
Beberapa menit sebelumnya...
Kamar Bernuansa coklat dengan lampu kristal sederhana menghiasi atap langit kamar tersebut.
Rayyan yang berada di atas tubuh layya dengan mencekal kedua tangan layya di atas kepalanya.
Layya menatap rayyan di atasnya dengan manik matanya yang melebar terkejut.
Ucapan rayyan beberapa detik yang lalu, masih berdengung indah di telinga kanannya, berhenti di telinga kirinya dan mengalun alun indah di dalam kepala cantiknya. Membuat andrenalin tubuhnya bersiap untuk melindungi diri.
Layya sudah akan menendang perut rayyan menggunakan lututnya sebelum suara yang sangat menjengkelkan terdengar.
Ya. Suara rayyan yang terkekeh dan detik selanjutnya. Pria ini tertawa ngakak. Bahkan kepalanya sampai jatuh menekan ranjang sedangkan kedua tangannya memegang perutnya.
Layya yang setengah berbaring. Kedua siku nya menopang tubuhnya menatap melihat rayyan di samping nya.
Tidak perlu ia pertanyakan lagi. Kenapa pria ini tertawa. Karna ia sudah jelas jawabannya adalah pria ini mengerjainya.
"aha ha ha.. ha ha.. ha ha...layya? Wajahmu yang shock sangat lucu tadi ha ha ha ha ha...Hah..hhh..Kamu benaran berpikir aku akan melakukannya? Ha ha ha...". Tertawa rayyan lagi setelah menarik nafasnya dan menahan tawanya saat berbicara namun sepertinya sulit untuk di tahan.
Rayyan yang sudah duduk namun masih tetap memegang perutnya sambil sesekali mengeluh perutnya sakit. Karna apa. Tentu saja karna tawanya.
Layya menarik nafas santai menatap rayyan.
"apa menyenangkan bagimu Ray?!". Tanyanya dengan ekspresi wajah mau menelan rayyan hidup hidup.
"hah? pfftt.. Ha ha ha". Ketawanya lagi setelah menatap layya sekilas.
"aduh sebentar layya? Perutku sakit ha ha ha". Tawanya yang terdengar sudah ringan di banding tadi.
Rayyan memposisikan duduknya dengan bagus dengan menjulurkan kakinya ke depan lalu sedikit ia lipat saat sebelah tangannya memegang perutnya menahan tawa. Sedangkan satu lain ia topang di ranjang.
"ha ha ha hh..layya? Bukankah aku sudah pernah bilang? Aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuan darimu. Kamu melupakan itu? Ha ha ha...Ekspresi mu tadi benar benar lucu.". Tawa rayyan lagi yang sepertinya sangat menyenangkan baginya.
Layya menatap itu santai. Senyum keji terukir dari bibirnya saat satu ide terlintas di pikirannya.
'tidak salahkan? Jika aku membalasnya? Akan aku buat dia menyesal karna telah mengurungku di sini bersama ya'.
Tanpa rayyan lihat. Layya membuka hijap yang berbentuk persegi panjang pashmina berwarna coklat pudar lalu di susul dengan Ciput warna Cream. Melepaskan ikatan rambutnya hingga membuat rambutnya yang panjang dan hitam terurai indah.
Masih dengan menatap rayyan. Layya tetap melakukan aksinya. Membuka satu persatu kancing baju setelan kerjanya hingga habis dan melepaskannya dengan santai.
'aku akan membalas nya'. Itulah kata kata dalam batin layya terus menerus saat menatap rayyan yang duduk di bawah kakinya.
Hingga hanya menyisakan baju putih kaos. Daleman setelan jas. Layya bangkit dari tempatnya duduk di atas ranjang. Berjalan pelan ke rayyan.
Hal tersebut membuat rayyan menghentikan tawanya. Menaikkan pandangan nya mau melihat layya dan kenapa kasur sedikit bergerak. Namun terlambat baginya untuk terkejut. Layya sudah duduk di atas pangkuan nya dengan mata yang menatapnya merayu.
"la-layya?... A-apa yang kamu lakukan..? Turunlah...Ini tidak baik!". Ujar rayyan dengan suaranya yang sedikit parau dan terbata sekaligus gugup dalam waktu bersamaan.
Ia mendongak menatap layya di hadapannya dengan kedua tangannya sigap menangkap pinggang layya tadi saat layya menduduki pangkuannya.
Layya tersenyum jail.
"kenapa? Bukankah kamu bilang tadi, kamu hanya perlu persetujuan ku? Dan bukankah ini lebih dari cukup?!". Rayu layya sembari jemarinya menulusuri tengkuk rayyan. Dalam hati layya merutuki dirinya sendiri karna terlalu berani dan tunggu.
