
Speedboat penumpang.
Siap mengantar para tamu yang kembali ke darat segera sedangkan yang tinggal, menunggu party dinner selanjutnya.
Dari kejauhan layya melihat satu pasangan, yang sedang berbincang entah apa. terlihat sangat sangat serasi dan cocok satu sama lain namun entah kenapa terlihat bodoh juga atau ia yang terlalu berharap berlebihan selama ini.
Bukankah ada yang namanya menikah melarikan diri?. meski awal hidup tidak mudah. tapi lama lama akan membaik bukan? dan akan mendapatkan restu. atau memang dari awal mereka tidak berniat ke sana. main main saja. eurghhh...
Jika begini bukankah posisinya bisa terancam. ibu dari yusuf dan maryam. jika rayyan dan reina bersama ia yakin mereka tidak akan menganggu kedua anaknya tapi jika rayyan menikah dengan wanita lain. ia tidak yakin, wanita itu akan membiarkan yusuf dan maryam bersama dengannya. cepat atau lambat. kedua orang tua rayyan akan tahu siapa yusuf dan maryam. saat itu terjadi, ia tidak tahu bagaimana posisinya sudah tapi yang jelas. ia tidak akan melepaskan anaknya. dan yang paling buruk. bisa bisa mami dan papi rayyan memaksanya menikah dengan rayyan. walau ia bisa menolak tapi jika di ancam menggunakan yusuf dan maryam, itu kelemahannya. haruskah ia mulai sekarang membayangkan kehidupan pernikahan bersama rayyan dan kedua anaknya.
Belum apa apa ia sudah merinding.
"ah...". ringis layya saat seseorang dari belakang menabrak tubuhnya.
"I'm so-sorry nona? it's okay?". ucap seorang pria bule dengan tas ransel kecil di belakangnya.
Layya terpaksa tersenyum ramah.
"it is okay sir, I'm fine". jawab layya sembari tersenyum tipis memaksa.
Seorang pria menghampiri layya dan sepertinya itu orang suruhan dari kliennya.
"kapal selanjutnya setengah jam lagi dan ini trip yang kedua, apa ibu akan naik ini atau menunggu kapal yacth saja, itu lebih besar dari ini".
'yacht? '.
Sepintas layya merasa tertarik namun ia menepis karna ada hal mendadak yang harus segera dia lakukan. jika lama sedikit lagi saja maka ia bisa lebih lama di sini.
"aku akan naik ini saja, asal sampai ke tepi dengan selamat". jawab layya.
Pria tersebut terkekeh geli.
"ibu bisa saja, baiklah...mari saya bantu dan biar saya yang bawakan barang ibu". tawar pria muda tersebut sembari mengambil alih koper layya dan menaikkannya ke speedboad.
Setelah menaruh koper layya di tempat bagus di dekat kursi di mana layya akan duduk di sana. pria itu kembali mau membantu layya naik ke speedboad tersebut karna tentu akan sangat susah jika tidak berpegangan.
Layya baru akan mengangkat kakinya mau turun dan naik ke speedboad sebelum seseorang menghalangi pandangannya dan menduluinya naik. rayyan.
Belum layya mau mengumpat geram rayyan hal mengejutkan lainnya di lakukan rayyan.
ya. rayyan menjulurkan tangannya meminta tangan layya untuk ia bantu turun ke speedboad. sedangkan pria muda yang tadinya mau membantu layya klien dari atasannya tersebut mematung dengan tangannya masih terjulur mengantung di udara sebelum rayyan menepisnya.
Bingung dan mematung. itulah yang di alami layya melihat sikap rayyan.
__ADS_1
'apa apaan pria ini'.
Layya mengangkat kakinya berniat turun sendiri tanpa berniat berpegangan pada siapapun.
"jangan bodoh layya, kamu bisa jatuh dan itu sangat memalukan...di-si-ni". rayyan menghentikan gerakan kaki layya, yang mau loncat naik sendiri ke speedboad tanda berpegangan.
Layya melihat ke beberapa orang yang sudah ada di speedboad melihat ke arahnya dan juga beberapa orang yang mengantri di belakangnya mau naik menatap ke arahnya.
Benar, ini akan menjadi keputusannya yang paling bodoh jika ia loncat sendiri.
Layya menggeram dalam hati. ogah jika harus meraih tangan rayyan untuk berpegangan. mata layya beralih melihat ke pria muda yang telah membantunya membawa koper tadi. ia berniat mau meminta bantuan pria muda itu lagi sebelum suara rayyan menghentikan suaranya.
"hanya dua pilihan yang kamu punya layya! pegangan padaku atau loncat sendiri". geram rayyan dengan tatapannya yang dingin sedingin air laut di bawah mereka sekarang.
Layya tersentak merinding dengan tatapan rayyan.
'dia marah?... dengan siapa?...aku...? '. layya dengan cepat menggeleng, menepis pemikiran bodohnya.
Mau tidak mau layya memilih meraih tangan rayyan meski batinnya menjerit di dalam sana untuk tidak melalukan hal tersebut.
Belum sepenuhnya layya menggenggam tangan rayyan. ombak yang kecil datang sehingga membuat speedboad tersebut tidak seimbang bergoyang menyebabkan keseimbangan kaki rayyan goyah dan menyebabkan rayyan menarik tangan layya tanpa ia sadari.
"kyaaa...". jerit panik layya saat tumbuhnya tertarik ke depan dan ia bisa melihat dengan jelas kemana dirinya akan jatuh. darah, kepalanya, memar, layya bisa membayangkan hal tersebut dalam sekejap. memejamkan mata adalah hal pertama yang di lakukan layya untuk perlindungan diri.
