
Dengan kaki yang telanjang , tas samping di sisi kanan bahunya layya berdiri di depan pintu lift menunggu lift sampai ke lantainya berada.
Ting...
Ting...
Kedua pintu lift bersamaan terbuka. yang satu lift untuk karyawan di mana lift yang layya tunggu dan satu lagi lift khusus untuk rayyan serta anggota kekuarganya atau tamu pentingnya.
Layya bergerak melangkah masuk ke dalam lift bersamaan dengan itu juga dari sebelah kanan layya lift yang sama sama terbuka keluar aldi dari sana.
Layya memperbaiki berdirinya sembari menatap pintu lift yang tertutup setelah menekan tombol untuk ke lobby.
Dari arah kanan. aldi yang begitu keluar dari lift sempat melihat layya melangkah masuk ke dalam lift sebelahnya. bergerak cepat aldi melangkah lebar nyaris seperti berlari mengejar agar pintu lift yang layya masuki tidak tertutup.
Phak...
"Ahh...". suara layya yang terkejut serta secara reflek layya mundur selangkah di karenakan ia merasa tadi ia tidak melihat siapapun di lantai tersebut dan darimana muncul pria ini.
Aldi menahan pintu lift agar tidak tertutup dengan kedua telapak tangannya.
"pak..aldi...ada apa ya?! ". ujar layya yang kebingungan.
"untung anda belum pulang bu? presdir kami mencari anda". ujar aldi setelah menekan tombol lift untuk berhenti sementara.
Layya mengerjap terkejut.
'presdir?... itu artinya rayyan bukan?... memang siapa lagi atasannya'. layya lagi lagi tersentak saat teringat high heelsnya.
"oh...baiklah! ". jawab layya tanpa mau membantah. so...daritadi ia juga mau ngambil high heelsnya. tunggu...
"kita naik lift sebelah sini saja bu? ". ujar aldi sopan sembari menuntun layya ke lift khusus di sana.
"oh...baiklah...". patuh layya lalu mengikuti langkah aldi.
Beberapa menit kemudian layya tiba di ruangan sekretaris rayyan. aldi yang membuka pintu lalu mempersilahkan layya masuk dengan hormat lalu setelahnya aldi menutup pintu di belakangnya dan kembali melangkah ke depan ke pintu di mana ruangan atasannya di sana.
Rose sekretaris rayyan sempat terkejut melihat kehadiran desainer Zunaira di sana. dia dengan sigap bangkit berdiri dari duduknya menyapa layya. layya dengan senyum ramah membalas sapaan wanita muda tersebut sebelum mengikuti langkah aldi.
"silakan bu? ". ujar aldi setelah membuka pintu ruangan rayyan.
Layya mengangguk mengerti sebelum masuk ke dalam diikuti aldi belakang sembari menutup pintu.
Layya membalik badan melihat aldi dan ia berniat mau membuka mulut bicara tapi suara aldi menghentikannya.
"ada yang mau anda minum? saya akan buatkan selagi anda menunggu presdir dan... anda bisa duduk di sofa itu". tunjuk aldi ke sofa di belakang layya berdiri dengan sopan.
Layya menyatukan alisnya tidak mengerti.
"maksudnya...pak andryatama ...menyuruh ku menunggunya? ".
Aldi tersenyum tipis membenarkan.
Layya melipat kedua tangan di dadanya menatap aldi.
"lalu...dimana pak andryatama sekarang?!".
"sedang mengikuti rapat".
"berapa jam lagi...maaf, saya harus tahu karna saya juga punya pekerjaan".
Aldi terdiam beberapa saat sebelum menjawab. ia juga tidak tahu berapa jam akan selesai, mengingat di dalam sana sedang panas panasnya.
"mungkin...".
"baiklah...aku akan menunggu!".
Ucapan layya membuat binar bahagia di mata aldi karna...
Flashback...
