
Tak...
Layya meletakkan tas sampingnya di atas meja kaca yang berukuran persegi panjang yang berada tepat di tengah tengah ruangan.
"banyak sudah aku dapatkan pujian di dalam pekerjaanku tapi entah kenapa pujian yang keluar dari mulutmu sama sekali tidak ingin ku dengar! ". tajam layya setelah berbalik dan sekarang sedang melihat lihat kondisi ruangan.
Rayyan memasang senyum tipis.
"aku pernah dengar pepatah jika seseorang memujimu maka kamu harus membalasnya dengan mengucapkan terima kasih padanya, itu sopan santun desainer Zunaira?".
Layya menghentikan langkahnya menoleh menatap rayyan. artinya...ia tidak punya sopan santun?.
"aku akui iya... jika itu denganmu! jika ada manusia di dunia ini yang tidak perlu aku ucapkan terima kasih atau untukku hargai...".
"maka itu aku, right...?". dengan kedua tangannya masih di kantong celananya. rayyan sudah berbalik dan kini menatap layya. keduanya saling menatap dengan jarak yang cukup jauh. layya dengan kejengkelannya sedangkan rayyan dengan sikap tenang semakin memperlihatkan aura ketampanannya.
"syukurlah jika kamu sadar diri lalu...kenapa kamu di sini? ". layya berbalik melangkah ke sudut ruangan karna sesuatu hal di sana menyita sudut matanya.
Rayyan mengedikkan bahunya acuh sembari melangkah mendekat ke layya dengan pandangan matanya melihat lihat ruangan tersebut.
"bukankah sudah jelas? aku kira kamu pintar". rayyan melihat memerhatikan hal yang sedang di koreksi layya di sudut ruangan dengan jarak mereka 3 meter.
Layya mengghentikan gerakan tangannya yang sedang mengecek tembok yang warna catnya masih tidak rata dari yang lain. mungkin ini kelalaian pekerja.
Tangan layya terkepal kuat dan ingin sekali ia menonjok wajah pria di belakangnya. jelas sangat ia tahu tujuan pria ini pagi pagi muncul di matanya. mau membuat mood paginya buruk.
"senang mendengarnya pak andryatama? dan aku rasa anda harus memasukkan jadwal tersebut ke dalam schedul harian anda".
"terima kasih untuk sarannya, akan aku beritahu asistenku! tapi...ini...lampunya belum terpasang? ". rayyan mendongak menatap ke atas.
Mendengar ucapan rayyan kepala layya sontak mendongak melihat ke atas.
__ADS_1
'bagaimana bisa? bukankah kemarin sudah terpasang semua? '. layya bangkit dari duduknya yang jongkok menuju ke tas sampingnya dan otomatis langkahnya melewati rayyan.
"kamu harus berterima kasih padaku untuk info ini". kepala rayyan menyamping menatap layya sembari dirinya bersandar di meja kaca belakangnya.
"jika anda tidak melihat aku sedang mengecek ruangan dan kebetulan duluan anda yang lihat". ya, seharusnya...ruangan ini tinggal beberapa hari lagi maka akan selesai dan jika lampu sudah di pasang dan di cabut lagi tentu masalahnya ada pada aliran listrik dan ini akan semakin lama selesai meski waktunya kontraknya masih panjang. 2 minggu lagi.
Mendengar panggilannya terangkat. layya sontak melangkah sedikit jauh dari rayyan dan berdiri dengan membelakangi rayyan berbicara dengan sipenerima telpon.
"...apa? benarkah..?.". kepala layya sontak mendongak menatap ke atas. ke saklar lampu yang sedang mereka bicarakan.
"baiklah, aku mengerti lalu...kapan mereka tiba? aku harap tidak lama".
"..."
"baiklah...setelah dari sini mungkin aku akan mampir untuk melihat".
"..."
"euhmm...baiklah! aku harap tidak serius".
"wa'alaikum salam".klik...
Layya mematikan panggilannya lalu kepalanya mendongak menatap ke atas.
"apa terjadi sesuatu, raut wajahmu mengatakan itu".
Layya menoleh melihat rayyan.
"kemarin lampunya sudah terpasang semua namun salah satunya bermasalah jadi saat naik memperbaiki pekerjannya mengalami tegangan listrik dan sekarang di rumah sakit".
Kedua manik mata rayyan sontak melebar. kenapa mereka tidak tahu ini terlebih...aldi asistennya. seharusnya jika terjadi sesuatu di dalam perusahaannya maka para karyawan nya akan gaduh dengan bincangan mereka.
__ADS_1
"kapan kejadiannya".
"tadi malam, dia datang memastikan dan untung dia membawa teman bersamanya".
Rayyan menekan dahinya yang tidak sakit sama sekali. pantas saja belum ada yang tahu. terjadi di dalam perusahaannya itu artinya sudah menjadi tanggung jawabnya jika terjadi sesuatu apa lagi dengan listrik.
Rayyan mendongak melihat ke atas. sedetik kemudian dia meraih hp di kantong jasnya. memanggil seseorang di sana yang tidak lain. asistennya. aldi.
Layya kembali melihat lihat hal lain dengan ke khawatiran di wajahnya. dia kenal pekerja tersebut bahkan ia dengar pria itu sudah memiliki istri dengan dua anak yang masih kecil.
'aku harap tidak serius'.
"aku dengar kamu akan melihatnya? ".
Layya membalik melihat rayyan. maksudnya ke rumah sakit.
"ya". angguk layya.
"mari bersama ke sana setelah aku rapat, aku juga harus melihat". ujar rayyan sembari memasukkan hp ke dalam kantong jasnya kembali.
Layya mau membuka mulut membantah namun terhenti oleh rayyan.
"tidak akan lama, kamu bisa tunggu di ruanganku atau di mana saja di gedung ini". rayyan berbalik mau ke pintu.
Layya mau membuka mulut membantah dan tentu saja ia harus membantah sekaligus menolak bukan.
"aku pastikan aku akan menginap di tempatmu malam ini jika setelah aku selesai rapat tidak melihatmu di gedung ini".
Brakh...
Beiringan dengan pintu yang tertutup begitu juga dengan kedua manik mata layya yang membulat.
__ADS_1
Layya membuka mulutnya tidak percaya.
'dia gila?...atau...aku...? '.