Jeritan kepanikan sontak terdengar. bukan karna ketakutan karna goncangan ombak kecil tapi lebih ke panik dan cemas saat melihat kejadian di mana layya jatuh dari kapal yang besar ke speedboad dan dari sebagian yang melihat tersebut mendesah lega saat melihat kalau ke adaan wanita yang mengenakan kerudung abu abu, celana panjang berbahan kain, baju berwarna hitam sebatas lutut. di depan mereka baik baik saja.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
'apa semua...baik baik saja? '. layya lebih bermaksud ke bagian tubuhnya.
Perlahan layya membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah baju jas seseorang. melihat ke atas sontak saja membuat mata layya membulat lebar.
"k-kau...?".
"aku akui kamu tidak berat untuk tubuhku tapi sampai kapan posisi kita akan begini? kita jadi tontonan baby? ". ujar rayyan dengan setiap perkatanya terdengar serius seakan menunjukkan atau menjelaskan pada semua yang melihat mereka kalau hubungan mereka lebih dari kata saling kenal.
Belum juga layya habis dari rasa terkejutnya karna menimpa tubuh rayyan dan berada di atas pria yang sangat menjengkelkan ini dan sekarang di tambah dengan ucapannya yang sangat sangat luar biasa menjengkelkan baginya.
'apa pria ini sudah gila?! '.
__ADS_1
Layya menekan dada bidang rayyan dengan kedua telapak tangannya untuk bangkit berdiri.
"aku ingat, kau menarikku tadi! jika tidak, aku tidak akan jatuh".
Rayyan mendesah kecil.
"aku tidak sengaja, terjadi begitu saja". ucapnya sembari bangkit berdiri.
Layya menatap rayyan sejenak sebelum masuk ke speedboad dan duduk di kursinya di mana kopernya ada di sana. tidak lama di ikuti rayyan dan duduk tepat di samping kiri layya karna di sisi kanan layya sudah ada seorang ibu ibu bule yang duduk.
"kau berencana duduk di sini?! ".
"seperti yang kamu lihat! ". jawab rayyan cepat sembari melihat para tamu lain yang masuk dan duduk di kursi yang masih kosong.
Layya melihat ke belakang dan tidak ada bangku kosong. percuma berdebat dengan pria ini, menyuruhnya pindah duduk lebih baik ia mengalah dan duduk di kursi lain. menjauh darinya adalah hal terbaik untuk harinya. layya berniat mau menukar tempat duduk dengan tamu lain yang berada di barisan belakang namun rencananya terhenti oleh pertanyaan seorang ibu bule+jawaban rayyan.
"you're a great couple? ". tanyanya dengan raut wajah tersenyum ramah.
Rayyan yang sedang duduk santai melihat ke depan tanpa peduli keberatan layya karna ia duduk di sampingnya.
Rayyan melihat ke layya namun alihan matanya teralih ke wanita bule paruh baya tersebut dan ia pun tersenyum ramah membalas senyum ramah dan sapaan ibu ibu tersebut.
Pertanyaan wanita paruh baya tersebut menyentak rayyan dari kesadarannya. masuk dari telinga kananya berdengung nyaring di kepalanya. batinnya berteriak di dalam sana mengklaim layya adalah miliknya.
"yaaaaa...". lama rayyan dalam pengucapan kata katanya sembari berpikir kata kata apalagi yang harus ia jawab untuk menyakinkan wanita paruh baya tersebut kalau mereka benar pasangan yang sangat serasi. ia setuju itu. mulut rayyan terbuka di udara saat dirinya berniat mau menyambung jawabannya. kalau ia dan wanita yang duduk di sampingnya ini adalah istrinya namun itu terhenti karna suara wanita paruh baya bule tersebut kembali melanjutkan ucapannya. dan kata katanya kali ini sukses membuat ia senang namun tidak bagi layya.
"she your wife?! ".
Rayyan menegakkan duduknya sembari tersenyum. seakan akan hal tersebut patut ia banggakan.
"yes! my wife and...two twins!". bangga rayyan sembari tersenyum ramah ke wanita bule tersebut, yang terlihat sangat puas dengan jawaban rayyan.
Lihat saja dengan mulutnya yang terbuka dan dia menutup dengan kedua tangannya lalu memberikan selamat ke rayyan.
Sedangkan layya yang awalnya berpikir wanita di sampingnya bukan berbicara dengannya maupun dengan rayyan. sebelum? sebelum suara rayyan menjawab setiap pertanyaan wanita bule tersebut.
Layya yang mendengar jawaban pertama rayyan sontak menatap tajam rayyan dengan maksud. 'apa maksud pria ini dengan ya...? '.
Mata layya membulat saat jawaban rayyan selanjutnya. 'istri? apa dia sudah gila? '.
Belum habis rasa terkejut layya. jawaban rayyan selanjutnya membuat mata layya melebar sempurna.
"kau gila?! ". teriak layya nyaring, yang membuat orang orang di dalam speedboad tersebut melihat ke arahnya. namun layya tidak peduli. mengurus pria yang penuh dengan rasa percaya ini adalah hal yang paling membuatnya tertarik sekarang.
__ADS_1
'apa dia bilang...?! istri?...2 anak?...pasangan serasi yaaaa??? '. batinnya menjerit tidak suka di dalam sana.
'haruskah ia benamkan pria ini kelaut sekarang?... atau...ia suruh beberapa orang di sini untuk melemparnya keluar?... biar jadi santapan ikan hiu atau apapun itu...ughhhh...berurusan dengannya...sangat sangat sangat menjengkelkan'. teriak batin layya di ujung kalimatnya.