Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 97


__ADS_3

Trrttt...


Suara pintu yang di buka kasar oleh rayyan


Di lanjut dengan...


Brakh...


Rayyan menutup nya dengan membanting keras.


Mirza yang masih berada di sana. Sama sekali tidak terkejut. Malah bersikap sebaliknya, sembari meringis dalam hati. Saat melihat raut wajah rayyan, yang merah karna marah.


Mirza mendesah.


'memang menunggu di luar adalah keputusan yang bag...'.


"aku sudah memperingati mu layya!". Suara rayyan yang terdengar, memotong ucapan dalam hati Mirza.


Mirza kembali melihat rayyan, yang melangkah lebar ke pintu kamar. Nyaris hampir seperti berlari dalam mengejar langkah layya.


Begitu sampai di hadapan layya. Tanpa sepatah katapun rayyan langsung membopong tubuh layya.


Hingga membuat layya tersentak terkejut sebelum ia menjerit panik.


"kyaaa...Apa yang kamu lakukan..?". Ronta layya di pundak rayyan.


Layya memukul mukul punggung rayyan, yang bisa ia raih.


'menunggu di luar adalah keputusan yang tepat!'. Sambung mirza dalam hati.


"Rayyan Andryatama! Turunkan aku?!". Teriak layya.


Rayyan yang sudah berbalik dan sedang berjalan menuju ranjang. Mengacuhkan ucapan dan teriakan layya.


"keluar sekarang Mirza!". Perintah nya dingin ke mirza tanpa melihat temannya tersebut.


"ray kau dengar tidak sih? Turunkan aku?!". Kesal layya dan masih dengan memukul mukul punggung rayyan. Yang bagi rayyan sama sekali tidak terasa apapun.


"aku sudah memperingati mu layya? Dan aku tidak suka di bantah! kamu...? Sudah melakukan nya".


Kedua kaki layya menendang nendang entah kemana. Dalam meronta untuk di turunkan oleh rayyan.


"memang aku peduli? Turunkan aku rayyan brengsek? ...Jika pun mau di periksa. Akan aku lakukan sendiri. Turunkan aku rayyan Zebra menyebalkan". Umpat layya.


Rayyan menyungging senyum sinis sembari mendengus.


Brukh...


"ah...". Ringis layya begitu punggungnya membentur kasur empuk di bawahnya.



Rayyan melempar layya ke ranjang. Layaknya membanting sesuatu hal yang besar dan berat baginya tanpa perasaan. Setelahnya, ia ikut naik ke ranjang.


Meraih kedua tangan layya dan menempatkan nya di atas kepala layya. Mencekal nya.


"apa yang kau lakukan?!". Lagi lagi layya berusaha melawan.


"apa yang aku lakukan? Apa kamu perlu untuk menanyakannya...? Kamu menolak pemeriksaan dari dokter. Itu artinya kamu mau aku sendiri yang memeriksa tubuh mu bukan?!".


Layya melotot lebar menatap rayyan ngeri. Ngeri dengan pemikiran nya yang tiba tiba saja terlintas.


"Rayyan Andryatama! Apa kau sudah gila?! Minggir dan lepaskan tanganku!". Teriak layya sambil meronta ronta. Menyentak nyentakan kedua tangannya dari cekalan rayyan. Agar terlepas.


Geram. Rayyan meraih dagu layya dan mendongakkannya dengan kasar untuk menatap dirinya.


"gila?!". Rayyan mendengus keji. Sembari menatap ke dalam manit mata layya dengan tajam.


"apa perlu aku lakukan hal lebih menggila dari ini layya?!". Desis rayyan di hadapan wajah layya.


Menggertak gigi nya.


Rayyan menoleh ke samping menatap mirza yang masih berada di sana. Dan sedang melihat ke arah mereka berdua.


"apa yang kau lakukan mirza? Tidakkah kamu dengar, aku menyuruhmu keluar?!".


