Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 96


__ADS_3

"tunggu sebentar! Dia shalat dulu". Ucap rayyan begitu membuka pintu.


Rayyan berdiri di ambang pintu. Sedang satu tangannya memegang daun pintu dan bersandar di sisi pintu. Menghalangi pria, yang akrab di sapa mirza. Teman sekaligus dokter, yang di perintahkan rayyan untuk memeriksa layya.


Mirza mundur selangkah begitu melihat temannya tersebut sambil berdecak kesal. Sedikit menyandarkan punggungnya ke hiasan guci besar di belakangnya. Dengan kakinya tersilang dan kedua tangan di dada.


"kamu serius! Menyuruhku memeriksa istrimu?!".


Rayyan mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan Mirza.


"bukankah kamu dokter?!".


Mirza menelan ludah nya. Sulit bicara dengan pria yang tidak peka ini.


"tentu saja itu benar! Dan juga. Aku dokter Bedah bukan dokter ahli dalam. Berapa kali sih aku harus bilang?!". Aku juga heran, kenapa mau aja aku nurut. ck ck...


"...". Rayyan diam. Tidak menanggapi.


"apa yang terjadi sih? Bagaimana dengan ke adaan 2 anakmu?!".


"kau banyak tanya ya sekarang?!".


Mirza mendecak.


"terserahlah! Tapi...Berapa lama, istrimu di dalam air? Maksud ku, tidak sadarkan diri... Dari tenggelam nya".


"apa itu untuk pemeriksaan?!".


Mirza sejenak memejamkan matanya. Menahan kekesalannya.


"bukankah kamu bilang tadi aku dokter, bukan sebagai temanmu di sini!".


"mana aku tahu! Dan aku tidak mau mengingatnya lagi". Ketus rayyan lebih ke kesal, ke layya.


Bisa bisa nya wanita itu belum bisa berenang. Di saat anaknya 2 dan sebenarnya apa yang dia lakukan selama 4 tahun ini. Untuk tidak berlajar renang.


Rayyan diam diam mendesah.


Lama? Ia bahkan tidak mau memikirkan itu. Berapa menitpun itu. Tapi baginya sudah beberapa jam dan hampir membuat nyawaku lepas dari tubuh ini. Aku tidak akan membiarkan dia setelah ini. Lihat saja kamu layya.


Mirza memilih menggelengkan kepalanya. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Isi otak pria di depannya saat ini. Sulit di tebak.


"aku dengar kamu baru dari dubai? Sama istrimu".


Rayyan mengalihkan matanya menatap mirza tajam.


Sadar dengan ucapannya. Mirza melihat sekeliling nya lalu terkekeh geli. Berniat mau menggoda rayyan.


"apa itu perjalanan bulan madu kedua? Tenang saja, tidak ada yang dengar. Hanya ada aku dan kamu!". Jail Mirza.


Lagi lagi rayyan mengacuhkan ucapan Mirza. Memilih menoleh ke dalam melihat layya. Apa sudah selesai dengan shalatnya. Terlebih memakai baju.


"Ayo masuk. Aku kira dia sudah selesai!".


Mengedikkan bahu nya acuh. Tersenyum memaksa. Di acuhkan oleh temannya ini. Bukan satu atau dua kali yang ia alami. Tapi sebaliknya.


"kamu sangat jahat padaku kawan?!". Canda Mirza sembari mengikuti langkah rayyan. Masuk ke dalam kamar. Menjinjing satu tas hitam, yang berisi peralatan medis untuk pemeriksaan.


Sampai di dalam kamar dan begitu melihat wanita yang terbalut dengan mukena berwarna putih. Dan juga sedang melihat ke arah mereka. Ia dan rayyan.


Mirza tidak bisa untuk tidak melebarkan matanya.

__ADS_1


Layya Zunaira. Istri Rayyan Andryatama. Dia kah itu?.


Selama ini. Ia hanya mendengar sosoknya dari alex. Namun, ia tidak pernah melihatnya secara langsung dan bertatap muka seperti ini.


