
Meninggalkan rose yang masih bergeming di tempat nya berdiri. Imelda yang menyerang Reina dengan segala pertanyaan terutama hal yang menyangkut layya.
Layya menyungging senyum ejekan ke Reina. Ia jadi ingin melihat bagaimana reaksi rayyan.
Tak...
Tuk...
High heels warna hitam yang di kenakan layya berhenti tepat di belakang rayyan, yang sedang menatap gambar dirinya sendiri.
Ruang tengah di mana ruang utama rumah tersebut dengan luas 3 kali lipat dari apartemen nya. Ukiran ukiran rumah yang sangat mewah dan terlihat mahal. Warna yang putih yang sangat mendomisili serta lampu kristal dengan ukuran besar bercahaya menghiasi ruangan tersebut. Ruangan di mana yang ia katakan pada rayyan. Foto kecil pria itu ada di sana. Sial. Kenapa ia bisa melupakan ini? Padahal belum sampai sejam sejak pembicaraan nya dengan rayyan.
Layya menatap punggung rayyan yang bergeming di tempatnya. Menatap gambar di depannya. Ia mengalihkan matanya melihat ke gambar yang foto kopi dengan wajah putranya. Yusuf. Tidak ada yang beda. Semua sama. Rambut hitam dan tebal, kulit putih, mata, hidung, bibirnya bahkan bentuk alis mereka sama.
Ckck...
Mengakui hal itu. Ia selalu tidak suka tapi bagaimana. Dia anakku dan pria ini adalah ayahnya.
Tak tuk...
Tak tuk...
Layya menoleh melihat ke samping saat suara bunyi high heels beradu dengan lantai terdengar di telinganya.
Rose, Reina dan Imelda yang beranjak mau menyusul layya ke kolam renang di mana Yusuf dan Maryam bermain di sana.
"ada ap... oh? Kamu sudah pulang? sejak kapan? Mami kok tidak tahu?!". Imelda berjalan mendekat ke rayyan setelah tadi menyapa layya karna melihat layya berhenti di tengah ruangan dan ia malah di kejutkan dengan kehadiran putra kesayangannya.
Rayyan yang tersentak menoleh menatap Imelda, yang sudah berdiri di sampingnya. Imelda ikut memandang foto kecil rayyan dengan wakahnya yang tersenyum bahagia.
"kamu sudah lihat? Bagaimana? Sangat mirip bukan? oh... Kamu belum menjawab mami".
Rayyan kembali melihat ke gambar di depannya.
"tadi barusan mendarat dan langsung kemari, Ray mau ganti baju dan ke perusahaan lagi tapi mi? Tidak harus mami pajang di sini juga? Lagian kenapa besar sekali juga?". Keluh rayyan tidak terima.
Rayyan belum menyadari selain dirinya dan Imelda di sana. Ternyata ada 3 wanita lain yang berdiri di belakang menatap ke gambar yang sama dengannya.
Layya, Rose dan Reina yang mendengar pembicaraan dua pemilik rumah tersebut.
__ADS_1
Jika layya hanya menatap itu dengan malas namun ia sedikit penasaran dengan alasan Imelda memajang foto rayyan di sini dan sebesar ini.
Alasan Reina juga sama seperti layya. Mau tahu alasan Imelda.
Tapi tidak bagi rose. Ia tidak tahu apa apa mengenai hubungan Reina, desainer Zunaira, nyonya Andryatama dan CEO nya yang sebenarnya. Yang ia tahu Reina tunangan CEO nya di sisi lain juga desainer Zunaira masih istri CEO entah karna alasan apa dan bahkan mereka mempunyai anak bersama. Anak yang satunya cantik seperti ibunya dan satu lagi tampan seperti ayahnya. Sekaligus keduanya sangat imut menggemaskan. Siapapun yang melihat akan langsung jatuh cinta pada mereka.
"memang kenapa? Mami hanya mau saja, Ketika melihat ini maka mami akan berpikir. Ah mami punya anak kecil juga lagian mami juga tidak akan cemburu sama layya tahu? Dia punya Dua yang imut dan menggemaskan". Rajuk Imelda memayunkan bibirnya.
Rayyan membalik badan berhadapan dengan Imelda sembari memegang kedua lengan Imelda dengan lembut untuk menatap dirinya.
"mami sangat merindukan cucu ternyata?!". Ujar rayyan dengan nada canda, yang langsung mendapat kan pukulan di kepalanya.
"dasar anak kurang ajar!". Rutuk Imelda setelah memukul kepala rayyan, yang tadi menunduk mensejajarkan tinggi dengannya.
Rayyan kembali terkekeh. Ia sama sekali belum menyadari ada rose, layya dan Reina juga di sana.
