Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 90


__ADS_3

Andryatama membantu maid di hadapannya melepaskan pakaian Yusuf yang basah dengan memakaikan handuk tebal, bathrobe. Menyelimuti tubuh Yusuf sepenuhnya.


Hal itu juga yang sedang di lakukan Imelda pada Maryam. Namun Imelda di bantu oleh Reina. Dengan sesekali tatapan Imelda akan jatuh pada putranya Rayyan.


Tekanan demi tekanan yang rayyan berikan pada dada layya tanpa ada rasa lelah sedikitpun pada dirinya. Namun, dari sejak beberapa menit yang lalu. Layya sama sekali tidak memberikan respon.


Hal itu membuat rayyan frustasi sekaligus panik dan semakin di serang rasa ketakutan.


Sedangkan Imelda memeluk erat Maryam, dengan kedua manik matanya menatap ke depan. Cemas sekaligus takut dengan apa yang tidak mau ia bayangkan sama sekali.


'bangun layya! Bangunlah nak? Kedua anakmu masih membutuhkan mu!'. Batin Imelda, yang tidak sanggup lagi melihat ke depan, ke layya. Yang sudah terkulai lemas dan ia yakin tubuh layya sekarang sudah sangat lemas.


Dan...


"kenapa bantuan lama sekali datang sih Pi...?!". Marah Imelda.


Andryatama menggeram akan hal tersebut.


"bagaimana? Mereka sudah sampai?!". Tanya Andryatama mendongak menatap maid yang berdiri di belakang nya.


Maid itu mengerjap sekaligus bingung.


'bukankah sudah ia katakan tadi. 5 menit lagi akan sampai ke sini dan mereka dalam perjalanan juga...'.


"itu...".


"pastikan lagi dan suruh mereka cepat, segera! Jika bisa terbang kemari. Jika tidak suruh mereka semua besok angkat kaki dari rumah sakit!". Bentak Andryatama dengan suaranya di tekankan untuk tidak berteriak dan itu bisa mengejutkan Yusuf dalam pelukan nya.


Yusuf juga Maryam keduanya menutup mata. Nampak lelah dan beristirahat dengan wajah yang sangat tenang. Namun tidak bisa mereka biarkan begitu saja sebelum di periksa seluruhnya. Setelahnya apa baik di rawat di rumah atau harus ke rumah sakit. Mereka akan pikirkan itu nanti. Untuk sekarang pemeriksaan awal adalah hal utama lalu, bagaimana dengan bunda mereka.


Andryatama kembali melihat ke seberang kolam renang, yang hanya ada 2 anak manusia di sana.


"layya bangun! Aku bilang bangu....".


"uhukkk....Hik...Uhukk...hikh...". Suara batuk dan nafas yang Ter engah engah yang datang dari layya sekaligus membuat rayyan bergeming di tempatnya. Dengan kedua manik matanya menatap layya.


Susah payah layya mencoba menarik nafasnya yang tersengal senggal sekaligus sangat sesak dan berat. Sedangkan kedua tangannya mencekram kuat baju kemeja rayyan, yang masih basah semua.


Layya sedikit bangun dari berbaring nya dengan menopang tubuhnya pada tarikan di kemeja rayyan.


"uhuk.. uhuk...". Suara batuk layya yang terus berlanjut setelah kesadarannya.


Rayyan bergeming. Perasaan membuncah apa yang ada di dalam dirinya sekarang. Ia senang sekaligus bahagia tidak! Sangat bahagia. Melihat layya yang sadar. Lega dan ...


Brukh...


Tidak mau memikirkan tentang perasaan dan rasa bahagia yang ia alami sekarang. Rayyan memilih menarik tubuh layya ke dekapannya dan memeluk nya erat.


Sangat erat hingga bahkan layya sulit bernafas.


"terima kasih layya! Terima kasih. Aku tahu kamu wanita kuat. Kamu bisa layya. Tentu kamu bisa". Racau rayyan di tengah kebahagian. Bibir rayyan terukir akan senyum ke gembiraannya.


'Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah!'. Batin rayyan senang sekaligus perasaannya yang sangat bahagia.


Dengan kekuatannya yang masih lemas. Layya berusaha memukul mukul punggung rayyan.


"hr...hr... Ray...?!". Panggil layya lemah.


Rayyan seketika membulatkan matanya. Ketika mendengar layya memanggil namanya, meski suara layya masih terlihat lemah.

__ADS_1


Segera menjauhkan tubuhnya dari layya sedang kedua tangannya memegang kedua bahu layya.


"hhh...Hahhh...Hik....hhh...". Suara nafas lega layya meskipun masih tersengal senggal.


