
"seingatku...". rayyan menjeda kalimatnya. melipat kedua tangan di dadanya bersandar di pintu belakangnya yang terbuka lebar dengan kedua manik matanya masih melihat kedua manusia di depannya, yang berjarak sekitar 5 meter darinya berdiri.
Layya yang masih mematung dengan ke adaan di tambah aldi yang masih shock dengan ke adaan dirinya yang begitu dekat sekarang dengan wanita yang selama ini ia kagumi. kedatangan atasannya tentu belum membuatnya sadar dan pulih.
"aku belum pernah mengumumi jika perusahaanku bisa menjadi tempat kencan pasangan! ". mata rayyan beralih menatap ke aldi.
Mendengar ucapa rayyan layya mengedipkan matanya menyadarkan dirinya lalu dengan terburu buru dan di bantu oleh aldi layya berdiri dengan benar.
"euhmm...". menunduk layya tidak tahu harus berucap apa.
"anda tidak apa apa? bagaimana dengan tubuh anda...ada yang sakit?! ". tanya aldi terlihat khawatir dan mengacuhkan kehadiran pemilik gedung tersebut di sana.
Layya sontak mendongak melihat aldi dan tersenyum canggung.
"euhmmm...aku baik baik saja dan...terima kasih pak aldi sudah menolongku...". layya melihat ke tangga lalu matanya beralih menatap ke lantai.
"aku tidak tahu bagaimana ke adaan ku sekarang jika saja pak aldi tidak menolongku, terima kasih pak? ". ujar layya tulus.
Aldi tersenyum tipis sembari mendesah lega mendengar ucapan layya. itu artinya wanita ini baik baik saja.
"tidak perlu berterima kasih bu? aku yakin bukan cuma aku jika saja orang lain, maka mereka akan melakukan hal yang sama, ibu tidak perlu merasa tidak enak! ".
Layya tertawa renyah namun malu. malu karna orang asing menyentuh tubuhnya sekalipun terlapis kain tetap saja. bahkan ia masih bisa merasakan telapak tangan pak aldi di tubuhnya. eughhhh...kenapa ia harus memikirkan itu sih?.
Aldi menoleh melihat ke pintu saat sudut matanya menangkap sesosok pria yang berdiri dengan hawa dingin di sekitarnya karna merasa di acuhkan. melihat ke sana sontak membuat aldi terkejut sebelum dia kembali buru buru melihat desainer di depannya dan berpamit.
"kalau begitu...saya permisi dulu, ada yang harus saya kerjakan".
Layya mendongak melihat aldi setelah tadi menunduk.
"oh ya...dan sekali lagi...terima kasih pak sudah menolong saya".
"bukan apa apa bu? kalau begitu saya permisi, assalamualaikum ". senyum aldi ramah lalu membalik melangkah ke pintu.
"Wa'alakum salam". jawab layya dengan suara pelan sembari melihat punggung aldi yang melangkah ke pintu setelahnya layya mendesah lelah.
__ADS_1
"kenapa hal seperti itu terjadi sih? dan kenapa juga harus pak aldi? dari segian banyaknya manusia?.... seharusnya wanita... huhhh". gumam layya setelahnya menjeda kalimatnya dan kembali menyambung lalu ia mendesah.
"aku juga bertanya tanya, mimpi apa aku semalam sehingga mendapatkan tontonan menarik, jika saja terjadi di luar ruangan tentu akan segera tersebar berita, asisten dari CEO Imperial Group memiliki hubungan khusus dengan seorang desainer dari perusahaan xx". ujar rayyan yang mendengar gumaman layya tadi sembari dia melangkah mendekat ke layya.
Layya menoleh malas melihat rayyan lalu melangkah melewati rayyan ke meja persegi panjang di ruangan tersebut di mana tasnya berada di sana. membuka tasnya meraih satu benda pipih yang tidak lain adalah handphonenya. dan bukankah gara gara ia mau mengambil ini tadi? hingga membuatnya hampir jatuh jatuh. eughhhh...
Mengacuhkan rayyan. layya melangkah beberapa langkah dari meja sembari menghubungi seseorang.
Layya yang fokus menunggu panggilannya terjawab tidak menyadari rayyan yang melangkah cepat mendekat kearahnya dari belakang.
"ah...". ringis layya terkejut saat hp ditangannya di rampas seseorang dari belakang. membalik badan layya menatap marah dan tajam ke rayyan.
"apa yang kau lakukan...? kembalikan hp ku! ". layya sedikit menaikkan nada suaranya sembari berusaha meraih hpnya di tangan rayyan, yang pria itu bawa ke atas sehingga sulit bagi dirinya jangkau.
