memutuskan kontrak kerja mereka dan mereka tidak perlu bertemu lagi. Namun sekarang, semua terbalik.
Rayyan menarik nafas. Tapi tunggu,
Tersentak Rayyan saat teringat ucapan Layya. Sibuk mencari uang. Dan ya, ia ingin tahu itu.
"Sejak kapan kamu mulai bekerja di perusahaan design itu Layya! Kemarilah, pegang kakiku. Kamu cukup pegang dan menekannya agar tidak terlepas." Pinta Rayyan ke Layya sembari kembali merebahkan tubuhnya.
Layya menurunkan tubuhnya di bawah kaki Rayyan dan menumpu lutut nya di matras.
"Kenapa aku harus melakukan ini?" Komentar Layya tidak terima di suruh suruh. Tapi dia tetap menurut.
"Bukankah sudah ku bilang. Kamu bukan hanya buat menungguku di sini tapi membantuku. Nah, pegang dan tekan yang kuat,"
Rayyan mengintruksi Layya dan menanti Layya dari berbaring nya.
"Memang harus di bantu pegang? Dan kamu mau apa?" Tanya Layya polos.
"Pegang saja. Lain serahkan padaku,"
Layya menurut patuh. Memegang kedua kaki Rayyan dan menekannya kuat. Seperti yang Rayyan suruh.
Mulailah Rayyan melakukan aksinya. Sit up.
Rayyan yang menaikkan punggungnya hingga hampir duduk di hadapan Layya. Kemudian Rayyan kembali menurunkan punggungnya. Hanya selang beberapa detik dari aksinya tersebut. Dan Rayyan melakukannya berkali kali.
__ADS_1
Pertama Rayyan menaikkan punggung. Layya yang sama sekali tidak mengetahui teknik olahraga tersebut. Tentu saja terlonjak kaget dan seketika melepaskan kaki Rayyan sembari dirinya terperanjat ke belakang.
"Apa yang kau lakukan? Memang harus melakukan seperti itu?" Komentar Layya yang tidak terima sekaligus panik.
Ia hampir mengira. Pria ini mau mengambil kesempatan.
Rayyan yang kedua tangan berada di belakang tengkuk nya dan dirinya sudah duduk dengan kedua kakinya terjulur ke depan.
"Bukankah sudah ku katakan! Kamu cukup dengan memegang dan menekannya,"
"Tapi tadi itu..."
"Aku tidak akan mencium mu Layya. Jadi jangan berpikir yang aneh aneh,"
"Berpikir yang aneh aneh? Hei! Aku yakin semua wanita jika di hadapkan dengan segini rupa akan berpikir yang aneh aneh! Apalagi pria itu adalah kamu. Kamu tahu? Akhir akhir ini tidurku selalu tidak nyenyak karna aku selalu memimpikan wajah horor kamu itu. Bahkan dalam dunia mimpi kamu tidak bisa membiarkan hidup ku tenang," Oceh Layya panjang lebar karna kesal.
"Sudah ku katakan. Bertemu dengan mu lagi akan membuat hidupku sial. Terserah! Aku tidak akan melakukan lagi," Teriak Layya emosi setelah dirinya bangkit berdiri dan berbalik mau keluar dari tempat gym tersebut.
Grep.
Layya menoleh melihat pergelangan tangannya yang di cekal seseorang dan itu.
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan," Teriak Layya masih dengan kekesalan nya.
"Kamu belum membantuku dan waktunya, masih 1 jam lagi,"
'1 jam?' Layya buru buru melihat jam dinding arah Rayyan lihat tadi.
'Bahkan tanpa sadar sudah berlalu 1 jam? Hah... Benar benar tidak bisa di percaya. Apa yang ku lakukan dari tadi?'
Layya menyentak kasar tangannya agar terlepas dari cekalan Rayyan.
"Baiklah. Ingat ya, kalau kamu macam macam. Soalnya entah kenapa. Isi otakmu seperti sudah terbaca tahu?"
Rayyan terpaksa tersenyum dan kemudian dia terkekeh geli.
"Aku sangat yakin Ray! Kamu sedang mengerjai ku," Ujar Layya sembari menurunkan tubuhnya untuk duduk seperti tadi lagi. Menumpu kedua lututnya di matras dan memegang kaki Rayyan. Sedang dirinya menatap Rayyan kesal.
Rayyan membaringkan tubuhnya lalu kembali menaikkan nya. Seperti yang di lakukan pada umumnya olahraga sit up.
"Karna?" Tanya Rayyan begitu wajahnya ada di hadapan wajah Layya.
Layya memilih membuang wajahnya ke samping. Sangat ogah melihat wajah Rayyan. Apalagi dengan jarak yang begitu dekat.
Layya memejamkan kedua matanya. Saat mendapatkan pertanyaan Rayyan begitu.
'Haruskah aku jawab! Pria ini sangat tahu tentang ku,'
'Lebih baik aku diam, bodoh.'
"Kamu belum menjawabku Layya!"
"Karna aku akan terpancing dan akan tergoda oleh mu kan? Puas sekarang? Kalau ya, maka diamlah. Jangan ajak aku bicara lagi."
Rayyan yang dari tadi terus melakukan sit upnya. Terhenti seketika. Dan detik selanjutnya. Rayyan menahan ketawanya.
'Tuh kan! Pria ini selalu menyebalkan,' Geram Layya.
__ADS_1