
Ting
Klang
Pintu besi di belakang rayyan kembali tertutup rapat setelah tadi terbuka. Di luar di sambut oleh aldi, yang dari tadi menunggu di sana tanpa beranjak kemanapun.
Aldi tersentak terkejut melihat atasannya yang keluar dengan menggendong Desainer Zunaira. Ia tidak akan bertanya lagi atau memikirkan hubungan apa yang keduanya mikiki karna jawabannya sudah ia dengar tadi dari mulut atasannya sendiri. Entah atDara mengedikkan bahunya tidak peduli. Sahabatnya ini bukan berasal dari keluarga yang tidak berada tapi malah sebaliknya.asannya sengaja atau bercanda tapi melihat reaksi desainer Zunaira ia yakin. Ucapan CEOnya bukan canda. Mereka suami istri. Pertanyaannya? Sejak kapan. Mengingat reaksi pertemuan pertama kali keduanya waktu itu dan CEOnya yang mau membatalkan kontrak. Ia yakin. Pernikahan mereka sudah lama. Tapi...Arghhh. Banyak tapinya.
"batalkan semua jadwalku sampai 2 hari ke depan, yang mengharuskanku untuk hadir, kamu pahamkan? ".
Aldi beralih melihat rayyan, yang menyadarkan dirinya dari pikirannya.
"baik pak".
"dan seperti biasa, jika papi menanyakanku juga...Seperti biasa. Kirim detail rapat padaku dan pertemuan dengan klien. Kamu mengertikan?! ".
"ya pak!".
Rayyan melanjutkan langkahnya dan sebelum masuk ke lift ia kembali berkata.
"apapun yang kamu lihat dan dengar hari ini...kamu paham maksudku kan aldi?! ".
Aldi tersenyum tipis. Tentu saja ia paham.
"tentu pak!".
"baiklah, sampai bertemu nanti". ujar rayyan sebelum pintu lift tertutup dan meninggalkan aldi di sana sendiri.
Tentu saja aldi tidak ikut masuk karna dia harus membereskan semua hal yang sudah di lakukan oleh istri atasannya di ruang penyimpanan. Itulah sebutan aldi mulai sekarang untuk desainer Zunaira. Istri CEONya.
Aldi melangkah masuk ke dalam ruangan dengan cahaya remang remang tersebut. Ia tidak berniat akan merapikannya sekarang karna untuk sekarang paling tidak ia harus melihatnya dulu sebelum membereskannya nanti setelah selesai kerja dan bersama rose sekretaris rayyan. Tidak mungkin ia bisa membereskanya sendiri akan memakan banyak waktu. Di tambah pekerjaannya yang sudah di tambah atasannya.
Rayyan tidak turun di lantai 1 yaitu lobby perusahaannya melainkan lift tersebut terus turun hingga membawa rayyan ke basement lantai paling bawah. Di sana terparkirkan satu mobil rayyan, yang jarang dia gunakan. Sesekali ia akan menggunakannya jika jika dia menginap di perusahaan karna harus lembur kerja dan mobil tersebut ia butuhkan ketika ia harus pulang ke rumah tiba tiba tanpa harus menghubungi aldi untuk menjemputnya. Mobil yang berwarna hitam dan bermerek mahal tersebut Mercedez-benz Maybach exelero.
Rayyan meletakan tubuh layya yang terlelap akibat ulahnya ke bangku mobil di sampingnya mengemudi.
Beberapa menit kemudian mobilnya keluar dari sana dan membelah kota australia dari keramaian dan kemacetannya.
💓💓💓
Perlahan layya membuka matanya. Hal pertama yang layya lihat adalah atap sebuah kamar dengan lampu kristal yang menggantung di atasnya. Terlihat saja sangat mahal.
Layya memiringkan kepalanya melihat ke samping lalu beralih ke sekeliling kamar. Ia bangkit duduk sedang wajahnya terlihat kebingungan menatap ke sana ke mari.
"ini di mana? ". layya mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum kesadarannya hilang.
__ADS_1
Ia bersama rayyan lalu mereka mau keluar dan... Ah...Rayyan memberinya minu...
"maaf layya? ". ingatan layya mengingat ucapan rayyan yang samar samar.
Layya menarik tajam nafasnya. Ia terjebak lagi.
Clekc...
Layya sontak melihat ke sumber suara dan detik selanjutnya matanya melebar sebelum ia cepat cepat mengalihkannya ke tempat lain.
"oh...kamu sudah bangun?! ". ujar rayyan yang baru keluar dari kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Rayyan melangkah mendekati layya yang ada di atas ranjang dan masih ogah untuk turun.
"kamu lapar? kita pesan atau keluar untuk makan malam?! ". Rayyan berdiri tepat di belakang layya.
Layya lagi lagi membulat kan matanya bukan karna penampilan rayyan yang sekarang melainkan karna ucapan rayyan.
"apa...?..malam? ". Layya kembali membalik melihat rayyan dan dia sama sekali tidak sadar dengan penampikan rayyan karna di otaknya sedang mencerna hal lain.
Rayyan mengangguk meyakinkan layya.
Layya menyatukan alisnya. Seingatnya tadi masih....
