
"****** kau pria tua bangka!... apa maumu hah...?!".
"ingat satu hal paman?...aku bis..bla bla bla*...".
Pikiran layya dari kemarin semenjak dirinya turun dari mobil rayyan. ucapan itu selalu terlintas dan entah mengapa sangat mengganggu dirinya.
*Flash back..
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam setengah dari dermaga ke hotel tempat layya menginap dan selama itu juga layya mendengar pembicaraan rayyan dengan lawan melalui handphone.
Layya terdiam bahkan melupakan kalau dirinya mau cepat keluar dari mobil rayyan begitu mendengar kata 'paman' keluar dari mulut rayyan. entah kenapa hati dan batinnya menyuruhnya untuk waspada. dan firasat buruk tiba tiba saja menyerangnya entah karna apa.
'paman...paman...paman...siapa kah pria ini?! '.
Bertanya ke rayyan. ia yakin pria itu tidak akan menjawab.
Mobil berhenti tepat di depan lobby hotel. layya menarik nafasnya tajam. menahan berbagai pertanyaan yang mau ia tanyakan. layya berniat mau membuka pintu mobil sebelum seseorang sudah duluan membuka untuknya. rayyan.
Layya menghentikan gerakan kakinya yang mau melangkah keluar mobil. melihat menatap rayyan, yang sedang memegang pintu mobil dengan satu tangannya sedangkan tangan lain dia taruh di pinggang. matanya melihat kearah lain tidak melihat layya.
Layya mengernyit akan hal itu. lebih tepat ke pemikirannya sendiri. rayyan yang di hadapannya sekarang benar benar marah. marah ke padanya atau bisa di bilang. marah karna sesuatu hal yang membuatnya menyesal.
Jika pemikirannya benar. maka itu adalah pernikahan mereka dulu. itu artinya seseorang mengetahui pernikahan mereka dulu dan menggunakan itu.
Lalu... paman. paman yang mana?. ia sama sekali tidak mengenal rayyan. berapa jumlah paman yang rayyan miliki. mami dan papi rayyan saja ia baru kenal beberapa bulan ini bahkan sampai sekarang ia tidak tahu apa rayyan mempunyai saudara kandung atau cuma sendiri.
Paman!... tidak mungkin paman yang itu bukan?.
Jujur. melihat wajah paman rayyan itu ia yakin paman itu tidak mungkin melakukan hal jahat. raut wajahnya terlihat sangat baik.
"tidak keluar? tadi kamu sangat ingin segera melompat keluar ".
Suara rayyan menyandarkan layya dari pikirannya.
Layya lagi lagi menarik nafas. melangkah turun dari mobil rayyan. ia berhenti sejenak setelah keluar dan melihat gerakan rayyan, yang menutup pintu lalu memutar mobil dan masuk kembali dalam mobil tanpa mengucap apapun pada layya. mobil rayyan melaju keluar dari area hotel tersebut.
Layya bahkan melupakan pertanyaan sebelumnya yang mau ia tanyakan ke rayyan dan sekarang. di tambah dengan pertanyaannya yang baru.
Layya masih berdiri di sana. melihat punggung mobil rayyan sampai hilang dari pandangannya sedangkan pikirannya masih bertanya tanya. 'siapakah paman itu'.
Flash back off*...
"hah...". lagi lagi layya mendesah. entah untuk keberapa kali.
__ADS_1
'paman!... apa paman rayyan yang waktu itu? '.
Pikiran layya kembali terlintas bagaimana rayyan yang sangat marah.
'dia bahkan mengatakan pamannya...*******!... ". terlihat layya sangat berpikir keras.
Saat ini layya berdiri di depan dinding kaca, yang cukup lebar. sebuah ruangan besar. kosong tanpa furniture apapun. kedua tangan layya terlipat di dadanya sedangkan matanya menatap lurus ke depan.
Layya mencoba menggabungkan pemikirannya. kemarahan rayyan. dirinya yang di tarik rayyan ke dalam mobil tiba tiba lalu...pria dengan kamera yang rayyan bilang suruhan seseorang dan yang terakhir...ucapan rayyan. pamannya.
Jika itu adalah paman rayyan yang waktu itu. itu artinya.
'pria berkamera itu suruhan paman rayyan, yang artinya...paman rayyan sudah tahu kalau ia dan rayyan tidak ada hubungan apapun lagi atau...paman rayyan sudah tahu dari dulu kalau mereka sudah bercerai dan pertemuannya dengan paman rayyan waktu itu...
Layya menarik tajam nafasnya setelah terdiam beberapa saat.
'pria itu di ancam'.
Bukan urusannya sih. tapi jika paman mengancam rayyan menggunakan dirinya. itu artinya. paman rayyan juga bisa mengancam rayyan dengan yusuf dan maryam... tunggu...
