
Mobil yang bermerek Aston Martin DB10 berwarna gray memasuki pekarangan rumah besar dan mewah setelah di bukakan pintu gerbang oleh 2 satpam yang ada di pos pintu gerbang.
Di belakang mobil tersebut diikuti oleh mobil berwarna merah dengan merek Mercedes-Benz sedan memasuki halaman rumah besar tersebut.
Mobil gray Aston Martin DB10 terbuka dan rayyan keluar dari sana. Rayyan menyetir sendiri. Rayyan beranjak dari sana sebelum mengunci mobil nya dan masuk ke dalam rumah.
Di ikuti di belakangnya mobil merah juga berhenti dan layya keluar dari sana. Layya sudah berganti pakaian dengan setelan kantor berwarna abu abu tua. Layya biasa menyimpan satu set pakaiannya di dalam mobil untuk persiapan jika jika bajunya kotor atau ada hal lain. Layya mengunci mobilnya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah besar tersebut, mengikuti langkah rayyan. Seperti rayyan yang menyetir sendiri namun layya sudah terbiasa membawa mobilnya sendiri karna layya terlalu malas memakai supir pribadi, di sisi lain juga keuangannya juga tidak mendukung. Tabungan nya dari gaji nya bekerja, semua sudah ia keluarkan untuk renovasi apartemen+desain kamar Yusuf dan Maryam. Apartemen yang sudah ia beli beberapa tahun yang lalu sebelum kembali kenegara ini dan sebagian yang lain dari uangnya. Ia sisihkan untuk kebutuhan kedua anaknya dan juga untuk kebutuhan mereka sehari hari. Menghidupi kedua anaknya dalam kemewahan ia harus bekerja keras. Karna ia mau kedua anaknya juga seperti anak anak yang lain. Ada apa yang mereka mau dan inginkan meski tidak semuanya ia akan memenuhinya. Semua menurut baiknya saja.
Layya mengucapkan salam begitu kakinya berapa tepat di depan pintu berdaun dua dan besar tersebut. Tidak seperti rayyan yang langsung melenggang masuk ke dalam setelah memberi salam.
Tidak berapa lama setelah layya mengucapkan salam suara dari dalam menyahuti salam layya dan mempersilahkan layya masuk. Bibi di rumah ini dengan umurnya sekitar 40 tahun lebih gitu.
Dari sejak rayyan dan layya berada dalam pesawat sampai mereka turun di pendaratan pesawat pribadi lalu menaiki mobil yang rayyan setir sendiri dari Bandara ke perusahaannya. Tadi begitu ia turun dari tangga pesawat Aldi sudah berada di sana, beberapa meter jauh di sana dengan 2 di sampingnya dan salah satunya mobil yang rayyan bawa.
__ADS_1
Aldi menyerahkan kunci mobil ke rayyan begitu dirinya berada di hadapan rayyan. Rayyan menerima nya tanpa berkata apapun ke Aldi dan melangkah menuju mobil gray. Setelah membuka pintu mobil bagian setir rayyan tidak langsung masuk ke dalam mobil nya melainkan melihat layya, yang sedang berbincang dengan Aldi.
Layya sedang meminjam tumpangan dari Aldi sebelum suara klakson mobil yang memekakkan telinga yang di lakukan oleh rayyan.
Rayyan tidak mengeluarkan suara atau memerintah dengan bahasa tubuh akan tetapi tatapan matanya yang tajam saat menatap layya membuat Aldi mengerti.
Dengan senyum ramah Aldi menolak memberi tumpangan ke layya lalu menyuruh layya untuk ke mobil atasannya karna jika tidak, gajinya dalam bulan ini bisa bisa di potong bahkan lebih naas dari itu, hilang. Siapa yang bisa menerima kemarahan atasannya ini? Dan se umur ia bekerja di sini baru 2 kali ini ia melihat atasannya semarah itu, terlihat dari tatapannya. Dan yang pertama itu terjadi beberapa tahun lalu. Gajinya tidak di keluarkan bahkan untuk semua karyawan yang bertanggung jawab dalam perencanaan suatu proyek saat itu, dia pria berdarah dingin jika dalam hal pekerjaan lalu ke adaan sekarang apa bisa di sebut pekerjaan? Ia yakin. Kemarahan sekarang itu karna wanita yang ada di depannya saat ini.
