
"ternyata begitu?!". Suara lemah Imelda terdengar dari arah sofa, yang tidak jauh dari tangga.
Setelah ketiganya tadi berada di ruang tengah, melihat foto rayyan kecil. Ketiganya berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari tangga, yang sebenarnya adalah ajakan dari Imelda untuk mendengar kelanjutan bagaimana Reina dan layya pertama dekat hingga menjadi sahabat.
Sampai di sofa. Mengalirlah cerita dari Reina dari pertama ia bertemu layya hingga berteman lalu dekat dan menjadi 3 sahabat sebelum ia mengacaukan semuanya.
Di sofa hanya ada Reina dan Imelda sementara rose, berada di ruang kerja Andriyatama karna memang kedatangan rose ke sana adalah karena ada beberapa berkas dan dokumen perusahaan juga menyangkut klien, yang membutuhkan tanda tangan Andryatama selaku dari Presdir Imperial.
Andryatama yang awalnya berada di kolam renang bertiga bersama kedua anak layya, bermain air. Menyudahi permainan nya saat Yusuf mengeluh, kalau ia capek dan memutuskan naik ke atas duluan meninggalkan Maryam dan Andryatama di dalam air.
Melihat abangnya yang naik ke atas. Maryam ikut menyusul namun tidak membuat keduanya menyudahi bermain air. Keduanya memilih bermain di tepi kolam yang airnya hanya sebatas mata kaki. Beberapa mainan dan bola air ada di atasnya, keduanya bermain girang.
Melihat Yusuf dan Maryam tidak memperdulikan nya lagi. Andryatama memutuskan memilih masuk ke dalam rumah untuk menyesuaikan pekerjaannya, yang tertunda. Karna tadi saat ia sedang asik asiknya bermain air dan mengajari Yusuf dan Maryam berenang. Rose muncul dengan beberapa map penting di pelukannya, yang katanya membutuhkan tanda tangannya.
"lalu... Jika Reina boleh tahu. Tante pertama bertemu layya itu di mana?!".
Meski Reina sudah tahu bagaimana pertemuan pertama Imelda dan layya juga siapa layya bagi imelda. Dan bagaimana Imelda sangat menyukai semua menu makanan yang ada di restauran layya karna rayyan menceritakan semua padanya. Tetap saja ia mau mendengar lagi.
"ah itu... Bisa di bilang Tante tu fans nya layya. Soalnya Tante sangat suka semua makanan yang ada di restauran layya itu, tentu kamu tahu juga kan? Kan kamu sahabatnya tentu tahu!".
Reina mengangguk. Ia bukan bohong untuk pura pura tahu karna memang ia benar benar tahu bahkan ia sering ke sana jika ada di negeri ini. Baik sarapan jika sempat, makan siang atau makan malam dan sesekali ia akan ke sana bersama rayyan.
"rayyan juga papinya sangat menyukai masakan di sana tapi sayangnya tidak bisa di pesan, iya kan?!". Imelda mengeluh.
Lagi lagi reina mengangguk. ya. Pernah menagernya mau memesan makanan di sana untuk para awak di lokasi pemotretan. Mentraktir mereka dan Ternyata tidak bisa.
"karna pak Andryatama dan rayyan sangat menyukai masakan di sana. Tante timbul ide untuk belajar resep masakan di sana dan datang ke sana menemui langsung manager pemilik dari restauran tersebut, yang Tante dengar saat itu tapi ternyata managernya dan layya bekerja sama. Kamu tahu juga itu?".
Reina menggeleng. Ia benar benar tidak tahu, yang ia tahu. Restauran itu milik layya dan itu pun ia ketahui dari ayrin saat mereka pernah berpapasan di sana.
"ah benarkah? ". Imelda menatap Reina curiga tidak percaya. Detik kemudian ia tersenyum.
"syukurlah jika kamu benar benar tidak tahu, kalau enggak. Tante bisa marah besar lho? Soalnya... Butuh waktu berbulan bulan Tante bisa menemui chef yang sebenarnya dari menu restoran itu. Layya!". Keluh Imelda ketika ia mengingat saat saat itu. Dimana ia dengan susah payah merayu bahkan terus meminta untuk bertemu dengan layya. Chef semua menu di sana. Bahkan ia sempat meminta no Layya untuk bisa ia hubungi, yang kata menager di sana. Chef tersebut berada di new York. Dan seandainya wanita manager restauran tersebut memberinya kontak layya mungkin ia akan menyusul ke sana untuk bertemu.
Reina melebarkan matanya tidak percaya. Sampai segitu?.
"Tante sangat gigih ". Ujar Reina tidak percaya.