'paman itu belum melihat yusuf dan maryam kan? '.
Ia di bohongi+dikhianati oleh pria itu. jadi berpikir kalau pernikahan mereka tidak di ketahui mami dan papi rayyan adalah hal yang wajar. dengan bermodalkan itu paman bisa mengancam rayyan. tapi jika di pikir pikir itu tidak bisa terus berlanjut namun ia pun tidak mau pernikahannya dengan rayyan di ketahui oleh mami dan papi rayyan.
Layya menggertakkan giginya. kenapa harus jadi seperti ini?.
"bu Zunaira? ".
Layya menoleh ke belakang begitu mendengar suara vivi. satu asistennya, yang ia bawa ke sini untuk membantunya mengurus beberapa hal. termasuk kemarin saat dirinya menghadiri resepsi anak klien tersebut. vivi tinggal di kamar hotel untuk mengurus semuanya sebelum ia kembali dan supaya semua berjalan cepat dan lancar.
"Mr. william dan Mrs. william sudah di sini! ". sambung vivi begitu sampai di depan layya.
Layya menyungging senyum ramah dan sopan ke satu pasangan yang sedang mendekat perlahan ke arahnya.
Layya mendekat pelan. bersapa sopan tanpa bersalaman. sebelum ketiganya melihat ke sekeliling ruangan tersebut. dimana wanita paruh baya tersebut menunjuk ke dinding dan ke berbagai hal yang perlu layya design dan dekorkan.
Layya mengangguk anggukan kepalanya dan sesekali ia menimpali ucapan wanita paruh baya tersebut. memberikan ide darinya.
"bagaimana menurutmu Mrs. zunaira? apa akan siap dalam 2 minggu? ".
Layya mencoba berpikir menimang.
"ini karna putra kami akan pulang 2 minggu lagi dan dia akan langsung mulai bekerja". Mr. william menyahut.
__ADS_1
"2 minggu bukan waktu yang lama tapi akan kami usahakan, sesuai dengan kontraknya saja". balas layya ramah.
Di kontrak ter tera 3 minggu selesai namun kata Mrs. william kepulangan putranya di percepat dan katanya lagi. putranya memikili sifat yang gila akan kerja. jadinya. kontrak yang awalnya begitu terpaksa di ganti dan tentu dengan biaya akan di naikkan. bekerja santai dengan cepat sangatlah berbeda. bisa bisa mereka akan salah di setiap design jika tidak hati hati dan bisa berimbas ke kariernya.
"seperti rumor, anda sangat konsisten Mrs. Zunaira?". puji Mr. william.
"terima kasih untuk pujiannya Mr. William".
"dan kapan akan mulai bekerja? ". tanya Mrs. William.
"Secepatnya Mrs. willian? setelah saya mengirim designnya maka sudah mulai bekerja, nanti asisten saya akan mengabari anda lagi".
"saya jadi tidak sabar untuk melihat hasilnya". ujarnya lagi.
Layya tersenyum tipis.
"ah...saya dengar anda akan balik hari ini?".
Layya menanggapi.
"ya Mrs. william. tiba tiba saja ada urusan mendadak. designnya akan saya kirim dari sana dan pihak di sini yang akan menangani semuanya".
"akan sangat menyenangkan jika anda sendiri yang menanganinya".
Layya terkekeh.
"saya menyesalkan itu". canda layya lalu ketiganya terkekeh.
Mr. William dan Mrs. William tahu kalau dirinya hanya akan mendesign saja dan tidak akan turun ke lapangan. itu perjanjian awal kenapa ia mau ke sini dan menerima kontrak kerja. lebih lebih ke direkturnya sendiri dan jika saja di rektur tidak meminta dengan memohon padannya sungguh ia tidak akan mau. Mr. William adalah teman Sejak kecil di rekturnya. itulah yang ia dengar dari di rektur beberapa hari yang lalu dan karna itu juga dia sangat memaksa.
"baiklah, saya sudah melihat tempatnya dan saya akan membuat denah awal, Mr. dan Mrs William bisa ikut melihat dan memberikan masukan seperti keinginan kalian". ujar layya tanpa basa basi. dan biar pekerjaannya cepat selesai dan ia segera balik ke kotanya tapi sebelum itu. ia harus ke suatu tempat dan itu sangat sangat penting.
"oh baiklah, mari ikut kami". ujar Mr. William mempersilakan layya keluar dari ruangan kosong tersebut dan menuju ruangan lain yang bisa mereka pakai untuk berbincang sembari layya membuat denah design awal.
💓💓💓
Terima kasih sudah setia.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya???
Di like dan koment yang banyak...
Aku menanti.
__ADS_1
See you...