Layya yang dari tadi mengacuhkan tidak memedulikan rayyan menoleh melihat rayyan, yang belum menyalakan mobilnya dan melenggang pergi dari sini. Tapi pria itu malah tetap berada di balik setirnya, diam menatap dirinya tajam. Seakan akan ingin tatapannya itu ingin mengupas kulitnya hingga sampai ke tulangnya, begitulah prediksi dalam tatapan mata pria itu padanya sekarang.
Selama dalam perjalanan dari bandara ke perusahaan rayyan. Keduanya diam tanpa ada pembicaraan apapun. Jadinya suasana di dalam mobil tersebut sunyi dan senyap. Rayyan yang menatap ke depan dan entah apa yang ada di benak dan pikiran nya sekarang sedang layya memilih menatap keluar jendela sembari menopang dagunya.
Seandainya saja ada mobil atau taksi lain yang ada di sina atau ada yang lewat saja. Mungkin ia bisa memilih untuk tidak naik ke mobil rayyan. Masa bodoh dengan kemarahan pria itu, yang baginya tidak jelas. Tapi saat ia perhatikan melihat ke sekeliling tempat itu begitu kakinya mendarat di anak tangga terakhir pesawat. Sepertinya tempat pendaratan pesawat jenis pribadi ini sangat terpisah dari jalan umum apalagi kota dan tentu tidak akan ada taksi atau segala jenis mobil lain yang lewat terkecuali mobil pribadi dari mereka yang mau menggunakan pesawat jet pribadi di sana. Dan yang ia temukan tadi hanya ada mobil asisten rayyan, Aldi. Lain dari mobil yang jauh bermeter meter dari tempatnya berdiri dan di sana ada beberapa mobil dari orang orang yang berbeda dan memiliki tujuan berbeda juga di bandara ini. Dan dari semua itu, tentu tidak ada yang membuatnya berani untuk meminta tumpangan. Mereka para manusia yang sama sekali tidak ia kenali dan terlihat berasal dari kelas atas atau sejenis konglomerat, yang ada di atas papi rayyan.
__ADS_1
Mendesah. Itulah yang di lakukan layya. Ia berharap setelah hari ini tidak akan bertemu atau melihat rayyan lagi. Berurusan dengan pria ini sudah membuatnya malas tapi itu hanyalah tinggal keinginan nya saja. Karna sebelum surat itu ada di tangan nya maka ia akan selalu melihat rayyan. Ia yakin kemarahan pria ini hanya sementara saja, sebelum ide licik lain muncul.
Layya mengerjapkan matanya tersentak saat mobil rayyan memasuki area perusahaan Imperial dan langsung melaju ke basement. Layya mendesah lega. Karna terlalu kesal ia bahkan melupakan untuk mengatakan ke rayyan untuk mengantarnya ke perusahaan rayyan. Di karenakan tas beserta mobilnya ada di sini.
Begitu keluar dari mobil rayyan. Layya langsung di kejutkan dengan mobilnya yang berada tepat di samping mobil rayyan yang baru terparkir. Layya menoleh melihat rayyan yang melangkah ke lift. Mungkin rayyan mau naik ke lantai di mana kantor nya berada. Mengabaikan itu. Layya mencoba membuka pintu mobil nya dan ya, terbuka.
Layya menyatu kan alisnya. Seingatnya. Ia sudah mengunci mobilnya dan mobilnya terparkir di parkiran depan tapi kenapa....
Layya kembali menoleh ke di mana rayyan menghilang.
"apa pria itu yang menyuruh orang untuk memindahkan nya?". Layya mengeryit berpikir. Layya lagi lagi tersentak saat teringat tasnya masih berada di gedung tersebut. Saat mau membalik tubuhnya sembari mau menutup pintu dari ujung matanya layya melihat siluet tasnya berada di jok mobil bagian belakang.
Membanting pintu. Layya membuka pintu bagian belakang dan dengan gerakan cepat menyambar tasnya, melihat dengan teliti apa itu benar tasnya dan ternyata benar.
__ADS_1
Lagi lagi layya melihat rayyan.
"kapan pria itu melakukan ini? ?.