Cantik, sangat cantik. Itulah kata pertama yang bisa ia katakan. Melihat wanita di depannya. Wajah putih bersih, hidung panjang mancung layaknya wanita wanita Afghanistan, bibirnya yang...


Sialan kau ray. Bagaimana bisa kau mendapatkan wanita secantik ini sebagai istrimu? Sial...Dia tipeku.


"turunkan tatapanmu Mirza!". Sarkas rayyan kejam, tidak suka layya di tatap begitu. Terlebih pria itu adalah temannya sendiri.


Farhan. Sepupunya yang tergila gila ke layya. Sudah ia urus. Di tambah jika mirza sama dengan farhan. Maka itu sangat menjengkelkan. Baru saja ia bisa membungkam mulut pamannya. Jangan katakan ia harus mengancam pria ini lagi.


Tatapan farhan ke layya. Sama seperti tatapan mirza sekarang. Shit...


Diam diam rayyan merapatkan giginya.


Mirza tersentak sadar. Cepat cepat mengalihkan matanya menatap rayyan.


'shit... Dia istri temanmu. Sadarkan dirimu Mirza'. Rutuk batin mirza.


"aku rasa kamu sedang bercanda Rayyan Andryatama!". Seru layya tidak suka melihat Mirza apalagi rayyan.


"berbaringlah! Semakin cepat maka semakin bagus!". Kesal rayyan menghiraukan layya. Aku juga tidak suka ini. Jika bisa di katakan. Ia menyesal menyuruh pria ini datang ke sini.


"apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?!".


Rayyan menarik nafas sangat tenang. Seakan akan ucapan layya sama sekali tidak mengganggu nya. Ia berkacak pinggang menatap layya.


"ya! Sangat sangat sadar. 100% sadar, jadi cepatlah!". Maka akan lebih baik. Melihatnya menatap mu. Ingin ku lempar segera keluar.


"sekalipun kamu tidak menyukaiku ray! Paling tidak, tolong hargai aku sebagai wanita!". Layya mencoba bersabar.


Mirza yang menjadi penonton sekaligus pendengar dari satu pasangan di depannya menghela nafas.


Memijit kening nya sambil bergumam.


'aku tahu akan jadi seperti ini!'.


"dia dokter layya? Jangan berlebihan". Dinginnya. Y**a. Dia dokter terbaik. Itulah alasannya pria ini ada di sini. Dia memang Dokter bedah kandungan. Tapi dia juga ahli dalam segala hal tentang ilmu kedokteran.


"berlebihan?!". Layya nyaris saja berteriak marah. Jika tidak menyadari, kalau siapa dirinya bagi pria ini. Tapi tetap saja, tidak bisakah dia menghargainya.


"Serius?! Memeriksa tubuhku dan dokter itu adalah pria?!".


Rayyan mendesah.


"bukankah aku sudah jawab tadi? Dia dokter. Kamu tahu arti dari kata dia dokter bukan? Tugasnya mengobati orang. Bukan mengamati orang, jadi cepatlah layya. Kesabaranku ada batasnya!".


'apa pria ini bilang? Kesabaran? Huhh...'.


"aku tidak mau! ".


"kamu yang berbaring sendiri atau aku yang membaringkan mu layya! ".


"...aku keluar saja dulu ya? Selesa...".


"diamlah dan tetap di tempatmu mirza". Potong rayyan. Membuat langkah mirza berhenti seketika.


Mirza berniat mau keluar dan menunggu di luar dari pada menyaksikan satu pasangan, yang ia dengar tidak pernah akur ini.


"berhenti di sana layya!". Bentak rayyan. Saat melihat layya melangkah ke walk in closet.

__ADS_1


"bukankah seharusnya kamu yang butuh di periksa itu? Terutama otakmu". Ujar layya sebelum masuk ke walk in closet, yang berada di kamar tersebut.


Mirza membulatkan matanya sebentar sebelum menutup mulut nya, menahan tawa. Namun, lagi lagi ia mendapat tatapan tajam rayyan begitu menoleh pria tersebut.


"haruskah aku kembali? Istrimu tidak mau!".


