
"pagi kawan?! ".
Rayyan mengalihkan matanya menatap ke pintu.
"kamu sudah datang?...ini! ini semuanya, kamu lihat dulu". ujar rayyan sembari menyerahkan 3 berkas ke alex, yang ada di laci mejanya.
Alex meraihnya membawanya ke sofa. menduduki bokongnya di sana.
Beberapa menit kemudian tanpa adanya pembicaraan. keduanya terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. di ruangan yang luas tersebut hanya ada suara kertas yang di bukan alex lembar perlembar dan suara ketikan pada laptop.
"bukankah kerugian akan besar jika kamu menurunkannya?". alex membuka pembicaran. melihat meneliti lembar yang baru saja dia buka. kaca mata yang ada di kedua manik matanya semakin menambahkan ketampanannya. tidak kalah jauh dari seorang rayyan.
"tidak ada cara lain, apa kamu memiliki ide lain?! ". timpal rayyan tanpa melihat alex.
Alex menaikkan satu alisnya. mengusap kasar bibir bawahnya mencoba berpikir.
"biar ku pikirkan!". alex menutup berkas menyusunnya rapi kembali. menoleh melihat rayyan.
"kalau begitu aku balik dulu, aku harus berkemas". alex menyandarkan punggung ke sandaran sofa sembari menarik nafasnya lelah. matanya menatap ke atap sebelum terpejam dengan satu tangan di keningnya.
Rayyan mengalihkan matanya mellihat alex. ia meraih satu berkas yang ada di sampingnya dan meletakkan di atas meja.
"bawa ini juga, mungkin kamu akan memerlukannya".
Alex membuka mata. menoleh melihat rayyan sebelum bangkit berdiri mendekat ke meja kerja rayyan.
"baiklah, aku balik! jaga dirimu baik baik kawan, aku akan menghubungimu jika sudah sampai". ujar alex setelah meraih berkas di atas meja. berbalik melangkah ke sofa untuk meraih berkas lain yang ia taruh di sana.
Rayyan hanya menjawab dengan gumaman. ia melirik jam tangannya. sebelum menatap alex.
"oh ya? aku pinjam kamar mandi mu sebentar ya? kebelet nih". ucap alex sembari melangkah ke kamar pribadi rayyan yang ada bersebelahan dengan ruang kerja. tanpa mendengar jawaban rayyan.
Rayyan tidak peduli sama sekali. ia kembali mengalihkan matanya melihat ke layar di depannya. suara deringan handphone di sampingnya membuat perhatiannya teralihkan.
Ia mengangkat menjawab panggilan tersebut.
"bagaimana? kamu mendapatkannya? ". suara dingin rayyan di sertai tatapan matanya yang tajam.
"sudah! alamatnya akan saya kirimkan segera! ". jawab suara di seberang.
"tidak perlu! aku akan ke sana segera dan aku akan memerlukanmu".
__ADS_1
"...jadi aku tidak perlu terbang ke dubai malam ini? ".
"tidak sebelum aku ke sana". klik. rayyan menutup sepihak dan kembali ke pekerjaannya.
Ia harus menyelesaikan semua masalah tentang perusahaan paman, juga hotelnya dalam 2 hari ini. dan untung yang alex bisa ia jadikan sementara untuk memimpin perusahaan pamannya, juga untuk kepemilikan hotel sementara sebagai kaki tangan kananya.
Sedangkan ia harus ke suatu tempat atau negara untuk memberi seseorang pelajaran. kepalan tangannya sudah sangat gatal untuk menghajar wajah itu hingga tidak bisa di kenali.
Rayyan menggeram dalam hati di sela sela jarinya yang mengotak atik setiap tombol laptop.
Telinganya sudah sangat panas ingin mendengar alasan atau penjelasan pria ******** itu. meskipun ia tidak akan pernah menerima alasan atau penjelasan apapun.
Rayyan menggertakkan giginya. ini tidak bisa ia tunda lama lama. hati dan batinnya menjerit jerit di dalam sana untuk segera ke sana dan menghajar pria itu.
