
Kepalan tangan rayyan yang sudah kuat siap menghantam wajah pria di bawahnya setelah tadi tersungkur ke lantai di belakang pintu.
Rayyan menarik tajam dan panjang nafasnya sedang matanya menatap tajam ke lawannya sebelum bangkit berdiri. Menggentak merapikan jasnya sebelum berbalik mendekat ke layya.
Sampai di hadapan layya dan masih dengan mimik wajahnya yang masih marah namun bukan untuk layya melainkan untuk pria yang sekarang bangkit duduk sembari mengusap sudut bibirnya yang sakit dan mengeluarkan darah.
Seperti seorang gentleman. Rayyan meraih tangan layya menggenggamnnya.
"kita pulang! ". Ujarnya sembari menarik tangan layya lembut tanpa hentakan kasar dan tanpa menoleh melihat ke belakang. Rayyan sedikit meringis merasakan sakit di sudut bibirnya namun kelihatannya rayyan seperti tidak peduli.
Layya menghentakkan kasar tangan rayyan sebelum langkahnya yang kedua dan mencapai pintu.
"apa apaan ini ray...?...". Layya mencoba menenangkan emosinya. Menatap rayyan dengan keningnya yang berkerut.
"Kamu membawaku ke sini tanpa seizinku lalu kamu memintaku untuk ikut dengan mu hari ini karna ini berhubungan denganku dan sekarang kamu mau aku ikut denganmu pergi dari sini setelah apa yang aku lihat barusan?".
Rayyan menarik nafasnya tajam sembari mengusap kasar wajahnya sebelum kembali melihat layya di hadapannya.
"jangan membantahku kali ini layya? Aku tidak mau menggunakan ancamanku padamu lagi". Rayyan memilih menatap layya tajam di sertai raut wajahnya yang terlihat dingin.
Tanpa rasa takut layya menantang tatapan rayyan sebelum dia teringat sesuatu dan menoleh melihat pria di belakangnya, yang sedang mengusap sudut bibirnya.
"baiklah, sudah ku duga. Kamu tidak akan menjawabku tapi aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkan jawabanku!". Ucap layya setelah kembali menatap rayyan lalu beranjak ke arah pria yang masih terduduk di lantai sembari memegang perutnya.
Ini bukan yang pertama kali rayyan memukuli rendra dan yang pertama sampai sekarang ia tidak tahu kenapa. Itu terjadi di apartemennya, aku yakin itu bukanlah sekedar sebuah panggilan daddy ke rendra. Apalagi semenjak setelah berbicara dengan kak alex dan bagaimana pertanyaan kak alex padanya. Benar! Rayyan seperti menyimpan sesuatu hal dan itu menyangkut dengannya.
"kak rendra baik baik saj...ah..". Ringis kesakitan layya saat pergelangan tangannya di tarik rayyan dan di hentak keras hingga membuat layya kembali berhadapan dengan rayyan.
Tadinya layya sudah sampai di depan rendra. Ya, pria itu rendra. Pria yang sudah sangat penting sekarang dalam hidupnya. Layya hampir duduk berjongkok di hadapan rendra sebelum sebuah tangan menghentaknya.
"ingat satu hal ini baik baik layya! Kamu istriku dan mengikutiku adalah kewajibanmu, kamu tidak bisa melawan itu". Geram rayyan marah di sela sela giginya yang tertutup rapat.
Layya membalaa tatapan tajam rayyan sebelum rayyan menarik kasar tangannya.
"ah...Ray...?...Lepasin...? ..Rayyan...?". Layya menghentak melawan mencoba melepaskan tangannya dari cekalan kuat rayyan.
Namun seperti tidak mendengar rayyan terus melangkah hingga mencapai pintu.
Ckleck...
Brakh...
Semua yang ada di ruangan yang di buat untuk para sekretaris pemilik tempat ini sontak melihat ke arah pintu begitu mendengar suara bantingan keras.
'benar kata di rektur! Hari ini akan ada tamu gila dan mereka di suruh tidak peduli'. Batin ke lima manusia di sana.
__ADS_1
"ray...Lepasin...". Hentakan tangan layya yang terus berlanjut bahkan layya sulit untuk mengejar langkah rayyan yang lebar.
Brakh...
Lagi lagi rayyan membanting pintu bahkan membuat lima manusia di sana memejamkan mata sesaat.
"ray sakit...?". Ringis layya di sertai rengekan kesakitannya.
Seketika itu juga rayyan melepaskan cekalan tangannya setelah berhenti membalik badan menatap layy sedang wajahnya masih dingin dan masih ada kemarahan di sana.
Plak...
Kepala rayyan sontak miring ke samping kanan akibat sebuah tamparan dari layya. Sakit? Sama sekali tidak.
"kamu sangat keterlaluan tahu enggak?! ". Teriak layya dengan bentakan kemarahannya.
Layya memegangi tangannya yang merah karna rayyan sedang kepalanya mendongak menatap rayyan di hadapannya.
"pergilah jika kamu mau pergi. Terserah kamu sekarang mau meninggalkanku di sini aku tidak peduli lagi ray...?...". Layya menjeda ucapannya menoleh melihat ke pintu di belakangnya di mana pintu mereka keluar tadi.
"bukankah sudah ku bilang? Aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkan jawabanku". Lanjut layya setelah kembali menatap rayyan.
