
Menyandarkan pinggangnya ke meja laci di belakang nya, penyimpanan khusus jam tangan bermerek milik dirinya sendiri. Rayyan Andryatama.
Posisi rayyan melipat kedua tangan di depan dadanya. Sedang kakinya tersilang. Menatap memperhatikan satu buah hatinya bersama wanita, yang sempat mengisi hari hari nya dulu. Dengan canda dan tawa. Dengan kekonyolan dan sikap betek serta kesal layya padanya, yang selalu akan membuatnya merindukan wanita itu. Kemanapun ia pergi saat itu. Meski itu pemotretan di luar negri atau di dalam negeri. Wanita itu...Akan selalu ada dalam ingatannya dan senyuman nya.
Hahhhh....
Helaan nafas kasar keluar dari mulut rayyan.
Yah...Sebelum pikiran kotornya muncul dan kesalah pahaman dirinya terhadap layya karna tidak mempercayai istrinya. Benar benar pria br****.
Kedua manik mata rayyan setia menatap memperhatikan gerak gerik bocah laki laki kecil di hadapannya. Yang sedang asik dengan dunianya.
Memperhatikan serta mengagumi semua koleksi mainan yang berada di balik kaca di hadapannya.
Bukan satu atau dua lemari. Tapi...
"this....Your toy?!".
Suara pertanyaan yang berasal dari bocah kecil di hadapannya. Menyentak menyadarkan rayyan dari lamunannya.
Yusuf. Bocah laki laki kecil tersebut. Bertanya ke pria dewasa yang berada di belakangnya dan tanpa dia menoleh melihat rayyan.
"maksudmu ini semua?!". Rayyan tidak mempermasalahkan itu. Karna nyatanya. Pria kecil yang imut dan tampannya, mewarisi dirinya ini. Adalah anaknya.
"yes!". Jawab yusuf dengan logat Amerika. Karna masa pertumbuhan nya lebih banyak pria kecil tersebut habiskan di Amerika bersama adik dan bundanya serta grandmanya. Yang otomatis. Banyak interaksi yang yusuf dengar dan perhatikan di sana.
Rayyan terdiam beberapa saat sebelum menjawab. Rayyan terdiam sedang mencari dan menimang jawaban yang tepat yang harus ia berikan ke putra nya.
"aku suka super Hero...? Itu artinya...Aku suka mengoleksi Action...Figure? ... Dari kecil!". Jawab rayyan. Yang baginya sudah tepat menemukan jawabannya.
"all... this...?!".
Sedetik rayyan merasakan kebingungan dalam menjawab lagi. Karna jawabannya bukan hanya ini.
Beranjak darinya bersandar. Berdiri tegak di hadapan yusuf, yang jauh beberapa meter dari yusuf berdiri.
"ikut aku son...?!". Ajak rayyan setelah berpikir beberapa jenak.
Rayyan berjalan di depan. Sedang Yusuf dengan patuh mengikuti pria dewasa di depannya. Yang ia ketahui. Anak dari grandma Imelda, pemilik dari rumah ini. Dan beberapa menit yang lalu ia asal menebak dan ternyata benar. Anak dari grandma imelda ini. Uncle tampan. Begitu lah panggilan maryam. Adalah papa sebenarnya mereka.
Hal pertama yang rayyan lakukan begitu sampai di ujung ruangan adalah. Menghidupkan lampu.
Lalu entah bagaimana. Sesuatu seperti lemari atau bisa di sebut lemari gantungan baju. Tiba tiba saja bergerak lalu bergeser ke samping.
Yang yusuf tangkap dari manik matanya adalah.
Pria yang beberapa menit yang lalu ia ketahui papanya ini. Menghidupkan lampu. Lalu ruangan walk in closet ini terang benderang tidak bercahaya remang seperti tadi. Lalu pria di hadapannya ini meraih satu remot berwarna putih dan menekan satu tombol di sana.
