Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
Bab 69


__ADS_3

"kenapa aku harus ikut sih?! ". Tanya layya begitu keluar dari mobil sedan bermerek mercedes berwarna hitam. Kata rayyan sih dia sewa selama 2 hari mereka di sini.


Kepala layya mendongak ke atas menatap gedung di depannya.


Rayyan menunggu layya tanpa masuk duluan ke gedung bertingkat tersebut.


"jika tidak ada gunanya tentu kamu tidak di sini sekarang! ". Jawab rayyan sembari memerhatikan layya yang melangkah mendekat ke arahnya.


Layya yang kebigungan dengan jawaban rayyan dan selalu tidak mendapatkan jawaban bahkan dari semalam ia bertanya. Untuk apa ia di bawa ke sini dan jawaban rayyan selalu sama.


Mendesah layya mengikuti langkah rayyan.


"aku bertanya tanya untuk apa gunanya aku di sini! ".


"kamu akan tahu nanti! ". Keduanya memasuki lobby gedung tersebut yang merupakan satu kantor.


Tanpa ke meja resepsionis dulu. Rayyan langsung menuju ke lift dan lift pun rayyan menggunakan lift khusus bukan lift karyawan.


Layya menatap itu bingung.


"kantor ini milik temanku! ".


Rayyan menjawab kebingungan layya.


Layya sontak mengangguk mengerti sedang mulutnya membentuk huruf 0.


Rayyan mengerjap melirik penampilan layya hari ini beda dari biasanya. Karna biasanya layya selalu menggunakan celana panjang berbahan kain dengan bajunya selalu melewati lutut namun sekarang baju gamis itulah yang ia dengar dari penjual di mall tadi malam. Gamis panjang berwarna hitam karna kebanyakan wanita di sini menggunakan warna hitam+hijabnya yang hampir mencapai lutut layya.


Rayyan tidak bisa menahan tawanya. Terbalut dengan kain sebesar itu membuat layya terlihat sangat kecil di matanya sekaligus menggemaskan.


"pffffttt...".


Layya mendesah malas sembari memutar bola matanya malas.


"ketawalah jika mau jangan menahan".


"tidak tidak! Hanya saja kamu sangat lucu". Rayyan mencoba menahan tawanya.


Layya memilih mengacuhkan rayyan. Toh sudah lama ia mau memakai baju ini dan baru hari ini ia berkesempatan karna hari hari belakang ia sibuk dengan bekerja hingga tidak ada waktu untuk memesan membeli dan memakainya hanya untuk sekedar jalan jalan. Tidak mungkin kan? Ia menggunakan baju begini bekerja. Mungkin bisa namun akan susah baginya untuk bergerak yang harus ke lapangan lalu siang kembali ke perusahaan dan sebelum pulang singgah ke lapangan melihat pekerja desain.


Ting.


Pintu lift terbuka. Rayyan keluar begitu juga layya yang tidak akan tinggal diam. Layya sangat menikmati memakai baju gamis yang kebesaran di tubuhnya tersebut terlihat dari raut wajahnya yang tidak berhenti tersenyum sedang kedua tangannya memutar mutar baju bagian bawah layaknya princes dan untung di lantai tersebut hanya ada mereka berdua jadi tidak ada yang melihat tingkah kekanakan layya.


Rayyan yang melangkah di depan layya tentu tidak melihat tingkah konyol layya.


Kedua manik mata layya menjelejahi tempat tersebut sedang otaknya bertanya tanya.


"kok enggak ada orang di sini? ". Layya membuka suara.


"memang itu yang di perlu! ". Jawab rayyan dingin.


Layya menyatukan alisnya mendengar suara dingin rayyan.


'dia marah? Sama siapa? Aku...?'. Layya seketika bergidik ngeri.


"kamu tidak akan membunuhku diam diam bukan?! ".


"setelah pulang dari sini buang semua koleksi novel mu itu layya, kamu terlalu masuk ke dalamnya! ".

__ADS_1


Layya melepaskan kedua tangan di bajunya dan mengejar langkah rayyan.


"hei tidak ada yang salah dengan novelku tahu? Situasi seperti ini bisa membuat siapa saja berpikir buruk tahu? Lihat? Tidak ada siapapun di sini, hanya kita berdua ber-du-a". Protes layya tidak terima serta menekan ujung kalimatnya geram ke rayyan.


Rayyan menghentikan langkahnya tepat di satu pintu dan pintu itu ada di belakang layya. Ia membalik berhadapan dengan layya.


"ini kantor pribadi dan lantai ini...".


"ah... Maksudmu lantai ini kantor pemilik gedung ini...?".


Rayyan tersenyum bangga.


"itu kamu pintar! ".


"seharusnya kamu katakan dari awal lalu...Kita akan kemana?! ".


Rayyan menunjuk dengan dagunya ke belakang layya.


Layya mengikuti pandangan rayyan.


"ke sini? ah...Ruangan itu di sini? ".


Rayyan tidak menjawab tapi malah menatap layya memerhatikan layya sejenak sebelum dia menarik nafas panjang sedang kedua tangannya ia masukkan ke kantong celananya.


"dengarkan aku baik baik layya! ".


Layya yang tadinya merasa risih dengan tatapan rayyan dan sekarang kedua alisnya menyatu mendengar ucapan rayyan.


'kenapa dia sangat serius begitu?...Ini menakutkan'. Layya mengalihkan matanya ke arah lain tidak mau melihat rayyan di hadapannya.


Rayyan tidak peduli. Dia kembali melanjutkan kalimatnya.