Beberapa menit yang lalu di ruang rapat. lampu yang sudah matikan dan hanya ada penerangan dari cahaya layar di depan semua yang ada di sana.
__ADS_1
"aldi? ". panggil rayyan tiba tiba di saat aldi sedang sangat fokus mendengar dan memerhatikan rapat.
"ya! pak? ". jawab aldi dengan sigap. meski ia harus fokus pada rapat telinganya juga mesti harus fokus pada sebelahnya yaitu atasannya.
"keluarlah dan pergi ke lantai 11, bawa desainer Zunaira ke ruangan ku".
"ya...ya?! ". tanya aldi yang masih belum mengerti.
Terdengar decakan kesal keluar dari mulut rayyan.
"dengar baik baik aldi...aku tidak suka mengulang ucapanku dan jika itu terjadi...kamu tahu sendiri kan?! ". rayyan berbicara di sela sela giginya yang tertutup rapat karna geram.
Aldi sontak melebarkan matanya. itu...
"segera di laksanakan presdir". ujar aldi mantap setelah bangkit berdiri layaknya tentara yang memberi salam hormat ke atasannya.
Aldi membalik badan mau melangkah namun terhenti saat rayyan bersuara lagi.
"pastikan dia menunggu sampai aku selesai rapat, jika tidak...gajimu di potong 70%".
Aldi membulatkan matanya.
"baik presdir!". jawab aldi tegas.
"satu lagi...segera ke sini begitu selesai di sana". sambung rayyan lagi menghentikan langkah aldi.
"baik presdir!". lagi lagi aldi menjawab mantap dan tegas.
Flashback off...
"terima kasih bu, saya akan buatkan anda kopi enak". ujar aldi kegirangan karna gajinya akan selamat.
Layy menoleh melihat aldi setelah menduduki bokongnya di sofa.
"tidak perlu! terima kasih dan...anda...bisa kembali ke pekerjaan anda pak aldi, aku baik baik saja". ujar layya sopan.
Aldi mengangguk mengerti lalu menunduk sebentar berpamit ke layya setelahnya aldi keluar dari ruangan rayyan setelah mendengar jawaban dari layya.
30 menit kemudian.
Ckleck...
Pintu terbuka dan seseorang masuk.
Layya memutar kepalanya menoleh melihat ke arah pintu. Rayyan Zeki Andryatama.
Rayyan menutup pintu di belakangnya setelah memutuskan tatapan mata keduanya yang tidak sengaja bertemu. ia melangkah masuk dan duduk di kursi meja kerjanya.
Layya melangkah mendekat ke rayyan dengan kedua tangannya terlipat di dada.
"mana sepatuku?...aku sudah menunggu lama untuk itu! ". ujar layya setelah sampai di depan rayyan.
Rayyan yang cuek asik dengan dokumen di depannya lalu dia memegang gagang telpon yang berada di atas meja kerjanya menghubungi seseorang.
Tidak lama rose sekretarisnya masuk ke dalam ruangan dengan beberapa berkas di pelukannya.
Layya hanya melihat itu semua dengan malas dan sesekali akan menarik nafasnya.
Setelah rose keluar dan pintu tertutup. layya kembali membuka suara.
"ray dengar? aku bukan pengawalmu yang mau menemanimu bekerja di sini, kembalikan sepatuku! ".
Rayyan menaikkan tatapannya menatap layya.
"aku salut dengan mu layya? demi sebelah sepatu kamu rela membuang waktumu, padahal kamu bisa membeli yang baru".
"jika yang lama masih bisa di pakai kenapa aku harus membuang buang uang untuk yang baru sedangkan aku bisa gunakan uang itu untuk hal lain? ketahuilah pak andryatama tidak semua orang seperti anda yang bisa membuang uang seenaknya".
"terdengar seperti kamu memintaku untuk membeli mu sepatu baru! ".
Layya membuka mulutnya lebar dengan ucapan rayyan. darimananya terdengar seperti itu?. ah sudahlah...tidak perlu ladeni dia, aku yakin dia hanya mau membuatku kesal saja.
