
Sampai di dalam kamar.
Kamar yang beberapa jam yang lalu layya berada di sana.
Di belakang rayyan di ikuti satu maid. Yang datang entah darimana. Hingga tiba tiba saja muncul di belakang rayyan dan siap untuk menerima perintah.
Berhenti, rayyan menoleh melihat ke belakangnya.
"bocah Yusuf dan Maryam di mana?!". Tanyanya terlihat acuh. Namun nyatanya. Rayyan sangat ingin tahu. Mereka adalah kedua anaknya.
Garis bawahi. Anak kandungnya.
Namun, Percuma saja dengan sikap atau sekedar untuk berakting oleh rayyan. Untuk tidak di ketahui hubungan yang sebenarnya antara dirinya dan nona layya. Ibu dari kedua anak kecil, yang sekarang berada di lantai 3. Sedang di periksa oleh beberapa dokter ahli, yang tuan besar panggil kemari.
Karna aksi tuan muda rayyan tadi, beberapa menit yang lalu sudah di ketahui oleh semua penduduk di dalam rumah ini. Hubungan apa yang tuan muda dan nona Zunaira miliki, sebenarnya. Hanya saja. Perintah dari tuan besar kepada mereka semua tadi. Termasuk nyonya besar dan nona Reina. Untuk semua diam dan berpura pura tidak tahu apapun. Lalu kenapa ia ada di sini sekarang. Itu atas perintah nyonya besar. Yang katanya mungkin saja tuan muda membutuhkan bantuan dan menyuruh nya menunggu di pintu kolam renang.
"itu di lantai 3 tuan muda!". Jawabnya menundukkan kepala.
Rayyan sedikit tersentak kaget dengan ucapan maid tersebut sebelum ia menarik nafas dan berbalik arah. Keluar dari kamar dan melangkah ke tangga.
Maid yang umurnya masih muda tersebut hanya melihat tanpa berkomentar. Toh mereka suami istri.
"ada yang bisa saya bantu tuan muda?!". Ikutnya di belakang menaiki tangga.
Melirik rayyan menoleh melihat ke samping.
"tidak ada! Kamu lanjutkan pekerjaan mu yang lain". Jawab rayyan acuh dan dingin sambil melangkah ke tangga.
"bisakah kamu turunkan aku?! Ini sangat memalukan dan juga...". Layya menjeda ucapannya. Melirik ke maid di belakang rayyan.
"kamu harus menutup mulutnya, bagaimana pun caranya!".
Rayyan mendengus sambil mengukir senyum tipis di bibirnya, setelah itu ia menggeleng. Ia bahkan tidak memikirkan hal itu lagi, sejak beberapa menit yang lalu.
Rayyan menghentikan langkahnya sebelum mencapai anak tangga.
"kamu yakin mau jalan sendiri?!".
Layya tentu saja mengangguk mantap tanpa melihat rayyan. Karna jika itu ia lakukan. Otomatis ia akan menatap wajah rayyan dari jarak yang sangat dekat. Dan itu sama sekali tidak baik untuk jiwanya sekarang.
Pria ini akan membuatnya kesal, dengan senyum keji, penuh percaya dirinya itu.
Sama sekali tidak terduga. Atau rayyan yang sedang malas beradu mulut dengan layya. Yaitu rayyan menurunkan tubuh layya. Manapakkan kaki layya ke lantai. Setelahnya melepaskan pegangan tangan layya pada tubuhnya. Selanjutnya ia berdiri berkacak pinggang. Melihat, menatap layya serta menunggu layya melangkah.
Namun, belum juga layya menggerakkan satu kakinya untuk melangkah. Kedua lutut nya sudah lebih dulu bergetar lemas, bahkan berdiri saja tidak sanggup.
Rayyan menghela nafas kasar. Mencoba menahan emosinya.
"kamu punya rencana kemana kita bisa menyembunyikan tubuhnya? Biar tidak ketahuan?!". Ujar rayyan mencandai ucapan layya tadi, sambil menoleh menatap maid yang berdiri menunduk di belakang mereka. Dengan jarak, yang sulit bagi maid tersebut mendengar pembicaraan layya dan rayyan.
