
Trang.
Trang.
Trang.
Ciitttt.
Klang.
Dengan posisi miring dan menyamping dan kedua tangan terlipat di depan dada. Layya bersandar di pintu. Melihat memperhatikan ke depan. Detik berikutnya raut wajahnya terlihat kesal dan jengkel.
"Kamu meminta waktuku 2 jam. Hanya untuk menyuruhku menonton mu olahraga? Kamu serius?!"
Klang.
Rayyan yang sedang menyiapkan alat alat gym yang dia butuhkan. Menoleh melihat Layya. Detik berikutnya dia melihat ke arah samping Layya. Dimana ada meja serta sofa kecil untuk bersantai.
"Duduklah di sana Layya. Aku tidak akan lama. Sudah lama aku tidak melakukan ini. Kamu sudah sarapan?"
Rayyan bersiap siap mengangkat besi panjang yang sudah dia persiapkan.
Layya berjalan pelan sembari melihat arah yang di tunjuk Rayyan.
Dan benar saja. Di sini juga ada ruang bersantai. Bahkan...
"Kolam renang?!" Tanya Layya tidak mengerti sembari berbalik melihat Rayyan.
Sekilas Rayyan melihat Layya sebelum menjawab.
"Bukankah berenang juga termasuk dari salah satu olahraga Layya! Aku, mami dan papi suka melakukan nya ketika habis olahraga berat," Jelas Rayyan.
Layya mengangguk angguk mengerti.
Layya kembali melihat ke sekelilingnya. Dimana tempat gym pribadi yang bisa ia golongkan dalam kategori mewah.
__ADS_1
"Aku tidak pernah melihat bagaimana tempat gym dan ini pertama kali. Apalagi tergolong pribadi. Tapi apa semua tempat gym memiliki tempat santai begini?" Tanya Layya begitu dia berada di ruang tersebut dan memperhatikan sekitarnya. Terlebih designnya.
"Ahh.." Lenguhan lega Rayyan setelah habis melakukan satu ronde olahraga nya, mengangkat besi. Dan ia beralih ke peralatan lain.
Dengan posisi berdiri sembari melihat Layya dari balik kaca besar di hadapannya. Rayyan kembali menjawab keingintahuan Layya.
"Mami dan papi sering melakukan itu. Bersantai, setelah melakukan olahraga bersama. Mereka akan minum teh atau snack ringan di sana. Dan terkadang tempat itu. Di jadikan mami buat menemani papi olahraga. Terkadang mami malas olahraga,"
Rayyan mengangkat dan menaik turunkan alat gym. Dumbbell. Di kedua tangannya.
Sedang Layya. Perlahan mendaratkan bokongnya di sofa kecil di sana sembari memperhatikan aktivitas Rayyan.
"Jadi ini rahasia membentuk otot mu itu?!" Tanya Layya datar tanpa perasaan apapun.
Layya santai melihat Rayyan. Karna Rayyan menggunakan baju kaos dan celana pendek olah raga. Dan entah sejak kapan dia berganti. Ia tidak tahu. Karna sebelum masuk ke ruang ini. Lebih tepat di kamarnya tadi. Pria ini masih menggunakan baju kaos santai dan celana jeans pendek. Namun, begitu masuk dan sampai di sini. Pria ini tiba tiba sudah ada di depannya dengan pakaian yang sudah di ganti dengan baju olahraga. Dan di tambah semua pakaian itu bermerek. Lalu sekarang sudah basah oleh keringat.
Mendengar kalimat Layya. Rayyan terkekeh geli.
Seperti yang Layya katakan. Baju Rayyan sudah di basahi oleh keringat dirinya sendiri. Dan itu sangat membuat Layya terganggu lebih tepat. Jijik.
Layya memilih mengalihkan matanya ke tempat lain. Ke kolam renang yang tidak berukuran besar, tidak juga kecil.
"Aku dengar dari yusuf kamu mengomeli pria yang bertelanjang dada. Benar?!"
Layya kembali melihat Rayyan.
"Maksudmu Rendra?!"
Rayyan mendecak tidak suka.
Layya kembali melihat ke arah kolam renang sebelum menjawab Rayyan.
