Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 39


__ADS_3

"akan aku beri kamu penghargaan dengan kebodohan mu itu, biar aku pikirkan dulu apa itu! ". anggguk angguk rendra setelah mendengar cerita atau lebih tepat penjesalan layya tentang kenapa rayyan kemari sekaligus apa mereka sudah berhubungan lagi. menjawab pertanyaan yang tentu saja bergerilya di otak rendra dan bertanya tanya di otak gerard.


Rendra sudah di beri obat oleh layya, yang juga ada gerard di sana ikut membantu.


Tubuh rendra tidak terlihat terluka terlihat darinya yang tidak memakai baju melainkan lebam lebam biru akibat pukulan keras rayyan dan sesekali akan mengiris sakit jika ia salah bergerak.


Layya yang tidak terima dengan ucapan rendra menggerucut bibirnya.


"sial! ". umpat gerard sembari merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa dan dia terlihat marah.


"apa kamu baru saja mengumpat gerard?! ". rendra menoleh menatap gerard yang duduk di sampingnya dengan tidak suka.


Gerard memutar malas bola matanya. ayolah? siapa yang lagi pria ini lindungi dari mendengar umpatannya? layya? oh ayolah, dia sudah dewasa bahkan sudah pernah menikah dan sudah punya dua anak.


"layya sudah dewasa,....seharusnya kalian bilang dari awal begitu pria bernama rayyan itu masuk...".


"dan kamu bisa menghajarnya, tetap saja itu ucapan yang tidak bisa di dengar olehnya". rendra masih pada pendiriannya.


Layya menepis bibirnya tidak suka.


"aku laki laki yang menepati ucapanku". jawab gerard cepat.


"sudahlah hentikan kalian berdua dan juga...rendra? aku sudah besar? bukan anak kecil lagi".


Gerard mengangguk menyetujui.


"tentu saja sudah besar sekaligus dewasa sampai sampai menandatangani kontrak kerja tanpa melihat nama pemilik kontrak kerja". sindir rendra tepat pada sasaran sembari ia memakai bajunya, yang tentu bukan baju tadi.


Gerard menahan tawanya.


Layya menggeram kesal.


"itu salah satu alasan kenapa aku tidak bilang padamu tapi yang lebih penting...aku merasa bersalah ke annita, dia tentu akan panik dan cemas".


"dia akan mendukungku lagi untuk menghajar rayyan dengan keras, kamu tahu sifatnya ira...?". jawab rendra sembari bangkit berdiri meraih kotak obat dan membawanya menyimpan ke lemari yang berada di ruangan sofa tersebut.


"saudara yang setia! ". rutuk layya di belakang rendra yang terdengar oleh telinga keduanya namun mereka hanya terkekeh geli.


"aduh...sakit gerard?! ". teriak layya setelah meringis sakit, sembari mengusap kepalanya yang di pukul gerard dengan balutan buku gambar maryam.


"apapun katamu, kami harus menjagamu supaya tidak salah pilih lagi".


"aku punya maryam dan yusuf dan aku...".


"tidak pernah salah pilih! i know?...memang wanita yang sedang kasmaran itu sangat bahaya, sudah terbukti". sambung rendra malas ucapan layya dia melangkah ke dapur.


Layya menggeram.

__ADS_1


"dia sangat menyebalkan".


"tapi kamu selalu mengangeninya". jawab gerard cepat.


Layya terdiam lalu kepalanya menoleh ke dapur melihat di mana arah rendra tadi menghilang.


💜💜💜💜💜


"Shhhh....sakit, pelan pelan dong?!". seru rayyan meringis sakit saat seorang pria di hadapannya yang sedang membubuhkan obat pada wajahnya juga tubuhnya yang terlihat lebam lebam biru.


"kamu yakin tidak mau mengecek ke rumah sakit, ini terlihat parah". ujar pria di depan rayyan tersebut.


"aku baik baik saja begitu juga dengan tulangku dan terima kasih tidak perlu".


Pria di hadapan rayyan menggeleng pelan kepalanya.


"kamu belum menjawabku ray?...dengan siapa kamu berkelahi sampai begini? dan aku yakin lawanmu tentu lebih parah dari ini". tanya sembari membereskan kotak obat di sampingnya.


Ucapan temannya+sahabat di depannya sukses membuat rayyan mengingat layya kembali, apalagi layya memilih mengobati pria cupu itu daripada dirinya. dulu dan sekarang tidak ada yang beda.


'sebenarnya aku bertanya tanya, siapa aku di hatinya...dulu...dan tidak untuk sekarang...dia bilang dia mencintaiku dan sudah tergila gila padaku tapi kenyataan yang aku lihat...di luar kata tersebut, dia bilang dia tidak menyukai pria cupu lagi hatinya sudah di gantikan oleh aku tapi nyatanya...hatinya masih sepenuhnya terisi pria cupu itu, terbukti dengan ke adaan sekarang lalu....apa bedanya jika aku mencari kebenaraan? ...seperti...yang pria tua itu bilang'. mata rayyan melihat ke sisi samping kirinya di mana seorang pria yang terlihat lebih tua dari rayyan dan sedang menikmati makan malamnnya, di jam segini.