__ADS_1
"kembalikan sepatuku ray? dan aku mau balik ke perusahaan". acuh layya.
Rayyan kembali menaikkan tatapannya menatap layya setelah tadi melihat dokumen di depannya.
"bukankah sudah ku bilang? tidak semudah itu? kamu wanita pintar layya tentu tahu cara berbisnis".
Layya mengerutkan keningnya menatap layya.
"jangan bilang kamu mau bernegosiasi menggunakan sebelah sepatuku".
Ctak...
Rayyan menjentikkan jarinya.
"benar! ". jawabnya mantap dengan seringaian kejinya.
Rayyan bangkit dari kursinya memperbaiki jasnya melangkah mendekati layya yang berdiri di depan meja kerjanya.
Kurang satu langkah lagi jarak antara keduanya dan keduanya saling menatap. layya yang menatap rayyan dengan kesal sedangkan rayyan membalas tatapan itu dengan sunggingan kejinya.
"kamu sangat licik ray? ". geram layya dengan gumpalan erat tangannya.
Rayyan menaikkan bahunya acuh.
Layya menenangkan dirinya lalu kembali menatap rayyan.
"apa yang kamu mau?! ". itu adalah kalimat terpaksa yang layya keluarkan karna tidak mau berlama lama di sana lagi. apalagi melihat pria yang menjengkelkan di depannya. benar benar membuat mood makan siangnya hilang total.
Rayyan menyungging senyum keji.
"beri aku kebebasan dalam menemui anakku".
Layya membulatkan matanya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria di depannya.
"kau gila? kau sedang bercanda?! ". teriak layya tidak habis pikir dengan jalan pikir otak rayyan.
"apa aku terlihat sedang bercanda? ". rayyan juga sedikit menaikkan sedikit nada suaranya.
Layya mendengus sembari memijit keningnya.
"karna itu aku bilang kamu gila!... kamu tahu efek dari jika kamu lakukan itu bukan? mami dan papimu bisa tahu dan mereka...".
"tenang saja, itu serahkan padaku! yang perlu kamu lakukan memberiku izin bebas menemui mereka lain...itu aku bisa urus".
Layya menatap rayyan mencari kepastian di sana. tahukah pria ini apa yang sangat ia takutkan? yaitu ibu imelda tahu lalu suaminya lalu tentu saja mereka akan mencoba mengambil cucu mereka.
Layya menunduk berpikir.
"apa tidak ada yang lain?...selain itu". tanya layya lemas.
"menurutmu aku butuh yang lain? ".
Layya sontak menggeleng lemas. memang apa yang dia perlukan selain menemui anaknya. uang? dia sudah kelebihan.
"baiklah...tapi kamu harus memegang kata katamu untuk tidak ketahuan dan jika ketahuan aku akan menghajarmu, ingat itu". ancam layya menatap rayyan tajam di depannya.
Rayyan terkekeh geli namun dalam hati, ia sangat senang. beberapa hari ini ia terus mencari cara supaya layya membebaskannya dalam menemui kedua anaknya. ia benar benar mau dan rindu keduanya bahkan...beberaoa malam ini ia tidak tidur dengan nyenyak karna selalu teringat dan terbayang akan dua wajah bocah di kepalanya.
"demi keamanan mereka juga, aku janji! ". ucap rayyan mantap.
"baiklah...sekarang mana sepatuku".
"bukankah sudah ku bilang? tidak semudah itu".
Layya lagi lagi melebarkan matanya.
"apa maumu lagi?! ". teriak layya frustasi.
Rayyan terkekeh keji.
"ayo makan siang bersama, kebetulan pekerjaanku bisa di tunda".
__ADS_1
Layya membulatkan matanya. makan siang?... lagi...dan...
"tidak akan dan tidak akan pernah". tolak layya mentah mentah. mengingat nasib buruknya+kebodohannya kemarin.