Kata-kata Cinta

Kata-kata Cinta
115


__ADS_3

Satu gelas susu segar berada di tangan Layya. Sedang satu tangannya lagi terdapat roti yang sedang Layya nikmati.


Sesekali Layya mencemot rotinya dan meminum sedikit susu. Sedang tubuhnya terus naik turun.


Layya duduk santai menikmati keduanya tanpa peduli seseorang di bawahnya.


Ya. Layya menduduki punggung Rayyan yang sedang melakukan Push Up. Dia terlihat begitu santai dan menikmati situasinya. Tanpa perlu mengkhawatirkan orang di bawahnya.


Beberapa menit yang lalu. Setelah adu mulut keduanya dan tawa lebar Rayyan karna kesenangan. Terhenti saat seorang gadis muda. Pelayan di rumah tersebut. Membawa snack, cemilan dan juga jus segar serta susu ke tempat tersebut.


Rayyan menghidupkan alarmnya untuk waktu Push Up nya.


"Kamu belum menjawabku Layya! Sejak kapan kamu bekerja di perusahaan design itu?"


Layya melihat Rayyan di bawahnya.


"Apa orang mu kesulitan mencari tahu?"


"Kamu lebih senang aku mencari tahu sendiri! Di sini ku putuskan menanyakan padamu dulu,"


Layya terdiam beberapa detik hingga bersuara.


"Kapan kamu berniat mau mencari tahu tentang itu?"


"Pertama melihat Yusuf dan Maryam,"


"Kamu mengurungkannya. Dan memilih lebih baik menanyakan padaku dulu! Ini bukan dirimu Ray,"


"Entahlah, Jadi?"


Layya kembali melihat Rayyan. Dan ingatannya sebentar muncul ke 4 tahun silam.


Ia mendesah setelah menarik nafas panjang.


"Aku sudah bekerja di sana bahkan sebelum bertemu denganmu. Apa itu menjawab pertanyaan mu?"


Layya bersiap mau turun dari punggung Rayyan.


Namun, kecepatan Rayyan yang tiba tiba membalikkan tubuhnya hingga terlentang di hadapan Layya. Membuat posisi Layya sekarang berada tepat di atas perut Rayyan.


Layya tentu saja panik.


"Kau... Apa yang kau... Seharusnya kau mengatakan nya dulu?" Protes Layya kesal. Ia hampir terjungkal kebelakang jika jika pria ini tidak cepat menangkap tangannya tadi.


Rayyan terkekeh.


"Tetap di sini. itu artinya kamu sudah lebih dari 4 tahun berada perusahaan itu?" Tanya Rayyan yang berbaring dengan kedua tangannya berapa di bawah kepalanya. Rayyan jadikan bantalan kepalanya.


Kedua manik mata Rayyan menatap Layya di atas tanpa sedikitpun terusik atau risih dengan keberadaan Layya. Seakan akan itu sudah hal biasa mereka lakukan.


"Iiihhh ishhh..." Kesal Layya sembari mencubit kedua ****** Rayyan.


"Arghhh... Shh... Sakit Layya sakit Shhh!" Ringisan dan teriakan kesakitan Rayyan sembari mengusap usap kesakitan nya. Begitu Layya melepaskan kedua tangannya.

__ADS_1


"Sakit sayang!" Ucap Rayyan yang tanpa sengaja mengeluarkan kata tersebut. Yang Rayyan tahu betul. Sekarang sangat di benci Layya.


Kedua tangan Rayyan seketika berhenti saat dirinya mengusap kedua kesakitan nya. Dan melihat menatap Layya takut takut.


"Maaf!" Seru Rayyan dengan suara pelan.


"4 tahun lalu aku mengambil 2 pekerjaan. Satu sebagai asisten pribadi Rendra dan satu lagi magang di perusahaan design itu. Tapi beruntung nya. Waktuku banyak aku habiskan sebagai asisten pribadi Rendra dan bayarannya juga tinggi. Kamu tahu itu,"


Rayyan terdiam. Menit berikutnya Rayyan menghela nafas kasar.


"Tentu saja. Itu kan sudah jelas?" Gumam Rayyan yang bisa di dengar Layya.


"Kau mengatakan sesuatu. Kamu seperti tidak percaya. Ah... Saat itu bukankah aku sedang kuliah juga. Jadi pihak perusahaan memberikan aku waktu banyak. Jadi cuma masuk 3 hari dalam seminggu," Jelas Layya.


Lagi lagi Rayyan menghela nafas kasar.


"Kamu tahu arti dari sebenarnya magang di perusahaan Layya? Apalagi selevel perusahaan kalian,"


Layya menyatukan alisnya tidak mengerti.


'apa maksudnya?'