Rayyan menggeleng.


"pantas saja perutmu kembung begitu juga dengan tubuhmu". lagi lagi rayyan menggeleng.


"dari pada kamu mengurus tubuhku lebih baik kamu pikirkan jawaban atas pertanyaanku tadi".


"itu benar! aku setuju dengan alex". ujar pria yang mengobati rayyan tadi.


Rayyan menatap tajam dan marah kedua temannya secara bergantian lalu melihat ke arah lain.


"jawabannya tetap sama, aku hanya menggunakannya untuk mendapatkan reina, aku mencintai reina". jawab rayyan malas.


Kedua sahabatnya menggeleng menatap rayyan yang tidak menggunakan baju memperlihat kan tubuhnya yang bisa membuat para wanita menggila jika melihatnya.


"dari 4 tahun yang lalu jawabanmu masih tetap sama!...kamu tahu ray? semakin kamu membantah perasaanmu yang sebenarnya maka semakin benar pikiran kami tentangmu".


Rayyan kembali menatap pria yang berdiri berkacak pinggang di depannya dan hanya terhalang sofa.


"kalian terlalu memikirkan jauh, tidak mungkin aku jatuh cinta padanya melihatnya saja aku tidak tertarik...". rayyan membuang wajah ke arah lain. itu benar, jika ia menyukai layya maka ia akan selalu tertarik untuk melihat layya tapi nyatanya...baik dulu maupun sekarang sama sekali tidak membuatnya tertarik.


"lalu sikapmu itu apa?! aku sangat yakin wajahmu begitu karna berantem dengan rendra". ucap alex membalik badan menatap rayyan.


Ucapan alex sontak mendapat tatapan tajam dari rayyan dan tatapan bingung dari pria yang mengobati rayyan tadi.


"alex kamu...". geram rayyan marah namun terhenti karna ucapan temannya di depan.

__ADS_1


"tunggu ray...? apa maksudmu dengan rendra? sepertinya aku pernah dengar nama itu...dulu kayaknya...".


Alex menghela nafas lelah.


"ya mirza, pria cupu menurut teman kita".


Mirza sontak menatao rayyan dengan mulutnya yang terbuka namun raut wajahnya terlihat jail.


"Ahh...pria cupu...?.. tunggu...jadi...ini karna gadis bernama layya itu? Zunaira...? ". mirza hampir saja berteriak tidak percaya dengan pikirannya. padahal baru beberapa menit yang lalu pertanyaan alex menyangkut gadis tersebut.


"kamu bertemu dengannya lagi? tidak, tunggu...seharusnya bukan bertemu lagi melihat kondisi mu yang sekarang...ray? ". mirza memanggil rayyan dengan kedua tangannya berkacak pinggang.


"apa terjadi sesuatu? ". tanya mengintimidasi rayyan.


Alex mendesah lelah.


"diamlah lex atau aku akan menghajarmu". seru rayyan saat alex mau membuka mulut.


Alex tersenyum keji sama sekali tidak ada raut takut di wajahnya.


"keduanya memiliki anak yang cantik dan imut".


Kedua mata mirza membulat sempurna karna terlalu shock sedangkan rayyan membabi buta melempar bantal sofa ke alex.


"sialan kau lex?". umpatnya marah setelah bantal terakhir mengenai tubuh alex lalu ia bangkit melangkah ke salah satu pintu yang ada di tempat tersebut.


"kamu mau kemana? ". tanya mirza sebelum tubuh rayyan menghilang di balik pintu tersebut.


"mandi dan tidur, aku ada rapat pagi".


"terdengar kamu akan tidur di sini malam ini".


Pham...


Pintu tertutup.


Mirza menggeram marah. ia beralih melihat ke alex.


"sial...aku harus tidur di sofa malam ini". umpat mirza.


Alex tertawa ngakak.


Meski ini apartmentnya mirza tapi jika rayyan sudah memutuskan menginap maka kamar mirza akan menjadi kamarnya malam ini dan dia...akan menggunci pintu dari dalam.


Tadi setelah pergi dari tempat layya. rayyan menghubungi mirza berniat mau ke rumah sakit di mana mirza bekerja.


Ya, mirza seorang dokter ahli bedah kandungan, yang kebetulan malam ini ia tidak ada jadwal piket jaga di rumah sakit. jadinya rayyan ke apartemen mirza yang terlihat layaknya sebuah penthouse.

__ADS_1


Dan mengejutkan bagi rayyan bertemu dengan alex juga di sini. karna setau rayyan ia sedang memberikan alex pekerjaan yaitu menyelidiki semua tentang layya dan kedua anaknya selama berada di new york.


__ADS_2