
Ckleck...
Bukaan pintu layya dengan pelan kemudian dia masuk.
Brakh...
Layya menutup kembali tanpa membalik badan. matanya membalas tatapan mata seseorang di hadapannya, yang layya yakini pria ini sudah menunggunya dari tadi.
Rayyan berdiri. menopang kedua telapak tangannya ke meja kerja di belakangnya sedangkan kakinya bersilang. menatap santai layya sedangkan dirinya tersenyum.
Mata keduanya terkunci seakan tidak ada yang mau mengalah dalam tatapan tersebut. layya yang menatap rayyan dengan penuh kebencian sedangkan rayyan menatap layya jail. seakan layya hal yang sangat menyenangkan harinya.
Menggoda dan membuat layya marah. entah kenapa menjadi hobi baru untuknya akhir akhir ini. mengingat wanita di hadapannya saat ini marah marah mengoceh entah apa di depannya. ia rela menggosongkan jadwalnya hari ini.
"jika membunuh itu tidak berdosa! ...ingin sekali aku membenamkanmu kelaut sekarang juga".
"shhhh, terdengar sangat mengerikan". rayyan berpura pura takut dengan meringis mendengar ucapan layya.
Layya mengepal kuat kedua buku tangannya. sedangkan hatinya menggeram. jarak keduanya sekitar 6 meter dari layya yang berdiri di depan pintu sedangkan rayyan bersandar di depan meja kerjanya.
"3 tahun! bukanlah waktu yang sebentar ray...?". ucap layya di sela sela giginya yang menutup rapat karna betapa dia sangat geram dengan rayyan.
"tidak ku duga tebakanku benar! tidakkah kamu mau memberiku hadiah? ".
"bagaimana bisa kau membohongiku bahkan sampai akhir?! "
"ini cukup di sesalkan sih! seharusnya harus jadi hanya dalam satu tembakan? ".
"apa semuanya bagimu itu main main ray?! ".
"haruskah kita melakukannya lagi layya?...membuat adik untuk yusuf dan marya...".
"RAYYAN ZEKI ANDRYATAMA! ". bentak layya dengan teriakan kemarahan sekaligus geram ke rayyan.
Nafas layya terlihat naik turun sedang matanya menatap rayyan tajam. sedangkan rayyan terlihat santai dan tidak bergeming di tempatnya berdiri. menatap mengamati wajah layya, yang entah mengapa sangat membuatnya terhibur. mungkin kerugiannya ratusan dollar hari ini. bisa terbayar.
Layya menggepal kuat kedua tangannya. menatap rayyan geram.
Rayyan bukannya menanggapi setiap pertanyaan layya malah mengalihkan ke pembicaraan lain dengan santai. itulah semakin membuat layya marah ke rayyan.
Ia menarik nafas tajam. memejamkan mata menenangkan dirinya. berurusan dengan pria di hadapannya. ia sangat sangat membutuhkan yang namanya nafas, hati, jantung, bahkan paru paru yang sehat.
Rayyan terkekeh geli melihat hal tersebut. ia melangkah mendekati layya dan berdiri di depan layya sedang tangannya terlipat di dadanya.
Hal tersebut membuat layya harus mendongak membalas tatapan rayyan padanya di karenakan tinggi layya yang sangat kurang dari rayyan.
__ADS_1
Menatap wajah rayyan dengan jarak yang sangat dekat begini membuatnya ingin menonjok wajah tersebut. jika saja ia mempunyai kekuatan layaknya seorang pria. ia menyesal sekarang tidak menuruti pamannya, yang mau mengajarinya beberapa teknik dalam meninju. seharusnya ia menerima saat itu dan sekarang ia bisa mempergunakan hal itu dengan baik.
"mengikuti ku!...bahkan kamu melakukan itu?! ".
"siapa tahu seseorang yang gila membuatmu dalam bahaya. memastikan ke amanan saja, untuk tidak repot di masa depan tapi siapa tahu...aku mendapat berita yang tidak terduga".
"kau puas sekarang?! ". desis layya keji. dengan tatapan kemarahannya ke rayyan.
"tidak jika aku mendapat kabar sebaliknya".
"kamu memang sudah gila! ". layya menatap rayyan marah.
"dan dia suamimu, sayang sekali". rayyan mengedipkan satu matanya jail ke layya.
Layya merapatkan giginya sedangkan wajahnya mengeras.
Ia bertanya tanya dari kemarin. apa ia yang bodoh atau pria di depannya saat ini yang terlalu pandai dalam membodohinya. 3 tahun lalu setelah beberapa bulan ia melahirkan yusuf dan maryam. ia mengirimi rayyan surat gugatan cerai dengan dirinya sudah menandangani pernyataan tersebut lewat temannya ayrin.
Saat itu ayrin bilang dia mengirim surat gugatan tersebut ke perusahaan rayyan. karna tidak bisa bertemu dengan pemiliknya langsung jadinya ayrin menitipkannya di meja resepsionis gedung tersebut dan sebelum keluar dari gedung Imperial. ayrin sudah memastikan kalau amplop coklat besar dan tipis tersebut sudah tidak ada lagi di sana. yang artinya ayrin melihat asisten dari rayyan, itulah yang ayrin dengar dari wanita di resepsionis kalau dia asisten pribadi rayyan, yang selalu setia mengikuti rayyan kemanapun pria itu pergi.