"tentu layya benar benar idola Tante!". Sambung Reina dengan nada canda sembari mengangguk angguk kan kepalanya.
Imelda tertawa kecil karna malu.
"begitulah awalnya dan setelah perjuangan lama. Akhirnya Tante bisa bertemu layya dan siapa tahu kalau ternyata layya adalah anak dari sahabat tante!".
"mama layya sahabat tante?!". Ia berpura pura tidak tahu padahal sebenarnya ia sudah tahu dari rayyan, yang cerita. Semua nya.
Imelda mengangguk membenarkan. Namun sedetik kemudian wajahnya terlihat sedih.
Reina tersenyum tipis serta tulus sambil memegang kedua tangan Imelda menenangkan.
__ADS_1
"layya cerita tentang mamanya?!". Karna yang ia tahu. Tidak sembarang orang layya mau menceritakan kejadian tragis dirinya dengan mama dan papanya itu sehingga membuat papa dan mamanya merenggang nyawa. Bahkan hal itu menjadi trauma tersendiri bagi layya. Ia bertanya tanya. Apa sampai sekarang layya begitu?.
Imelda mengangguk.
Reina tersenyum dan lagi lagi mengusap punggung tangan Imelda dengan lembut.
"syukurlah layya selamat dalam kecelakaan mobil seperti itu. Sehingga Tante bisa melihat layya anak dari sahabat tante".
Reina mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
"kecelakaan mobil Tante?!".
Imelda mengangguk sambil menatap Reina di depannya.
"iya! Mama dan papa layya kecelakaan mobil kan? Dan layya yang selamat!".
"layya yang bilang itu?!".
Imelda lagi lagi mengangguk. Selanjutnya ia menangkap raut wajah tidak enak pada Reina.
"ada apa Reina? Wajahmu terlihat cemas juga seperti ketakutan begitu?!".
Reina seketika menaikkan pandangannya menatap Imelda setelah tadi entah kemana arah matanya melihat.
"Reina harap Tante tidak menceritakan ini ke layya. Sepertinya itu masih sangat berat bagi layya!".
Imelda mengeryit kan keningnya tidak mengerti.
Reina sontak menarik tajam nafasnya sedangkan matanya masih menatap wajah Imelda.
"apa ketika Yusuf dan Maryam main ke sini dan ke kolam renang. Layya melarang keras kedua anaknya main di kolam renang?!".
Imelda berpikir sejenak sebelum menjawab dan ia menggeleng lemah.
"sepertinya tidak pernah melarang malah dia suka dan menikmati melihat Yusuf dan Maryam main air. Ya sih, awalnya melarang tapi bukan melarang bagaimana. Mungkin karna Yusuf dan Maryam tidak bisa berenang jadi dia khawatir begitu tapi saat Tante beritahu ada 2 maid yang khusus menjaga mereka berdua juga ada Tante dan pak Andryatama. Dia menyetujui dan diam diam kami mengajari Yusuf dan Maryam berenang Tapi karna masih baru jadi mereka belum bisa. Tunggu, kenapa dengan itu?!".
Reina lagi lagi menarik nafas setelah mendengar kan semua ucapan Imelda dan satu yang bisa Reina ambil kesimpulan. Layya sedang tidak baik baik saja.
Reina menggeleng dan raut wajahnya terlihat sangat cemas.
"Mama dan papa layya bukan kecelakaan mobil Tante? Tapi...".
"tapi?". Imelda menuntut jawaban dari Reina. Dan entah kenapa perasaannya tiba tiba saja jadi tidak enak.
"tenggelam... Di laut!".
Jawaban Reina sontak membuat kedua manik mata Imelda membulat karna ia terlalu shock. Sedetik kemudian ia sadar saat teringat akan ucapan layya.
"tapi layya bilang...".
"paman layya pernah menceritakan kepada kami. Reina dan ayrin, yang sangat dekat dengan layya saat itu. Paman layya menceritakan semuanya dan bagaimana kejadiannya dan bagaimana layya bisa mengatakan kalau mama dan papanya kecelakaan mobil bahkan reina dan ayrin pertama kenal layya pun. Layya akan bilang begitu seakan akan mama dan papanya benar kecelakaan mobil. Layya.. ".
__ADS_1
"membenarkan sendiri!". Sambung Imelda.
Reina terpaksa mengangguk. Ia menelan ludahnya gugup sekaligus mencemaskan ke adaan layya.
"lalu jika layya tidak takut melihat laut dan juga kolam renang berarti!".
