Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 105


__ADS_3

"hahhhh....". Helaan nafas yang keluar dari mulut layya. Sembari dirinya menyendarkan punggungnya ke sandaran kursi di belakangnya. Kursi kerja.


Ya. Layya sudah berada di perusahaan tempatnya bekerja dan di ruangan kerjanya.


Tadi pagi pagi sekali. Setelah melalukan chek up kembali. Seperti perkataan dokter wanita itu semalam. Hari ini ia di bolehkan pulang dengan syarat. Besok ia harus ke rumah sakit lagi untuk mengecekan. Karna terlalu lama tidak sadarkan diri di dalam air. Di tambah di darat. Hingga paru parunya terisi penih air. Dan itu membuat paru parunya tidak bekerja normal seperti biasa. Mungkin baginya, ia rasakan sekarang, ia baik baik saja dan sangat normal.


Tapi dokter bilang. Itu akan berefek nanti jika tidak segera di atasi. Dan ya. Pria itu benar.


Mengingat rayyan kembali.


Layya mendesah berat.


Kedua tangannya naik, menangkup wajahnya.


Layya terlihat frustasi saat teringat sesuatu.


'gila! Ini benar benar gila, tidak! Aku yang gila. Ya, aku yang gila di sini'.


'sial!'.


Layya menegakkan punggungnya.


"bagaimana itu bisa terjadi coba?!". Tanya layya ke dirinya sendiri.


Layya kembali merebahkan punggungnya kebelakang.


Mengusap wajah dengan kedua tangannya sesaat. Sebelum kemudian Kembali menangkup. Namun, sedikit terbuka. Matanya menatap kosong ke depan. Sedang pikirannya berada di tempat lain.


'ini benar benar gila!'.


'ya! ini benar benar gila!'.


Ingatan Layya kembali ke rumah sakit. Di mana ia menginap di sana semalam. Dengan rayyan yang menemaninya. Namun, siapa sangka? Hal begitu terjadi lagi.


"aku benar benar sudah gila!".


Hahhhh...


Helaan nafas Lagi lagi keluar dari mulut layya.


Layya menegakkan tubuhnya, membungkukkan punggungnya sedikit. Menyandar keningnya ke meja kerja di depannya. Dengan kedua tangan yang terlipat menjadi bantal untuk keningnya.


'bisa bisanya aku melakukan it...Tidak. Bisa bisanya aku bertindak segila itu!...Hahhh...'.


'....'


'di pikir bagaimanapun. Sulit menolak pesona pria itu dan...'.


"Arghhh....". Dalam sekejap layya melompat berdiri dari duduknya. Setelah berteriak frustasi. Dengan kepalanya mendongak ke atas sedang kedua tangan menjambak kepalanya sendiri yang tertutup kain.


"kenapa aku melakukan itu sih...? ". Layya mendesah lelah sembari menjatuhkan bokong nya kembali duduk di kursi dengan frustasi.


'dan bagaimana sekarang jika aku bertemu dan melihatnya...? ...'.


"aku tidak akan berani!...Itu kesalahan ku". Ya...100,100, 100 % lagi, Itu murni kesalahanku.


Hahhhhh....


'bisa gila aku!'.


Pesona pria itu memang sangat br*ngs*k! Dan ya. Aku terpancing oleh ke br*ngs*kan itu. Ckck...'.


'kamu benar benar layya? '. Pasrah layya.


Ia yakin. Baik besok atau seterusnya. Ia tidak akan berani melihat wajah rayyan lagi....


"Arghhhh...Apa yang sudah aku lakukan sih...?!". Erang layya frustasi.


"memang apa yang sudah kamu lakukan?!".

__ADS_1


Suara dari arah pintu ruangan kerja layya. Seketika saja membuat layya tersentak terkejut. Ia buru buru memperbaiki duduk nya menjadi tegak.


Layya menarik nafas.


Klek...


Nadia menutup pintu di belakangnya. Setelahnya berjalan mendekat ke meja kerja layya. Dengan satu berkas berada dalam pelukan nya.


