
Seperti ucapan layya.
Gambarnya sewaktu ia kecil kira kira berumur 4 atau 5 tahun gitu. Terpampang indah di tengah ruangan yang lebar dan besar tersebut. Dengan ukuran foto tidak bisa di katakan ukuran sedang lagi. Ia jadi berpikir. Apa yang terlintas di pikiran maminya hingga memajang foto sebesar ini dan di tengah ruangan.
Iya. Selama ia pulang dari Singapura setelah kejadian itu dengan layya. Ia sama sekali belum pulang ke rumah karna di sibukkan dengan mengurus kebangrutan perusahaan, juga hotel pamannya. Ia dengan terburu buru tadi masuk ke dalam rumah. Mau membuktikan ucapan layya. Dan ya. Layya benar. Fotonya terpampang indah di ruang tengah. Hingga siapapun yang masuk akan bisa melihat foto tersebut.
Layya masuk ke dalam rumah besar dan mewah tersebut dengan di sambut oleh bibi art di rumah ini. Meski berkali kali ibu Imelda mengatakan pada layya untuk langsung masuk ke dalam setelah mengucapkan salam dan menyuruh layya untuk menganggap rumah sendiri saja tetap saja bagi layya. Ia tidak akan berani. Entah kenapa ia tidak bisa.
Layya semakin masuk ke dalam rumah dengan berbincang bincang ringan dengan bibi sembari menanyakan keberadaan kedua anaknya dan bagaimana mereka selama ia tinggali.
"mereka sangat lucu nak, jadi tidak ada yang merepotkan sama sekali". jawab bibi menenangkan layya yang merasa tidak enak.
Bibi setengah baya tersebut memanggil nak karna atas permintaan layya yang tidak mau di panggil non atau Bu.
"aku yakin mereka sangat nakal Bi?". Desah layya.
Bibi menggeleng sembari tertawa kecil.
"semua anak anak tentu nakal nak? Tapi ada mereka di sini suasana rumah ini jadi hidup dan tidak sepi seperti hari hari biasa, Tuan dan nyonya juga sangat menyukai mereka bahkan mereka tidur bareng tidak mau pisah!".
Layya menoleh melihat bibi.
"benarkah? Aku jadi tidak enak!".
"argh... Apanya yang tidak enak? Tuan dan nyonya sangat menikmati, bahkan 2 hari yang lalu nyonya terus mengeluh karna nak layya akan segera kembali dan mengambil mereka, nyonya sangat sedih". Timpal bibi tanpa ada rasa canggung dalam pembicaraannya dengan layya.
Keduanya pun tertawa kecil. Layya yang tertawa karna melihat reaksi bibi yang sangat bersemangat dalam menceritakan kedua anaknya serta bibi yang tertawa karna mengingat tingkah lucu Maryam. Gadis cantik dan imut sukses mencuri perhatian semua orang di rumah ini bahkan supir pribadi tuan besar. Beda dengan Yusuf. Yang diamnya membuat mata dalam sekali lihat akan membuat kita jatuh cinta padanya. Keduanya menggemaskan meskipun lain karakter masing masing.
"oh kamu sudah di sini?". Sapa sumrigah Bu Imelda dari arah kiri layya. Dengan jarak keduanya, yang sedikit jauh.
Layya yang tadi sedang tertawa menoleh melihat ke arah suara. Ia pun tersenyum tipis, menyambut sapaan Bu imelda sebelum detik berikutnya raut wajahnya menjadi datar tidak karuan.
Layya melihat ke 2 wanita yang berjalan di belakang Bu Imelda. Rose dan Reina.
Imelda menyentuh lengan layya, yang membuat layya tersentak sadar dan beralih melihat Bu Imelda yang berdiri di samping layya.
"baru saja!". Jawab layya setelah diam beberapa saat. Sekilas layya menatap Reina kembali hingga pandangan keduanya bertemu.
__ADS_1
Keduanya diam dan tidak ada yang berniat untuk saling menyapa. Reina yang menunduk menatap lantai sedangkan layya yang memilih melihat ke arah kolam renang di mana kedua anaknya di sana. Mungkin tempat kesukaan mereka di sini selain taman di belakang rumah Bu Imelda dan kamar rayyan waktu kecil yang sekarang di penuhi oleh mainan kedua anaknya. Tempat lain adalah kolam renang.
Layya mendesah dalam hati.
"ah tentu kamu mau jemput mereka bukan? Ah... Ibu jadi sedih". Imelda merajuk sembari matanya melihat ke arah kolam renang mengikuti tatapan layya.
Layya tersenyum tipis.
"terima kasih Bu sudah mau melihat mereka dan sudah merepotkan ibu juga".
"repot kenapa? Tidak ada yang merepotkan juga tidak perlu berterimakasih nak layya? Ibu sendiri yang mau mereka di sini, malah sebaliknya. Ibu sangat bahagia mereka di sini. Malah ibu sangat senang jika nak layya mau selalu mengizinkan Yusuf dan Maryam main ke sini setiap hari. Apa tidak bisa?". Bujuk ibu Imelda ke layya untuk mengizinkan Yusuf dan Maryam main ke rumahnya setiap hari ketika layya berangkat kerja dan ia. Akan dengan senang hati akan menjemput mereka sendiri.
