Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 40


__ADS_3

Ke esokan harinya tepat jam 11 siang, selesai menghadiri rapat pentingnya. rayyan kembali menyibukkan dirinya di ruangan kerjanya.


Srak srak srak...


Suara lembar perlembar kertas putih di tangannya yang rayyan buka sedangkan kedua manik matanya terlihat sangat teliti.


Ckleck...


Seseorang masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu seperti yang biasa di lakukan asistennya maupun sekretarisnya.


Rayyan menoleh ke pintu, hanya sedetik sebelum dia kembali melihat ke kertas di depannya.


"hahhh...". pria tersebut mendesah lelah sembari merebahkan bokongnya ke sofa lalu melempar satu berkas yang dia bawa tadi ke meja kaca di depannya.


"kau serius tidak mau melihat ini dulu?!".


Rayyan mengalihkan pandangannya melihat ke pria di depannya yang tidak lain teman+sahabatnya+manajernya dulu lalu ia beralih melihat ke berkas yang tergeletak di atas meja.


"letakkan dulu di sana! aku sedang sibuk". jawab rayyan setelah kembali ke pekerjaannya tadi.


Lagi lagi alex menghela nafas.


"semua orang tahu kamu orang sibuk ray?...tapi aku sarankan kamu melihat ini dulu sebelum aku pergi dari sini dan kamu akan memanggilku lagi".


Lagi lagi rayyan menatap alex.


"apa berita yang kamu bawa penting?...jika tidak...".


"paling tidak bisa membuat kedua matamu membulat".


Rayyan menyatukan kedua alisnya. alex pria yang selalu serius jika menyangkut tentang pekerjaan dan jika pria itu bicara begitu maka...sesuatu memang terjadi.


Rayyan bangkit dari kursinya melangkah ke sofa dan duduk di hadapan alex sembari meraih berkas di atas meja dan membukannya.


"aku harap di sini detail atau aku akan mengirimmu ke antartika". mata tajam rayyan meneliti lembaran pertama.


Alex menipis bibirnya sama sekali tidak membuatnya takut. ia sudah kenal betul dengan pria ini. terlihat kejam di luar namun nyatanya dia pria lembut dan lemah dari dalam.


"baru baru ini...aku melihat dua pria di dekatnya... dan sepertinya bukan sekedar dekat bahkan kedua anakku memanggilnya daddy dan papi...aku harap kamu tahu sesuatu".


Alex menaikkan bahunya.


"lebih baik kamu lihat dulu semuanya". alex melihat berkas di tangan rayyan.

__ADS_1


Tuk...


Satu amplop jatuh dari sana dan rayyan segera meraihnya. meletakkan berkas di tangannya ke meja rayyan membuka amplop coklat tersebut dan terlihatlah beberapa lembar foto dari dalam sana.


Rayyan menatap lembar perlembar foto tersebut dengan wajah tenang dan datar sama sekali tidak berekpresi apapun hingga membuat alex yang duduk di hadapan rayyan dan sedang meneliti wajah rayyan, sulit untuk menebak apa yang ada dalam otak CEO Imperial tersebut. tatapan mata elang dan tajam rayyan jatuh ke satu foto dan cukup lama rayyan dalam melihatnya.


"aku mencoba mencari informasi tentang hubungan keduanya tapi sepertinya semuanya sudah di tutupi rapat dan foto itu...sempat jadi berita sebelum pihak rendra menutupinya".


Rayyan memajukan bibirnya mengangguk angguk mengerti. yang terjadi di sini di luar pernikahan mereka dan setelah mereka berpisah jadi...dengan siapapun layya dekat saat itu, tentu saja bukan urusannya.


Rayyan melempar foto tersebut ke meja lalu kembali membaca berkas di depannya. yang mau ia tahu bagaimana kehidupan kedua anaknya di sana, di mana mereka tinggal, dan bagaimana ke adaan keduanya.


Dan yang terlebih penting. siapa pria yang layya panggil gerard tersebut. kelihatannya kedua anaknya sangat akrab dengan pria tersebut.


"aku tidak mendapat banyak informasi mengenai pria bernama gerard tersebut namun yang aku tahu, dia...seorang pengusaha dan dekat dengan layya karna temannya layya bernama ayrin adalah tunangannya, mungkin karna itu kedua anakmu memanggilnya papi, menurutku mereka mengimpikan sosok seorang ayah dan kamu tidak di sana".


Rayyan mencerna ucapan alex dan entah kenapa ia membenarkan semua itu. raut wajah rayyan sontak terlihat sedih.


Membuka lembar lain dan seketika membuat kedua manik mata rayyan melebar.


"ini...apa?...". rayyan menatap alex dengan rasa tidak percaya.


"kamu tidak mungkin memberiku berita palsu bukan?! ".


"identitas layya di sana sudah bersuami itu artinya dia sudah menikah dan...pria bernama rendra tersebut juga sama...sudah menikah, aku ke tempat tinggal layya dulu dan kebetulan tetangga sampingnya masih orang sama semenjak layya tinggal di sana jadi aku bertanya banyak dan mereka mengakui layya sudah menikah dan pria berkaca mata yaitu rendra adalah suami layya, rendra sering berada di rumah layya jika tidak kerja keluar, itu yang ia dengar dari mereka".