"Bukan apa apa! Juga...Seharusnya kamu mengetuk pintu dulu bukan...? ...Dan sejak kapan, kamu sudah berdiri di sana...?!


..Kamu mengangetkan ku". Tambah layya kesal di ujung kalimat. Yang nyaris seperti gumaman.


Namun, bisa terdengar oleh teman kerjanya tersebut. Nadia.


Nadia berhenti dan berdiri tepat di depan meja kerja layya.


"apa aku pernah mengetuk dulu sebelum masuk?...Kamu aneh hari ini. Oh ya? ...Ini...Laporan yang kamu minta!". Sodor nadia berkas yang di peluknya.


Layya menarik kursi kerjanya hingga dekat dengan meja. Meraih berkas yang di sodorkan nadia.


"ku rasa mulai sekarang. Aku harus membuat peraturan itu!". Ujar layya lemas dengan gumamannya sembari dirinya membuka berkas di hadapan nya.


Nadia yang bisa mendengar hal tersebut. Mengedikkan bahunya acuh.


"oh ya! Terima kasih ya nad...?...Kamu bisa kembali ke pekerjaanmu!".


"itu sudah tugasku layya...? Tapi... Apa terjadi sesuatu? ...2 hari yang lalu. Mendadak kamu minta cuti. Dan hari ini kamu kembali. Itu pun dari rumah sakit. Kamu lagi sakit? ... Sakit apa?!".


Layya menaikkan tatapannya dari berkas ke nadia. Teman kerjanya sekaligus sekretaris nya. Yang membantu nya dalam mengurus setiap kontrak kerja yang datang.


Dan tentu saja sekretaris nya ini tahu. Karna tadi ia menghubungi sekretaris nya ini melalui telepon rumah sakit. Untuk menjemput nya. Di sebabkan. Tas dan ponselnya berada di rumah Rayyan Andryatama.


"nanti akan aku cerita! Kamu makan siang di mana?!".


"aku rasa di kantin. Banyak pekerjaan, jadi biar cepat kembali. Bagaimana denganm...? Ah...Kamu harus mengecek lokasi di jam makan siang. Aku prihatin untukmu!".


"ckck...Terima kasih. Kau boleh keluar sekarang!". Usir layya canda.


Hahhhh.


Layya kembali menghela nafas.


'aku bahkan tidak berselera untuk makan!'.


Mungkin akan lebih baik setelah pulang dari sini, kerja. Ia bertanya ke ayrin. Meskipun reaksi ayrin nanti sudah bisa ia tebak. Tetap saja. Ia butuh seseorang sekarang, untuk mendengarkan ke gilaannya semalam.


'sial'.


'di pikir bagaimana pun. Ini tidak masuk akal. Aku benar benar sudah gila!'.


'Arghhhh...'.


Tak...


Layya membanting pena ke meja.


"bagaimana bisa aku fokus bekerja...? Di saat pikiranku tidak di sini? Hahhhh...".


Layya meletakkan wajahnya ke atas meja. Dengan posisi menyamping.


"tapi ngomong ngomong...Ayrin sudah sampai belum ya? ".


Ya. Tadi saat layya menghubungi sahabatnya ini yang pertama di rumah sakit. Untuk menjemput nya di sana. Ayrin bilang, dia baru mau berangkat kembali ke sini.


Klek...


"layya? GM mencarimu". Panggil nadia setelah membukakan sedikit pintu dan mencondongkan kepalanya ke dalam.


Layya kembali menegakkan tubuhnya. Melihat ke pintu begitu suara pintu terbuka.

__ADS_1


Layya mengernyit. Lalu beralih melihat ke gagang telepon di meja kerjanya.


'biasanya GM selalu menelpon nya langsung. Jika perlu dengannya'.


"katanya sudah menghubungi ruanganmu. Tapi tidak masuk!".


Layya beralih melihat ke nadia lagi sebelum kembali melihat ke gagang telepon di depannya.


"benarkah..? Apa ini rusak...?!". Layya meraih gagang telpon yang berwarna merah tersebut.