"di balik pintu di belakangmu ada ruangan sekretaris dari pemilik kantor ini dan kamu duduk di sana, 10 menit setelahnya baru kamu masuk ke dalam ruangan yang aku masuki, ingat layya 10 menit".


"apa maksud...".


"kita masuk! ". Rayyan memotong ucapan layya dan melangkah melewati layya membuka pintu di belakang layya.


Layya yang masih kebingungan dengan alis yang menyatu tidak mengikuti langkah rayyan tapi malah sedang berpikir. Apa yang ada dalam pikiran rayyan.


'tidakkah ucapan rayyan tadi mirip seperti film FBI hollywood yang mau menangkap para mafia?... Kenapa aku sedikit merinding ya...?'. Batin layya yang mendadak resah dan tentu ia tahu pria itu bukan mau menangkap penjahat atau apapun sejenisnya tapi entah kenapa perasaannya tiba tiba saja tidak enak.


Dan juga tadi malam rayyan sempat bilang padanya sebelum dia mengalihkannya kalau urusan hari ini menyangkut dengan perceraian mereka. Awalnya ia tidak mau tahu karna nyata ia sudah tahu kalau yang salah itu pria ini. Namun ucapan rayyan selanjutnya sukses membuatnya tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.


'karna berhubungan denganmu dan kamu harus ada di sana dan harus tahu'.


Itulah kenapa dari tadi ia terus bertanya tanya kenapa ia di sini.


Menepis semua pikiran buruknya. Layya melangkah masuk dan ia mendapati beberapa orang di dalam sana. 2 laki laki dan 3 perempuan.


Layya memutar pandangannya mencari sosok rayyan karna dia tidak menemukanya di sana.


"apa anda yang bersama pak rayyan? ". Tanya seorang wanita yang kira kira umur sebaya dengannya setelah mendekat dan berdiri tepat di depan layya.


Layya mengangguk mengiyakan.


"iya". Jawabnya singkat.


Perempuan tersebut tersenyum ramah sebelum mempersilahkan layya duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"mari duduk di sini bu?...Pak rayyan bilang, anda akan menunggu di sini dan tidak di perbolehkan masuk".


Layya menyatukan alisnya. 'tidak di perbolehkan masuk? Tadi dia bilang aku harus masuk setelah 10 menit dan sekarang tidak boleh...Maunya apa sih? '. Batin layya yang terlihat kesal. Tunggu...


'10 menit, memang ngapain sih dia di dalam dan kenapa aku harus masuk setelah 10 menit, aneh'. Layya mencoba berpikir menebak.


Brukk...


Bakhhh...


Prang....


Kepala layya sontak menoleh melihat ke pintu lain diruangan tersebut begitu juga dengan yang lain yang berada di sana.


Layya melihat ke yang lain, yang berada di sana namun mereka malah melihat ke arah layya.


Brakh...


Prang...Trang..


Layya kembali tersentak terkejut dengan suara yang berasal dari ruangan sebelah, yang ia yakini rayyan ada di dalam sana.


Layya melihat ke dua wanita yang ada di balik meja kerja mereka masing masing.


"apa yang terjadi sih?! ". Tanyanya ke mereka.


Ke 5 orang tersebut hanya menatap pintu berdaun dua di hadapan mereka tanpa berniat bangkit mau ke sana dan kembali bekerja dalam diam.


Layya sontak menyatukan alisnya melihat hal aneh di depan matanya. Sedang jantungnya sudah bertalu karna takut. Hell, di dalam sana ada rayyan dan ia kemari ke negara ini di bawa+di culik rayyan lalu jika sesuatu terjadi pada pria itu bukankah ia yang akan jadi korban kesengsaraan yang pertama.


Brakh...


Lagi lagi telinga layya mendengar.


"tidakkah kalian perlu mengecek ke dalam? Mungkin sesuatu terjadi dan terlebih perlu bantuan". Layya berucap takut takut. Karna merasa kalau ke 5 orang di sana seperti tidak peduli dari tadi malah sibuk dengan pekerjaannya.


Suara dari dalam terus menghiasi+mengganggu telinga layya hingga layya memejamkan matanya sebelum memutuskan bangkit berdiri di sertai tarikan panjang nafasnya.


'cukup sudah'. Layya menatap ke pintu di samping kirinya.


"aku akan melihat! ". Ucap layya ke 5 orang di sana dan langsung melenggang tanpa mendengar protes dan larangan mereka.


Ckleck...


Layya memutar knop pintu membukanya sedikit lebar. Melihat ke dalam kantor di depannya yang tidak bisa di katakan kantor lagi karna berantakan di mana mana, layaknya gudang properti.


Bukh...


"ugh..".


Layya sontak masuk ke dalam menutup pintu yang di pegangnya dari tadi saat membuka, begitu ia mendengar suara pukulan seseorang dan lenguhan kesakitan seorang pria yang berada di belakang pintu.


Kedua mata layya sontak membulat lebar melihat 2 pria di hadapannya dan sedang adu kekuatan. Sedang penampilan keduanya sudah babak belur.


"kalian...". Suara layya yang tercekat.


Namun seperti tidak ada seorang pun di sana. Kedua manusia yang berjenis kelamin laki laki tersebut terus mendaratkan tinju pertinju ke tubuh lawannya di mana pun itu mendarat.


Menahan marah, geram, itulah yang layya lakukan sekarang.

__ADS_1


"APA KALIAN SUDAH GILA?!". Suara teriakan layya yang bergema di ruangan tersebut hingga mencapai keluar ruangan, yang sontak menghentikan gerakan dua pria yang mau saling tonjok tepat di depan wajah masing masing.


Nafas layya terlihat naik turun sedang matanya menatap tajam kedua manusia di depannya.


__ADS_2