"tetap di sini! Atau aku akan membuatmu tidak memiliki pekerjaan lagi". Ucap rayyan sambil berjalan mengikuti langkah layya, hingga masuk ke dalam di mana layya menghilang.


"tidak bisakah, sekali saja kamu patuh. Tanpa membuat ku marah dan menggunakan ancaman untukmu...?!". Geram rayyan begitu sampai di samping layya dan berdiri di hadapan layya.



Layya menarik nafas tajam. Menghentikan gerakannya melepas mukena.


"itu adalah kamu! Lakukanlah aku tidak akan terpengaruh, juga...Aku baik baik saja, tidak perlu yang namanya pemeriksaan itu". Layya kembali melanjutkan gerakannya melepas mukena. Hingga hanya tinggal piyama di tubuhnya. Sedang rambutnya yang hitam dan masih basah. Ia biarkan saja ter urai begitu.


Sejenak rayyan menahan nafasnya sebelum detik berikutnya menyadarkan dirinya.


"kamu bisa mengatakan itu sekarang layya. Tapi itu bisa berefek buruk nanti layya? Paru paru mu terendam air sangat lama layya. Kamu tidak sadarkan diri, hampir membuat ku melempar mu kembali ke dalam air. Kamu tahu? ". Bentak rayyan marah.


"jadi maksudmu...Karna kamu sudah menolong ku, jadi kamu bisa sesuka hatimu memerintah ku begitu? Rayyan kamu memang suami ku sekarang. tapi sebentar lagi akan menjadi mantan. Lebih baik kita batasi hubungan ini sebelum aku gila gara gara kamu dan...Untuk kamu yang sudah menolongku. Aku akan membalasmu, tapi nanti....Setelah kedua anakku kembali seperti biasa". Layya memasukkan mukena tadi ke tas belanja.


Sedang kedua manik mata rayyan menatap layya tajam.


Apa? Mantan? Sebentar lagi? .


"karna itu...Mari berjalan di jalan masing masing!". Layya mengangkat ketiga tas belanja di tangannya. Menatap rayyan dan melangkah melewati rayyan mau keluar.


Rayyan yang tatapannya sudah menjadi gelap. Sejenak memejamkan matanya begitu layya melewatinya. Ia membalik badan melihat layya.


"kamu mau kemana?!". Tanyanya masih menahan dirinya untuk tidak meledak.


Layya menghentikan langkahnya.


"aku mau lihat kedua anakku!". Jawabnya tanpa berbalik melihat rayyan.


"mereka sedang istirahat! Mereka tidur dengan sangat lelap! Mereka baik baik saja. Tidak ada masalah serius. Mami yang mengatakannya padaku. Jika kamu tidak percaya. Kamu bisa tanyakan nanti ke mami tapi setelah kamu di periksa layya atau kita ke rumah sakit sekarang!".


Layya yang berdiri di depan pintu walk in closet berbalik menatap rayyan.


"kenapa kamu sangat ngotot sih? Bukankah aku sudah bilang? Aku baik baik saj...".


"kita akan tahu setelah kamu di periksa. Yusuf dan Maryam sudah. Tinggal kamu!". Potong rayyan cepat.


Wanita ini memang sangat pandai dalam membuat moodnya berubah ubah di setiap detik.


"aku tidak mau! Sekalipun aku butuh, aku akan melakukannya sendiri, ke rumah sakit. Aku pergi".


Tak...


Layya melangkah keluar.


Mirza yang masih berada di dalam kamar melihat ke arah pintu, yang terbuka dengan sedikit bantingan. Ia melihat layya istri rayyan keluar dengan tentengan tas.


"berhenti di situ layya?!". Teriak rayyan dari dalam.


Mirza yang menjadi penonton melihat ke layya yang tidak berhenti. Malah semakin melanjutkan langkahnya. Mengalihkan matanya ia melihat ke pintu di mana rayyan berada di dalam sana.


"layya kamu dengar?!". Teriak rayyan yang di hiraukan oleh layya.


Di dalam rayyan menggertakkan kedua giginya sebelum melangkah lebar mengejar langkah layya, yang mau mencapai pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2