Mirza menelan liurnya menepiskan bibirnya sebelum berbicara.


"aku dengar! Aku hanya mau mengatakan. Entah kenapa tebakanku benar. Hal ini akan terjadi. Jadinya, aku tadi menyuruh dokter wanita yang ahli di bidang dalam untuk ke sini. Jadi...Apa yang harus aku lakukan sekarang? Menyuruhnya kembali?!".


Rayyan terlihat berpikir sejenak sebelum me jawab lalu melihat ke layya sejenak, yang sudah berhenti meronta.


"dokter wanita mau?!". Tanyanya dengan nada lembut dan tatapannya yang tidak dingin lagi.


"apa kamu tuli rayyan?! Aku mau lihat kedua anakku. Dan jika pun butuh di periksa, akan aku lakukan itu sendiri".


Layya bernafas naik turun.


"jadi...lepaskan tanganku!". Lanjut layya setelah diam beberapa detik.


Lama menatap layya hingga kedua manik matanya menjadi tajam. Rayyan kembali berbicara dengan mirza tanpa melihat temannya tersebut.


"suruh dokter itu kembali dan lakukan pembayaran sesuai waktunya yang terambil. Kamu juga keluarlah!".

__ADS_1


Mirza tergidik ngeri mendengar sarat ucapan rayyan yang dingin.


Ughhh...Ini tidak akan baik baik saja untuk wanita it...Ah... Istrinya.


Mirza mengangguk mengerti.


"Aku pergi. Panggil aku jika butuh sesuatu lagi". terutama dengan dokter wanita. Aku yakin kamu akan membutuhkan itu lagi. Sambung mirza dalam hati.


Mirza berjalan ke pintu kamar dan tanpa menoleh ke belakang. Melangkah keluar kamar.


Hah...


Suara helaan nafas berat mirza. Begitu pintu di belakangnya tertutup.


Menaikkan pandangannya dan saat itu juga. Kedua bola matanya kembali melotot lebar. Ia terkejut.


"Aunti Meli?!". Seru nya terkejut dan tubuhnya dengan sigap entah kenapa melindungi pintu di belakangnya.


Aunti meli? Entahlah. Sejak ia kenal dan berteman dengan rayyan. Aunti meli melarangnya untuk memanggil. Aunti saja atau aunti Imelda. Karna itu sampai sekarang ia memanggil Aunti meli.


Imelda yang melihat itu. Sontak saja menyatu kan kedua alisnya menatap mirza.


Imelda tadinya mau membuka pintu. Namun, terhenti saat pintu di depannya terbuka dan Mirza keluar.


Akhirnya. Saat melihat mirza menghela nafas berat. Imelda melipat kedua tangan di dadanya menatap mirza penuh dengan interogasi.


Melihat tatapan wanita dari mami temannya tersebut. Mirza memaksa senyum.


"euhmmm...Itu...". Mirza gelagapan sendiri. Ia tidak tahu harus bicara apa.


"ah...Aunti meli mau masuk?!". Tanyanya bodoh. Padahal sudah jelas bukan? Aunti meli mau masuk. Kalau tidak kenapa beliaunya berdiri di sini.


Mirza lagi lagi tertawa bodoh.


"seperti nya kamu tahu banyak!". Imelda memicing tajam menatap mirza.


Mirza tersentak segera kembali melihat wanita cantik paruh baya di depannya sebelum kembali membuang matanya ke samping. Tidak mau. Isi pikirannya di baca oleh wanita di depannya. Karna yang selama ini ia kenal. Wanita ini sangat pintar dalam menebak isi pikiran seseorang.


"tahu apa ya aunti? Mirza nggak ngerti ha ha ha....". Tawa renyah mirza.


Imelda menyamping kan kepalanya. Melihat ke pintu di balik punggung mirza.


Mirza yang melihat hal tersebut mengikuti tatapan mami rayyan.


"rayyan dan istrinya di dalam?!".