"oh apa kamu tahu? Yusuf mengira ini fotonya dan dia sangat memprotes bahkan sampai hari ini. Dia menyuruh mami untuk mencabutnya, Dia ngambek sama mami". Bisik Imelda di ujung kalimat ke telinga rayyan.
Layya yang mendengar hal itu seketika membayangkan bagaimana raut wajah putranya jika memprotes suatu hal yang tidak ia sukai. Layya mendengus geli.
"lalu mami menjawab apa?".
"dia tidak percaya. Dia tetap bersikeras ini fotonya dan tetap menyuruh mami untuk mencopot nya bahkan Yusuf mengadu pada papimu ". Imelda terkekeh geli.
"lucukan dia?!". Sambungnya dengan wajah senang.
Rayyan menyungging senyum tipis yang ia paksakan. Sebagian hatinya teriris melihat maminya.
Bagaimana reaksi mami nanti ketika tahu kalau Yusuf memang cucunya. Apa reaksi mami akan melebihi dari ini atau... Mami akan sedih dan tentu ia yakin satu hal. Mami akan marah besar padanya.
Rayyan kembali menatap Imelda saat teringat sesuatu.
"lalu apa mami akan mencopot ini? Ini sangat memalukan mi?!". Bujuk rayyan di akhir kalimat.
Imelda menatap ke senyum anak kecil di foto.
"malu apa? Mami bangga kok, sangat bangga tapi... ". Imelda menjeda ucapannya kembali menatap rayyan.
Rayyan seketika mendengar bunyi alarm di dalam kepala nya, yang menyuruhnya untuk pergi dari sana segera dan biarkan gambar itu di sana.
__ADS_1
"mami akan mencopot jika kamu memberikan mami cucu secepatnya jika bisa tahun ini sudah ada tanda!".
Rayyan membulatkan matanya. Tahun ini? Tanda?
"maksud mami tanda itu... Hamil bukan?!".
Imelda yang tadinya sedang menikmati melihat foto di depannya dengan wajahnya tidak berhenti tersenyum beralih menatap rayyan setelah mengangguk.
"iya hamil memang apa lagi? Apa? Kenapa? Kamu tidak sanggup membuat istrimu hamil dalam tahun ini? Apa mami perlu meragukan kelelakianmu rayyan?".
Rayyan membulatkan matanya dengan sempurna. Tubuhnya mematung seketika sedang darahnya seperti berhenti mengalir dalam sekejap serta nafasnya yang berhenti beroperasi.
"pfffttt..". Suara tawa yang terdengar dari arah kanannya sontak membuat rayyan menoleh ke sana dan ia mendapati rose, Reina dan layya di sana.
Jika rose melihat ke samping setelah mendengar ucapan nyonya Andryatama dengan malu yang kentara begitu juga dengan Reina namun tidak bagi layya.
Layya seketika menahan tawanya yang mau meledak begitu ucapan Imelda berakhir.
Rayyan mendecak ketika matanya menatap layya, yang sangat ingin mengatawainya sekarang. Lihat saja dari dia yang menutup mulutnya menggunakan satu tangan sedang matanya melihat ke arah lain. Sial. Sejak kapan dia sudah ada di sana.
"kita sudah bahas ini ya mi? ".
"jadi cepat menikahlah dengan Reina tahun ini dan berikan mami cucu secepatnya dan mami akan mencopot foto ini jika tidak, jangan harap mami akan mencopotnya bahkan mami akan merencanakan untuk memajang satu lagi di lobby perusahaan". Seru Imelda tanpa mendengar komentar putranya.
Rayyan menatap Imelda horor.
"mami bercanda bukan?!".
"apa mami terlihat bercanda?".
Rayyan menarik nafas bersikap tenang meski ia sangat ingin sekarang menyeret wanita yang sekarang sedang menahan tawanya untuk keluar dari ruangan ini bahkan ia berani untuk menguncinya di kamar dan kembali ke sini lagi untuk meluruskan ini dengan maminya.
"mami... Ini...".
"oh mami hampir lupa! Ternyata Reina dan layya saling mengenal, mereka sahabatan. Apa kamu sudah tahu? Kok tidak kasih tahu mami sih?!". Jengkel Imelda memotong ucapan rayyan, yang gelagapan mau menjawab apa.
'a-apa?!'. Kedua manik mata rayyan melebar sebelum ia beralih menatap layya dan sedetik kemudian tatapannya menjadi tajam menatap layya.
'apa maksud wanita ini? '.
__ADS_1
Layya tersenyum keji lalu ia melihat ke imelda dan berpamit untuk ke tempat kedua anaknya.