'darimana aku belajar suara dan kata kata merayu begini?'. Batin layya menjerit di dalam sana dan ingin segera melompat dari ranjang serta hilang dari pandangan rayyan.
Rayyan mengerang tertahan.
"layya kamu memancing hal yang tidak seharusnya kamu pancing! Kamu mengerti maksudku bukan?!".
Layya memaksa senyum. Tidak. Sangat sangat memaksa ukiran senyuman di bibirnya.
"itu artinya aku harus menanggung akibatnya, benar?!". Layya masih bergeming di tempatnya.
__ADS_1
"tapi sekarang masih sore!". Dengan susah payah rayyan mengeluarjan suaranya, tetap berbicara meskipun ingin segera menerjang layya.
"itu artinya kamu menolakku?!". Layya masih tetap merayu rayyan.
Rayyan terkekeh sebelum menjawab.
"jika aku bisa. Tapi nyatanya aku tidak bisa! Kesempatan tidak bisa di sia siakan. Aku tidak tahu kapan kamu akan berubah pikir...".
Cup..
Ucapan rayyan di bungkam dengan kecupan oleh layya.
Rayyan mematung, nafasnya seketika tertahan sedang manik matanya menatap wajah layya.
"enggak suka?!". Ujar layya sensual. Jarinya menulusuri sisi wajah rayyan.
Rayyan lagi lagi mengerang.
"kamu yang mulai layya".
"I know!". Jawab layya cepat. Dan mari akhiri secepatnya juga. Sambung layya dalam hati.
Beberapa saat keduanya hanya diam dan saling menatap satu sama lain. Rayyan menatap layya dengan nafsu dan gairah yang di bangkitkan layya sedangkan layya menatap rayyan jijik.
Ingin sekali dirinya memukul atau menonjok wajah pria ini tapi tidak sekarang. Akan tetapi.
Bungkaman yang rayyan lakukan tiba tiba pada layya membuat lamunan layya buyar seketika dan kembali fokus pada rencananya.
Rayyan memberikan ******* demi ******* pada layya begitu juga layya yang ikut membalas hingga membuat rayyan menggeram tertahan.
"hahh...hhh..". Deru nafas rayyan begitu ciuman mereka terputus dan rayyan menjauhkan wajahnya sejenak dari layya menatap layya, yang masih terlihat santai.
Santai?. Tidak. Layya sedang mengumpat dirinya sendiri.
"layya ak...".
Rayyan yang sudah di ambang batas tidak peduli lagi hari yang sudah sore bahkan hampir Maghrib. Ia membalas ciuman layya dengan kasar namun sukses membuat layya menggila.
Layya ingin melepaskan diri dan lari dari ciuman rayyan. Tubuhnya benar benar tidak sanggup untuk menerima. Tidak. Ia tidak akan pernah bisa.
Memejamkan matanya rapat rapat dengan terpaksa layya membalas ciuman rayyan meskipun tidak sebanding dengan rayyan yang sangat berpengalaman.
Layya mendorong tubuh rayyan agar terbaring tanpa melepaskan ciuman mereka. Rambut panjang layya menutupi wajah keduanya dari sisi kanan layya.
Selanjutnya. Layya melancarkan aksi dan rencanannya. Membalas rayyan juga keluar dari sini.
Layya Menjambak rambut rayyan dengan kedua tangannya di sertai memperdalam ciuman mereka. Dan itulah kelemahan pria ini.
Rayyan akan menggila bahkan tidak sadar lagi, siapa yang sedang berciuman dengannya jika berciuman dan membelai kepalanya lalu menjambaknya sensual.
Dan benar. Rayyan menggila.
"layya?!". Suara erangan rayyan sebelum kembali mencium layya.
Layya tersenyum keji dalam hati. Menurunkan satu tangannya ke bawah. Mencari letak kantong celana rayyan.
Dan sialnya. Untuk Hal ini. Ia harus mengorbankan dirinya sendiri. Mungkin benar kata sebagian orang. Kalahkan laki laki dengan nafsunya. Dan dia akan berlutut padamu. Berikan dia gairah dan dia akan memberikan apapun yang kamu mau. Sangat cocok untuk seorang istri dalam menaklukkan suaminya. Tapi tidak untuknya.
Layya sudah akan menemukan sebelum rayyan membalik ke adaan. Yaitu dengan.
"ah.. ". Suara terkejut layya saat tiba tiba tubuhnya di balik rayyan hingga sekarang berada di bawah rayyan.
"ternyata kamu sudah sangat tidak sabar istri? ".
