
"benar benar sakit? Kamu nggak bohongi aku kan?!". Tanya layya hati hati sembari memiringkan kepalanya menatap rayyan, yang berada di bawah. Tepat di kakinya.
Posisi rayyan yang sedang memeluk satu paha layya dengan satu tangannya. Dengan dirinya merunduk membenamkan kepalanya di paha layya.
Imelda dan mirza. Keduanya sama sama mengernyit bingung di pintu kamar. Sebelum kemudian keduanya masuk terburu buru ke dalam kamar.
"sshhh...Di saat-begini...? Serius...?". Ringis rayyan menjawab pertanyaan keraguan layya.
"ck...Lagian salah mu sendiri tahu? Coba saja jika kam...".
"apa yang terjadi?!". Suara imelda yang tiba tiba. Sontak saja mengejutkan layya hingga membuat layya...
Phukk...
"Arghhh...Shhh...Layya...Shhh...arghhh...". Erang rayyan sakit.
"shh...Ma-ma-maaf ray!". Ringis layya sebentar sebelum kemudian kembali merasa bersalah dan sedikit panik.
Lagi lagi. Ia menendang rayyan. Itu salahnya sih.
"apa yang terjadi?!". Tanya imelda lagi masih dalam kebingungannya.
Layya menoleh melihat imelda. Dan ia merasa gelagapan. Tidak tahu harus menjawab apa.
Imelda dan Mirza. Berdiri beberapa meter jarak dari posisi layya dan rayyan berada. Dan dalam ke adaan mematung.
Saat masuk tadi ke dalam. Ia cemas dan sedikit panik. Namun, saat sampai di dalam. Kedua matanya malah mendapati pemandangan.
"apa yang terjadi...? ". Tanyanya lagi karna pertanyaan sebelum nya tidak mendapatkan respon dari layya dan rayyan.
Dan malah mendapati sikap layya yang gelagapan. Namun, ia bersikap bodoh. Pura pura tidak tahu. Sedangkan putra nya.
Dalam hati. Imelda meringis melihat rayyan. Melihat dari kondisi putranya sekarang. Ia sudah tahu jawabannya apa.
Begitu juga yang terjadi pada mirza. Melihat dari kondisi rayyan. Ia juga bisa memprediksi. Apa dan kenapa pria itu sekarang.
Begitu tiba di dalam kamar tadi. Ia dan aunti meli. Malah mendapati satu pasangan yang sangat berdekatan tidak ada jarak sedikitpun di antara mereka. Dengan kondisi rayyan yang merunduk memeluk satu paha layya. Membenamkan wajahnya di sana. Sedangkan satu tangan lagi. Berada di...
Mirza tidak bisa untuk menahan dirinya, untuk tidak meringis.
"itu sangat menyakitkan". Gumam mirza, yang membuat mami rayyan di samping nya bisa mendengar.
Menoleh melihat mirza sebentar sebelum kemudian melangkah mendekati rayyan.
"kamu baik baik saja sayang?!". Tanya imelda lembut ke rayyan sembari memegang punggung dan mengusap nya pelan.
Tubuh rayyan gemetar dan diam tidak menjawab ucapan maminya.
Imelda menoleh melihat layya, yang berada di hadapannya.
"apa yang terjadi nak layya? Kenapa rayyan bisa seperti ini?!". Tanya nya polos. Berpura pura tidak tahu.
"i-i-itu...". Layya panik sekaligus gugup dan beralih melihat rayyan. Berharap meminta bantuan. Namun, yang di mintai masih tengah bertarung dengan nyawanya sendiri.
Layya kembali melihat imelda.
"i-i-itu..".
Layya menjeda. Mendecak sendiri. Tidak tahu harus menjawab apa. Berbohong? Ia tidak bisa melakukan itu.
Diam. Layya menelan liurnya gugup sebelum kemudian mengigit bibir bawahnya. Memikirkan jawaban apa yang seharusnya ia berikan. Meski di sini seharusnya yang bersalah itu adalah rayyan. Tapi Kenapa ia yang jadi penjahatnya ya.