Tubuh rayyan yang entah kenapa seketika saja lemas bukan karna ucapan dan keingintahuan layya melainkan layya yang sekarang sedang mengkhawatirkan pria culun itu.
Mendekat selangkah ke layya. Rayyan berucap lemas. Menunduk menatap layya karna tinggi layya yang hanya sebatas dadanya. Apalagi layya yang tanpa high heelsnya karna semalam ia sendiri yang memilih sendal jepit ini untuk layya. Itu karna agar kaki layya nyaman dan tidak terus memakai sepatu panjang itu. Yang menurut ia tahu jika lama lama bisa membuat kaki sakit dan bahkan ada yang terluka.
Layya tercekat mendengar ucapan rayyan sedang matanya yang tadinya menatap rayyan tajam dan marah kini seketika menghilang dan di gantikan dengan kerutan di dahinya sedang matanya menatap rayyan mencari tahu jawaban dengan ekpresi wajah rayyan sekarang.
Wajah rayyan terlihat lelah dan sedikit putus asa sedang manik matanya menampakkan kesedihan yang mendalam juga...
Mata layya tiba tiba saja membulat saat manik matanya menangkap melihat manik mata rayyan yang mengenang suatu air. Air mata.
Sudut hati layya entah kenapa seperti teriris melihat itu. Seperti ada sebuah ketukan di dalam sana yang membuatnya terjaga setelah lama tertidur. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa, hatinya...
Layya menepis tebakannya sendiri. Tidak! Aku tidak mencintai pria ini lagi. Aku membencinya, sangat membencinya.
"tidak bisakah kita pergi saja?! Meninggalkan tempat ini...Meninggalkan pria sialan itu? Apa dia begitu penting...?!". Ucap rayyan lemah setelah menjeda sebentar kalimatnya dan menyambung lagi.
Layya yang tersadar dari lamunanya kembali menatap rayyan, yang kini memilih menunduk menatap lantai di bawah kakinya.
"ada apa sih ray...? Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan kali pertama kamu memukuli rendra tahu enggak? Aku...". Layya menarik nafasnya mencoba menenangkan dirinya terlebih emosinya untuk tidak keluar.
Layya menggeleng pelan.
"aku benar benar tidak bisa berpikir jalan pikiranmu ray...? Ada apa sebenarnya...? Apa yang rendra lakukan padamu..?!". Sambung layya lemah mencoba membujuk rayyan.
__ADS_1
Rayyan menggeleng tidak mau menjawab, yang seketika membuat layya mendesah lelah dan pasrah.
"kita pergi saja yuk?! ". pinta rayyan layaknya anak kecil yang meminta sebuah mainan untuk di belikan. Di sertai kedua tangannya meraih kedua tangan layya dan menggenggamnya.
Rayyan yang sekarang benar benar terlihat lemah, rapuh dan tidak berdaya.
'apa yang terjadi dengan pria ini? '. Layya yang melihat itu sontak tidak bisa membendung air matanya. Ia menunduk yang seketika membuat air matanya menetes.
Melangkah selangkah menepis semua jarak. Layya menjulurkan kedua tangannya ke pinggang rayyan memeluk rayyan sedang wajahnya ia benamkan di dada rayyan. Layya memiringkan kepalanya menatap ke samping.
Rayyan hanya diam tidak membalas pelukan yang layya berikan. Ia sadar. Itu bukanlah pelukan ketulusan untuknya melainkan karna wanita ini merasa kasihan padanya.
"ada apa? Tidak bisakah aku tahu?! ".
"...". Rayyan diam tidak menjawab.
"kamu bilang ini menyangkut aku juga, aku tidak boleh tahu? ". Lagi lagi layya mencoba membujuk rayyan. Sedang air matanya sudah mengalir tidak terhenti. Ia hanya menahan desakannya tidak mau rayyan tahu. Entah kenapa hatinya sakit banget dan juga sesak.
"ray...?". Panggil layya membujui, yang suaranya kini sudah bergetar karna menahan tangisannya dan rayyan bisa menangkap itu.
"kamu memelukku sedang di otakmu ada pria itu layya? Bukankah kamu sangat kejam layya?! ".
Layya memejamkan matanya saat mendengar ucapan rayyan. Membuat air matanya mengalir bahkan membasahi setelan jas rayyan. Sakit karna ucapan rayyan? Tidak sama sekali. Karna ia tidak tahu kemana arah ucapan rayyan.
Layya mencekram jas rayyan menahan sesak dan sakit di dalam sana yang entah kenapa.
"ada apa sebenarnya? Kenapa kamu beginiiii....?". Rengek layya di ujung kalimat dan air matanya merembes di sertai tangisannya yang tidak bisa ia tahan lagi.
Layya lagi lagi memejamkan matanya.
"kamu jahat ray...? hiks...". Layya membenamkan seluruh wajahnya ke dada rayyan dan menangis di sana.
Rayyan yang mendengar itu sama sekali tidak bisa membendung air matanya hingga menetes keluar, mengalir begitu saja dari pelupuk matanya hingga ke pipinya. Ia biarkan begitu saja sedang kedua tangannya terkepal kuat.
💓💓💓💓💓
Hai karna mengikuti satu lomba.
Aku membuat novel reyyan yang judulnya.
"The bastard prince and princess swiss".
Aku tunggu koment dan pendapat kalian ya???
Oh ya. Jangan lupa di like ya???
__ADS_1
Karna itu gratisssssss....
The next....Eps 😊😊😊