"khuk...phukkk...Phukk..". Mirza terbatuk batuk tersedak air liurnya sendiri.


Sebelum kemudian mirza membulatkan matanya panik. Menatap lantai di bawahnya.


"kamu sudah makan malam!?". Imelda masih dengan sikap tenangnya. Sangat tenang malah. Bahkan bisa membuat bulu kuduk Mirza berdiri semua.


"ini sejenis penyuapan Aunti meli....? Ha ha ha". Tawa bodoh mirza.


Imelda menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum paksa.


"apa rayyan sudah pernah mengatakan padamu, kamu bisa bekerja di rumah sakit terpencil?!".


Mirza mematung seketika di sertai deru nafasnya yang berhenti.


"ah...Aunti meli bisa saja bercandanya, ha ha ha. Sama sekali tidak aunti meli?". Tertawa sumbar mirza.


Mirza menggeram dalam hati.


Mendapat tatapan tajam dari imelda di depannya. Yang berarti. Putraku sudah mengancammu untuk menutup mulutmu bukan?!.


Ugh...


Diam diam mirza meringis dalam hati.


Imelda semakin memaksakan senyum palsunya.


"apa terdengar begitu?!".


Mirza menghentikan tawanya. Melihat wanita paruh baya di depannya sebelum menampilkan wajah lesu dan tidak berdayanya.


Ibu dan anak. Sama saja ini. Suka mengancam.


"Aunti meli adalah wanita cantik yang baik!".


"tentu saja! Lalu...Aunti rasa banyak hal yang perlu Aunti ketahui. Bagaimana dengan makan malam dulu?!". Tawar imelda dengan nada memaksa.


Mirza mau tidak mau harus mengumpat dalam hati. Lebih lebih ke rayyan.


"Minggirlah, Aunti mau masuk. Rayyan dan nak layya di dalam bukan?!". Imelda melangkah mendekat ke pintu.


Nak layya? Ah...


"oh?!". Suara terkejut Mirza begitu sadar dari lamunannya. Namun segera mirza menghalangi pintu lagi lagi.


Imelda yang melihat hal tersebut lagi lagi menyatukan alisnya.


Pria muda dan tampan di depannya. Serta sebaya dengan putranya. Namun, dia berkulit putih pucat. Menggunakan kaca mata berlensa dan memakai setelan santai. Kaos putih di padu dengan celana berbahan kain warna abu abu.

__ADS_1


Mirza membalas tatapan mami rayyan dengan gugup sekaligus gelagapan.


"aunti tidak jadi makan malam? Kebetulan mirza lapar banget nih! Ayo aunti meli. Laper banget nih?!". Mirza melangkah menjauh dari pintu dan berdiri setelah melangkah beberapa langkah. Ia berhenti dan kembali menoleh melihat mami rayyan. Yang berdiri di tempatnya tadi. Sama sekali tidak bergerak untuk ikut dengan mirza.


Malah hal selanjutnya yang di lakukan imelda sukses membuat kedua bola mata Mirza membulat lebar.


Bahkan ia bertanya tanya pada dirinya sendiri. Apa yang sedang ia lakukan.


"kamu turun saja duluan! Di bawah ada bibi, yang menyiapkan. Aunti harus melihat ke adaan nak layya dulu".


Cklek...


"aunti meli tunggu...". Mirza memegang daun pintu, untuk tidak terbuka lebar. Setelah tadi sedikit berlari untuk mencapai pintu.


Imelda menatap mirza, yang tiba tiba sudah berada di samping nya dengan bingung.


"ada apa lagi?!".


"itu...Mirza mau makan sama aunti meli. Mirza rindu banget makan sama aunti mel..".


Pletak...


"aw...Sakit aunti meli?!". Ringis mirza sembari mengusap usap keningnya. Yang di jitak keras oleh mami rayyan.