Layya bernafas naik turun dikarnakan kesal+marah akibat kejadian kemarin belum sepenuhnya ia lupakan dan sekarang?...pria ini benar benar.
"aku sedang berbicara layya? ". geram rayyan yang tidak terima di acuhkan.
"dan apa pentingnya bicaramu dengan pekerjaanku yang sangat penting?...kembalikan hpku ray? ". layya menatap layar hpnya yang masih dalam panggilan.
Layya membuka mulutnya mau menjawab namun terhenti saat suara panggilan di hpnya tersambung dengan orang yang ia hubungi tadi.
"Assalamualaikum...? bu Zunaira...? ada apa? ".
Layya sontak melihat ke layar hpnya di susul rayyan yang juga ikut melihat dan mendengar suara di dalam sana.
"dia sudah mengangkat! kembalikan hpku ray? aku harus bicara dengannya, ini penting". ujar layya sembari mencoba meraih hp di tangan rayyan namun tidak bisa mengingat tinggi rayyan dengannya. di tambah...rayyan semakin mengangkat tangan kirinya ke atas yang otomatis membuat hp layya ikut menjauh.
"ray...?". layya berteriak kesal dan marah.
Rayyan menyungging senyum tipis yang licik setelahnya ia mematikan panggilan di hp layya lalu meletakkan hp layya ke meja di sampingnya.
Layya yang melihat itu sontak membulatkan matanya terkejut namun hanya sebentar sebelum ia melihat rayyan yang melangkah mendekat ke arahnya.
Rayyan berdiri di depan layya menepis semua jarak di antara mereka.
__ADS_1
Layya menahan nafasnya ketika jarak pria menyebalkan di depannya sangat dekat dengannya bahkan jasnya dan jas rayyan saling bertemu.
"lain kali jangan pernah mengacuhkanku terlebih ketika aku sedang berbicara...layya Zunaira". ucap rayyan yang nyaris ancaman tapi bisa di katakan seperti perintah juga.
Lagi lagi layya membulatkan matanya. apa katanya?...
Layya mendongak ke atas melihat rayyan namun orang yang mau ia lihat sudah tidak ada di depannya lagi melainkan sudah melangkah dan hampir sampai ke pintu.
'pria itu benar benar...'. geram kesal layya.
Mata layya seperti mencari sesuatu dengan terburu buru diruangan tersebut namun tidak ada yang bisa ia gunakan hingga tatapannya jatuh ke high heels di kakinya. melihat punggung rayyan. layya dengan cepat melepaskan high heelsnya sebelah kiri lalu melempari rayyan menggunakan itu dengan sedikit kekuatan yang ia gunakan hingga mengenai punggung rayyan dan sontak membuat langkah rayyan berhenti.
Ptakkk...
Tak....
Rayyan menoleh melihat ke samping kanannya di mana high heels layya terjatuh setelah mengenai tubuhnya. ia membalik badan melihat layya, yang kini raut wajah layya memerah karna marah. mengacuhkan itu. rayyan kembali melihat ke high heels layya menyunggi senyum samping. rayyan berjongkok meraih high heels layya lalu kembali berdiri dengan high heels layya di tangannya melihatnya memerhatikannya dengan seksama. entah apa yang pria itu lihat hingga high heels layya di bolak balik. merek? atau...bagian mana yang mengenainya?.
"kamu tahu? kamu pria yang paling menyebalkan yang pernah aku kenal dan aku benci benci benci benci padamu ray brengsek?!". teriak layya murka tanpa peduli lagi para pekerja di sekitarnya.
Rayyan terkekeh geli. ia menunjukkan high heels layya ke layya.
"ini untukku bukan? aku terima...". rayyan membalik badan mau melangkah namun berhenti lagi. ia membalik melihat layya, yang kini mata layya kembali membulat.
'a-apa? mau pria itu apakan sepatunya? '.
"apa yang mau kau lakuk...".
"jika mau lagi maka ambillah padaku...". rayyan tersenyum licik.
"dan kamu tentu sangat tahu layya? itu tidak akan mudah". rayyan menghilang dari sana dengan kekehan kejinya juga.
Mata layya membulat sempurna di sertai mulutnya yang terbuka lebar.
"wh...what?...apa yang pria itu katakan? ". layya beralih melihat ke bawah ke kakinya yang hanya tinggal satu high heels lagi. ia kembali melihat ke pintu di mana rayyan menghilang di sana.
__ADS_1
Dan ia? sangat sangat menyesali perbuatannya tadi. eughhhh...