"aku tidak mengerti mengenai itu Tante tapi paman pernah bilang. Layya belum bisa menerima kejadian tragis itu dan dia selalu berpikir dan beranggapan kalau mama dan papanya kecelakaan mobil dan paman pernah bilang. Sempat paman membawa layya ke laut ingin melihat reaksi layya saat melihat laut tapi reaksi layya saat itu dia diam seperti patung dan tidak bereaksi apapun bahkan sampai seminggu. Sehingga paman membawa layya berobat ke dokter karna sangat mencemaskan ke adaan layya dan setelah beberapa hari dan entah kenapa. Layya kembali ceria dengan tiba tiba dan ketika paman mencoba bertanya mengetes layya. Itu juga yang di sarankan dokter yang mengobati layya. Tentang bagaimana mama dan papanya meninggal maka layya akan menjawab dengan wajah sedih dan diamnya kalau mama dan papanya kecelakaan mobil. Alam bawah sadar lain dari layya sepertinya mengambil keputusan itu dan itu sedikit membuat paman mencemaskan layya tapi kata paman baik juga dengan begitu layya bisa hidup normal seperti biasa dan melupakan kejadian itu! Tapi satu hal yang sangat membahayakan paman bilang saat itu...".
Imelda menanti kelanjutan ucapan Reina dengan tidak sabar.
"bahaya maksudnya?!". Akhirnya Imelda tidak bisa membendung rasa ingin tahunya. Dan entah kenapa jantungnya berdegup takut.
"layya akan drop jika dia kembali di ingatkan kejadian itu dan itu sama sekali bukan hal yang bagus, mengingat layya sekarang sudah dewasa sedangkan kejadian itu saat umur layya 12 tahun".
"jadi maksudnya akan lebih baik jika layya bisa menerima kejadian itu saat umur dia waktu 12 tahun itu dan sekarang tidak apa apa lagi bukan? ".
Reina mengangguk membenarkan.
"jadi maksudnya... Layya hanya saja jangan jatuh ke kolam renang atau ke laut dengan begitu dia tidak akan ingat!".
Lagi lagi reina mengangguk. Sedangkan wajahnya masih mencemaskan layya.
"tunggu... Jadi maksudnya layya.. Tidak bisa berenang?".
Sontak Reina menarik nafas berat.
"LAYYA tidak akan pernah mau melakukan itu. Dulu pernah Reina dan ayrin mengajaknya bahkan untuk mengajarinya berenang tapi jawaban layya saat itu. Dia benci air, itu saja. Jadi sangat sulit...Ah... Tapi... Pernah ada o.....". Reina menggantungkan ucapannya saat menyadari kalau di depannya saat ini Imelda mami dari rayyan dan Imelda belum mengetahui hubungan putranya dengan anak sahabatnya layya.
"kenapa ucapan mu mengantung?! Orang siapa? ". Imelda bertanya tidak suka.
"ah itu...Eumm... Bukan apa apa Tante! Haruskah kita ke kolam renang saja? Melihat Yusuf dan Maryam?!". Bangkit Reina dari duduknya.
"Reina duduk dan lanjutkan ucapanku!". Tegas Imelda.
Reina menggerakkan giginya. Ia mengumpat dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga mulutnya. Ia yakin layya akan memarahinya jika tahu ini.
Dengan terpaksa Reina kembali duduk setelah dirinya menghela nafas.
"ada seseorang, maaf Tante Reina tidak bisa menyebutkan namanya. Tapi Reina akan bilang dia pria, Pria yang membuat seorang layya jatuh hati padanya dan pada pria itulah pertama kali layya mengatakan dan mengakui kalau mama dan papanya meninggal karna tenggelam di laut saat menyelamatkan dirinya".
"itu artinya layya sangat mempercayai pria itu dan juga nyaman dengannya! Apa pria itu...Suami, ayah dari Yusuf dan Maryam?!".
Reina beberapa saat menatap Imelda tanpa menjawab Lalu sedetik kemudian ia mengangguk membenarkan. Tidak salahkan? Ia tidak membocorkan rahasian keduanya kan? Ia hanya menjawab jujur. Ia tidak mau membuat hubungan rayyan dan layya menjadi hancur lagi.
"benarkah? Tante jadi ingin bertemu dengan nya!".
Reina sontak melebarkan matanya.
"maksud Tante?!". Reina bertanya takut takut. Takut wanita setengah baya ini memaksanya mengatakan semuanya. oh tolong siapapun. Keluar kan aku dari sini. Aku tidak mau mendapatkan amukan layya setelah ini.
"tentu saja suami layya, ayah Yusuf dan Maryam. Kamu tentu mengenalnya bukan?!".
__ADS_1
"eh?!". Suara Reina yang shock di sertai bulatan matanya.