"ya! Aku di sini". Jawab rayyan setelah menaikkan kedua tangannya dan menangkup wajah layya, untuk menatapnya.


Manik mata rayyan menjelajah setiap inci wajah layya di depannya. Wajah layya yang pucat. Juga kedua bibir layya yang masih bergetar begitu juga dengan tubuh layya.


Belum lagi kedua manik mata rayyan mendapati, betapa menderitanya layya saat menarik nafas.


Mendekat wajahnya ke layya. Seketika rayyan ******* kasar bibir layya. Keberadaan mami dan papinya di sana, beserta Reina dan juga beberapa maid di sana. Seakan akan tidak ada bagi rayyan.


Andryatama segera memalingkan wajahnya begitu juga yang terjadi pada Reina.


"Apa yang kalian lihat!". Bentak Andryatama pada beberapa maid di sana, yang bola mata mereka hampir melompat keluar melihat pemandangan yang di suguhkan tiba tiba di hadapan mereka.


"semua berbalik dan masuk ke dalam!". Perintahnya tegas sarat dengan suara dingin.


Buru buru maid di sana dengan jumlah mereka melebihi dari 15 kepala tersebut sontak berbalik berjalan masuk ke dalam hampir seperti berlari.


Tinggal satu yang baru saja tiba. Namun, sempat mendengar suara bentakan tuan besarnya sebelum sampai di samping Andryatama.


Melihat situasi di sana. Dia pun menunduk.


"tuan! Mereka sudah sampai". Ujarnya memberitahu.


"baiklah! Antar mereka ke kamar di lantai 3". Andryatama bangkit bangun di ikuti Yusuf yang berada dalam dekapannya.


Maid tersebut tersentak kaget dengan ucapan tuan besarnya.


Karna yang ia tahu selama 5 tahun bekerja di sini. Kamar di lantai itu di larang bagi siapapun masuk ke sana terkecuali untuk membersihkan seminggu sekali. Itu pun atas suruhan nyonya besar. Dan sampai saat ini belum ada siapapun yang bisa menempati dan berani masuk ke sana, meskipun itu para sepupu tuan muda atau keponakan tuan besar jika kemari. Selain itu. Kamar tuan muda waktu kecil, yang ia ketahui dari bi nana, pengasuh tuan muda. Di sana juga banyak terdapat koleksi mainan tuan muda dari kecil hingga sekarang.


"baik tuan!". Jawabnya sebelum berbalik.


Seminggu yang lalu saat cucu dari adik tuan besar kemari dan mereka mau naik ke kamar itu. Tuan besar dan nyonya besar sangat melarang keras dan sekarang.


Yang akan masuk ke sana bukan adik atau pun keponakan atau sepupu tuan muda. Akan tetapi para dokter dan perawat, yang sama sekali tidak ada hubungan darah. Dan tentu jumlah mereka akan lebih dari 5 orang.


Pertanyaan nya. Apa kedua anak kecil ini, Yusuf dan Maryam. Spesial? Atau...Sudah menjadi sangat penting. Karna seingatnya dulu. Nyonya besar pernah bilang. Kalau kamar tersebut akan di tempati oleh cucu beliau nanti. Anak daripada tuan muda.


Tidak mau memikirkan hal yang bukan urusannya. Maid tersebut semakin masuk ke dalam rumah. Berjalan ke depan untuk menyambut para awak rumah sakit dan akan menuntun mereka ke dalam rumah dan ke lantai 3.


Di kolam renang semua sudah berbalik melangkan masuk ke dalam rumah. Hingga hanya tinggal imelda, Andryatama dan Reina, yang jantungnya bisa saja melompat keluar kapan pun itu di mulai dari sekarang.


Ia yakin. Setelah hari ini. Apapun itu, tidak ada lagi yang bisa rayyan dan layya sembunyikan dari pak Andryatama dan Tante imelda.


Semua pertanyaan yang rayyan sungguhkan daritadi. Semua sudah terjawab.


"ayo masuk Imelda! Yusuf dan Maryam butuh di periksa segera!". Ajak Andryatama setelah bangkit berdiri dan melangkah selangkah. Namun, saat merasakan istrinya tidak mengikuti Andryatama kembali berbalik menoleh menatap Imelda.


Kedua manik mata Imelda yang awalnya membulat karna terkejut sekaligus shock. Saat melihat aksi putranya yang begitu tiba tiba. Kini, Berwajah datar dengan segala pemikiran muncul di kepalanya. Sedangkan kedua manik matanya masih setia menatap ke depan. Ke putranya yang sedang mencium layya dengan sangat bernafsu.