"apa dia terbentur sesuatu? Atau... Terpeleset dan jatuh?!".
Pertanyaan imelda menyentak layya. Hingga membuat layya melihat imelda dengan kedua manik matanya membulat lebar sebelum kemudian layya dengan cepat beralih membuang muka ke samping.
"i-i-itu...". Lagi lagi. Ia tidak bisa menjawab.
Haruskan aku mengaku dengan jujur? Kalau aku dengan sengaja sudah menendang telur anaknya? Bahkan di saat lagi tegang dan kerasnya.
Layya lagi lagi mendecak. Mimpi apa ia semalam. Sehingga ia bisa berada di situasi sekarang.
Sampai sekarang ia bahkan bisa merasakan..
Layya menggeleng kuat. Saat ingatan menendang rayyan tadi muncul kembali. Lebih lebih, kulit dan semua anggota tubuhnya masih bisa merasakan milik rayyan yang...
Layya menggeleng kuat.
'bahkan entah kenapa. aku bisa merasakan sakitnya juga'.
"apa anak ibu...".
__ADS_1
Suara imelda memecahkan lamunan layya. Hingga membuat layya kembali beralih melihat ibu satu anak tersebut.
Layya melihat, menanti, ucapan imelda selanjutnya. Dan layya sudah berniat akan mengaku jujur. Dan jujur. Selama ia hidup. Ia belum pernah...Yang namanya berbohong dan ia tidak bisa melakukan itu.
"Terjatuh dan mengenai sisi ranjang ini di pahanya rayyan? Terlihat dari rayyan, yang memegang pahanya".
Layya membulatkan matanya. Begitu juga yang terjadi pada Mirza.
Pffffhhh...
Mirza menahan tawanya. Dan saat tawanya mau meledak.
Mirza mendapati tatapan tajam dari imelda. Hingga membuat bibir mirza kembali bungkam dengan menutup nya. Dan malah dia tertawa dalam hati.
'ini drama yang tidak bisa di percaya. Siapa yang mau di bodohi di sini?!'.
Layya sontak saja menggeleng. Tidak membenarkan ucapan imelda.
"itu tidak benar itu...".
"mi? Shh...Bi-sakah...Mami-keluar saja? Masih-ada hal-yang harus-shhh...Ray bicarakan shhh dengan...Layya hahhhh...shhh". Nafas rayyan yang tersenggal senggal di sertai ringisannya.
Imelda menoleh melihat putranya sebelum kemudian kembali melihat layya.
Imelda berdiri dan melangkah mendekat ke layya. Sampai di hadapan layya.
Imelda berjongkok. Mensejajarkan tinggi nya dengan layya yang duduk di permadani.
Meraih kedua tangan layya dan menggenggamnya. Sedang kedua manik matanya menatap layya lembut.
"jujur sama ibu nak? ...".
Takut takut. Layya membalas tatapa imelda.
"ibu sudah menduga ini! ". Imelda menunduk sebentar sebelum kemudian kembali melihat layya.
'menduga? Menduga apa?...Tunggu...Mami rayyan...Belum tahu kan? Tidak...Ia tidak bisa berpikir jernih untuk sekarang tapi...".
"anak ibu melecehkan mu ya? Lalu kamu...Menendang miliknya untuk perlindungan diri?!".
Kedua manik mata layya seketika saja membulat.
"ya?!".
Desah Imelda lelah.
"dia pantas menerimanya sayang? Jangan takut dan gugup ya...? Kamu melindungi dirimu sendiri jadi wajar nak...? ".
Mirza menjatuhkan rahangnya mendengar ucapan mami rayyan. Sedang mulutnya terbuka lebar. Menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar.
Ayolah aunty meli. Putra aunty sedang bertarung dengan nyawanya dan juga. Hal itu salah salah. Bisa membuat anak aunty jadi pria impoten.