Jika saja ayrin sama dengan wanita wanita pada umumnya. yang suka melihat pria pria tampan atau pengusaha pengusaha sukses yang di tayangkan di setiap berita di televisi maupun di majalah. mungkin ayrin akan dengan mudah mengenali asisten rayyan karna pria tersebut selalu mengikuti rayyan kemanapun. sayangnya setelah mengetahui rayyan dan reina mempermainkannya, menyakitinya, menusuknya dari belakang. ayrin menutup mata dan telinganya jika sudah menyangkut kedua manusia tersebut. sekalipun tidak sengaja saat mau menonton film maupun drama. lalu terlihat rayyan maupun reina di sana dengan cepat ayrin akan mengganti saluran tanpa menunggu detik selanjutnya. itulah ayrin sahabatnya.
Dan yang membuat nya lebih terkejut dan tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui adalah...pria ini membayar orang suruhannya dalam mengurus perceraiannya dengan rayyan. dengan mengatakan padanya kalau semuanya sudah tuntas. Dan ya. kemarin ia menghubungi pria suruhannya tersebut. dia mengatakan kalau dia di bayar untuk berbohong. pertanyaannya.
'untuk apa?'.
"ingin sekali aku menghajarmu! ". desis layya di sertai gertakan giginya.
Rayyan merentangkan kedua tangannya di hadapan layya. menerima.
"lakukan sesuka hatimu". ujar rayyan dengan nada santai.
Layya geram, marah. semuanya bercampur menjadi satu.
"kau sengaja bukan?". menjadikanku mainanmu. sambung layya dalam hati.
"sekalipun aku menjawab jujur kamu tidak akan percaya". kali ini rayyan berujar serius.
"dengan apa yang terjadi".
Rayyan mendesah. Ia terlihat putus asa.
"terjadi begitu saja layya? aku saja baru menyadari beberapa hari ini".
Layya mendengus tidak percaya.
__ADS_1
"kamu berharap aku percaya? ".
"sudah aku katakan kamu tidak akan percaya".
"dan kamu membuatnya jadi rumit sekarang". geram layya.
"ini ketidak sengajaan layya? ". rayyan mencoba membela diri.
"atau hal itu tidak penting ".
Rayyan terdiam. ucapan layya ada benarnya. saat mendapat kiriman surat gugatan dari layya. Ia membiarkannya begitu saja karna saat itu dirinya sedang ada pekerjaan. Di haruskan untuk meeting. Dan ya. Seharusnya ia bisa melakukan setelahnya tapi pekerjaannya membutuhkan perhatiannya lebih dulu jadinya ia selalu mengulur. Di saat ia mau menandangani surat tersebut. Ia sangat ingat hari itu. Mami dan papinya mengalami kecelakaan. Ia mendapat kabar dari supir pribadi papinya kalau mami dan papinya kecelakaan. surat layya ia biarkan begitu saja setelah memasukkan kembali ke dalam amplop coklat besar tersebut.
"banyak yang terjadi layya". akhirnya rayyan mengeluarkan suaranya setelah terdiam beberapa saat.
"3 tahun! apa itu waktu sebentar ray? ". bahkan kamu bisa mendirikan beberapa perusahaan dengan jangka waktu tersebut. sambung layya dalam hati.
"3 tahun juga aku melalui banyak hal layya? Dan juga, pekerjaan ku banyak...".
"mengurus satu lembar kertas tidak membunuh waktumu 24 jam ray?! ". layya memotong cepat ucapan rayyan.
"sesuatu hal tentu terjadi layya? Misal, aku lupa?... ". rayyan menarik nafasnya. ternyata menjelaskan hal ini pada wanita di depannya ini lebih sulit dari pada dirinya yang ikut tender proyek besar.
Ia mendesah. " aku tidak akan bilang tidak sempat". sambungnya.
"nyatanya kamu membuat semua ini menjadi rumit sekarang! ". Layya tidak tahu harus berkata apa lagi. sekelabat bayangan yang tidak mau ia pikirkan sontak saja berkeliaran di otaknya. ketakutan, frustasi, marah, benci, semua menjadi satu dan semua itu.
Layya menatap rayyan tajam. 'karna pria ini'.
Layya menarik nafas dan melepasnya perlahan. menenangkan dirinya.
"di mana surat itu sekarang?! ".
Rayyan membalik menoleh melihat ke meja kerjanya.
"aku ingat aku menaruhnya di laci meja kerjaku! kenapa? Kamu mau mengambilnya kembali? ". jawab rayyan dengan santai bahkan dia tidak memikirkan ucapannya saat ini menjadi sesuatu yang horor untuk layya.
Layya membulatkan matanya. melihat ke meja kerja rayyan sebelum kembali menatap rayyan.
"dimana kamu bilang kamu menaruhnya? ".
Rayyan lagi lagi menjawab santai. ia menunjuk dengan jari jempolnya ke meja kerja tanpa berbalik.
"di laci meja kerjak...".
"kau gila?! ". pekik layya, yang sontak membuat rayyan terlonjak terkejut hingga ia mundur. menatap layya merinding.
__ADS_1
'ada yang salah?... lagi? '. batin rayyan.