"sialan". umpat rayyan menyandarkan punggungnya ke belakang.
Hanya bermodalkan tebakan dan di sinilah ia. di lantai 13 di mana lantai ruang kerja pemimpin perusahaan tersebut.
Flashback beberapa menit yang lalu.
Layya memasuki lobby sebuah gedung dan gedung tersebut adalah gedung imperial. perusahaan raksasa yang di miliki oleh pria bernama rayyan.
"di mana ruang kerja atasan kalian? CEO Rayyan Zeki Andriyatama ?". tanya layya langsung begitu mendarat di depan meja resepsionis dan bertanya kedua wanita yang ada di sana.
Keduanya nampak terkejut. melihat layya seorang desainer yang pernah bekerja sama dengan perusahaan ini di tambah terkejut mereka. layya yang menyebutkan nama lengkap atasan mereka. tidak akan ada siapapun seberani wanita di depan mereka ini jika tidak mau detik berikutnya di pecat.
"maaf?! ". suara keduanya.
Layya mendesah lelah.
"kalian masih muda tentu belum tuli bukan? begini saja, hubungi sekretaris CEO kalian dan katakan desainer Zunaira mau bertemu dengan CEO perusahaan ini, se-ka-rang". tekan layya di ujung kalimatnya.
Keduanya mengerjap terkejut. 3 tahun sudah mereka bekerja di perusahaan ini dan sebagai resepsionis. tidak pernah ada satu pun manusia yang datang dan memerintah untuk bertemu dengan atasan mereka.
Layya menyadari keterjutan kedua gadis didepannya tapi masa bodoh. ia tidak peduli.
Layya menatap tajam keduanya. memiringkan kepala menyuruh mereka menghubungi sekarang juga.
Mau tidak mau keduanya menghubungi. salah satu dari mereka memegang gagang telepon.
"ah..". suara terkejut gadis yang memegang gagang telepon saat gagang telepon di tangannya menghilang dan di pegang oleh wanita muda dan cantik di depannya.
__ADS_1
"bu? ". seru keduanya panik.
"halo? ". suara orang di sebrang, yang tentu layya tahu. sekretaris rayyan. rose.
"di lantai mana ruang kerja CEO imperial?! " tanya layya to the point. setelah mengambil alih gagang telpon berwarna merah tersebut.
"maaf anda siapa dan ken... ".
"desainer Zunaira ". potong layya cepat.
"...oh? oh?...ah...itu...lantai 13..and... ". trek. layya menaruh kembali telpon tersebut tanpa mematikannya.
Layya menyungging senyum yang dia buat buat ke 2 gadis di sana sembari menepuk kedua pundak mereka dan berkata.
"terima kasih ya? dan lanjutkan kerja kalian". layya melenggang pergi dari sana menuju lift meninggalkan kedua gadis muda tersebut yang kebingungan dan saling melihat.
Gosip atau omongan apapun tentangnya nanti di perusahaan ini. biarkan pria itu sendiri yang menanganinya. karna sepertinya dia sendiri yang memintanya.
Layya menggeram menggertakkan giginya. menatap tombol lift di atasnya.
Brakh...
Layya membuka pintu ruangan rose melangkah ke pintu ruangan rayyan tanpa menutup pintu di belakangnya.
"pagi rose?...lanjutkan kerjamu! ". sapanya sembari tersenyum tipis namun terasa merinding bagi yang melihat.
Ckleck...
Layya memutar knop pintu rayyan dan...
Brakh...
Layya membanting membuka lebar pintu dua daun tersebut.
Alex sontak melihat ke pintu setelah ia terkejut sedangkan rayyan menyungging senyum samping. seakan akan ia sudah tahu akan kedatangan wanita tersebut kemari.
Layya menoleh ke samping menatap orang yang membuatnya ada di sini sekarang. bahkan ia harus memajukan jadwal penerbangannya di tambah ia tidak sempat membeli hadiah untuk kedua buah hatinya.
Rayyan menaikkan tatapannya membalas tatapan layya.
"sudah datang sayang?! ". kekeh keji rayyan.
__ADS_1