Suara erangan dan ringisan kesakitan rayyan. Sama sekali tidak terdengar lagi di telinga imelda.
Baginya. Ia tidak bisa membiarkan. Layya menjauh dari hidup nya. Apa lagi. Layya yang tidak akan mengizinkan kedua anaknya main ke sini lagi. Jika layya tahu. Mereka sudah tahu hubungan sebenarnya rayyan dan layya. Dan marah nak layya. Ia tidak bisa itu. Nak layya adalah anak dari sahabat nya. Jauh dari nak layya. Itu artinya ia kehilangan sosok sahabatnya lagi. Ia tidak mau.
Rayyan. Ia akan mendukung putranya. Untuk mendapatkan. Wanita cantik ini kembali. Dan menjadi menantunya. Menantu kesayangan nya.
'melindungi diri sendiri?'. Layya membuang mukanya ke samping. Mencoba mencerna ucapan imelda.
'ya sih! Itu 100% benar tapi...". Layya menyampingkan kepalanya menatap rayyan.
Tubuh rayyan yang masih gemetaran. Ia pun meringis dalam hati.
"jangan pikirkan dia nak? Itu sudah jadi konsekuensi nya. Oh ya? Kamu lapar enggak? Kita turun yuk? Kita makan dulu. Setelahnya kita bicarakan hal lain. Jarang jarang lho ibu bisa makan bareng kamu? Ah...Ibu merindukan mamamu". Keluh Imelda. Mengambil hati layya dan membuat layya goyah dan melupakan kejadian ini. Sehingga membuat layya. Bersikap seperti biasa.
Layya menyatukan alisnya bingung.
'mami rayyan membelanya? Di saat putra satu satunya...'.
Bisa membaca reaksi wajah layya. Imelda mencoba menjelaskan.
"kamu tentu bingung! Kenapa ibu malah membelamu dan bukan putra ibu!". Imelda menoleh melihat rayyan, yang berada di belakang tubuhnya dengan jarak kira kira 2 meter lebih.
'ya?'. Ujar batin layya kebingungan.
'mami rayyan...Bisa membaca pikiranku?!'.
Imelda tersenyum hangat ke layya sebelum menjelaskan ke layya. Yang sama sekali. Tidak masuk ke dalam otak layya maupun mirza di sana. Dan malah membuat rayyan yang sedang menahan ke sakitan mengerang akan ucapan maminya.
"putra ibu! Dari pertama kali melihatmu waktu itu nak? Dia sudah menyukaimu. Mungkin bisa di bilang. Jatuh di cinta pada pandangan pertama padamu. Itu wajah sih? Bahkan nak farhan juga".
__ADS_1
"ya?!". Ucap layya tidak mengerti apalagi. Farhan. Siapa itu?.
Imelda menggenggem kuat tangan layya. Yang membuat layya kembali menatap dan mendengar serius ucapan mami rayyan.
"ibu sudah melarang rayyan beberapa waktu lalu. Untuk mengubur perasannya itu. Karna nak layya sudah bersuami dan itu tidak boleh!... Ibu sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. Maafkan ibu nak? ...Bisa bisanya putra ibu, rayyan mengambil kesempatan ini untuk melecehkanmu nak? Ibu sudah tahu niatnya saat dia membawa mu masuk ke dalam kamarnya. Tapi...Syukurlah. Kamu bisa melindungi dirimu sendiri!". Senyum imelda tulus dan hangat ke layya.
Mirza menganga tidak percaya. Serius...?.
Layya menatap imelda lekat. Perasaan? Kebohongan apa yang sedang pria itu lakukan pada maminya?.
"Mi...? Plis...Keluarlah!". Ujar rayyan di tengah tengah erang dan ringisannya.
"diam kamu!". Bentak imelda dengan suara tertahan sebelum kembali beralih melihat layya lagi setelah tadi membalik badan melihat rayyan.