Kedua mata rayyan terlihat menatap tajam ke lembar di tangannya. meremasnya rayyan melempar asal ke sembarang arah.


"informasi yang begini penting kamu baru mengatakannya SEKARANG?! ". teriak rayyan murka ke alex sebelum membanting berkas di tangannya ke meja di hadapan alex. ingatan rayyan sontak kembali ke kejadian tadi malam, di mana layya sangat mencemaskan ke adaan rendra dan perhatiannya ke rendra bahkan...ikut meringis sakit ketika rendra meringis. huhhh....ternyata jawabannya itu. rendra suaminya...pantas saja. dia sakit seperti dirinya yang kena pukul saja. hebat kamu layya.


"kamu sudah tahu aku baru tiba semalam". jawab malas alex menyentak pikiran rayyan.


Rayyan mengalihkan matanya menatap alex namun masih tetap tajam. gara gara si tua dan buncit ini ia jadi terlihat bodoh tadi malam di hadapan layya bahkan di mata pria cupu itu. ughh...entah kenapa...aku benar benar tidak terima. seharusnya aku sudah tahu dari awal dengan begitu...arghhhh.


"kamu bisa menghubungiku terlebih dahulu alex?". geram rayyan menahan emosi. aku bertanya tanya. apa yang dipikirkan mereka tentangku tadi malam?...


"karna aku rasa bagian itu tidak penting".


Rayyan menggertakkan giginya. lalu...bagian mana juga yang pria ini katakan tadi bisa membuat kedua matanya membulat selain ini?.


"lalu bagian mana yang penting? tidak tahu kah kamu, gara gara itu...".


"bukankah kamu bilang kamu cuma mau tahu bagaimana kedua anakmu memanggil rendra daddy dan jawabannya hanya itu...rendra ayah penggant... ".

__ADS_1


"diamlah atau aku akan menghajar mulutmu itu! ". geram rayyan sembari bangkit berdiri menatap alex tajam lalu melangkah ke meja kerjanya.


"yang perlu kamu pertanyakan ke diri mu sendiri ray? kenapa tadi malam kamu emosi? apa emosi untuk anakmu yang memanggilnya daddy atau...emosi karna layya bersama dengan rendra sampai sekarang bahkan setelah kalian berpisa...".


"diamlah alex, keluarlah aku tidak mau mendengar pertanyaan bodohmu itu". gertak rayyan sebelum sampai ke meja kerjanya.


"pertanyaan itu bisa memulihkan emosimu ray? jika tidak kamu...".


"aku tidak akan melakukan hal konyol itu! ". geram rayyan menahan emosinya. menatap alex tajam.


Alex mendesah lelah.


"aku selalu bertanya tanya ray? apa yang terjadi antara kamu dan layya dulu dan kenapa kamu bisa sampai mabuk mabukkan begitu parah, aku sebagai sahabat yang dekat lama denganmu, tidak bisa melihatmu begitu ray? aku selalu bilang ceritakan semuanya".


"keluarlah". suara rayyan yang terlihat lemah lalu ia kembali menggerakkan langkahnya ke meja kerjanya. otaknya lemah, ingatannya lemah, hati dan jantungnya terlihat kacau namun seperti tercabik dan tidak menerima.


"apa terjadi sesuatu? tidak, lebih tepat...apa kamu melihat sesuatu?...karna...setelah selesai acara pada malam itu kamu sudah mulai beda, kamu selalu minum minum hingga membuatmu mabuk mabuk dan kamu baru berhenti, ray...?". panggil alex lembut berniat rayyan lulub dan mau cerita dengan begitu. ia tahu permasalahan rayyan dan bisa membantunya untuk keluar. ia yakin ada satu ingatan dalam otak rayyan dan sulit bagi pria itu untuk mengatakannya.


"plis lex, keluarlah". pinta rayyan lemah memohon ke alex. karna ia sudah benar benar lelah. tidak ada...tidak ada yang perlu di selesaikan lagi...sama sekali...tidak ada.


Alex tersenta dan melebarkan matanya. jika rayyan sudah meminta padanya itu artinya dia...sudah terlalu lelah.


"ray?! ". alex nyaris berteriak karna terlalu frustasi dalam menghadapi sikap rayyan yang begini.


Brakhh...


"aku bilang pergi alex atau aku akan memanggil security untuk menyeretmu keluar". teriak rayyan setelah membanting satu dokumen ke meja.


"jika kamu mau memukul orang sekarang, aku izinkan kamu untuk memukulku, aku tidak akan pergi sebelum kamu menceritakan semuanya ray?".


Rayyan yang terlihat bernafas naik turun menatap alex marah, geram dan tajam.


"tidak ada yang harus aku ceritakan...sialan! ". rayyan mengumpat marah sekaligus geram saat ingatan yang sama sekali tidak bisa ia lupakan terbayang lagi layakya layar tancap yang siap di tonton para penonton. rayyan membanting beberapa berkas dari meja kerjanya ke lantai lalu melangkah cepat keluar dari ruangan kerjanya.


"hei...ray...".


Brakhhh...


Rayyan membanting pintu.


Alex menghela nafas lelah dengan kedua tangannya berkacak pinggang menatap ke pintu yang tertutup.


"apa yang terjadi sebenarnya sih?... ".

__ADS_1


__ADS_2