
Sunyi, senyap, tenang.
Itulah yang terjadi sekarang.
Menyelimuti ke adaan di sekitar mobil.
Mobil hitam dengan merek B**ugati veyron 16,4**. Memecah jalanan kota Australia yang di tidak begitu padat akan mobil lain. Di dini malam.
Di dalamnya.
Layya yang duduk di kursi depan samping pengemudi. Memilih membuang muka ke samping. Melihat pinggiran jalan kota dengan sengaja.
Di balik setir. Terlihat rayyan. Dengah wajah yang sangat khas dirinya beberapa waktu ini. Dingin dan datar.
Ralat. Kejam. Seperti ingin menelan seseorang dengan hidup hidup.
Kedua manik matanya yang berwarna hitam pekat. Memicing tajam menatap ke jalanan kota di depannya.
Sesekali nafas tenang ia keluarkan.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Dan itu terjadi. Semenjak mobil tersebut keluar dari perkarangan rumah mami dan papi rayyan.
Apa lagi dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Setelah layya menyelesaikan makan malamnya bersama imelda, hanya berdua. Sebelum kemudian setelah layya dan imelda selesai makan. Mirza dan rayyan baru tiba di meja makan. Begitu juga dengan Andryatama.
Suasanan tegang sesaat sebelum kemudian. Layya pamit dan meminta izin ke imelda untuk melihat ke dua anaknya.
Beberapa menit layya di kamar kedua anaknya yang sedang di rawat. Imelda datang ketika layya hampir saja ketiduran.
Imelda tiba di kamar dan menyuruh layya untuk segera ke rumah sakit. Untuk pemeriksaan. Imelda diam diam sudah menghubungi dokter pribadi keluarga mereka untuk mencari dokter wanita yang ahli dalam. Khusus untuk memeriksa layya. Karna yang imelda dengar dari mirza. Saat mereka sedang makan malam. Sedang dirinya menemani Andryatama makan. Kalau layya keberatan di periksa oleh dokter laki laki.
Mungkin karna itu. Mirza tadi keluar dari kamar dan kondisi rayyan seperti itu.
Jawabannya hanya satu.
Rayyan memaksa layya.
Sedang rayyan dan Andryatama. Keduanya sama sama menghidupkan mode silent. Tanpa ada yang bicara atau membuka pembicaraan. Keduanya asik dan hanyut dalam menikmati makan malam mereka. Tentu saja dengan sangat sengaja.
Di akhir. Merasa gerah dan geram. Andryatama dengan sengaja membanting garpu ke piringnya yang sudah kosong. Sedang kedua manik matanya menatap piring tersebut.
Rayyan menyadari hal itu. Tapi dia mengacuhkannya. Menyelesaikan makannya. Padahal baru beberapa suap ia memakannya. Meraih air putih dan menegaknya sekaligus. Bangkit berdiri. Rayyan melangkah ke tangga.
Imelda berbincang bincang ringan dengan layya. Entah apa itu. Namun, terlihat sama sekali tidak ada kecanggungan. Baik di layya maupun di imelda. Di tambah, sedikitpun tidak ada kecurigaan bagi layya terhadap dirinya dan juga, papi rayyan tadi. Atau...Itu hanya pemikiran imelda saja.
Beberapa menit keduanya setelah berbicara ringan dalam canda. Hingga lagi lagi Imelda menyuruh layya untuk ke rumah sakit. Dan imelda merekomendasikan untuk di antar oleh supir pribadinya ke sana. Karna sudah malam hari. Di tambah ke adaan tubuh layya, yang tidak bisa di katakan dalam ke adaan sehat.
Awalnya layya menolak. Namun, bukan imelda namanya jika dia tidak berhasil merayu layya.
Namun, saat keluar dari kamar. Mereka berpapasan dengan rayyan, yang mau masuk ke dalam kamar. Dan tentu saja dengan busananya, yang sudah lengkap untuk keluar.
__ADS_1
V-Neck Sweater lengan panjang. Sangat cocok untuk suasana malam hari dan berwarna Khaki. Di padu dengan jeansnya berwarna hitam tua.
Siapapun yang melihatnya. Akan langsung terpesona oleh ketampanan dan menawannya seorang Rayyyan Andryatama.