"melihat dia sangat kesakitan! Besar kemungkinan nak layya dia bisa jadi pria yang impoten seumur hidupnya!". Ucapan imelda yang terdengar sangat ringan bagi wanita paruh baya tersebut. Namun, tidak bagi layya, Mirza terutama rayyan.
Kedua mata rayyan membulat lebar sebelum kemudian beberapa kelebat bayangan muncul di pikirannya.
'tidak!...Itu tidak akan terjadi lagi...Shhh...Tidak boleh...hhhahhh....'.Batin rayyan.
"bu itu...".
"Tentu saja ibu berharap tidak sayang...?". Potong imelda lalu tertawa kecil.
"ya sudahlah! Ayo kita makan malam dulu. Oh ya? Nak layya belum di periksa kan?".
"saya baik baik saja bu?".
Imelda menggeleng kuat.
"tidak nak layya? Ibu dengar nak layya lama berada di dalam air dan sadar juga sangat lama. Itu tidak baik untuk paru paru mu sayang? Mungkin sekarang baik baik saja tapi itu akan berefek nanti. Pikirkan Yusuf dan maryam ya sayang? Kamu harus memeriksa dirimu mengerti?!". Ujar imelda merayu layya.
Layya menarik nafasnya. Padahal beberapa detik yang lalu. Ia masih bersikeras untuk tidak perlu di periksa dan ia baik baik saja. Begitu juga dengan tubuhnya tapi...
Saat mami rayyan menyebut nama kedua anaknya. Layya membenarkan itu. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada tubuhnya. Sehingga kedua anaknya...
Layya tersenyum manis dan lembut ke imelda sebelum kemudian mengangguk mengerti.
"baiklah bu dan juga...". Layya melihat rayyan di belakang imelda.
"maafkan layya karna sudah membuat anak ibu... Kesakitan!". Ringis layya pelan dan merasa tidak enak.
Imelda tersenyum dan mengeleng.
"tidak apa? Dan bukankah ibu sudah bilang? Itu salahnya. Ayo kita makan malam saja. Biarkan dia sendiri di sini dulu. Dia perlu menenangkan adiknya!". Imelda bangkit berdiri sambil menarik serta tangan layya.
Menoleh melihat ke belakang sebentar ke rayyan sebelum kemudian melangkah keluar dari kamar.
"itu benar sih? Menyakitkan!".
"maaf bu!".
Imelda mengusap pundak layya.
"tidak apa! Sudah lupakan. Pikirkan makanan enak dan kedua anakmu saja".
Mirza masih berada di dalam kamar. Tidak ikut kedua wanita tadi keluar. Ia melihat memperhatikan kondisi rayyan yang masih sangat memprihatikan.
"apa ini kesialan atau keburuntungan teman?!".
"shhh...Di-am-lah...". Jawab rayyan dengan suara parau nya.
Mirza mendekat ke rayyan dan berdiri tepat di hadapan rayyan yang merunduk.
"bisa jadi kali ini kamu benaran impoten ray?!".
"diam brengsek...Shhh...Tutup mulutmu shhh...Arghhh...Kenapa...Shhh...Sangat...hhh..Menyakitkan sih...?!".
"kamu harus mengakui kekuatan istrimu atau kamu tadi yang lengah? ".
"shhh...Sial...Hhhahhh...".
Pfffttt...
"kamu mencoba memaksa istrimu? Itu keterlaluan dan mami mu benar. Kamu pantas".
Rayyan mengerang.
*Memaksa? Tidak. Ia tidak melakukan itu. Tadi hanya pembicaraan dan ya. Ia lengah.
Karna mendengar suara maminya yang mau masuk ia menoleh melihat ke arah pintu kamar yang tidak terlihat. Dan saat mau melepaskan tangan layya dan berniat turun dari ranjang.
__ADS_1
Layya sudah dulu...Eughhhh...
Aku tidak mau mengingatnya lagi. Ini benar benar, sangat menyakitkan*.