Lalu inilah yang ia lihat sekarang.
__ADS_1
Ruangan khusus di dalam dan...Sangat luas. Ini bisa di katakan ruangan rahasia? Lalu...Apa yang ada di dalam sana? Kenapa pria ini mengajaknya kemari.
"tidak mau masuk?!". Tanya rayyan yang berdiri di ambang pintu pada yusuf.
Yusuf segera mengalihkan tatapannya menatap rayyan setelah tadi sejenak dengan sangat berusaha mencoba mengintip ke dalam isi ruangan di hadapannya. Namun, ternyata hasil nihil. Yusuf tidak bisa melihat apapun selain dari arah ujung ruangan dan itu kosong tidak ada apapun.
Yusuf menggerakkan langkahnya dengan ragu. Perlahan yusuf berjalan masuk ke dalam sehingga sampai di samping rayyan.
Yusuf berdiri sejenak di depan rayyan. Mendongak menatap pria dewasa di sampingnya.
"why...We are here...?!". Dengan raut wajahnya yang imut serta suaranya yang bagi rayyan sangat menggemaskan. Yusuf mengeluarkan kalimat bertanya tersebut dengan bingung.
Rayyan tidak tidak bisa untuk tidak menyunggingkan senyum bahagia di bibirnya.
"kamu akan tahu son? ...Yang tentu kamu akan sangat senang!".
"really?!".
Rayyan lagi lagi menghiasi wajahnya dengan senyuman.
"of course". Jawab rayyan cepat meyakinkan putranya. Yusuf, yang sebentar lagi akan menjadi Yusuf Rayyan Andryatama.
Begitu melewati ambang pintu. Rayyan segera menutup pintu di belakangnya menggunakan remot di tangannya. Setelahnya ia melangkah selangkah dari pintu . Menekan satu tombol di dinding ruangan tersebut. Yang segera menjadikan ruangan yang tadinya sudah menjadi gelap akibat cahaya dari lampu ruangan sebelah tidak bisa menerangi lagi ke dalam karna terhalangi pintu yang sudah di tutup rayyan.
Sama seperti rayyan. Yusuf, bocah kecil tersebut. Sama sekali tidak takut yang namanya gelap. Karna itu, di saat tadi pintu tertutup dan ruangan yang dia pijaki menjadi gelap. Yusuf masih berekspresi santai dan menunggu pria dewasa di belakangnya menghidupkan lampu. Karna yusuf berpikir.
Tidak mungkin ruangan ini tidak ada cahayanya.
Lampu hidup. Seketika itu juga kedua mata Yusuf menyipit sejenak sebelum kemudian terbuka lebar.
Rayyan tersenyum dan terkekeh geli melihat reaksi putranya.
Kedua mata yusuf membulat lebar sedang mulutnya membentuk huruf 0.
"inilah semua! Dan...Kamu bebas melihat".
Yusuf dengan cepat melihat menatap rayyan dengan penuh minat.
"this... Yours...?".
Rayyan mengangguk sembari tertawa kecil.
"ya, Itu aku kumpulkan dari aku kecil. All!". jawab rayyan di sertai menekan kata All. Untuk meyakinkan putranya.
"kamu suka?!".
Yusuf melangkah duluan meninggalkan rayyan yang berdiri di belakangnya. Untuk melihat lebih dekat. Surganya anak anak. Lebih lebih yang cowok.
"of course!". Jawab yusuf sembari melangkah lalu dia berdiri mematung di hadapan satu lemari yang isinya.
__ADS_1
Rayyan Masih dengan handuknya dan ia sama sekali belum mandi. Ia melangkah ke satu kursi yang berada tepat di belakang yusuf berdiri. Rayyan menduduki bokongnya di sana dan menyilangkah kakinya.