"kemana?!". Tanya imelda yang penasaran melihat penampilan rayyan yang rapi malam malam.
Rayyan menjawab sambil melihat layya.
Mendapat tatapan rayyan. Layya seketika menjadi was was.
'apa yang akan pria ini lakukan lagi? Jangan bilang dia akan bertindak gila di depan maminy...'.
"mengantar seseorang ke rumah sakit. Sekalian ray mau ke rumah sakit". Alih mata rayyan melihat maminya dan menyungging senyum tipis di bibirnya.
Imelda melihat rayyan sesaat sebelum kemudian beralih menoleh melihat layya, yang berada di sampingnya.
"oh ya? Ah...Benar juga sih. Kita harus bertanggung jawab, karna layya kecelakaan di rumah kita. Ternyata putra mami jeli juga ya? ha ha ha". Tawa hambar imelda dalam menepis kepanikan di wajah layya.
Entah kenapa. Layya bernafas lega.
Rayyan menyalami dan mencium punggung tangan maminya, berpamit. Lalu berbalik dan mengatakan kalau dia. 'menunggu layya di dalam mobil'.
Namun, baru selangkah rayyan melangkah. Suara layya yang menolak untuk di antar rayyan dan memilih seperti rekomendasi imelda tadi. Yaitu di antar supir saja. Membuat rayyan kembali berbalik dengan wajahnya yang penuh senyuman manis.
Itulah bagi orang lain yang melihat. Termasuk bagi layya. Yang paham kalau rayyan sedang menyembunyikan hubungan mereka yang sebenarnya dari maminya. Tapi nyatanya. Baik layya dan imelda. Sangat paham akan senyum rayyan sekarang. Yaitu senyum yang di paksakan.
"oh ketahuilah Desainer Layya Zunaira. Jika mami ku mengatakan kepadamu beberapa menit yang lalu. Kalau aku menyukaimu dan jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Itu hanya bulshit Desainer Zunaira. Karna nyatanya. Aku tidak melecehkan anda tapi Aku...Meminta anda untuk harus di periksa. Kalau kalau suatu saat terjadi sesuatu pada anda dan kami...Tidak perlu bertanggung jawab untuk itu. Terlebih lagi. Ini sangat menyebalkan. Anda tahu?". Desis rayyan tajam.
Kedua mata layya sontak saja melebar begitu juga yang terjadi pada imelda.
Imelda memukul keras lengan rayyan sebelum mengatakan.
"ucapan mu keterlaluan sayang? Nak layya tidak seperti itu. Nak layya tetap harus di periksa kesehatannya bukan karna itu tapi ini untuk kebaikannya. Jangan dengarkan dia nak layya". Tenang imelda menatap rayyan tajam.
Sedikit rayyan tersenyum tipis sebelum kemudian kembali menatap layya. Setelah membawa Imelda ke dalam pelukannya dan mengatakan.
"aku keluar mi!".
"hm!". Jawab imelda dengan gumaman sembari mengusap punggung rayyan dengan sayang.
Menggunakan kesempatan itu. Rayyan menikmati melihat kegeraman dan kekesalan layya padanya. Lihat saja...
Layya meremas kedua buku tangannya dengan kuat.
'jadi maksudnya...Bisa saja suatu saat aku menyalahkan mereka? Dan... Menuntut mereka? Apa aku sudah gila? ...Tunggu. Apa katanya tadi? Suka? '. Layya semakin meremas buku tangannya. Sedangkan giginya merapat geram. Menatap membalas tatapan tajam rayyan.
'sangat ingin sekali aku berteriak dan mengatakan di depan wajahnya. K**alau aku tidak akan pernah mengharapkan hal itu terlebih padamu*. Dasar Rayyan b**** b****'.
Ucapan rayyan berikut nya. Sukses membuat layya tidak bisa berkutit dan berkata kata pada imelda. Yaitu...
"seseorang juga harus bertanggung jawab dengan hal tadi. Bukankah begitu mi?!". Rayyan melepaskan pelukannya. Sedikit menjauh melihat mami dan layya.
"ya? Apa?". Tadi...?. Imelda mencoba berpikir dan mencerna ucapan rayyan.
