
Entah yang keberapa kali sudah layya melihat ke lift lebih tepat ke lift yang di perutukkan khusus untuk pemilik gedung tersebut.
Dan, entah yang keberapa kali sudah layya melihat jam tangannya.
Hari sudah hampir waktunya makan siang.
Layya berdecak kesal. 'apa pria itu berencana mengakhiri rapatnya sekalian makan siang? atau...dia lupa setelah menyuruh seseorang menunggunya? ...huh...berpikir berapa kalipun aku memang sudah gila mau menurutinya, tunggu...itu tadi sekedar ancaman saja bukan? ...pria itu...tidak akan melakukannya bukan? ...'.
Terlihat raut wajah layya yang berpikir keras dengan ucapan rayyan tadi dan sukses membuatnya sangat percaya kalau pria itu akan mewujudkannya.
Layya sekarang berada di lobby. duduk di salah satu sofa yang berada di sana. layya sudah di sana sudah hampir 1 jam lebih hanya untuk menunggu seorang pemilik gedung tersebut.
"pak Rayyan Zeki Andryatama...aku benar benar sudah gila sekarang...apa yang aku lakukan di sini? huh...yang benar saja! ". ujar layya sembari bangkit dari duduknya dan menyambar tas sampingnya.
"Aghhh...". layya terperanjat terkejut begitu berbalik badan dan melihat sosok rayyan yang berdiri menjulang di depannya dengan kedua tangan di kantong celananya.
"ah...kamu membuatku terkejut! ". ujar layya sembari memegang dadanya yang masih dag dig dug.
Layya mendongak sedikit melihat rayyan.
"tapi...darimana kamu muncul? baru beberapa detik yang lalu aku lihat lift mu". tanya layya dengan ekpresi wajahnya yang lugu sembari melihat rayyan dan lift khusus rayyan.
Rayyan tersenyum jail.
__ADS_1
"apa itu artinya dari tadi kamu setia menungguku di sini? ".
Mendengar ucapan rayyan sontak layya mendesah lelah. ia mendongak menatap rayyan.
"bukankah kamu menyuruhku menunggumu? ".
Rayyan kembali memasang raut wajah tenang dan datar.
"karna ancamanku ketempat mu?! ".
Layya mematung dengan ucapan rayyan.
"itu...hanya sekadar ancaman bukan? kamu...tidak akan benar benar melakukannya bukan? ".
Layya menghela nafas lega.
"sudah ku duga, kamu hanya mengancam saja, kenapa aku mesti percaya ya? aku pasti sudah gila, sudahlah...aku pergi dul...".
"siapa bilang sekadar ancaman?... ". potong rayyan lalu dia melihat jam tangannya.
"5 menit! ". rayyan kembali menatap layya.
"ya?! ". wajah bingung layya tidak mengerti maksud pria di depannya.
__ADS_1
"bersyukurlah kamu masih di sini karna jika dalam waktu 5 menit aku turun dan tidak melihatmu, malam ini aku pastikan aku akan tidur di ranjangmu". ujar rayyan dengan wajah dingin sembari melangkah ke pintu lobby dengan melewati layya.
Mulut layya seketika terbuka lebar tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dia dengar dari rayyan.
"serius?! ". tanya layya lebih tepat ke dirinya sendiri karna tinggal dia sendiri di sana sedangkan rayyan sudah hilang entah kemana.
Layya membalik badan melihat ke pintu lobby yang hanya ada karyawan perusahaan rayyan yang keluar masuk.
Di dalam mobil berwarna hitam yang terparkir di depan gedung perusahaan IMPERIAL terlihat aldi di bangku pengemudi dengan di samping kirinya satu paket buah yang sangat lengkap dan berukuran besar.
Di bangku belakang terlihat rayyan dengan laptopnya serta gerakan jarinya yang lincah mengetik entah apa di sana.
Dari kaca spion depannya aldi melihat atasannya di belakang. saat masuk ke dalam mobil tadi dan ia segera menghidupkan mobilnya namun ia matikan lagi karna ucapan atasannya katanya akan ada seseorang lain yang akan naik menumpang. ia bertanya tanya siapa yang berani mau menumpang mobil atasannya. karna selama ini belum pernah.
Mata aldi tersentak saat sudut matanya menangkap sosok desainer Zunaira yang sedang melangkah ke arah parkiran ke arah mereka.
Aldi kembali menoleh ke belakang melihat atasannya. 'siapa yang pak rayyan tunggu? '.
Tak...
Ckleck...
Brakh...
__ADS_1
Aldi kembali menoleh ke belakang saat suara laptop atasannya yang di tutup dengan bunyi sedikit keras dan selanjutnya aldi terperanjat dengan sikap CEO perusahaan imperial yang tiba tiba entah karna apa membanting keras pintu mobil. melihat dari jendela mobil sebelum keluar menyusul atasannya justru hal yang di lihat aldi dari dalam mobil dan kejadian di luar sontak saja aldi mengurungkan niatnya untuk keluar dan memilih melihat dari dalam mobil sambil menunggu apa perintah untuknya selanjutnya.