Layya sontak saja melebarkan matanya karna terlalu shock dengan ucapan rayyan meski hanya sebagai sebuah candaan.
__ADS_1
"ya tidak membunuhnya Ray? Maksudku bukan itu? Kamu nyebelin banget sih!". Kesal layya di tengah menahan tubuhnya yang bergetar lemas dan tidak ambruk ke lantai.
Rayyan melihat memerhatikan hal itu. Mendengar tapi tidak peduli lagi jawaban layya barusan. Kedua manik matanya hanya fokus pada tubuh layya.
Dan layya menyadari itu. Hingga, kedua buku tangannya menggepal erat di sertai giginya yang merapat. Batinnya melantunkan kalau dirinya bisa. Ia benci ke adaan seperti ini. Keadaan di mana ia terlihat lemah. Lebih lebih di hadapan pria, yang sangat sangat ia ingin tunjukkan selalu kalau ia kuat. Kalau ia bisa sendiri tanpa perlu bantuannya.
Rayyan menarik nafas kasar dan menghelanya kasar sambil membuang muka ke samping. Terlalu emosi baginya melihat layya yang sekarang.
Namun, belum juga emosi nya itu reda. Ucapan layya selanjutnya sukses membuat dirinya ingin meledak seketika.
"aku perlu hp ku! Dimana itu?!".
Rayyan menatap menajamkan matanya dingin ke layya.
"apa ada hal lain! Selain dari itu?!".
Layya mengacuhkan ucapan rayyan.
"apa kamu melihatnya?".
Rayyan menggertakkan giginya.
"apa aku perlu tahu itu? Di saat seseorang bisa saja mati di dalam air?! Huhhh...Sangat menggelikan!". Rayyan menaikkan sedikit nada suaranya. Selanjutnya, kalimat terakhir nya terdengar nada ejekan ke layya.
Layya memilih memejamkan matanya. Untuk tidak peduli dengan nada dalam ucapan rayyan.
Layya memilih mencoba untuk mengingat di mana letak terakhir tas nya berada. Dan di dalam sana ada hpnya.
Sedangkan rayyan lagi lagi mencoba menahan emosinya untuk tidak meledak di sana. Sehingga bisa mencuri perhatian seisi rumah.
"arghh....". Suara jeritan layya yang terkejut akibat rayyan kembali mengangkat mengendong tubuh nya. Hingga kedua tangan layya dengan sigap menangkap apapun yang bisa ia raih untuk pegangan. Hingga seperti sekarang.
Kedua tangan layya terkalung indah di leher rayyan.
"Ray apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku bisa jalan...".
"sikap keras kepala itu terkadang baik layya? Tapi tidak untuk sekarang. Kamu harus menempatkannya dengan sesuai!". Geram rayyan sambil melangkah dan menaiki anak tangga pertama.
Layya seketika merapatkan kedua giginya. Tidak terima dengan ucapan rayyan.
"turunkan aku!". Tegas layya. Namun, sama sekali tidak di peduli rayyan.
Rayyan terus melanjutkan langkahnya. Anak tangga per anak tangga rayyan pijaki dengan raut wajahnya yang dingin.
"lalu setelahnya kamu mau menghubungi ayrin temanmu dan pulang?!". Lagi lagi rayyan menaikkan nada suaranya.
Layya terdiam. Karna memang itu tujuannya.
Rayyan mendengus lalu menyungging senyum sinis.
"dan membiarkan Yusuf dan Maryam di sini untuk sementara. Sampai nanti kamu bisa menjemput mereka. Seperti tidak peduli pada kedua anakmu. Tapi Yang sebenarnya adalah... Layya? ...". Rayyan menghentikan langkahnya. Menoleh menatap layya.