Layya tersenyum memaksakan dirinya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"maaf Bu? Bukannya enggak bis...".
"sudah ibu duga nak layya akan menjawab begitu".
Layya tersenyum tipis dan kembali meminta maaf.
Kejam memang tapi ia harus melakukan itu. Demi kebaikan kedua anaknya.
Layya diam diam menarik nafas lemah. Ia beralih melihat ke Reina lalu ke rose.
"oh ibu lupa memperkenalkan! Tapi mungkin kamu sudah mengenal Reina bukan? ".
Layya yang tersadar dari lamunannya saat mendengar ucapan Bu Imelda menoleh melihat Bu Imelda yang entah sejak kapan sudah berada di samping Reina.
Layya tersenyum tipis dan mengangguk.
"tentu Bu. Selain daripada dia seorang model. Dia sahabat ku bukankah begitu Rei?". Layya beralih menatap Reina, yang tersentak dengan ucapannya.
Seketika rose dan Bu Imelda yang terkejut melihat ke arah Reina.
"oh?!... Ah... Ya...Kita saling kenal... Sudah sejak lama". Jawab Reina masih dengan rasa terkejutnya. Ia menatap layya sedang nafasnya naik turun karna gugup.
Reina pikir layya akan bersikap pura pura tidak mengenalinya karna itu ia tidak menyapa layya dan memilih diam dengan ke adaan canggung.
__ADS_1
"benarkah? Jadi sejak kapan kalian sudah saling mengenal? Bisa ibu tahu? ". Imelda melihat ke layya lalu beralih ke Reina.
Layya menatap Reina begitu juga sebaliknya. Mengedipkan matanya layya kembali melihat Imelda.
"untuk itu biar Reina yang menceritakan nya saja, saya mau melihat Yusuf dan Maryam dulu. Beberapa hari tidak melihat mereka, aku merindukan mereka". Ucap nya sembari melihat Reina lalu ke Imelda. Ia pun tersenyum sembari menunggu jawaban. Ia ingin cepat cepat menghilang dari sini.
Rose yang masih ada di antara ketiga manusia yang tidak secara langsung memiliki hubungan tersebut. Merasa tidak percaya dengan apa yang barusa saja ia dengar. Ia mematung bergeming di tempat nya dengan sesekali tatapannya melihat ke layya lalu ke wanita cantik dan seksi di sampingnya.
'reina tunagan CEO nya sedangkan desainer Zunaira istri CEO nya, itu lah yang ia dengar dari Aldi kalau Desainer Zunaira adalah istri CEO mereka dan mereka bahkan sudah mempunyai 2 anak dan anak itu adalah 2 bocah yang baru beberapa menit yang lalu ia lihat'.
'drama apa yang terjadi di sini? Tunggu... Jadi... Nyonya Andryatama tidak tahu kalau Desainer Zunaira adalah istri dari anaknya? Bahkan Yusuf dan Maryam sebenarnya adalah cucu kandungnya sendiri. Terlebih... Hubungan desainer Zunaira dan nyonya Andryatama sepertinya sangat akrab. Apa yang sebenarnya terjadi?'.
Menunggu jawaban imelda layya mengerjap saat sudut matanya melihat ke arah rose yang masih bergeming di tempat nya. Ia pun mendesah.
'tentu gadis itu sangat kebingungan dengan ke adaan sekarang terlebih jika dia sudah tahu siapa ia dulu bagi CEO nya. Tapi mau bagaimana? Tidak mungkin ia pura pura tidak mengenali Reina hanya karna rose di sini. Itu bukan suatu alasan lagian kesempatan ini juga bisa membuat rayyan jika jika pria itu mau bertindak gila. Ia tidak menyangka akan bertemu Reina di rumah ini dan membuat pernyataan ini bahkan di depan maminya rayyan'.
'aku jadi penasaran bagaimana reaksi rayyan ketika mendengar hal ini dari maminya nanti'. Layya tersenyum keji di dalam hati.
Layya teringat ucapan Rendra sebelum ia beranjak keluar dari ruangan saat mereka di Dubai. Saat itu ia membuka pintu dan mau keluar namun terhenti karna Rendra memanggilnya.
"Ira...?".
Layya yang hampir mau keluar berhenti dan menoleh menatap Rendra.
Ira. Adalah panggilan Rendra untuk nya dari dulu dari semenjak ia kecil saat dimana mereka masih bermain main bersama. Ira juga merupakan panggilan kesayangan ayah dan bunda untuknya.
Layya menatap Rendra dengan tatapan bertanya karna melihat Rendra yang hanya diam.
"rayyan sepertinya tidak akan melepaskan mu!". Ujar Rendra setelah diam hingga beberapa menit berlalu.
Layya menyatukan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Rendra.
"kenapa kak Rendra bicara begitu?! apa maksudnya...?".
Kedua manik mata layya mengedip. Mengangkat pandangan nya menoleh menatap Reina dengan tatapan dingin sebelum beralih melihat ke Bu Imelda, yang masih tidak percaya dengan ucapannya barusan. Ia tersenyum hangat.
"saya ke Yusuf dan Maryam dulu Bu, saya permisi". Pamit layya sebelum melenggang pergi dari sana. Mengabaikan Bu Imelda yang masih mau bicara dengannya karna ucapannya beberapa menit yang lalu.
__ADS_1