Otot otot di setiap detail tubuhnya sangat terlihat dan berbentuk indah. Tentu siapapun wanita yang melihat, akan menjatuhkan air liur mereka. Karna begitu indah dan mempesona nya seorang Rayyan Andryatama.
Namun, seperti yang rayyan ucapkan dan katakan pada layya 4 tahun yang lalu. Orang lain hanya bisa melihat dan mengagumi serta memimpikan dirinya. Sedangkan yang bisa menikmati dan merasakan dirinya. Hanyalah seorang layya seorang.
Melihat tatapan putranya pada tubuhnya. Bukan lagi tertarik pada semua koleksi mainan di sekitarnya. Rayyan berujar cepat dan tajam.
"ini milik bunda mu boy!".
"and then... Bunda do not like naked, and... Around in the house". Yusuf menatap tajam Rayyan.
Karna memang Yusuf tidak suka hal seperti itu. Sama seperti bundanya.
Tubuh daddy Rendra juga bagus. Tapi...Tidak pernah sekalipun ia melihat pria itu bertelanjang dada begitu. Daddy Rendra selalu memakai baju dan sama sekali tidak pernah. Berkeliaran di dalam rumah menggunakan handuk mandi.
Dan pria ini...
Rayyan menyungging senyum sembari menggeleng. Ia bangkit dari duduknya berjalan melangkah mendekati putranya yusuf.
Dan yusuf memperhatikan itu sampai rayyan berlutut di hadapannya. Mensejajarkan tingginya.
"tidak ada yang lebih mengenali bunda mu selain daddy mu ini son...?! Karna itu kamu ada!". Bangga rayyan di hadapan putranya.
Yusuf menaikkan satu alisnya.
Bundanya sangat suka serta sangat mengagumi bentuk badan lelaki yang begini. Itu tidak bisa di pungkiri. Ia tahu. Tapi...Bundanya juga sangat tidak suka jika ada lelaki yang bahkan hanya bertelanjang dada dan itu berkeliaran di dalam rumah. Bunda akan langsung mengomeli nya. Contoh nya dirinya. Jika ia habis mandi dan belum memakai baju dan hanya memakai handuk lalu berkeliaran di dalam rumah. Bunda akan mengomel. Dan bundanya akan melempari dengan apapun itu yang dekat dengannya raih jika melihat pria tanpa menggunakan baju berkeliaran di dalam rumah. Contohnya...Uncle Gerard dan daddy Rendra. Karna itu juga. Daddy Rendra tidak pernah lagi bertelanjang dada. Lalu...Apalagi pria ini yang hanya menggunakan handuk. Bahkan Pahanya pun terlihat. Ia sangat yakin. Bundanya tidak suka.
Bunda suka dan sangat mengagumi bentuk tubuh pria seperti pria di hadapannya ini. Tapi itu pun hanya melihatnya melalui tv atau majalah milik aunty ayrin.
Mengacuhkan pria yang berlutut di hadapannya.
Yusuf memilih berjalan ke lemari lain yang berisi koleksi mainan super hero. Dan berdiri mematung di sana. Mengagumi semua mainan tersebut.
'ini lebih baik'. Batin yusuf.
Rayyan bangkit dari berlututnya melangkah ke pintu. Ia berhenti berbalik menatap yusuf.
"daddy harus mandi dan setelahnya harus bekerja. Kamu mainlah sepuasmu di sini dan...mulai hari ini. Ruangan ini akan menjadi ruangan rahasia kita, okay son...? Itu artinya tidak ada siapapun yang boleh masuk ke sini selain kamu son...? bagaimana...?!". Rayyan menunggu persetujuan yusuf.
Yusuf mengerjap dan berpikir.
"your...No My daddy because My daddy Rendra". .
"what?!". Rayyan nyaris berteriak dengan pertanyaan tidak percayanya.
"your...Uncle Ray. Son grandma imelda".
'what what what's...?!'. Batin rayyan berkali kali bertanya tidak percaya.
__ADS_1