__ADS_1
Layya membalas tatapan dingin rayyan padanya tanpa ada risih sedikitpun. Namun, entah kenapa suara jantungnya berdegup tidak menentu. Tentu ia sangat paham. Ini bukan karna rasa suka untuk pria ini. Melainkan. Degupan jantung kalau pria ini bisa menebak dirinya.
'itu tidak mungk...'.
"kamu tidak suka aku menolong mu karna kamu benci mengucapkan kata terima kasih padaku, seperti katamu! Dan juga kamu tidak suka terlihat lemah di depan mataku...". Rayyan menjeda ucapannya.
Rayyan mengukir senyum samping namun keji di bibirnya saat melihat mata layya yang terkejut dan melebar.
Layya cepat cepat membuang muka. Supaya rayyan tidak bisa membaca raut wajahnya sekarang.
"kenapa layya? Apa aku terlalu mengenalmu?!".
Layya lagi lagi merapatkan giginya. Dan masih dengan wajahnya ke samping dan memejamkan mata.
Rayyan mendengus sebelum kembali melangkah, menaiki tangga.
"tapi bagaimana? Aku sudah menolong mu!". Sambung rayyan sinis. Rayyan hanya terlalu geram dengan sikap layya padanya.
Bagi rayyan. Dengan kondisi tubuhnya, yang sangat lemah. Masih masih saja layya sempat memikirkan egonya.
Ia sama sekali tidak suka hal itu.
Layya tetap diam. Namun tidak dengan suara jantungnya dan degupan hatinya. Yang ingin melompat melarikan diri dari gendongan juga dari bantuan rayyan.
Ya benar. Jika ada manusia di dunia ini yang akan ia tolak pertolongan nya tanpa berpikir. Dia itu adalah Rayyan Andryatama ini.
"kenapa layya?! Egomu terluka? Tidak mau berterima kasih? Tapi hatimu akan menjerit di dalam sana untuk memintamu berterima kasih!".
"...". Layya tetap diam.
Rayyan sampai di anak tangga atas. Ia berjalan ke pintu kamarnya. Sampai di depan pintu, yang ternyata rayyan kesulitan untuk memutar kenop pintu. Karna kedua tangannya menahan tubuh layya, menggendong layya.
Rayyan menoleh melihat ke belakang. Berharap maid tadi masih mengikutinya. Namun, belum juga kepalanya memutar. Suara kenop pintu yang berputar dan pintu yang terbuka di hadapannya membuat dirinya, rayyan. Terdiam.
Ia berjalan masuk ke dalam kamar. Namun, diambang pintu sebelum tertutup sepenuhnya. Rayyan berterima kasih ke maid tersebut.
"terima kasih bantuanya dan lanjutkan pekerjaanmu! Aku akan naikkan gajimu bulan ini".
Maid itu tersentak kaget sebelum dia kembali buru buru menatap ke bawah dan tersenyum senang.
"terima kasih tuan muda tapi...Ini sudah menjadi tugas saya! Terima kasih sekali lagi tuan muda". Antusias nya sebelum pintu kamar di depannya tertutup sepenuhnya.
Rayyan menurunkan tubuh layya ke bathtub. Dengan ukuran bathtubnya, bisa berendam 2 sampai 3 orang di dalamnya.
Layya melepaskan pegangannya pada leher rayyan. Sedangkan rayyan menyalakan kran air, yang berisi air hangat yang otomatis.
Rayyan menempatkan telapak tangannya di kran air setelah membuka nya. Menyesuaikan suhunya dulu sebelum membuka sepenuhnya ke layya untuk berendam.
"jangan pikirkan apapun dulu layya! Seperti yang aku katakan beberapa menit yang lalu. Pulihkan tubuhmu dulu, lalu setelah nya terserah kamu mau pergi kemana. Aku tidak akan melarangmu!". Ucap rayyan berdiri berkacak pinggang, menatap melihat ke kran air yang terus mengisi bathtub.
__ADS_1
Layya mau tidak mau terpaksa patuh. Apalagi saat merasakan air hangat yang menyentuh kulitnya.
Ya. Ia butuh ini. Ia butuh ini untuk sekarang.