Layya mencekram kuat kemeja rayyan. Tidak kuasa dan tidak berdaya semua anggota tubuhnya jika sudah di hadapkan dengan ciuman gila rayyan. Ia mengerang dan rasanya ingin berteriak untuk menyuruh rayyan berhenti. Akan tetapi. Semua anggota tubuhnya melarang untuk ia lakukan itu. Darah nya berdesir ingin meminta lebih sekaligus tubuhnya sekarang yang haus akan kehangatan tubuh rayyan.


"hahhhh...". Suara nafas rayyan setelah melepaskan ciuman keduanya.


"hhh...Hhhray...!". Susah payah layya mengeluarkan suaranya.


Beralih ke manik mata rayyan, yang sudah sangat sangat bergairah dalam menatap layya.

__ADS_1


Kembali mendekatkan wajahnya dan kembali ******* bibir layya yang sudah membengkak sedikit.


Rayyan menyapu semua hingga sampai ke ciuman panas keduanya, yang akan sangat sangat sulit untuk layya hindari.


Layya memberontak berusaha menolak tubuh rayyan sekuat tenaganya yang masih lemah sekarang. Namun, hal tersebut tidak di biarkan oleh rayyan.


Rayyan mendekat rapat ke tubuh layya hingga tidak ada jarak setipis apapun. Tubuh keduanya berlempet satu sama lain. Sedangkan satu tangan rayyan berada di tengkuk layya dan satu lagi berada di pinggang layya. Membuat kepala layya mendongak ke atas dan semakin leluasa bagi rayyan dalam meng akses ciuman nya.


Mengerang dan terus mengerang. Itulah yang rayyan lakukan. Ia tidak mau melepaskan. Ia mau lebih, lebih dan lebih.


Layya yang di buat gila dan frustasi karna tidak bisa melawan. Terpaksa mengikuti permainan rayyan dan tanpa membalas.


Layya yang kedua tangannya masih mencekram ke meja rayyan semakin mengeratkan cekramannya. Saat merasakan ciuman rayyan menjadi semakin gila dan panas akan gairah rayyan.


'gila! Rayyan gila'. Umpat batin layya.


"ah...". Suara jeritan tertahan layya saat tiba tiba tubuhnya melayang ke udara dan sekarang berada dalam gendongan rayyan.


Masih dengan nafasnya yang naik turun serta tatapan matanya yang dalam gairah. Rayyan menatap layya.


"kita ke kamar! Kamu harus berganti baju. Tapi sebelum itu, kamu harus berendam dengan air hangat dulu. Lalu setelah nya baru boleh istirahat dan...".


"Yusuf Maryam! ...Bagaimana dengan mereka". Potong layya cepat saat menemukan kekuatannya.


Rayyan tersentak terkejut dan dengan cepat melihat ke sekitarnya. Namun, rayyan tidak menemukan siapapun lagi di sana. Hanya tinggal dirinya dan layya.


"mereka pasti baik baik saja layya! Sekarang kamu pikirkan dirimu dulu dan jangan meminta untuk melihat mereka sebelum kamu memulihkan tubuhmu. Itu tidak akan terjadi". Rayyan berbalik berjalan masuk ke dalam rumah.


"tapi ray aku...".


"aku akan melihat mereka. Kamu pulihkan tubuhmu dulu atau...". Rayyan menghentikan langkahnya. Menatap layya.


"Kamu mau aku yang menghangatkan tubuhmu layya? Dan jika itu terjadi. Aku tidak bisa jamin kamu bisa berjalan dengan normal besok". Sambung rayyan lalu kembali melangkah. Wajah rayyan sangat datar dan dingin. Sama sekali ucapannya tadi bukanlah sebuah candaan.


Kedua mata layya membulat lebar. Sebelum ia beralih melihat ke arah lain. Membenamkan wajahnya ke dada bidang rayyan.


"aku akan membalas mu setelah ini!". Ancam layya masih dengan suara lemahnya.


Mendengar hal tersebut rayyan mendengus dan terkekeh keji.


"ya! Lakukan itu layya. Aku akan menunggu". Daripada kamu diam tidak sadar seperti tadi. Kamu seperti membunuhku layya. Sambung rayyan dalam hati.


🌸🌸🌸🌸🌸


Pemberitahuan...


Saya akan selalu update dan insyaallah akan menamatkan cerita ini.


Namun. Saya tidak bisa update setiap hari rutin. Karna saya juga punya kesibukan lain.


Tapi. Saya akan update paling cepat 2 hari sekali dan paling lambat 3 hari sekali.


Because. Saya juga punya kerjaan lain, yang harus saya pikirkan juga.


Semoga teman teman semua setia menunggu dan sabar ya???


See you...


Next Episode...β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈπŸ™πŸ™πŸ™βœοΈβœοΈβœοΈπŸ’šπŸ’šπŸ’š

__ADS_1


__ADS_2