Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 80


__ADS_3

Layya dengan senyum keji masih melekat di wajah nya melenggang pergi dari sana meninggalkan 4 manusia dengan pikiran mereka masing masing.


Rayyan dengan susah payah menelan ludahnya dan memaksa senyum ketika melihat tatapan bertanya Imelda.


Batinnya menggeram ke layya karna membuatnya berada di dalam kondisi sekarang. Beralih melihat ke Reina yang menunjukkan ekspresi lelah dan putus asa. Rayyan lagi lagi mendecak.


'apa maksud wanita itu? Ia bahkan sudah bisa menebak tapi ia mau mendengar dari mulut wanita itu sendiri'.


Rayyan menyegir bodoh ke Imelda lalu memegang perut bagian bawah dan mengeluh sembari Merintis.


"akh...Mi? Ray ke toilet dulu ya? ". Rayyan beralasan supaya bisa lepas dari Imelda dan bisa mengejar layya sebelum melewati pintu ke kolam renang.


"jangan jadikan ini alasan Ray?!". Peringat Imelda.


Rayyan menggeleng dan menunjukkan wajah lemasnya.


"tidak mi? ini beneran! Lagian Ray juga hanya tahu layya sahabat Reina dari Reina, hanya itu saja".


Imelda menatap putranya menyelidik.


"oshhh... Ray enggak tahan lagi, udah dulu mi ya?". Ray segera berlari ke arah di mana layya tuju tadi dan di saat merasa sudah menjauh dari ruang tengah dan tidak terlihat dari ke mami dan rose. Rayyan berhenti.


Ia tidak mempermasalahkan jika Reina tahu karna Reina sudah tahu tujuannya ke depan Dan mereka sudah sepakat menyetujui.

__ADS_1


Memastikan sekali kalau semua sudah aman. Rayyan menoleh melihat ke belakang dirinya. Baru setelah nya rayyan kembali melanjutkan langkahnya


Rayyan menyungging senyum keji. Saat punggung layya terlihat di depannya. Ia menatap tajam punggung tersebut. Seandainya ada sinar laser di mata rayyan mungkin sekarang sudah menembus punggung layya.


Layya mempercepat langkahnya hampir seperti berlari saat mendengar suara teriakan dan tertawanya kedua anaknya. Ia pun tidak bisa untuk tidak tersenyum bahagia.


Tak tuk...


Suara high heels layya yang beradu dengan lantai. Bersuara nyaring seiraman dengan langkahnya menuju ke tempat kedua anaknya berada sekarang. Seperti yang bibi katakan. Kedua anaknya ada di kolam renang, sedang bermain air dengan pak Andryatama.



Layya melewati satu tangga besar yang melingkar. Tangga untuk naik ke lantai 2 dan 3 rumah tersebut. Tujuan layya bukan ke sana tapi ke sisi kiri tangga. Ia berbelok dari arah tangga berjalan lurus jalan menuju kolam renang. Karna sudah terlalu sering melewati jalan tersebut layya jadi terbiasa dan bisa jalan sendiri ke sana tanpa perlu di tuntun lagi seperti hari pertama ia menjemput kedua anaknya.


Sekilas layya melirik ke dua sisi pintu berdaun dua berwarna coklat dengan ukiran sembari berjalan. Imelda bilang itu adalah kamar yang di khususkan untuk tamu yang menginap. Entah kenapa ia jadi penasaran bagaimana desain di dalamnya.


Ia berhenti melawan sesaat saat sudut matanya menangkap silut jam tangan yang ia kenali dan baru beberapa menit yang lalu ia melihat seseorang memakainya.


'rayyan'. Suara batin layya.


"aku rasa kamu sangat menikmati tadi, layya? Apa aku benar? ". Bisik rayyan di telinga kanan layya.


Layya sontak menyikut rayyan dengan sikunya agar menjauh dari telinganya.

__ADS_1


Namun sedikitpun rayyan bergeming di tempatnya. Posisinya sekarang persis seperti memeluk layya dari belakang.


Satu tangannya membekab mulut layya sedangkan satu lagi ia letakkan di perut layya, menekan ke tubuhnya hingga keduanya berdempet. Sehingga siapapun yang melihat dari arah belakang rayyan, hanya memperlihatkan punggung rayyan saja sedangkan tubuh layya tertutupi oleh rayyan.


Layya meronta, menarik tangan rayyan bahkan memukul mukulnya supaya lepas. Namun hal itu hanya percuma. Kekuatan nya tidak sebanding dengan pria di belakangnya saat ini.


"eummm.. rrray... lhephas?". Ronta layya lagi dan lagi.


Rayyan menyungging senyum keji.


"seharusnya di saat kamu mau mencoba mengatawaiku. Kamu harus berpikir kalau aku akan datang untuk membalas layya?!".


Layya membulatkan matanya panik. Ia segera melawan, memukul mukul tangan rayyan, Bahkan suaranya yang menjerit untuk bisa di dengar seseorang dan datang untuk membantunya lepas dari pria ini. Namun semua itu hanya tertelan oleh bekapan tangan rayyan.


"rhay lhephas...?". Layya bersuara merajuk berusaha melepaskan dirinya dari rayyan.


Ia bahkan tidak bisa menebak. Apa yang akan rayyan lakukan padanya.


Rayyan menoleh ke samping dan ia menemukan satu pintu. Dengan segera rayyan menarik tubuh layya bersamanya. Membuka pintu coklat tersebut dan menutup kembali.



Sampai di dalam rayyan melepaskan layya setelah dirinya mengunci pintu dan mencabut kuncinya.

__ADS_1


Rayyan mundur beberapa langkah dari layya tanpa beralih menatap layya di depan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana nya sedangkan tubuhnya ia sandarkan di sandaran sofa belakangnya.


"ada yang mau kamu katakan istriku? Sepertinya tadi banyak yang mau kamu sampaikan ke suamimu ini". Kekeh keji rayyan sembari menatap layya jail.


__ADS_2