"sikapmu dari tadi aneh banget tahu enggak? Mencurigakan! Ada apa sih di dalam? ...Apa rayyan melakukan hal aneh aneh sama nak layya? ..Aunti harus melihatnya. Minggir mirza! Kamu mencurigakan!". Imelda menarik keluar tubuh mirza untuk menjauh dari pintu.


"bukan gitu aunti meli...? Tapi...Tapi...Tapi...Itu...Di dalam...Itu...". Argh...Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan sekarang?.


"ada apa sih? Minggir sekarang mirza? Kalau tidak aunti marah lho?!".


Shhh...


Mirza meringis.


"Begini aunti... Pokoknya aunti belum bisa masuk sekarang. Kita makan malam aja ya? Biarkan mereka bersenang senang dul...". Mirza melebarkan matanya. Sadar bahwa dirinya keceplosan.


"bersenang senang?...Maksudmu...". Imelda menatap mirza. Menginterogasi akan ucapannya barusan.


Mirza menunduk. Memilih menatap lantai setelah mendecak kesal akan dirinya sendiri.


Habislah sudah ia setelah ini. Rayyan tentu akan menghajar nya. Tapi tunggu...Ada aku atau tidak di depan pintu tadi. Aunti meli juga akan masuk bukan?.


Imelda mendesah menatap mirza. Menolak tubuh mirza. Yang entah kenapa sangat ringan.


"aunti itu...".


Imelda mengambil kendali memegang knop pintu setelah menarik tangan mirza hingga terlepas.


"itu apa?". Tanyanya malas. Berhenti sejenak di ambang pintu menoleh menatap mirza.


"itu...Putra aunti meli dan istrinya sedang...Sedang...". Mirza membuang muka ke samping sembari menutup mulutnya. Dan entah datang dari mana. Kedua pipi mirza tersipu merah.


Mirza tidak lagi melanjutkan ucapannya karna terlalu malu.


Inilah salah satu sifat Mirza. Si tampan dengan kulit putih pucat. Namun, pemalu. Karna itu juga. Selama 31 tahun. Dia menjadi pria single alias jomblo happy.


"Sedang apa? Kamu dari tadi ucapanmu enggak jelas Mirza? Memangnya nak layya dan rayyan sedang apa?!". Malas imelda namun tetap melayani mirza bicara.


Bagi imelda. Sosok mirza adalah seperti anak kecil atau bisa di sebut. Lucu. Menggemaskan. Karna itu ia menyuruh pria ini memanggilnya aunti meli saja. Karna jika mirza memanggilnya mami sama seperti farhan. Tidak menutup kemungkinan, ia akan meremas dan mencubit cubit pipi mirza. Serta menciumnnya dengan gemas.


Melihat kedua pipi mirza yang semakin merah. Imelda sadar akan sesuatu.


Tunggu...


"ray dan nak layya tidak sedang...". Imelda menjeda ucapannya menatap mirza yang memejamkan kedua matanya. yang artinya membenarkan tebakannya.


Imelda menatap ke depan. Ke dalam kamar rayyan.


Kamar yang luas. Tentu saja tidak akan terlihat dari pintu di mana keberadaan layya dan rayyan berada.


Tunggu...


Tidak ada suara apapun.


"kamu yakin mereka sedang...".


"ugh...Layya...Ini-sa-ngat-menyakitkan...eughhh...Shhhh...!".


Suara ringisan yang berasal dari kamar di depan mereka.


Sontak saja membuat Imelda dan mirza membulatkan kedua mata mereka. Dan serentak melihat ke dalam kamar.


Suara rayyan, yang bukan suara seseorang yang sedang bahagia atau apapun itu. Tapi lebih ke suara. Menderita+menahan sakit.


Imelda berbalik melihat mirza begitu juga mirza sebaliknya. Mereka saling melihat satu sama lain. Sebelum suara lain ikut menyusul.


🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎🤎


Maaf banget ya lama up...


Sibuk banget soalnya...


Dan terima kasih sudah setia menunggu.

__ADS_1


💖💖💖


🙏🙏🙏


__ADS_2