__ADS_1
"Bukankah itu hal yang wajar? Tidak baik untuk Yusuf dan Maryam melihat hal seperti itu. Tapi bukan berarti Rendra sengaja melakukan itu. Hari itu mereka berempat pergi dan pulang pulang kehujanan. Rendra melepas bajunya yang basah dan bertelanjang dada. Tanpa Rendra sadar Yusuf dan Maryam ada di depannya. Mungkin hari itu yang di maksud Yusuf."
Rayyan mengernyit memperhatikan Layya. Setelah menghentikan aktivitas nya.
"Baik dulu maupun sekarang. Dengan berbagai penjelasan. Kamu selalu menomor satukan kalau dia tidak bersalah Layya. Apa kamu sadar itu? Ah... Meski aku akui dia sama sekali tidak bersalah di situ. Tapi penjelasan mu yang panjang lebar itu. Aku tidak mau mendengar nya Layya. Padahal kamu cukup menjawabnya iya atau tidak. tapi namanya selalu benar bagimu," Itu yang aku tidak suka.
Klang.
Rayyan membanting Dumbbell di tangannya saat meletakkan balik ke tempat semula. Dia beralih ke alat lain.
Namun sebelum melakukan olahraga lain. Rayyan melepaskan bajunya dan melempar asal di sana.
Sehingga memperlihatkan otot otot tubuhnya. Dari pinggang hingga ke tulang lehernya.
Layya yang melihat dan memperhatikan Rayyan yang sedari tadi. Apalagi ketika marah dan jengkel jengkel yang tidak jelas. Kini kedua manik matanya melebar melotot ke Rayyan. Detik berikutnya Layya membuang wajahnya ke samping.
Kedua pipinya sudah merah merona sedang wajahnya sudah merah padam. Mengangkat kedua tangannya. Layya menangkup kedua pipi lalu selanjutnya Layya menutupi wajahnya yang panas bahkan sudah sampai telinganya.
'Apa yang pria itu lakukan? Apa dia sengaja? Dia tahu betul aku... eughhh...' Layya melenguh saat sadar kelemahannya sangat sangat di ketahui oleh pria ini.
"Rayyan pakai bajumu sekarang. Kalau tidak aku akan keluar dari sini." Ancam Layya tanpa ingat pernjanjian awal mereka ada di situ.
"Lakukan lah dan undangan itu akan mendarat ke Direktur mu. Sejam sesudah kamu keluar dari sini."
Doeng...
Kosong. Pikirannya kosong seketika. Kenapa ia melupakan itu. Ugh.
Ya. Setelah perdebatan panjang tadi di kamar Rayyan. Ia mengambil keputusan memilih menemani Rayyan selama 2 jam. Dari pada pria ini memberikan undangan yang sangat berharga itu untuk Direktur nya. Dan meminta waktunya lebih dari 2 jam. Tentu ia yakin pria gemuk itu. Akan menerima dengan suka rela. Dia mata duitan, Direkturnya.
Layya merapatkan kedua giginya karna kesal.
"Apa kamu nggak kerja Ray? Jam segini masih di sini dan masih berolahraga. Aku lihat banyak CEO CEO lain. Jam segini sudah di kantornya dan sudah memimpin beberapa rapat. Apa kamu bukan pemimpin yang patut di contoh?"
Rayyan berbalik melihat Layya. Dan saat itu pula ide jailnya muncul.
"Lalu kenapa kamu melihat ke arah lain? Bukankah aku sama seperti pria lain? Kamu harus mengomeli ku," Rayyan berjalan mendekat ke Layya.
__ADS_1
Layya yang insting nya tajam jika sudah di hadapkan dengan pria bernama Rayyan Andryatama. Otomatis menoleh melihat ke samping. Dan detik itu pula. Layya melompat berdiri dari duduknya sembari melihat gerakan Rayyan yang berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Jangan macam macam Ray? Dan berhenti di sana. Jika tidak... Ah," Ringis Layya saat kakinya tertabrak sofa singgle di belakangnya. Beralih melihat Rayyan yang kini sudah berada tepat di hadapan nya.