Layya dengan cepat meloncat dari ranjang beranjak ke jendela kaca membuka tirainya dengan cepat dan melihat pemandangan di luar. Hal pertama yang layya lihat adalah beberapa gedung yang menjulang tinggi namun satu gedung yang tidak asing bagi layya. Ia kenal puncak gedung tersebut sekalipun ia tidak pernah ke sana. Ia sering melihatnya melalui tv atau majalah majalah luar negeri. Satu gedung pencakar langit yang sangat indah dan megah tersebut dan itu hanya berada di satu kota, yang dari dulu sangat ingin ia kunjungi. Kota yang beberapa tahun ini menjadi kota, yang banyak peminat untuk mendatanginya. Dubai.
'Dubai itu?...Dubai...Uni Emirat Arab-Dubai..?!'. Jerit layya dalam hati.
Layya berbalik menatap rayyan.
Rayyan terkekeh senang sebelum melangkah mendekat ke layya.
"kamu benar, kita di dubai sekarang".
Srekkk...
Rayyan membuka lebar tirai. Berdiri berkacak pinggang menatap hamparan gedung yang menjulang. Bahkan dia tidak sadar kalau dirinya hanya menggunakan handuk persegi panjang putih yang terlilit di pinggang, yang bisa saja jatuh sewaktu waktu ke lantai.
Layya tercengang bengong sedetik kemudian dia tersentak saat menyadari satu hal.
Layya menoleh menatap rayyan di sampingnya.
Jadi rayyan. Membuatnya tidak sadar lalu...membawanya kemari?. Kepala layya sontak melihat ke ranjang mencari benda tipis yang selalu setia ia bawa kemana pun dan sekarang itu ada di mana?.
Layya tidak akan repot repot mau adu mulut dengan rayyan karna merasa tidak terima oleh kelakuan rayyan. Membuatnya tidak sadar dengan memberinya obat lalu membawanya ke sini tanpa permisi dan persetujuannya. Di tambah...Ia sangat yakin. Dari awal rayyan sudah mengatur semua ini dengan baik. Jadi percuma saja ia mengoceh sampai mulutnya berbusa. Ia sudah di sini sekarang dan berhasil membuat rayyan sukses dalam rencananya. Pertanyaannya. Kenapa rayyan membawanya ke sini tentu ada alasannya. Dan ia akan tahu itu.
__ADS_1
"dimana handphone ku? ". Ya. untuk sekarang benda tipis itulah yang sangat penting.
'aku harus mengabari mami rayyan karna sebelum ke perusahaan rayyan aku sudah mengabari mami rayyan kalau akan menjemput yusuf dan maryam sore nanti dan sekarang tidak bisa di katakan sore lagi karna sebentar lagi akan maghrib'.
Rayyan melangkah ke salah satu nakas di sana lalu mengambil hp layya. Menyodorkannya ke layya.
Segera dengan cepat layya meraihnya. Sedang matanya menatap rayyan curiga. Tidak mungkin seorang rayyan akan memberinya begitu saja. Mengingat dirinya saja di culik kemari tentu ia yakin...
Layya membulatkan matanya saat tidak sengaja kedua matanya yang indah dan suci ini melihat hal, yang ia yakini bisa membuat para gadis dan wanita di luar sana menjerit senang.
Perut rayyan yang sixpack atau istilah yang sering ia dengar dari devi karyawan di perusahaannya kerja Roti sobek.
Mau tidak mau layya menelan ludahnya. Bukan karna tertarik pada tubuh rayyan atau sejenisnya. Akan tetapi jarak mereka sekarang yang sangat dekat. Ia yakin. Jika tangannya terjulur maka ia bisa menyentuh itu.
"tidak bisakah kamu memakai bajumu dulu?! ". lirih layya dan masih melihat pemandangan di depannya.
Rayyan mengernyit sebelum alisnya menyatu menunduk menatap layya dan arah yang di tatap layya.
Rayyan menyungging senyum samping. Menatap layya dengan raut wajahnya yang jail.
"tapi sepertinya kamu sangat menikmati".
Layya tersentak lalu mengerjap saat mendengar ucapan rayyan.
Menikmati? Dia gila? Aku hanya tidak bisa bergerak, aku sendiri saja bingung kenapa tiba tiba aku begini. Okay aku akui aku juga wanita pencinta pemandangan yang seperti ini tapi cam satu hal ya? Bukan dengan tubuh pria di depannya ini. Aku hanya tidak bisa bergerak saja.
Layya mendongak menatap rayyan. Ia mau protes tidak terima dengan ucapan rayyan tapi al hasil bukannya memprotes rayyan atau menyerang rayyan dengan ocehannya, yang terjadi malah ketika layya mendongak. Jarak wajah keduanya sekarang sangat sangat dekat.
Bahkan bisa di hitung jari untuk hidung keduanya bertemu. Rayyan yang bisa merasakan deru nafas layya di bawahnya sedang layya juga sama bisa merasakan nafas rayyan yang berhembus perlahan.
1 detik...
Mereka masih bertatapan dengan suara jantung keduanya yang bisa di katakan se irama.
2 detik...
Masih sama.
3 detik...
Layya mengedipkan matanya.
4 detik...
Giliran rayyan yang mengerjapkan matanya beberapa kali. Karna ia gugup.
__ADS_1
5 detik...
Keduanya masih saling menatap sebelum layya mengedipkan matanya. Memutuskan pandangan mereka dan berniat melihat kearah lain sebelum rayyan menurunkan wajahnya dan....