Layya mengerjap bingung. Ia tidak mengerti dengan ucapan rayyan namun layya kembali menelan pertanyaan yang timbul dari otaknya saat menyadari satu tangannya berada di mana dan yang ia pegang ini adalah.
Layya seketika melebarkan matanya.
__ADS_1
'demi apa? Demi apa aku sampai bisa memegang ini?!'. Jerit batin layya sembari menjauhkan tangannya dari sana.
'tidak, tidak! Ini tidak baik. Ini tidak seperti yang ia rencanakan??'. Lagi lagi batin layya menjerit.
Layya meringis saat jemari rayyan menulusuri wajahnya hingga berhenti tepat di bibir nya.
'kenapa ke adaannya terbalik sekarang? Tidak. Aku tidak akan membiarkan pria ini se enak jidatnya'.
"Ray? Aku mau di atas. Jika tidak bisa mari batalkan ini".
Mendengar kekehan rayyan layya mendecak dalam hati.
"sayangnya aku bisa gila jika kamu di atas layya? Kamu harus berpikir ulang".
"ya atau tidak!".
Lama keduanya bertatapan. Hingga. Rayyan menghela nafas berat. Menurunkan tubuhnya dan tidak lupa membawa tubuh layya bersamanya berguling ke samping.
"sudah? Dan jangan Jambak rambutku layya? Aku bisa gila dan bisa menyakitimu". Rayyan nyaris hampir memohon. Kelemahannya ini hanya layya yang tahu.
Meskipun ia pernah tidur dengan Reina namun ia tidak pernah sekalipun membiarkan Reina menyentuh rambut nya apalagi memegang kepalanya dan apalagi menjambaknya.
"aku suka. Membuat mu gila aku suka. Kamu tahu itu". Ya. Dulu. Sangat dulu. Tapi tidak sekarang lagi rayyan.
Namun sekarang. Aku akan membalasmu dengan itu.
Rayyan akhirnya mendesah dan pasrah.
"aku tidak akan membiarkan mu lepas!".
"mari kita lihat!". Tantang layya balik.
Rayyan tersenyum penuh arti sebelum kembali ******* layya dan benar benar tidak membiarkan layya lepas.
Layya membiarkan. Sementara dirinya fokus pada kantong rayyan. Kembali menurunkan tangannya dengan sangat susah payah Dan sama sekali bagi layya tidak menikmati ciuman itu. Sama sekali tidak.
Layya memasukkan satu tangannya ke dalam kantong rayyan. Ia mengumpat saat mendengar erangan dari rayyan.
Layya tersenyum sekaligus hatinya sangat senang saat benda yang ia cari akhirnya ia dapatkan.
Layya memegang erat benda tersebut yaitu kunci pintu kamar.
Menggepal di tangannya kunci. Segera layya menjauhkan wajahnya dari rayyan dan selanjutnya.
Bukh...
Hantaman kepalan tangan layya yang di dalamnya berisi kunci kamar menghantam wajah rayyan.
Layya bahkan sedikit meringis sakit sembari menggoyang goyangkan tangannya. Akibat meninju wajah rayyan. Inilah salah satunya ia mau di atas maka dengan mudah bisa lepas dari rayyan dan bisa mengambil kunci tersebut.
Layya melompat turun dari ranjang. Meraih hijapnya lalu di ikuti Ciput. Memakainya cepat dan terakhir setelan jas kerjanya.
Layya berjalan ke pintu tanpa peduli rayyan yang di atas ranjang. Terduduk dengan setengah bungkuk sembari memegang sudut bibirnya, yang mengeluarkan darah. Ia Meringis sedikit.
Rayyan sangat mau mengejar layya dan mengurungnya di bawah tubuhnya. Tapi sayangnya, sekarang bahkan ia tidak bisa untuk sekedar berjalan. Sial.
"layya aku akan membalasmu!". Rayyan sangat berusaha untuk Bersuara.
"bodoh?!". Acuh layya setelah membuka pintu dan melenggang keluar dari sana. Sesaat layya setelah membuka pintu melihat dulu siapa di luar dan saat merasa semua aman, tidak ada orang. Layya baru keluar.
"sialan kamu layya!". Umpat rayyan dalam erangan kesakitannya.
"aku akan membalasmu LAYYA?!". Teriak rayyan seorang diri di dalam.
Layya berjalan ke arah menuju kolam renang dengan senyum senyum kesenangan. Ia berhasil membalas pria itu. Ia yakin itu bahkan sangat menyakitkan.
Tanpa layya ketahui. Seseorang di belakangnya. Melihat layya keluar dari kamar tersebut bahkan seseorang tersebut sempat mendengar suara rayyan dari dalam.
__ADS_1