"benarkah?!". Nadia bertanya balik sembari melihat ke gagang telpon yang di pegang layya.


"soalnya tadi aku menghubungi ayrin temanku , tapi tidak masuk". Layya meletakkan kembali gagang telpon.


"mungkin, sepertinya!".


"baiklah, aku ke sana sekarang! Oh nadia? Tolong kamu panggilin tim servis perusahaan untuk membetulkan ini, aku rasa aku akan lama di ruangan GM. Kamu tahu sendiri". Layya bangkit berdiri. Berjalan ke pintu keluar ruangan kerjanya.


Nadia tersenyum tertawa kecil.


"tentu saja. Terutama kamu cuti tiba tiba kemarin, dan para klienmu melampiaskannya pada GM".


Ckck...


Layya mendecak kesal. Ia berhenti sejenak di ambang pintu.


'jika ia perlu menyalahkan seseorang. Maka orang itu adalah Rayyan Andryatama.


"aku pergi!". Ucap layya lemas.


Nadia tersenyum lembut.


"hm. Semangat lah!". Nadia menutup pintu ruangan layya. Sembari melihat punggung layya. Yang lemas dan seperti ogah untuk keruangan GM.


Namun, jika layya tidak ke sana. Maka GM lah yang akan ke ruangan layya. Dan saat itu terjadi. Ucapkan selamat tinggal pada makan siang layya dan juga dirinya.


🤍🤍🤍🤍🤍


"hahhh...". Desahan berat yang keluar dari mulut yusuf. Sembari dirinya menatap penampilan pria dewasa di depannya.


Rayyan yang sedang menikmati guyuran air shower dari atas kepalanya. Dengan tampilannya yang tanpa sehelai benangpun melekat di tubuh Ramping dan six pack nya.


Yusuf berdiri tegak dan angkuh. Dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.


Melihat, memperhatikan rayyan di depannya. Dari ujung kaki hingga kepala rayyan. Lalu kembali beralih, dari ujung kepala hingga ke kaki rayyan. Melihat meneliti tubuh pria dewasa di depannya.


"aku bertanya tanya. Apa yang di lihat bunda dari mu!".


Ctack...


Rayyan segera mematikan kran shower di depannya. Begitu suara kecil manusia masuk ke gendang telinganya dan ia tidak bertanya tanya lagi siapa dia. Karna tidak ada lain anak kecil di rumah ini, sekarang. Kecuali kedua anaknya. Dan suara tadi adalah. Suara kecil dari seorang laki laki. Yaitu yusuf putranya satu satunya. Sebelum ada yang lain, Nanti. He he he...


Kekeh keji rayyan dalam hati.


Rayyan celingak celinguk. Mencari sesuatu di dekatnya untuk menutupi tubuhnya. Terutama bagian paling bawah.


"hey boy? Bisakah kamu tunggu di luar? Aku akan segera keluar". Rayyan berdiri menyamping dengan kedua tangannya menutupi bagian bawahnya. Sedang dirinya menoleh menatap yusuf, yang berdiri di depannya tanpa bergeming.


"your my daaaaddy?!".


Kata kata yang secepat kilat lolos dari mulut bocah kecil di hadapan rayyan. Sukses membuat semua bagian tubuh rayyan berhenti bekerja. Rayyan mematung di tempat.


Bagi rayyan. Suara yusuf dan 3 kata yusuf itu, bagaikan alunan nada yang paling sangat sangat indah di dunia ini dan belum pernah ia dengar sebelumnya.


Sedangkan bagi siapapun yang mendengar 3 kata yusuf tadi. Tentu langsung bisa mengetahui kalau 3 kata itu. Yang keluar dari mulut Yusuf. Tidak lebih seperti nada tidak terima dan tidak mau mempercayainya. Kalau rayyan adalah papanya yang sebenarnya.


Karna sejauh ini. Darinya kecil. Darinya mulai bisa bicara hingga berjalan. Yang ia kenali daddynya dan ia sukai daddynya adalah...


Daddy Bunda.

__ADS_1


Daddy Rendra.


__ADS_2