"Kau mau mengatakan sesuatu? Bukankah tadi kau bertanya dan aku menjawab. Dan aku menjawab karna aku tidak suka kamu mencari tahu tentang ku. Jadi cukup itu saja yang perlu kamu tahu," Layya membuang wajahnya ke samping.


Melihat menatap wajah Layya dari bawah. Rayyan mengalihkan matanya melihat ke roti di tangan Layya.


"Siapin aku," Perintah Rayyan sembari menunjuk dengan ujung matanya ke roti di tangan Layya.


"Ini?" Tunjuk Layya dengan mengangkat tangannya yang ada roti.


"Kamu tidak mau lagikan! Kalau ya, suapin aku. Itu saja jangan ambil lain,"


Layya sempat ragu dan berpikir sejenak sebelum kemudian. Mengangkat tangannya dan menjulurkan ke mulut Rayyan.


Rayyan seketika itu juga membuka lebar mulut nya. Hingga semua roti yang seharusnya bisa di gigit dua. Menjadi satu suapan.


Rayyan tahu. Layya akan menjahilinya tapi apa.


Segini bukan apa apa untuknya.


Rayyan mengedipkan satu matanya jail ke Layya.


"Ishhh... Dasar,"


Layya bersiap pindah dari perut Rayyan. Tapi ucapan Rayyan lagi lagi membuat gerakannya terhenti.


"Sabtu ini kau ada waktu?"


"Kenapa? Kau mau mengajakku kencan?"


"Kau mau?"


"Tidak, terima kasih. Waktuku sangat berharga, kamu tahu! Aku memilih menghabiskan waktu dengan kedua anakku daripada denganmu."

__ADS_1


Rayyan menggangguk mengerti di sertai bibirnya yang mayun.


"Sayang sekali. Padahal kamu akan menyukai nya,"


Melihat raut wajah Rayyan yang serius dan sama sekali tidak sedang menjahilinya. Layya jadi penasaran.


"Yang aku sukai? Memang kamu tahu?"


"Tentu saja. Hei... Gini gini aku suami mu! You know!"


Layya menaikkan bahunya acuh sembari melihat ke samping.


"Contohnya yang di bawahmu sekarang. Kamu menyukai nya," Rayyan tersenyum geli.


Layya yang tidak mengerti maksud Rayyan. Sontak saja menurunkan pandangan nya. Dan,


"Ishhhh..." Plak...


"Arghhh... Shh sakit Layya!"


"Rasain. Lepasin tanganmu! Aku mau pindah" Protes Layya.


Yang satu pahanya di tahan Rayyan.


"Kamu belum menjawabku? "


"Bukankah aku sudah menjawabnya tadi! Aku tidak tertarik dan aku tidak ada waktu, aku sibuk."


"Benarkah? Tapi tadi raut wajahnya mengatakan sebaliknya Layya!"


"Kamu sok tahu,"


"Tidak, aku benar. Akuilah," Rayyan menatap Layya intens.


Layya mau tidak mau mengikuti alur Rayyan. Baiklah, lagian aku penasaran.


"Baiklah. Kamu tadi mengatakan aku sangat menyukainya. Jadi, hal apa itu yang menurut Pak Rayyan Andryatama ini sangat aku sukai itu? Aku jadi penasaran. Ingat aku penasaran bukan tertarik. Setelahnya aku akan pertimbangkan. Tentu saja harus aku yang untung banyak,"


"Pfftt.. Khkhhhh..." Rayyan menahan tawanya.


"Apa lucu? Aku rasa tidak. Cepat katakan Ray? Waktu mu..." Layya melihat ke jam dinding dan saat itu juga ia berdecak kesal.


"40 menit lagi," Kenapa tidak 10 menit lagi sih.


"Perayaan yang di adakan di Hotel Star Ritz. Kamu tentu pernah mendengar nya bukan?"


Layya sontak saja mengangguk. Ya, ia pernah dengar. Bahkan ia dengar juga banyak para pendesign dan arsitektur dari berbagai negara akan menghadiri acara tersebut. Satu di antara mereka.


Rayyan menatap tajam layya. Melihat reaksi Layya selanjutnya.


"Dan Alexa Cavia, juga akan hadir di acara ini."


Kedua mata Layya seketika itu juga melebar. Ia tahu itu. Ia juga mendengar itu. Tapi yang membuatnya terkejut. Kenapa pria ini, bisa tahu.

__ADS_1


"Kamu..."


Ya. Salah satunya adalah pendesign interior atau juga di kenal arsitektur Eropa. Yang mencetak banyak penghargaan tahunan atas keindahan setiap interior nya. Sekaligus juga, sosok wanita yang sangat ia kagumi.


__ADS_2