__ADS_1
'ah...Itu...'. Imelda berbalik melihat layya. Hingga membuat layya kembali panik.
"ya sudah mi! Ray turun duluan". Cup...Kejup rayyan di pipi imelda sebelum berbalik dan mengatakan.
"aku tunggu Desainer Zunaira di mobil mi!". Rayyan melenggang perdi dari sana.
Meninggalkan layya yang kembali terbata dan gelagapan.
"itu...".
"ya sudah! Sana pergi sekalian saja. Yang benar anak ibu nanti yang akan meminta pertanggung jawaban mu nak layya? Jika sesuatu terjadi padanya! Nak layya tentu mengerti kan? Bagaimana Barang itu sangat berarti untuk para lelaki? Terlebih ibu belum mempunyai cucu dan sangat ingin memiliki cucu! Tolong temani anak ibu ya? Ibu tidak bisa bilang. Nak layya tidak perlu bertanggung jawab tapi kenyataan. Nak layya harus bertanggung jawab. Tapi cukup dengan menemani dan nak layya pastikan saja. Kalau putra ibu baik baik saja. Oh ya? Beri tahu ibu setelahnya ya? Karna ibu yakin 100%. Putra ibu tidak akan melakukan itu. Mengabari ibu atau...Bisa jadi. Anak itu...Menyembunyikannya pada ibu jika sesuatu yang serius terjadi. Ibu bisa mempercayai nak layya kan?!".
"...". Layya diam beberapa saat sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.
'ya! Itu benar. Jika rayyan sedang bertanggung jawab karna aku yang tenggelam di rumahnya. Maka di sini aku bertanggung jawab karna sudah dengan sengaja menendang...Ini demi ibu imelda. Benar, jika sesuatu terjadi pada rayyan dan tidak bisa punya anak lagi. Maka, posisi kedua anakku akan dalam bahaya. Pria ini bisa jadi akan mengambil yusuf dan maryam dari ku dengan alasan. Karna aku dia jadi tidak bisa mempunyai anak lagi. Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu'.
"jadi sekalian saja barengan ya?!". Bujuk imelda dengan senyum tulus dan lembutnya.
Layya membalas senyum imelda dengan takkalah lembut.
"ya bu! ".
Tentu saja ia tidak akan bisa membantah apalagi menolak. Akan aneh terlihat, jika ia menolak keras atau membantah. Apalagi jika ia mengatakan. Putra nya bisa bisa akan melecehkannya lagi seperti yang imelda katakan beberapa menit yang lalu. Bukankah ia menuduh anak orang di depan ibunya sendiri. Ia tidak akan bisa melakukan itu.
Lagian. Entah kenapa sebagian hatinya. Mengatakan untuk bertanggung jawab. Karna sudah menendang telurnya. Yang merupakan harta dan harga paling berharga dalam hidupnya.
Dalam hati. Ia sudah mengatakan.
'ya! Aku akan menemaninya pemeriksaan. Sekalian juga aku ke rumah sakit'.
Dan di sinilah ia sekarang berada.
Layya melirik rayyan yang mengemudi di sampingnya. Lalu pandangan mata layya turun ke pinggang Rayyan lalu ke...
'shhhh...'. Layya buru buru kembali melihat keluar jendela setelah sedikit meringis.
"jika kamu sangat ingin mengetahui ke adaanku sekarang! Maka jawabanku adalah...Aku...Sedang tidak baik baik saja!".
Kedua mata layya melebar panik. Sebelum menoleh menatap rayyan.
'serius?'. Suara degupan jantung layya seketika itu juga terjadi.
Apalagi ketika teringat kedua anaknya.
'tidak!'.
"katakan kalau kamu sedang menakutiku!".
"menakutimu...?...". Rayyan menoleh menatap layya tidak mengerti sebelum satu pemikiran muncul di otaknya. Dan...
Rayyan mendengus tidak percaya.
"di saat seperti ini, masih bisa kamu memikirkan hal itu layya? ...Kamu luar biasa layya". Lanjut rayyan setelah menjeda ucapannya.
__ADS_1
Rayyan menatap jalanan kota sebelum kemudian mobilnya masuk ke perkarangan rumah sakit. Milik papinya.